Ketika Kau pun Menjagaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 23 April 2018

Malam itu ada yang aneh dengan mata saya, entah kenapa tapi air matanya selalu saja keluar. Padahal tidak kemasukan benda sekecil apapun. Saya lihat di cermin pun tidak kelihatan memerah. Ini berawal sejak saya bangun tidur tadi siang. Mulanya hanya sebelah mata tapi sekarang dua-duanya.

“Mata Abi kenapa?” tanya istri saya, yang mulai heran melihat suaminya sebentar-sebentar menyeka air mata.
“Kayaknya abi sakit mata nih, Mi”.
“Tapi matanya nggak merah” lanjut saya
“Kelilipan mungkin, Bi?”
Saya menggelengkan kepala.
“Mulainya tadi siang, pas bangun tidur. Mata kanan Abi sudah berair terus”.
Istriku mendekat sambil membawakan sapu tangan.
“Pakai sapu tangan, Bi”
“Terima kasih, Mi. Abi ke kamar saja ya, mau tiduran …”
Saya bergegas meninggalkan istri yang masih berkutat dengan kesibukannya menyiapkan pesanan kue. Begitu bersyukur mendapatkan pendamping seperti dia, sosok istri dan ibu yang tangguh. Di usianya yang mulai senja, masih saja menyibukkan diri dengan pesanan-pesanan kue.

Sambil memandangi dinding kamar, saya mengingat-ingat saat proses ta’aruf dulu, salah satu yang menarik perhatian saya ketika membaca biodata calon istri saya ini. Hobinya memasak. Menurut saya itu berarti dia perempuan yang biasa di dapur.
Sebelum punya anak, tidak terpikir untuk menjadikan hobinya sebagai bisnis keluarga. Seiring kebutuhan keluarga yang bertambah, barulah ide itu muncul. Dan sudah berjalan sejak anak pertama kami berumur dua tahun. Sudah hampir 27 tahun. Dia rela tidur lebih larut dan bangun lebih awal, dan kini sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari. Seperti malam ini, di rumah kecil kami, setelah anak-anak sudah punya kehidupan sendiri. Tubuhnya yang renta masih semangat menjalankan peranannya, setia seperti bintang-bintang yang mengiringi malam hingga fajar menyemburat keemasan di ufuk Timur.

Usai sholat subuh berjamaah di masjid, saya baru merasakan ada yang makin aneh dengan daerah sekitar muka. Berasa tebal dan kebas seperti kesemutan. Kedua mata ini pun belum juga berhenti mengeluarkan air mata. Sesampainya di rumah, saya langsung melihat ke cermin. Masih tampak biasa saja. Namun…
“Mi…”
“Kok bibir Abi kayak yang bentol. Apa ada serangga yang gigit bibir Abi selagi tidur semalam, ya?”
“Enggak kok, Bi. Bibir Abi biasa saja ah..” sanggahnya sambil menatap ke arah saya.
“Apa perasaan Abi saja ya? Tapi beneran nih kerasa lebih tebal bibirnya. Dan kering…” Saya menghentikan kalimat, dan lebih fokus melihat ke cermin. Ada yang aneh lagi saat saya akan membasahi bibir atas yang kering. Mulut saya tidak bisa simetris. Bibir bawah tidak bisa mengatup bibir atas dengan sempurna. Setiap kali bibir bawah akan mengulum bibir bagian atas, yang kena hanya bibir atas bagian ujung kanan. Tiga sampai empat kali saya coba mengulum bibir atas agar bagian tengah bisa bertemu dengan bagian tengah juga. Tapi nihil… Saya bingung, kenapa sebenarnya dengan tubuh saya.

“Coba Umi lihat!” Saya menunjukkan posisi bibir saya yang aneh
“Lhoh kok menyon ya Bi?”
“Iya ya?”
“Apa itu stroke, Bi?” tiba-tiba pertanyaan istri membuat saya terperangah.
Benarkah saya terserang stroke? Astaghfirullaah.. aku bergumam dalam hati
“Coba kita ke dokter nanti siang ya, Bi” kata istriku
“Ummi bereskan dulu pesanan kuenya atau…”
“Atau apa, Mi?” tanyaku penasaran. Mengapa kalimatnya tidak diselesaikan.
“Enggak, Bi.. Ummi hanya sedang memikirkan pengobatan alternatif” jawabnya
“Maksud Ummi?”
“Maksudnya nanti coba Ummi tanyakan ke tetangga yang biasa menjual obat-obat herbal. Banyak yang sembuh dengan herbal, Bi”
“Iya, Abi juga berpikir ke situ” kataku sambil menyeka air mata yang terus saja keluar.
“Tapi tetap, Abi harus periksakan dulu ke dokter. Biar lebih jelas sebabnya apa, Bi”
“Iya, Mi”
“Ya sudah, kalau begitu Ummi mau berkelilling dulu, mengantar pesanan. Abi istirahat saja ya”

Belum juga istri saya beranjak dari tempat dia berdiri, di depan terdengar ada suara motor berhenti.
“Motor siapa, Mi?”
“Nggak tahu, Bi. Ummi nggak janjian sama siapapun. Sebentar Ummi lihat ke depan”

Dari dalam saya mendengarkan percakapan istri saya dengan orang yang baru saja datang. Ternyata salah satu dari pemesan kue. Rupanya dia tidak tega kalau membiarkan istriku yang sudah sepuh mengantarkan kue ke rumahnya. Padahal tidak begitu jauh. Alhamdulillah, pagi-pagi Allah sudah memudahkan rezeki bagi kami. Baru saja pintu rumah ditutup setelah pembeli yang tadi pergi, ada lagi suara motor yang datang. Saya lihat dari balik tirai jendela kamar yang menghadap langsung ke arah pagar rumah. Ada Hilmy, anak kedua kami yang datang.

“Bi, ini ada Hilmy yang datang!” suara istri setengah berteriak. Saya pun segera menemuinya.
“Assalaamu’alaikum, Bi” ucap Hilmy. Dia menggapai tangan kananku untuk diciumnya.
“Wa’alaikumussalaam… Gimana kabarmu, Nak? Datang sendirian?”
“Alhamdulillaah kami sekeluarga baik, Bi”.
“Dari semalam nggak tau kenapa tiba-tiba kangen Ummi sama Abi, makanya sekarang datang. Umminya nggak bisa ikut tadi, soalnya Aisy masih bobo”.

Hilmy memang tinggal tidak jauh dari rumah. Hanya sekitar 1 kilometer jaraknya. Sementara tiga saudaranya yang lain, tinggal di luar kota. Anak sulung kami Hawwa bahkan tinggal di Turki. Mendapat beasiswa di salah satu perguruan tinggi Islam di sana dan atas kehendak Allah dia dipinang oleh pemuda penduduk Turki.

Istriku muncul dari arah dapur. Di tangannya sudah ada baki dengan tiga gelas teh dan sepiring kue.
“Sepertinya itu kontak batin, Bi… Allah memberi tahu Hilmy dengan rasa kangen, biar dia tahu kalau abinya sedang tidak sehat” kelakar istri saya yang datang dari belakang membawakan kami dua gelas teh hangat dan sepiring kue panada buatannya. Mendengar itu, Hilmy langsung memandangi saya.
“Abi sedang nggak sehat? Kenapa Bi? Tapi tadi waktu salaman badan Abi gak kaya yang demam kok” Hilmy bertanya penasaran
“Coba perhatikan kalau abimu senyum, Nak…” ditimpali oleh ibunya. Sememtara saya hanya diam.
“Kenapa sih Mi? Jangan bikin orang khawatir dong, Mi”
“Ummi sama Abi juga nggak tahu Abi sakit apa. Baru mau ke dokter nanti agak siangan. Dari sore kemarin mata Abi terus-terusan berair. Mulutnya kebas dan seperti menyon kalau beliau senyum” istri berhenti sejenak. Menyodorkan teh manis kepada anaknya yang tampak tegang.
“Minumlah dulu tehnya, Nak. Mumpung masih hangat”
Hilmy mengambil gelas yang ada di depannya.
“Apa mungkin Abimu ini terkena stroke?”
Mendengar itu hampir saja Hilmy tersedak. Dia mengurungkan niatnya untuk. Meminum teh hangat yang sudah diambilnya. Sorot matanya memandang saya dengan begitu tajam. Saya lihat ada kegusaran tergambar di raut muka Hilmy. Dia memandang saya kemudian bangkit dari duduknya dan mendekati temoat duduk saya.

“Tenang aja ya Bi, nggak usah mikir yang buruk-buruk. Abi kan lebih tahu, bagaimana seharusnya kita bersikap ketika diberi waktu untuk sakit” ujarnya dengan bijak. Seperti mengulang kembali kata-kata yang sering kali saya ucapkan ketika anak-anak sakit.
“Nanti jam delapan, aku ke sini lagi. Biar aku yang antar Abi ke dokter ya Mi”
“Loh … kamu hari ini masih kerja kan, Nak?” Tanya sang ibu
Hilmy menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Nanti aku izin ke Atasan, hari ini aku siap antar Jendral besar ke dokter” kelakarnya
Kami semua tertawa. Selera humor anak ini memang paling tinggi. Tapi juga paling emosional.

Rasanya senang sekali diperhatikan anak di usia yang sudah tinggal menunggu waktu ini. Betapa sakitnya mereka yang ditelantarkan anaknya justru ketika orangtuanya semakin sepuh. Dan tidak sedikit yang begitu di negeri ini. Betapa bersyukurnya saya untuk semua ini.

Masih ingat saat anak masih dalam kandungan, saya berusaha untuk selalu siaga demi mereka. Mendampingi kelahiran mereka. Memberikan pelukan pertama pada kelahiran mereka. Dan ketika mereka sakit, meski tidak banyak yang bisa saya perbuat, tapi saya selalu menemani istri begadang, bergiliran menggendongnya saat menangis. Atau ketika mereka sudah sekolah, saya juga selalu memberikan waktu untuk bisa mendampingi mereka. Mengantar mereka sekolah, sambil sekalian betangkat kerja. Menghabiskan hari Sabtu dan Minggu untuk bisa menjadi saksi setiap tumbuh kembang mereka.

Ya… Semua itu kembali kepada kita sendiri sebagai orangtua. Apa yang kita semai pasti itulah yang nanti kita petik hasilnya. Bagaimana anak memperlakukan kita, pasti juga tergantung bagaimana mereka dulu diperlakukan oleh orangtuanya.

Cerpen Karangan: Abie Hawwa
Facebook: Abie Hilmy

Cerpen Ketika Kau pun Menjagaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hadiah Kecil Untuk Surga

Oleh:
Ketika yang bernyawa telah tidur lain halnya dengan Aqilah. Malam itu dia masih berlari secepat kilat menembus hujan. Wajahnya tertutup suramnya malam, namun jika diteliti masih dapat terlihat jelas

Aku Siapa? (Part 1)

Oleh:
Malam yang begitu sunyi sangat menusuk tulang Siliasih. Di bawah hamparan bintang yang berkedip terang mengiringi tiap langkahnya mencari sesosok lelaki yang telah lama tak ditemuinya. Bu Asih begitu

Pesan Dari Ayah

Oleh:
Pagi-pagi sekali aku dibangunkan oleh ayahku. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 03.30. “ada apa yah? Pagi-pagi kok sudah membangunkanku” ucapku dengan wajah yang masih mengantuk. “ayo ikut ayah, bantu

William Adinata (Hilang)

Oleh:
Bocah laki-laki itu membungkukkan badannya dengan kedua tangan bertumpu pada lututnya. Memperhatikan jajaran toples-toples berukuran besar yang isinya adalah benda bulat sedang, berwarna-warni. Mungkin sudah hampir sepuluh menit bocah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ketika Kau pun Menjagaku”

  1. Seorang Hamba says:

    Cerpen yang bagus, slice of life, islami, dan berhikmah. Aku harap suatu saat bisa membuat cerita2 seperti ini.
    Aamiin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *