Ketika Si Anak Yatim Memiliki Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 November 2013

Bel istirahat berbunyi. Setiap penghuni kelas pergi keluar untuk melakukan kegiatan mereka; membeli makanan, memakan bekal atau hanya sekedar berjalan-jalan keliling sekolah mencari angin segar.
“ke WC yuk!” ajak Reni memecah lamunan Vana.
“kamu sama Ika aja deh ke bawahnya. Aku mau makan di kelas.” Jawab Vana dengan senyum tulus mengembang di wajahnya.
Tanpa perlu menjawab lagi, Reni pun pergi bersama Ika. Kini hanya tinggal Vana sendiri di ruangan itu. Ditemani dengan kursi-kursi, meja-meja, dan buku-buku yang hanya bisa terdiam. Perlahan, air mata mengalir dari matanya. Bahunya berguncang. Dibenamkannya wajahnya ke dalam lipatan dua tangannya. Entah apa yang ditangisinya.
“Vana! Kamu kenapa?” tanya Ika yang baru datang dari toilet bersama Reni.
Vana mengambil dompet dari tasnya lalu mengeluarkan sebuah foto. Tampak wajah dua orang manusia sedang tersenyum ke arah kamera dengan latar belakang Patung Liberty. Keduanya memegang es krim di tangan dengan wajah yang sangat gembira. “itu aku sama papa aku. Itu waktu aku mau masuk SD. Waktu itu papa ngajak aku ke Amerika Serikat seminggu. Tau gak? Sesudah aku sama papa aku foto di depan patung itu, es krim aku langsung jatuh kena sepatu. Dan aku langsung nangis sejadi-jadinya di situ sampai ketiduran. Lucu banget deh!” Vana pun tertawa sambil mengusap air matanya.
“enak banget ya, masih kecil udah bisa pergi ke USA!” ucap Reni dengan nada iri.
“bukan itu yang mau aku ceritain ke kalian,” wajah Vana kembali merengut. “Aku kangen papa aku. Dia meninggal tujuh tahun yang lalu. Yaitu waktu aku masih kelas tiga SD. Dia meninggal karena sakit kanker yang tak bisa diobati lagi. Dua minggu lagi peringatan tujuh tahun meninggalnya papa. Walaupun papa suka marah-marah sama aku, tapi aku tahu papa sayang sama aku. Aku pengen ke makamnya” air matanya mengalir membasahi pipi. Ia terisak.
“yang sabar ya Van,” ucap Reni sambil mengusap pundak Vana.
“ya udah nanti kamu ke makamnya aja!” ucap Ika kemudian.
“papa aku… papa aku dimakamin di Jogja, Ka. Mama sama kakak aku gak ngasih ijin aku untuk pergi ke sana.” Vana merengut.
“ya udah. Kamu doain aja. Papa kamu pasti seneng ko kamu doain, daripada kamu nangis terus gini. Jelek tau!” Ika menyemangatinya.

Hari ini sepulang sekolah, Vana menyempatkan diri pergi ke gereja untuk mendoakan ayahnya. Selesai berdoa, seorang pria yang membawa sapu berusia kira-kira 40 tahun menghampirinya. Mereka pun mulai mengobrol dan membicarakan banyak hal. Ternyata pria itu adalah seorang koster (pengurus gereja) di gereja tersebut. Namanya Pak Paulus. Vana pun tak sungkan menceritakan tentang ayahnya. Tak jarang air mata pun menetes dari kelopak mata indah Vana, tapi ia terus bercerita.

Setelah puas bercerita, Vana merasakan rasa lega yang luar biasa hadir dalam dirinya, yang tidak dia rasakan saat selesai bercerita dengan Reni dan Ika. Seakan semua bebannya diangkat dari dirinya saat itu juga. Pak Paulus kembali melanjutkan pekerjaannya membersihkan gereja yang besar itu sendiri. Vana langsung mengambil sapu lain, dan ikut menyapu bersama Pak Paulus.

Sudah satu minggu Vana membantu Pak Paulus di gereja. Tak ada hal lain yang membuatnya senang selain ikut membantu menyapu dan mengepel lantai. Suatu hari sesudah membantu membereskan gereja, Vana mengajak Pak Paulus mengobrol sejenak.
“Pak, saya mau minta sesuatu. Mmm… apa bapak mau jadi ‘ayah’ saya?”
Pak Paulus tertawa, “hahaha.. selama ini kamu udah saya anggap jadi anak saya kok. Tanpa kamu minta pun, saya sudah anggap kamu sebagai anak saya. Jadi ayah kamu, bukan berarti harus menikah dengan ibu kamu kan? Saya sudah anggap kamu anak saya yang paling baik. Karena anak kandung saya pun mana mau bantu-bantu saya di gereja. Justru mereka malu dengan pekerjaan saya ini. Tapi kamu datang dan bantu saya di sini, sudah membuat saya jadi semangat bekerja lagi, jadi semangat melayani Tuhan kembali, kamu sudah mengubah hidup saya menjadi berwarna. Saya yang harusnya minta kamu buat jadi anak saya.”

Vana terdiam. Dia menangis. Menangis bahagia. Rasanya benar-benar bahagia saat kita mendapatkan apa yang kita inginkan, yang kita cintai, dan itulah yang dirasakan oleh Vana yang mendamba seorang ayah. “selama ini saya selalu menolak mama saya untuk menikah dengan orang lain. Karena sampai kapan pun, ayah saya tetap hanya ada satu, tidak bisa digantikan. Tapi itu berubah saat bertemu bapak. Bapak sudah mengajarkan banyak hal pada saya. Bapak sudah memberikan kasih sayang pada saya secara tidak langsung. Dan, ya… Pak Paulus adalah ayah kedua saya. Terima kasih, Pak sudah mau menganggap saya anak bapak.”

9 Mei 2013. Hari ini tepat tujuh tahun ayah Vana meninggal. Vana mengambil secarik kertas dan menulis sepucuk surat.
Tuhan

terima kasih Engkau sudah mempertemukanku dengan ayah baruku
aku tahu ini adalah salah satu bagian dari rencana indah-Mu
Pa,
tujuh tahun papa pergi
tujuh tahun Vana menangis
tapi Vana tahu, kehidupan harus terus berjalan
Vana yakin papa pasti tenang di sana
Selamat jalan papa…
(Dedicated for my father)

Cerpen Karangan: Veronica Nova Ristiana
Facebook: www.facebook.com/nova.norizz2

Seorang gadis kelahiran Bandung, 17 November 1997.
yang lahir di tengah keluarga kecil yang bahagia.
menyukai dunia anime terutama Detective Conan dan Kuroshitsuji.
mencintai dunia menulis dan bahagia jika menulis.
mengidolakan Sherlock Holmes dan berharap bisa menjadi dirinya suatu saat.

follow me on twitter : @Nova_Ristiana
add me on facebook : Veronica Nova Ristiana Setiawan
wattpad and fanfic : cavana1412

Cerpen Ketika Si Anak Yatim Memiliki Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Emma

Oleh:
Hari ini aku melewati jalan yang cukup ramai. Tujuanku adalah toko bunga. Ketika hendak membuka pintu toko, tak jauh dariku sepasang sahabat saling bercanda. Wajahnya terlihat kebahagiaan masing-masing. Sebuah

Indahnya Cinta Ratih (Part 1)

Oleh:
“Sedang apa malaikat kecilku di sana? Apa ia sudah makan? Apa tawanya masih mengembang di bibir mungilnya? Apa ia sudah bisa merangkak, berjalan atau mungkin sudah bisa berlari…” Setetes

Pelangi

Oleh:
Pagi yang cerah matahari terbit dari ufuk timur. Sinarnya menembus rimbunnya pepohonan di desa yang indah, desa tempat Nina dan keluarganya tinggal. Akhirnya desa itu mendapatkan hangatnya mentari pagi

Bunga Terbuang

Oleh:
Sejenak kuhela nafas, sangat terdengar nafasku yang terengah-engah. Kulihat lagi kedepan, ternyata dia sudah sangat jauh. Ingin terus kukejar dia, tapi kakiku tak sanggup, luka ini belum sembuh penuh.

Tiga Cinta Satu Muara (Part 1)

Oleh:
Hujan mengguyur Semarang sore itu. Dua bidadari kecil asyik bercengkerama bersama sang Bunda di teras rumah. Dingin memang, tapi canda tawa menghangatkan suasana. Satu per satu perbincangan mengalir. Tentang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ketika Si Anak Yatim Memiliki Ayah”

  1. yusril says:

    cerpenx bgus”,,aq suka 🙂 maakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *