Ketikan Hidup Langit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 14 February 2015

Kembali menekan tuts keybord. Hari sudah larut malam. Tapi hati masih saja memikirkan keadaan di rumah. Entah Puri atau Dio. Bagimana keadaan mereka sekarang mebuat nya gusar hingga waktu terus berjalan dan setumpuk pekerjaan yang harus ia selesai kan pun tak kunjung usai.

“Langit, aku pulang dulu ya. Hati-hati kamu di kantor sendirian.” Ucap Reina kekasih Langit, yang juga pegawai di kantor.
Ini memang sebuah pekerjaan yang sudah biasa untuk Langit, bagaimanapun suasana di rumah ia harus segera menyelesaikan pekerjaan ini sebelum hari berganti dan rutinitas kantor di mulai. Pikirannya semakin tak menentu, entah apa yang terjadi dengan kedua adiknya di rumah. Sebagai seoarang kakak tertua bagi Dio, menjaga dan melindungi adalah utama dibandingkan yang lain.
“Apa yah? Kamu mau pergi lagi sama pacar barumu itu? Siapa namanya? Aku lupa!” ucap Ibu, tak terdengar suara lemah Ayah dari balik pintu, justru suara vas yang dilempar Ibu ke dinding mengagetkan Puri dan Dio dari tidurnya.
Jelas saja, keributan itu terjadi tengah malam. Puri dan Dio mana tau tentang apa yang diributkan Ibu dan Ayah.

“Mas Langit, Puri salah apa ya sama Ayah dan Ibu. Sampai-sampai mereka tak punya waktu untuk di rumah” suara Puri pelan, takut terdengar Ayah dan Ibu yang sedang berunding di ruang tamu.
“Kamu gak salah apa-apa kok dek. Mereka saja yang seperti anak kecil, tidak pernah mau memahami satu sama lain, hingga harus mengorbankan kau, aku dan Dio. Mereka selalu menuruti ego masing-masing, bahkan, mungkin mereka sudah lupa kalau kita butuh kasih sayang mereka. Bukan hanya suara teriakan dan perabotan yang terbanting setiap harinya” batin Langit, tak mungkin dia mengatakan hal itu pada Puri, dia belum tahu tentang konflik rumah tangga seperti ini.
“Puri gak salah kok, Ayah dan Ibu kan cari uang untuk kita. Jadi Puri bisa beli apapun nanti” jawab Langit menasehati adiknya.

Kemudian suara di ruang tamu masih hening. Tiba-tiba Ayah yang tak pernah membalas omelan Ibu, kini berbicara. Ruang tamu menjadi riuh lagi, barang-barang di sekitar pecah, berantakan, dan banyak kata-kata yang tak pantas didengar.
“Ibu pikir Ayah tidak tahu tentang hubungan Ibu dengan teman SMA mu itu? Siapa namanya? Aku juga lupa!” Ayah melempar kata-kata pedas itu.
Tidak selang beberapa lama, meja kaca di ruang tamu itu hancur berantakan. Ibu melempar vas bunga tepat di meja kaca. Ayah memengang pundak Ibu, menatap matanya dan mendorongnya hingga jatuh.

Langit melihat Puri dan Dio bersembunyi di balik selimut, pemandangan yang sudah tak asing pertengkaran seperti ini. Langit ingin sekali melerai mereka dan menyadarkan mereka, mereka masih punya Langit, Puri dan Dio. Bukti cinta, yang mungkin sudah terlupakan.

Ayah dan Ibu saling beradu pendapat berteriak seolah-olah lawan bicaranya tak mendengar apa yang dibicarakan. Ibu gemas melihat Ayah yang hanya bisa mengulang-ngulang kalimat.
“Ibu pergi saja dengan pacar baru mu itu, Anton. Pergi saja sana. Tak usah urus kami”
Ibu melempar bantal-bantal yang ada di sofa, Ibu dan Ayah tak malu semua itu dilihat oleh anak-anaknya.

Di tengah pertengkaran, Langit berjalan di tengah-tengah mereka. Ini cara Langit supaya mereka tak semakin panas. Untuk apa mereka bertengkar, tak malu dengan anak-anaknya yang belum mengerti apa mau mereka.

“Hey Langit, apa maksudmu berjalan di sana? Apa tak ada jalan lain? Masuk kamu ke kamar.” Ibu meneriaki Langit.
Langit justru duduk di sofa yang sudah dipenuhi dengan barang-barang yang dibuang Ibu.
“Kau mau apa Langit” teriak Ayah dari sisi kanan.
“Ayah dan Ibu mau tau aku mau apa?” Langit meledek, Ayah dan Ibu di buatnya bingung. Saling tatap satu sama lain, muka kesal Ibu sudah terlihat. Ayah mengepal, menahan marah.
“Aku mau nonton. Pertandingan bola kesukaanku saja bisa kalah seru dengan pertandingan kalian. Ketika Ibu melempar vas bunga adalah hal yang jauh lebih seru dibandingkan ketika jagoan sepak bola ku mencoba memasukkan bola ke gawang. Ketika Ayah dan Ibu berteriak kesana kemari adalah hal yang paling menarik dibandingankan dengan suara reporter sepak bola yang tiada hentinya berbicara.” Langit tersenyum lirih, tetap duduk di sofa menatapi mereka.
Langit lah yang lebih tau Ayah dan Ibu dia anak yang sudah lebih dulu lahir dibanding Puri dan Dio, jadi baginya pertengkaran seperti ini sudah makanan sehari-hari. Tapi siapa juga yang tahan bila terus menerus rumah diisi dengan pertengkaran belaka.
“Tutup mulut kamu Langit. Masuk ke kamar. Ini sesuatu yang tidak harus kamu tonton!” gertak Ayah, menarik Langit dari sofa dan melemparnya ke lantai.
Langit menjauh, berlari ke arah anak tangga. Berdiri disana. Menatap Ayah dan Ibu.
“Kalau Ayah dan Ibu tau ini bukan sesuatu yang baik untuk dilihat. Lantas mengapa kalian selalu bertengkar di hadapan kami? Apa Ayah dan Ibu tak pernah memikirkan perasaan Puri dan Dio? Dia selalu mendengar dan melihat pertengkaran kalian. Sementara kalian menyajikan pertengkaran ini dengan elok, mengalahkan pertandingan sepakbola yang mereka suka. Ayah dan Ibu masih sayang kan sama kami?”
Tak ada suara, hanya vas bunga di dekat meja TV melempar ke arah Langit. Prang…
Berdarah.

Suara tuts keybord terdengar bergantian. Suara printer terdengar bersahutan. Mata itu terbuka perlahan. Rutinitas kantor sudah dimulai, banyak orang berseragam mondar-mandir di hadapanya. Membawa map-map penuh dengan data-data. Seorang wanita samar-samar terlihat dari kejauhan mendekatinya.
“Langit, kamu sudah bangun? Kulihat tadi kau nyenyak sekali” ucap Reina wanita yang dilihat Langit tadi.
“Apa? Ini sudah pagi Rein? Astaga! Bagaimana ini aku, bisa-bisanya aku ketiduran disini. Bisa-bisa aku dipecat si Bos!” Langit kesal
“Kamu tenang saja Langit, tadi aku datang lebih awal. Aku tahu kamu pasti ketiduran di kantor karena semalaman aku menelepon mu tapi tak ada jawaban.”
“tenang? Pekerjaanku belum selesai Reina. Ini sudah jam berapa? Aku bisa dimarahi si Bos!”
Langit marah sambil berdiri dari temapat duduknya, sibuk membenahi kertas-kertas di mejanya. Membenarkan pakaiannya dan berusaha mencari jam.
“Jam sepuluh”
Mata Langit melotot tajam. “Mati aku!”
“Tadi Bos sudah datang kok waktu kamu tidur” Reina cengengesan di depan Langit
“WHAT?” badanya mondar-mandir bingung mencari alasan
“Pekerjaanmu sudah ku berikan pada Bos, seperempat pekerjaanmu sudah kukerjakan pagi tadi. Kau tenang saja Langit”
Langit memeluk Reina. Bahagianya tak terkira, dikiranya hari ini adalah hari terakhir dia bekerja.

Jam makan siang tiba, Langit mandi di kamar mandi kantor. Hal sperti ini sudah biasa bagi Langit, apalagi ketiduran, sudah sangat biasa. Jadi setumpuk baju siap pakai sudah ada di laci meja kerjanya. Jaga-jaga jika kesiangan dan ketiduran di kantor.
“Semalam aku mengingat kejadian lima tahun lalu Rein. Aku rindu mereka.”
Reina menepuk bahu Langit. Dia tahu bagaimana perasaan Langit. Lebih-lebih dia sudah menjadi kekasih Langit sejak 10 tahun lalu.
“Ikhlaskan saja. Sekarang kamu pikirkan Puri dan Dio. Dia jauh lebih membutuhkan kamu sekarang”
Hari ini Langit harus pulang ke rumah, sudah dua hari dia tidak pulang. Meninggalkan Puri dan Dio. Tidak bisa dia terus-terusan seperti ini, menginap di kantor, kembali bekerja, seperti itu saja seterusnya.

Rumah petak di gang sempit itu selalu terlihat sepi. Hanya terlihat Puri yang pergi atau pulang kuliah sesekali dan Dio keluar rumah. Tak ada sentuhan kebahagian di rumah itu.
Pemilik rumah petak mondar-mandir mencari Langit, tunggakan sudah menumpuk. Tidak bisa Ibu Kontrakan membiarkan ini semua.
“Mas Langit belum pulang Bu, Dio gak ada uang. Nanti kalo Mas Langit pulang pasti dibayar, ini kan tanggal muda.”
“Bohong! Tiap tanggal muda, itu terus alasanya!” ungkap Ibu Kontrakan
“Ih dibilangin gak percaya, tanya saja sama Mbak Puri kalau sudah pulang kuliah”

“Mas Langit, besok Puri sama Dio mau ke Rumah Sakit Jiwa ya. Aku udah ada uang kok! Mas Langit mau ikut?” tanya Puri malam-malam.
“Sussttt… Mbak Puri! Kok nanya gitu sama Mas Langit? Mas Langit kan sudah jelas-jelas gak ikut”
Puri merasa bersalah, kesal.
“Mas ikut kok dek! Besok kita pergi kesana bareng ya. Mas kan gak pernah kesana”
Puri dan Dio melotot, entah bagaimana ceritanya sejak kapan Langit mau menjenguk Ayah dan Ibu.

Rumah Sakit ini masih sepi, para suster mondar-mandir saling sapa. Banyak pasien yang sudah bangun bermain dengan dunianya sendiri. Ketika Langit, Puri dan Dio lewat ada pasien yang menarik-narik bajunya. Ada yang senyum-senyum tidak jelas.
Langit baru hari ini menyentuhkan kakinya di tempat baru Ayah dan Ibunya. Setelah kejadian lima tahun lalu itu, ketika Ayah dan Ibu masih saling bertengkar dan rumah disita.
Puri dan Dio sudah biasa ke tempat ini, jika uang Puri sebagai guru Les sudah cukup banyak ia selalu mengunjungi tempat ini dengan Dio. Sekedar melihat senyum Ayah dan Ibu rasanya sudah cukup.
Mata Langit menangkap sepasang pasien tepat di ayunan taman Rumah Sakit ini, dia heran apakah ada cinta lokasi di tempat seperti ini?
Langit tak berhenti menatap, hanya terlihat punggung pasien. Mungkin hanya seorang suster dan dokter pikirnya.
Puri menepuk pundak Langit.
“Hey, Mas! Kok melamun? Kenapa? Kaget ya liat kemesraan Ayah dan Ibu?”
Langit menoleh, rasanya dunia ini seperti mimpi yang selama ia impikan sejak dulu. Tak pernah ia melihat Ayah dan Ibu seakrab ini. Langit mendekati ayunan itu, menatap wajah mereka. Ayah dan Ibu sudah tua. Ibu menyenderkan kepalanya di bahu Ayah.
Ibu yang terakhir kali Langit liat sangat galak dan tak pernah menguraikan air mata, kini justru air matanya membanjiri wajah manisnya.
“Ayah dan Ibu selalu seperti ini Mas sejak peristiwa itu, makannya aku sama Mbak Puri selalu ingin kesini, aku rindu momen-momen ini Mas!”
Langit tertegun, dia menyentuh wajah Ibu dan mengusap air matanya. Ibu tersenyum pada Langit, tanganya mendarat di pipi Langit dan senyum-senyum menatapnya. Ayah mengelus rambut Langit, yang sepertinya jauh lebih rapi dibandingkan dengan masa remaja dulu.
“Ini cara Tuhan mas, cara untuk mempersatukan mereka. Mungkin, dengan cara ini mereka bisa bersama seperti dulu saat mereka jatuh cinta. Tuhan itu Adil. Ya kan Mas?”
Langit mengangguk. Tanganya mulai merangkul Ayah dan Ibu. Memeluk mereka erat. Membelai tubuh orang-orang yang sangat Langit sayang. Menagis sederas-derasnya. Tak mampu lagi ia berkata. Tak mampu lagi membenci mereka. Hanya tersisa rindu yang mendalam. Dan penyesalan tiada tara.
Langit menatap Ibu, dilihatnya Ibu semakin tak kuasa menangis. Tangan Ibu menarik lagit, mencium keningnya.
“Langit. Ibu Rindu Langit”

SEKIAN

Cerpen Karangan: Rhodiatussholihah
Facebook: Rhodiatus Sholihah

Cerpen Ketikan Hidup Langit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Duka Mentari

Oleh:
“Tari, kami turut berduka cita ya atas wafatnya mamamu.” Ilham mewakili teman-teman sekelas Mentari mengucapkan bela sungkawa. Mentari yang biasa dipanggil Tari pun mengangguk dengan lirih. Teman-temannya memaklumi dengan

Obat Sakit Gigi

Oleh:
AARRGGHHH!!! Gigiku kian hari kian sakit saja. Membuatku kesal dan mempengaruhi pekerjaanku. Namaku Ronald, aku tinggal di sebuah rumah minimalis yang cukup sederhana bersama istriku, Maddeline. Kami telah menikah

Tersadar

Oleh:
Nama ku Hisanah aku terlahir dari keluarga yang bahagia dan berkecukupan, memiliki ibu nan lembut, ayah yang bijaksana, aku merupakan anak tertua dari 3 bersaudara, Hasnah dan Hasyim nama

Matahari Terakhir

Oleh:
Aku mengayuhnya dengan tergesa. Sudah berapa kali kayuhan ini membuat napasku mulai tersengal. Namun, aku tak bisa berhenti di pertengahan jalan seperti ini. Ada seseorang yang menunggu kehadiranku. Kehadiranku

Derita Andi Si Pengamen Cilik

Oleh:
“Bintang kecil di langit yang biru…” nyanyian Andi yang serak karena kerongkongannya belum dilewati air sejak pagi. Dari jendela-jendela mobil, Andi mengais rezeki hanya untuk membeli sebungkus nasi. Dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Ketikan Hidup Langit”

  1. johan says:

    critanya mengharukan.. T^T waktu liat awalnya kepikiran, alah pertengkaran ortu trus lope”an ma pcr udh klise tp pas trus dbca uh.. jleb bikin nyesek bgs bgt T^T bintang 5 deh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *