Khayal Sendja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 February 2018

Aku memandang senyum itu. Senyum lemah yang dia berikan hanya kepadaku, demi membuatku tenang menghadapi segalanya, atau mungkin juga untuk menenangkan dirinya sendiri dari kenyataan pahit dunia yang harus diterimanya. Sungguh, aku bisa saja tidak tahan dengan semua ini, jika saja ia tidak berharap banyak padaku.

“Teruslah membaca, nak, Ibu ingin mengenang lebih banyak…”

Aku ingin menangis saja rasanya. Tetapi aku tidak boleh terlihat lemah di depan ibuku yang sedang terbaring lebih lemah di atas kasur putih itu. Bau-bau obat menyeruak ke ruangan tempatku dan ibuku berada. Aku menghela napas, tersenyum kepadanya, dan kembali melanjutkan apa yang belum kuselesaikan.

“Ya, sendja kala itu memang menyimpan banyak kenangan tentangku dan dirimu. Ingatkah ketika pertama kali kita bertemu, sendja menampakkan warna indahnya, tidak pernah sebelumnya. Mungkin langit pun berbahagia, menjadi saksi rekam si muda-mudi…”

Aku diam sebentar, berpaling kepada ibuku yang kembali memejamkan matanya, mungkin mengingat-ingat kenangannya bersama ayahku yang telah lebih dahulu dipanggil oleh Tuhan. Inikah yang namanya cinta sejati? Ketika mereka berdua tidak dapat dipisahkan di dunia maupun di akhirat.

“Lucu sekali ketika kau dan aku sepakat untuk selalu bertemu ketika sendja tiba. Polos. Tanpa tahu ke mana arah hidup kita setelah itu… Lalu suatu sendja tiba, menangis, kita berteduh. Ingatkah kamu, ketika kamu ingin meninggalkanku demi perang? Marah, tetapi tidak dapat berbuat apapun. Hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, dan berharap semoga kamu akan kembali… 30 Juni 1990, takkan pernah kulupakan saat itu…”

“30 Juni 1997. Tak kusangka, akulah yang harus mengkhianatimu. Kenapa hatiku harus begitu terbuka? Aku mencintai seseorang di sini. Maaf, aku telah menikah. Tetapi aku juga menginginkanmu. Egois diri. Kapan kamu datang, tujuh tahun tidak berkabar, apakah aku masih dapat berharap?”

Aku sedikit tersentak. Kukira, apa yang sejak tadi kubaca adalah curahan hati ibuku tentang kenangannya dengan ayahku, tetapi, apakah ternyata ada orang lain?

Seakan dapat membaca keheninganku, ibu membuka matanya.
“Dil, maafkan ibu… tapi ada orang lain… yang sangat ibu cintai sejak dulu, selain ayahmu…” Ibuku tampak merasa bersalah.
“Bukalah… bacalah, 7 Januari 2000..,” kata ibuku lemah. Aku segera melewati beberapa halaman dan sampai pada tanggal 7 Januari 2000, hari kelahiranku.

“Den, hari ini lahir mentari baru bagi hidupku… Kamu apa kabar di sana? Masih mengingatku? Seharusnya hari ini aku bahagia, tetapi aku mendapat kabar buruk tentangmu. Benarkah, Den, kamu telah meninggalkanku untuk selamanya? Sudah hampir 10 tahun, mengapa kau tidak pernah memberikan kabar? Benarkah? Lalu aku harus apa sekarang…. Mengapa, mengapa kamu harus mengorbankan dirimu. Apakah kau tidak pernah memikirkan perasaan orang-orang dekatmu. Bagaimana dengan sendja yang kau janjikan itu? Janji yang tidak akan ditepati… Ya, aku tahu sekarang. Hidupmu hanya berjalan untuk negara, tanpa cinta bagiku. Segala yang kau lakukan untukku selama itu hanyalah sampul dirimu… Tetapi kau harus tahu, bahwa aku tidak pernah berpura-pura…”

Sepertinya aku mulai mengerti. Ibuku masih sangat mencintai orang ini, dan sepertinya ia tidak akan melupakannya. Hidup dalam kesedihan, ibu membesarkanku bersama ayahku. Atau itu hanyalah asumsiku.

“Dil, ayahmu ternyata tidak sebaik seperti yang ibu bayangkan sebelumnya. Maafkan ibu, tetapi kamu harus tahu tentang hal ini… Ayah kamu melakukan kesalahan besar, Dil, ia selingkuh dan ketika ibu mengutarakan kekesalan ibu padanya, ia hampir menghantam Ibu dengan lampu meja di ruang tamu. Ibu tidak mau terus menerus hidup di dalam kebencian, maka ibu membawamu pergi dari rumah kala itu… Ibu lalu berdoa bahwa lebih baik ayahmu mati saja, karena menurut ibu saat itu, ia tidak pantas hidup…”
“Tetapi rupanya, Tuhan mendengar doa ibu, tetapi salah dengar. Hahaha, ternyata ibu lah yang akan meninggal…”
“Ibu…” Aku tak kuasa menahan perasaanku. Aku langsung memeluk ibuku, menangis, mengeluarkan semua perasaanku di dekapan lemah ibuku.

Ibuku divonis kanker otak ketika aku berumur 12 tahun, ya, 5 tahun yang lalu, padahal saat itu, ibu sedang berusaha menyekolahkanku. Bekerja membanting tulang sebagai single parent. Saat itu, aku yang belum mengerti apa-apa, hanya terheran-heran melihat ibu lebih sering terbaring di kasur kecilnya. Aku pun hanya fokus pada sekolahku. Belajar dengan giat, demi mendapat beasiswa dan tidak menyusahkan ibu lagi.

“Tidak apa-apa, Dila, ibu memang salah… Seharusnya, doa tidak boleh diucapkan seperti itu. Mungkin ibu dihukum oleh Tuhan… Atau mungkin Tuhan malah menyayangi ibu dan ingin mempertemukan ibu dengan Denny kembali…”
Aku melepas pelukan ibu, teringat bahwa aku masih harus mengetahui sesuatu.

“Denny itu… siapa, bu?” tanyaku. Ibu kembali tersenyum.
“Bisa dibilang, Denny adalah cinta pertama ibu, dan mungkin juga cinta terakhir, karena ibu tidak pernah merasa sesayang ini pada laki-laki lain, termasuk ayahmu. Ia teman sekolah ibu yang selalu ada, Dil. Setelah lulus sekolah, ia memilih melanjutkan pendidikan di sekolah tentara, katanya untuk menyelamatkan negara kita dari bahaya yang mengancam.”
Ibuku kembali tersenyum. Hanya itu penjelasannya, singkat, tetapi kurasa aku dapat merangkai semua ceritanya. Aku tidak ingin menyulitkan ibu dengan memintanya menceritakan semuanya. Ya, mungkin lebih baik esok-esok saja.

“Ya sudah, ibu istirahat saja dulu. Sudah malam. Tenang, Dila akan selalu ada di sini, di samping ibu.”
Lagi-lagi ibu memberikan senyumannya, sebelum ia memejamkan matanya, ia menatapku dalam-dalam, “Dila, ibu selalu menyayangimu…”
Tak kusangka. Senyuman dan tatapan itu, adalah yang terakhir dari ibuku.

Sendja. Sesuatu yang sangat disukai ibu. Aku pun melepas jasadnya saat langit kuning kemerahan itu telah datang. Kuharap dengan begini, ibuku dapat tenang di sana. Aku tidak peduli. Saat ini aku yatim piatu. Banyak orang yang mengatakan aku gila, karena aku sendiri. Padahal, aku tidak pernah sendiri, mereka saja yang tidak pernah menyadarinya. Tak apalah, yang terpenting adalah ibuku, meninggalkan dunia ini dalam keadaan tenang.

‘Sendja, tolong, bawa ibuku kepada seseorang yang dicintainya. Jangan mengecewakannya. Ibuku sudah sangat baik selama ini. Begitu pula dengan ceritanya tentangmu, semuanya indah. Sendja, please, be nice. Ketika Ibu sudah tidak ada, kuharap kau mau menerimaku sebagai sahabatmu, walaupun mungkin kau tahu, aku telah melakukan suatu kebohongan yang besar, terhadap ibuku, terhadap orang-orang di sekitarku, dan terhadap diriku sendiri…’

“Dila, ayo kita pergi dari sini, hari sudah hampir malam.”
Kudengar dia memanggilku. Aku meletakkan karangan bunga dariku untuk ibuku di antara karangan bunga sanak saudara ibuku yang lain, di depan nisannya. Hampir semua karangan bunga didominasi warna kuning, oranye, dan merah, warna favorit ibu. Aku tersenyum, dalam hati berpamitan pada ibuku yang semoga saja sudah tenang di sana.

Aku berkata pada dia yang telah menungguku, sungguh-sungguh, “Tolong, jangan pernah tinggalkan aku, ya. Saat ini hanya kamu, dan sendja, yang akan menemani hari-hariku…”
Aku pun berjalan pulang, dan aku siap, siap menjalani hidup dalam khayal. Nyata adalah rumit. Setidaknya aku bahagia.

Cerpen Karangan: Adeline Suriadi
Facebook: Adeline Suriadi

Ditunggu kritik dan sarannya yaa! 😀
Line: adelinesuriadi
adelinesuriadi.blogspot.com

Cerpen Khayal Sendja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Dan Keluarga Ku

Oleh:
Aku melihat laki-laki seperti tidak ada apa-apanya. “kamu tahu saya sibuk nyari uang buat kamu, buat anak ini, terus kamu minta pengertian, sudahlah aku gak akan pulang malam ini

Understand

Oleh:
“Fel! Lo sekarang ada di mana?,” tanya Billy saat Felly hendak keluar dari mobilnya. “Kenapa emang?,” tanya Felly sebelum ia menjawab pertanyaan dari Billy. “Lo semalem nggak nginep di

Pengganti

Oleh:
“Malam, Yah..” Seseorang tiba-tiba muncul di balik pintu masuk. Ketiga orang yang tengah berbincang di ruang tengah rumah, sontak terkejut dengan kedatangan sosok yang baru pulang di malam yang

Malaikat Malaikatku

Oleh:
Malam ini sangat sunyi. Jangkrik sekalipun tak terdengar kali ini. Bulan tak lagi menyinari. Aku bingung melihat semuanya. Terbaring di rumah sakit, aku tak mampu melakukan apa-apa. Hanya dapat

Kertas Kosong

Oleh:
Sunyi yang selalu menemani malam ku beserta nyanyian jangkrik di sekelilingku. Hampa sudah terasa, pupus sudah smuanya dan kini ku hanya mengharapkan kenangan yang telah sirna itu. “Dooorrr….!” Seketika

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *