Kinara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 31 January 2016

Di persimpangan langkahku terhenti, ramai kaki lima di sebuah pasar, pusat Kota. Pandanganku tertuju pada sosok gadis kecil yang berbaju kusam, dengan rambut yang terurai tampak tak terawat. Dengan tas yang berbahan karung, dibuat sederhana mungkin, ia menghampiri satu persatu, tenda-tenda pedagang makanan yang berjajar rapi di pinggir jalan itu. Entah apa yang ia lakukan, tak jelas ku bisa melihatnya. Karena gelapnya malam juga posisiku yang beseberangan, dengan lalu lalang kendaraan yang cukup ramai pada waktu itu, sehingga pandanganku semakin tak bisa diarahkan padanya.

Semakin penasaran ku coba untuk mendekatinya, entah apa yang membuat pikiranku tak fokus, tiba-tiba aku dikagetkan dengan sepeda motor yang tak ku kira ada di hadapanku dan hampir menabrakku. Entahlah aku tak persoalkan itu, tak ingin berlalu kaki pun melangkah menuju ke arah gadis kecil itu, ku lihat ia sedang memainkan sebatang kayu yang diberi beberapa tutup botol minuman dan sesekali ia pukul kan ke telapak tangannya, dipadu dengan suara merdunya menyanyikan sebuah lagu “Ayah-Peterpan.” Satu persatu pengunjung ia hampiri, namun tak jarang dari mereka hanya melambaikan kelima jarinya.

Dengan wajah yang terlihat lelah, ia meninggalkan tenda yang bertuliskan NASI GORENG itu, ketika ia melintas di tempatku berdiri, ku hampiri dia dan ku ambil uang logaman di saku bajuku, dan ku berikan padanya. Dengan ucap “terima kasih” ia bergegas pergi dari hadapanku. Ku ikuti langkah kakinya, kembali ia masuk di sebuah tenda yang selanjutnya, dengan lagu yang sama ia nyanyikan, kini dua dari lima orang yang duduk di sebuah warung makan Bakso terlihat memberinya lembaran uang seribu. Wajah gadis kecil itu sudah tak tampak layu lagi, dengan senyum manis di bibirnya ia meninggalkan tempat itu. Lagi-lagi ku hampirinya dan ku beri sisa uang ongkos di saku bajuku. Namun kali ini dia tampak heran, dan ragu ketika ia menerima kepingan uang logam dariku.

“Apa maksudnya Pak?” tanya dia kepadaku. Aku hanya tersenyum dengan kembali mencoba memberikan kepingan uang 500 Rupiah yang ku genggam untuknya. Namun ia hanya menggelengkan kepalanya. “Ambil saja, nggak apa-apa!” upayaku untuk meyakinkannya. Namun ia malah berlalari seakan takut dengan kehadiranku yang mungkin asing baginya. Entah apa yang membuatku penasaran dan ingin sekali tahu tentang gadis kecil itu.

Tak ingin kehilangan jejaknya, aku pun berlari menyusuri jalan yang cukup jauh dari tempat yang tadi ketika ku jumpa dengannya. Ku lihat ia masuk ke sebuah gubuk yang terletak di sebuah ladang luas dan kosong. Sejenak langkahku pun terhenti, ketika pandanganku menatap yang ada di sekitar, sampai ku putar badanku untuk melihat di sekeliling tempat itu. Namun yang ada hanya bangunan kayu yang diterangi lampu gantung yang terbuat dari botol bekas dengan sumbu yang terbakar sebagai pencahayaan gubuk itu. Tak lama ku lihat ada seorang nenek yang keluar dari gubuk itu, dengan langkah kaki yang terlihat berat untuk melangkah, ia mengawasi keadaan sekitar, tampak pandangan yang tak terarah sepertinya nenek itu sudah tak bisa jelas menatap keadaan di sekitarnya, sampai ketika aku mendekatinya, ia seakan bingung mencari langkah kakiku. Aku pun menghampirinya.

“Asalamualikum Nek!” sapaku pada nenek yang kira-kira berumur 70 tahun itu.
“Waalaikumsalam. Kamu siapa? ada apa datang ke sini?” jawab nenek itu.
“saya Ahmad Nek, maaf kalau kedatangan saya mengganggu Nenek di sini!” jawabku, “saya cuma ingin tahu, tadi apakah ada gadis kecil yang masuk ke rumah ini Nek?” sambungku.
“oh.. Ia memang ada, dan itu adalah cucu Nenek.” jawab nenek.
“Oh, Nenek tinggal di sini hanya berdua apa ada orang lagi?” tanyaku.
“duduk dulu Nak!” ujar nenek itu menyuruhku duduk di balai bambu yang ada di depan rumahnya itu.

“Iya.. Nek makasih!” jawabku dengan kembali ku tanyakan pertanyaan yang tak sempat ia jawab.
“Nenek tinggal berdua dengan Kinara cucu Nenek!” pungkas nenek itu.
“Lalu, Ibu dan Ayahnya Kinara ke mana Nek?” Tanyaku lagi.
Namun nenek itu enggan menjawab, seakan ada yang disembunyikan dalam diamnya itu. Lalu tak lama kemudian Kinara ke luar dan langsung memeluk sang nenek, dengan wajah ketakutan ia terus menatapku.

Namun saat ku lihat dia, nampak mirip sekali wajahnya dengan anakku yang hilang, begitu juga namanya Kinara. Saat aku ingin menjabat tangannya, dengan tiba-tiba angin bertiup kencang, dengan kemudian hujan turun dan deras di sertai petir. Aku bingung dan ketakutan, lampu gantung yang satu-satunya menjadi penerangan rumah itu, kini padam tertiup angin. Gelap, benar-benar gelap tak ku lihat siapa pun di situ, ku raih tanganku mencari letak Kinara dan nenek itu namun tak ku dapat. Hujan semakin deras dan angin seakan memutar di atas rumah gubuk itu, semakin panik kala ku dengar jeritan seorang anak kecil yang menjerit memanggil, “Papaaahhh!!!”

BRUGHH!!

Aku terjatuh, dan saat ku buka mataku ternyata aku tak berada di tempat yang tadi ku lihat, ini di kamarku. “Pah… kenapa?” sahut istriku. “Mimpi ya, kamu? Sampe keringetan gitu?!” sambungnya. “Kinara! Kinara masih ada mah, dia tinggal di suatu tempat dan aku harus ke sana sekarang!” jawabku dengan napas tak beraturan.

Ya, aku dan istriku sudah dua tahun kehilangan anak kami, dia Kinara namanya, dan hilang saat kami berlibur di suatu tempat wisata alam. “Mimpi tadi adalah petunjuk, terima kasih Tuhan, mudah-mudahan ini benar petunjukmu,” ucapku dalam hati. Bergegas aku ke luar untuk mencari tempat yang ada dalam mimpi tadi. “Pah, tunggu Pah… Mama ikut,” ujar istriku dan mengejarku. Aku dan istriku bergegas dari rumah, menuju gunung yang memang waktu itu kami berkunjung ke sana dan di tempat itu juga Kinara hilang.

“Pah, tenang Pah, jangan ngebut!” ujar istriku, saat ku bawa mobilku dengan kecepatan tinggi. Namun aku tak menghiraukannya. Satu jam kami sampai di kaki gunung tersebut, memasuki hutan dengan jalanan yang terjal. Dan di tengah gelapnya hutan, mobilku mendadak mogok, “kenapa, Pah?” cetus istriku.
“Sepertinya kita harus bermalam di sini mah, untuk menunggu ada warga yang membantu!” jawabku. Istriku terlihat ketakutan, ia sesekali menangis, “ya, Allah, jika benar anak kami masih hidup, tolong pertemukan kami, mudahkanlah dan beri petunjukmu ya Allah!” doa dalam tangisan istriku.

Di saat itu memang sepi dan lumayan jauh untuk menapai pedesaan, yang kami dengar hanya suara jangkrik, dan hewan hutan lainnya. Semakin membuat risau istriku, dia terus menangis, aku pun semakin bingung. “Tok, tok, tok,” kaca pintu mobilku ada yang mengetuk. Aku dan istriku semakin resah, namun terlihat sosok manusia, bukan hewan buas yang aku kira, dengan sedikit rasa takut aku pun coba membukanya. “Astagfiruloh!” aku terkejut nyaris ku pukul orang itu. “Tenang, Pak, saya orang baik-baik!” cetusnya, sambil mencoba menangkis pukulanku. Aku mengamatinya dari bawah sampai ujung kepalanya, memastikan bahwa ia memang benar manusia.

“Bapak siapa?” tanyaku kepada kakek tua itu.
“Saya, penduduk desa di atas.” cetusnya.
“memangnya di atas ada pedesaan lagi?” tanyaku penasaran.
“tentu,” jawabnya. “tapi kalau boleh saya tahu, untuk apa Bapak malam-malam ke sini?” sambungnya.
Lalu aku pun menceritakan, bahwa tadi, aku bermimpi bertemu dengan anakku yang hilang, dan dalam mimpi itu menunjukan Kinara berada di desa dekat hutan ini.
“Kalau boleh saya tahu, kapan bapak, kehilangan anak Bapak?” tanya kakek itu.
“Dua tahun yang lalu Pak!” cetus istriku.
“Iya Pak, kalau boleh minta tolong, Bapak bisa antar kami ke desa yang ada di atas kaki gunung ini?” sambungku.
“Tentu, karena saya juga penduduknya.” jelasnya.

Tak terasa waktu sudah pagi menjelang waktu subuh, dan saat ku nyalakan mesin mobilku, tiba-tiba hidup, entahlah ini mungkin kebetulan. “Gimana kalau kita ke sana sekarang, mumpung mobil saya sudah hidup lagi!” cetusku. Perjalanan kami lanjutkan, bersama kakek-kakek itu. Melewati tempat wisata yang dulu pernah kami singgahi, lebih jauh lagi kita sampai di sebuah Desa, benar-benar indah sekali saat ku lihat terbitnya mentari membumbung di samping gunung dan menyisakan tetesan embun pagi, yang membuat tempat ini semakin Asri.

“di depan berhenti, di rumah itu!” kata kakek dengan menujuk ke arah sebuah rumah. Saat berhenti dan turun dari mobil, kami disambut hangatnya pancaran mentari dan udara yang segar.
“Mari masuk!” sahut kakek itu. Namun saat ku menatap lebih jelas lagi rumah itu, ku amati baik-baik, teringat pada rumah di mimpiku semalam. “tunggu!” cetusku.
“Ada apa Pah?” jawab istriku. “Kek, sepertinya aku pernah ke sini!” kataku. “Iya benar, ini rumah yang ada di mimpi aku semalam,” sambungku. Kakek itu hanya tersenyum, dan berlalu masuk ke dalam rumah itu, sementara aku dan istriku masih di luar.

“Apakah Nenek ini juga ada di mimpimu?” cetus kakek itu dengan menuntun nenek-nenek, yang ku pikir istri dari kakek itu. “Ada apa ini, sebenarnya siapa kalian? Tolong jelaskan, apa kalian tahu tentang Kinara anak kami?” Ucapku sambil ku pegang bahu kakek itu.
“Kamu terlalu lengah menjaga anakmu sendiri!” cetus nenek yang ada di depanku itu. Dan istriku seakan menyesali hal itu, ia terus menangis,.
“kenapa Nenek bisa berucap seperti itu? Padahal kan Nenek belum tahu, siapa kami!” Ucapku, juga ku rangkul istriku. “Kakek, sudah beritahu padanya tadi.” cetus kakek itu. “Coba ceritakan, yang sebenarnya Kek, kasih tau kami di mana Kinara?” kata istriku dengan masih berurai air mata.

Kakek itu bercerita, bahwa dua tahun lalu ia menemukan Kinara di hutan, sedang menangis sendiri. Kakek yang kebetulan sedang mencari kayu di hutan, tak sengaja mendengarnya lalu, membawanya ke rumah. Cerita kakek membenarkan bahwa yang ia temukan adalah anak kami, yang hilang saat berwisata ke gunung yang ada di dekat Desa tersebut. “Lalu sekarang mana Kinaranya, tolong kembalikan kepada kami!” pinta istriku pada kekek dan nenek itu. “Mari, ikut saya!” kata kakek itu, dan langsung bergegas kami mengikutinya. Ia membawa kami ke halaman belakang rumahnya.

“Inalillahi wainalillahi rajiun!”

Istriku terkejut saat kakek itu menunjukan kepada kami letak kuburan yang ada di belakang rumahnya. Dan batu nisan itu bertuliskan KINARA, sontak aku pun menangis melihat tanah yang menggunung, mengubur jasad anak pertamaku. “Kek, kenapa ini bisa terjadi, apa yang kalian lakukan pada anak kami Kek?” tanya istriku. Dan kakek itu bercerita bahwa setelah satu minggu Kinara di rumahnya, tiba-tiba Kinara sakit, badannya demam tinggi, sehingga mereka pun bingung, di desa itu memang tak ada puskesmas apalagi Rumah Sakit. Demam yang diderita Kinara semakin tinggi, hingga suatu hari tepat pukul 02:00 pagi itu Kinara menghembuskan napas terakhirnya.

“Ya Allah, Pah… Kinara, maafkan Ibu Nak!!!” haru istriku yang terus menangis histeris. Hujan yang turun siang itu pun tak membuat istriku gentar, ia terus memeluk batu nisan yang bertuliskan KINARA.

Cerpen Karangan: Dicky Ferdiansyah
Facebook: Dicky Ferdiansyahh
Nama: Dicky Ferdiansyah
Alamat: Cikandang-Luragung-Kuningan
catatan: “Menulislah, karena tulisan adalah suatu perasaan yang bisa dilihat.”

Cerpen Kinara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tunggu Aku di Batas Senja

Oleh:
Pagi itu Ara berlari menuju kolam ikan di samping rumahnya. Seperti yang biasa ia lakukan ketika pagi bertemunya, ia menemui ikan mas yang ada di kolam ikan samping rumahnya.

Aku, Gadis Keripik Singkong

Oleh:
“Febi, ini keripiknya sudah siap.” Terdengar suara Ibu memanggilku. Aku pun datang menghampirinya di dapur untuk mengambil keripik yang sudah tersusun rapi di keranjang. “Iya, bu. Ya sudah, aku

Menyayangi Bukan Dari Penyesalan

Oleh:
“Dek, tolong yang sebelah kiri ditarik lagi. Itu masih miring!” suara perempuan bernada tegas dan agak aneh karena pilek terdengar di depan kampus pagi ini. Aku yang baru saja

The Father

Oleh:
“kak… pesan beliau, ia ingin kau yang memandikannya!” suara lirih dengan isak tangis berdenging-denging di telinga Daffa, sesekali dalam lamunannya ia tampak kesal, marah, jengkel, dan ia pun mengacak-acak

Menunggu Mentari Bersinar

Oleh:
Aku bersikap cuek karena aku menganggap dia hanyalah junior ku dan aku adalah seniornya, wajahnya yang begitu polos membuat aku selalu ingin ngerjainnya, kami sering bertemu dalam suatu perkumpulan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *