Kisah Ayah Dari Sahabatnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 24 November 2017

Baiklah kuawali cerita ini dengan tersenyum tersembunyi yang sejatinya sangat sakit terasa di hati, sangat kontra pada diri ini, di usia yang menginjak dewasa aku merasa hari-hariku kini tak berpihak kepadaku, terlebih setelah ibuku meninggal 4 tahun yang lalu seolah perhatian itu tak pernah nampak untukku bahkan sehari hari aku selalu menyalahkan ayahku, dan terbesit dalm hatiku ayah macam apa dia itu terlebih saat ini aku diberi tanggung jawab untuk mengurus diriku sendiri. Mungkin hal ini wajar saja karena usiaku yang sudah dewasa, namun bagiku ini hal yang sangat tidak adil mengingat aku yang selalma ini selalu mengandalkan ayahku dalam hal materi.

Aku anak terakhir dari dua bersaudara. Ayahku dua bulan yang lalu terkena serangan jantung, hingga akhirnya ayahku sekarang tinggal di rumah kakakku agar di sana ada yang merawatnya. Setelah dua bulan berlalu ayahku memintaku untuk mengunjungi rumahnya dan merawat kebunnya untuk kehidupanku sehari-hari, dengan perasaan yang sangat jengkel aku menyanggupinya.

Sesampainya aku di rumah ini aku hanya menarik nafas panjang ku melihat di sekitar rumah hanya terdapat tumpukan sampah yang melimpah ruah, terasa hati ini meringis sedih karena keadaan di lingkungan sepi tanpa kawan yang berarti, mulailah aku menyalahkan ayahku “hemm dasar ayah, teganya engkau menyuruhku tinggal di sini” gerutuku. Aku pun mulai melangkah membuka pintu rumah ayahku yang telah lama tak ditempati, aku mulai membereskan barang-barangku yang kubawa, serta ku mulai menyapu membersihkan debu yang berceceran di lantai rumahku.

Selesainya aku membersihkan, aku mulai memasak air agar kiranya ketika nanti malam dingin menyelimutiaku bisa menghangatkan badan ini dengan seteguk kopi, aku pun mulai menyapu halaman rumahku, sesekali menyapa warga yang lalu lalang di depan rumah, dengan ucapan yang umum tapi sangat berarti

“bagaimana kabarnya dan di mana ayahmu? Sudah dua bulan ini aku tidak melihatnya” tanya salah seorang warga.
“ayahku sedang sakit pak” jawabku singkat
“sakit apa?” tanyanya penasaran
“sakit jantung pak” jawabku
“ya ampun, semoga lekas diberi kesembuhan ya” doanya untuk ayahku
“iya pak amin” jawabku

Dengan badan yang mulai letih aku buka makanan yang sempat dibawakan kakak untuk bekal satu hari di sini, tidak lama kemudian nenek haji yang selama ini memang sangat baik dengan keluargaku datang menghampiri dan membawakan satu piring nasi dan lauk untuk kumakan hari ini.

Hari-hari kini kujalani dengan sangat membosankan tak ada telepon, tak ada kabar dari ayahku seolah ia sangat tega mentelantarkanku di kampung sepi layaknya kuburan ini, rutinitas hari hanya aku habiskan di kebun dan kembali ke rumah atau ke rumah kembali ke kebun hal ini wajar saja dimana hidup di lingkungan sepi, tanpa ada kawan dan sanak saudara, terkadang terbesit dalam anganku yang mulai menyadarkanku.
“apakah ini yang dirasakan ayah selama ini, hidup sendiri tanpa ada yang menemanai” gumam dalam hatiku

Suatu ketika dalam lamunanku aku tersadar dengan panggilan seseorang
“sidiq kan?” tanya laki-laki tersebut
“iya, pak” jawabku
“kapan kamu datang, sudah besar ya sekarang” tanyanya kembali
Dengan senyum yang seolah menjawab pertanyaanya
“sudah 3 hari yang lalu pak, bapak ini siapa ya” tanyaku
“Aku pak kardi, kawan ayahmu di sini, bagaimana kabar ayahmu?” tanyanya
“sudah baikan pak, tapi masih sesekali kontrol ke dokter” jawabku
“ow semoga lekas sembuh ya, ayahmu itu luar biasa sekali” ujarnya
“amin, luar biasa bagaimana pak?” tanyaku padanya seolah penasaran
“ya luar biasa, main ke rumah saja nak, nanti bapak ceritakan” ujarnya
“iya pak, rumah bapak yang mana?” tanyaku
“itu gubuk kecil warna kuning di perempatan jalan, belok kiri terus lurus, samping toko bangunan” jawabnya
“iya pak, nanti saya cari” jawabku

Di sore hari aku mulai keluar dari sarangku dan menuju rumah yang dimaksud laki-laki tadi dengan penuh penasaran tentang kisah ayahku lah yang mendorongku untuk segera menjumpainya. Aku pergi mengendarai sepeda motorku, hampir seperempat jam perjalanan aku pun telah sampai. Dengan perasaan heran di mana rumah gubuk kecil yang dimaksud, di samping toko banguanan memang ada bangunan berwarna kuning, tapi bukan seperti gubuk, namun yang tampak layaknya istana. Dengan penutup gerbang yang tinggi seolah pagar yang sangat kokoh untuk menjaga tuannya, dengan ukiran dan cat yang tampak indah. Aku pun tampak ragu untuk mendekatinya “apakah benar ini rumah pak kardi” gumam dalam hatiku. Namun sesekali aku memberanikan diri mendekati pintu gerbangnya dengan perasaan ragu aku mulai turun dari motorku dan menuju gerbang itu. Namun rasa ragu seolah kian mejagalku untuk mendekatinya aku pun berbalik arah menuju motorku untuk pulang namun aku tersadar dengan panggilan
“hei sidiq, masuk kenapa masih di luar” tanyanya
Aku pun membalikkan badanku menuju sumber suara tampak pak kardi mulai menghampiriku dari dalam rumahnya.
“iya pak” jawabku sambil mendorong motorku melewati gerbangnya

“sudah lama berdiri di depan?” tanyanya
“tidak kok pak, barusan saja” jawabku
“ayo masuk” ajaknya
Sambil sesekali aku melihat, sungguh indah rumah ini bak istana yang indah, aku mulai melepas sepatuku. Namun pak kardi melarangku
“sudah jangan dilepas bawa masuk saja” jawabnya
“tapi pak nanti kotor lantai bapak” ujarku
“tidak apa-apa, oya silahkan duduk” jawabnya
“iya pak” dengan terdiam aku mulai menuruti perintahnya

“mau minum apa?” tawarnya padaku
“tidak usah pak, aku Cuma penasaran dengan cerita tentang ayahku”
“ow seperti itu, baik lah bapak menceritakan bagaimana sebetulnya luar biasanya ayahmu, ayahmu dalam kesendirian selalu berkata bagimana bangganya iya denganmu, bahkan di bulan terakhir sebelum ayahmu terkena serangan jantung ayahmu selalu berjuang mencari nafkah untukmu berangkat pagi pulang magrib, walupun aku sering memperingatkanya untuk menjaga kesehatanya tapi ayahmu selau bilang ini demi pendidikan anakku. satu-satunya alasan untuk tidak menikah lagi juga karena dirimu, beliau hanya ingin fokus terhadapmu” jelasnya padaku

Aku hanya terdiam dan menunduk, betapa aku mulai sadar tangguhnya ayahku berjuang demi aku, berarti anggapanku selama ini tentang ayahku telah salah, ternyata selama ini ayahku tidak pernah meneleponku memberi nasehat atau perhatianya padaku itu bukan karena dia tak peduli tapi karena memang tidak pernah ada waktu untuk unuk meneleponku karena kesehariannya hanya digunakan untuk berjuang memberikan nafkah yang terbaik untukku.

Cerpen Karangan: Muid Sidik
Blog / Facebook: Karyaopinimuid.blogspot.com / mu’id Shidiqq
nama: muid sidik
TTL: air kubang, 11 09 1995
npm: 13103594
pendidikan: IAIN METRO
organisasi: UKM KSEI Filantropi

Cerpen Kisah Ayah Dari Sahabatnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Without Goodbye (Part 2)

Oleh:
“… sudah bangun?” “Belum, tuan.” “Dasar tidak berguna! Sudah seharian dia tidur!” Samar-samar telinga Hans medengar percakapan di dekatnya. Dia juga merasa badannya bergoyang-goyang. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan

Aku Tak Punya Tangan

Oleh:
16 tahun berlalu aku hidup tanpa ada sepasang tangan tapi itu semua tidak apa-apa yang penting aku dapat hidup bahagia bersama kedua orangtuaku. Kejadian itu berlangsung ketika aku masih

Aku Dan Kopi Sisa Ayahku

Oleh:
Sore ini, secangkir kopi itu mengingatkan ku pada ayahku. Kulihat dicangkir itu tersisa kopi yang kira kira setengah cangkir ukuran mungil. Cangkir mungil itulah yang biasanya digunakan ibu untuk

Senyum Kenangan

Oleh:
Hari ini tepat satu tahun Zahra tidak berbicara kami. Dan kami bersyukur karena itu. Setidaknya kami tidak harus kehilangan gadis cantik penuh semangat itu karena operasi gangguan otak yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *