Kisah Fasya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 5 January 2018

Pada awalnya aku tak pernah memperhatikannya, gadis kecil berambut panjang yang selalu mencuri-curi pandanganku. Tiap kali aku bertatapan mata dengannya dia selalu memalingkan pandangannya seolah-olah tidak melihat ke arahku. Mengetahuinya aku hanya tersenyum tidak peduli kupikir, “ah anak-anak, entah apa yang ada di pikirannya”

Tugas rutinku sepulang kerja adalah menjemput anakku les bimbel. Terkadang aku menunggu bubaran les, duduk di beranda sambil membaca buku. Anak itu selalu duduk di depan bangku yang aku duduki. Seperti biasa, dia mencuri-curi pandanganku dan aku pun tak peduli.

“Papaaa” aku dikejutkan oleh suara kecil yang sangat aku kenal, anakku keluar dari ruang kelas kemudian setengah berlari ke arahku sambil membawa secarik kertas di tangannya.
“Aku terbaik di kelas matematika, ini coba papa lihat hasil ujianku” dia berseru riang, hatiku terasa diguyur air yang amat sejuk. Kupeluk dan kucium pipinya yang chubby dengan sedikit menggigit gemas.
“Aaahhh, papa selalu menggigit pipiku” protesnya
“Good boy!! Itu baru anak papa yang keren, pertahankan itu sayang” kupeluk dia erat
“Satu mangkuk bubur ayam special, satu gelas besar cokelat dingin, dan sebuah gigitan di pipi jadi hadiah untukmu” ujarku sambil menatap mata buah hatiku yang bulat berbinar.
“gak mau ah bosen…” teriaknya sambil tertawa.
“okay, bagaimana dengan sepiring besar fried chicken dengan cream soup ditambah jus strawberry dan gigitan di pipi? Deal?” ujarku mengajukan tawaran
“DEALLL!!” serunya riang sambil memeluku. “Dengan 1 buah creeps coklat” tanyanya dengan penuh harap.
Aku mengangguk tersenyum, dan dia pun tertawa dengan riangnya.

Tak kusadari ternyata sepasang mata memperhatikan kegiatan kami. Mata itu terlihat berkaca-kaca. Gadis kecil itu menangis? Mengapa?
Aku penasaran, sepanjang perjalanan menuju rumah kuintrogasi anakku, “Siapa gadis kecil itu? Mengapa dia begitu misterius?” ujarku dalam hati.

Namanya ternyata adalah Fasya, dia tidak sekelas dengan anakku di tempat bimbel itu dan kelasnya lebih dulu bubar tetapi anak itu selalu duduk di beranda seperti menunggu seseorang menjemputnya, padahal menurut anakku tidak pernah ada seorangpun yang menjemputnya dan ketika semua kelas bubar ia baru beranjak pulang, begitu setiap hari.

Semalam aku sulit memejamkan mata, bayangan gadis kecil berambut panjang itu terus menari-nari di pelupuk mataku. Kenapa dia menangis tanpa sebab? Aku ingin waktu cepat berlalu, aku ingin bertemu dengan anak gadis itu, rasanya ada rindu yang menyentak di dadaku. Untung saja istriku sudah tidur waktu itu, jika tidak dia akan bertanya-tanya “Apa yang kamu pikirkan? Apakah terjadi masalah lagi di kantor?” karena belakangan ini banyak terjadi masalah di kantor tempatku bekerja.

Esokan harinya seperti biasa aku menjemput anakku bimbel, kali ini aku datang setengah jam lebih awal agar bisa berkenalan dengan gadis kecil berambut panjang itu. Dan benar saja ketika aku tiba di sana, mata gadis kecil itu berbinar, bibirnya setengah tersenyum, aku pun duduk di sampingnya sambil berpura-pura membaca buku. Dari sudut mataku kulihat dia memperhatikanku, aku menoleh, dia pun terkejut malu dan kemudian kuberikan senyuman termanisku dan kugeser duduku mendekatinya.

“Haii” sapaku untuknya. “Menunggu dijemput ya? Namamu siapa?” ujarku melanjutkan.
“Fasya, Ayahh” ujarnya dengan riang.
Aku terkejut, dia memanggilku ayah? Baru kali ini ada anak yang belum kukenal memanggilku dengan sebutan ayah, semua teman teman anakku memanggilku dengan sebutan om atau Papa Faiz karena nama anakku adalah Faiz. Tetapi aku tidak mau membuatnya kecewa, kemudian aku pun tersenyum.

Fasya berceloteh riang, memperkenalkan dirinya sebagai juara sejati di sekolahnya, tiga tahun berturut turut mendapatkan juara umum, mendapat beasiswa dan dia juga pandai menari sehingga baru-baru ini dia terpilih menjadi penari anak terbaik di sanggar tarinya, dia pandai melukis, berenang dan segudang prestasi lainnya dan yang paling mengusik nuraniku katanya dia hobby menulis, dia sering membuat cerpen dan puisi.

Mendengar ceritanya, aku tersenyum setengah tak percaya. Anak sekecil itu dengan segudang prestasi, hmm itu mungkin hanya khayalan saja, halusinasi seorang bocah. Tapi kemudian aku terkejut ketika ia memperlihatkan foto-foto yang dikeluarkan dari selipan buku miliknya yang berisi kegiatanya mengikuti lomba tari, renang, melukis dan lainya serta foto dia sedang memegang beberapa piala “Ini bukan khayalan semata, bukan halusinasi, dia anak yang hebat.” Ujarku dalam hati.

“Fasya, orangtuamu pasti bangga memiliki anak sepertimu” Ujarku padanya, tetapi sejurus kemudian matanya yang berbinar berubah menjadi berkaca-kaca sambil menundukan kepala.
“Harusnya begitu” gumamnya kecil hampir tidak terdengar.
Aku terkejut ketika bel tanda kelas bubar terdengar dan banyak anak-anak seusia anakku berhamburan keluar dari ruang kelasnya, aku sudah tidak fokus kepada Fasya karena jagoan kecilku sudah berdiri tegak di hadapanku.

“Semangkuk bubur ayam dengan segelas besar coklat dingin dan gak pake gigit di pipi, aku mau!!” teriaknya lantang.
Aku tertawa sambil mengacak ngacak rambutnya
“Prestasi apa yang kamu buat hari ini?” tanyaku.
“Tidak ada” balasnya.
“Beraninya kamu meminta upah bubur ayam spesial” godaku
“Papaku yang keren dan baik gak mungkin menolak permintaanku” katanya dengan percaya diri.
“Ayo semangkuk bubur ayam dan segelas coklat sudah menunggumu, serbu!!” ujarku.
Anakku tertawa riang mendengarnya, aku pun beranjak dari bangku beranda dan berjalan kemudian aku terkejut ketika sepasang tangan kecil menarik lengan bajuku.

“Ayah aku punya sesuatu buatmu, ini” ujar Fasya sambil menyodorkan amplop coklat besar yang biasa digunakan untuk lamaran kerja.
Anakku Faiz melotot ke arah Fasya sambil berkata “beraninya kamu panggil Ayah sama papaku, ini papaku, ini punyaku”
Aku pun menutup mulutnya kaget, anak ini punya kadar cemburu yang besar seperti mamanya.
“Makasih ya Fasya” ujarku tersenyum padanya. Fasya pun kemudian berlari keluar gerbang, tak ada seorangpun yang menjemputnya. Jadi untuk apa dia setiap hari selama hampir satu jam duduk di beranda? entahlah.

Malam ini aku semakin tidak bisa memejamkan mata, karena Fasya, karena bingkisannya buatku. Ternyata amplop coklat itu berisi tulisannya, sebuah cerpen yang sangat menyentuh hati. Berkisah tentang dirinya yang kesepian, butuh kasih sayang.
Bercerita tentang fasya yang malang, kecewa karena kedua ayah dan bundanya bercerai, sebab yang pasti adalah karena bundanya yang mudah jatuh cinta dan memiliki pacar di mana-mana, dari segala usia dan kalangan. Menikah lagi tanpa sepengetahuan ayahnya, meninggalkan Fasya. Sementara ayahnya yang merasa tersakiti menyibukan diri dengan segudang kegiatan dan pekerjaan di luar rumah. Fasya terabaikan, Fasya berusaha mati-matian mempersatukan kembali kedua orangtuanya dengan cara memberikan segudang prestasi yang dicapainya. Sayangnya semua yang dilakukannya tidak membuahkan hasil.

Bertutur tentang Fasya aku adalah orang yang disebut sebagai Ayah Baik Hati dalam cerpennya, dalam kalimat demi kalimat yang ia gunakan. Dia selalu memperhatikan gerak-gerikku saat aku menjemput anakku Faiz dan bercanda gurau dengannya. Kata kata yang aku gunakan untuk anakku direkam jelas dalam benaknya. Satu puisi sederhanya yang membuat hatiku merasa tersayat adalah yang berisi tentang rasa cemburu atas perhatian yang selalu aku berikan kepada anakku, Faiz. Karena Faiz memiliki aku, dan sebuah kalimat akhir yang membuat air mataku tak terbendung adalah. “Setiap hari aku selalu ingin bertemu Ayah Baik Hati, melihat senyumannya walaupun itu bukan senyum buatku. Ayah Baik Hati tidak pernah menyadari kalau aku juga sayang padanya. Aku ingin dipeluk Ayah Baik Hati dan menangis keras dalam pangkuannya”.

Fasya, aku ini waktu cepat berlalu hingga malam ini berganti pagi, siang lalu berganti petang, dan kemuadian aku bisa bertemu denganmu. Ingin kupeluk tubuh mungilmu, menangislah sekeras-kerasnya di pangkuanku. Fasya, aku ingin berbagi, berbagi cinta yang aku miliki. Kamu boleh memilikinya Fasya, sampai suatu saat ayah dan bundamu bersatu kembali dan kamu tidak membutuhkanku lagi.

(Muhammad Faisal – My First April)

Cerpen Karangan: Faiz Aljufri

Cerpen Kisah Fasya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anak Anak Saleh

Oleh:
Sebut saja namaku Delon dan adikku Denis. kami berdua adalah Kakak beradik yang kembar tapi kami saling menyayangi. Kami dari keluarga terbilang miskin karena orangtua kami kerja jadi tukang

My Destiny (Part 1)

Oleh:
“Oka-san (ibu), Oto-san (ayah)… Aku berangkat, ya…!” kataku seraya menyalimi tangan Oka-san dan Oto-san bergantian. “Hati-hati, Otoha. Jangan tersesat, ya! Kamu ‘kan belum terlalu hafal jalan disini,” kata Oka-san

Bidadari Surga

Oleh:
Saat itu aku merasa semua akan baik-baik saja, aku akan tumbuh besar dan bisa menggapai cita-citaku, aku pikir kata kasih sayang hanya sebuah kata hiasan seperti seseorang yang bertindak

Kado Dua Belas Jam

Oleh:
Hari yang menyebalkan bagi Rafa. Ia harus membatalkan double datenya demi menjemput seseorang yang merepotkan. Safa, gadis keriting berkulit putih yang merupakan saudara kembarnya. Baru beberapa bulan yang lalu

Ketujuh Putri Putriku

Oleh:
Di suatu desa hiduplah sebuah keluarga, dimana di tengah-tengah keluarga ini tidak terlestarikan lagi kerukunan dan keharmonisan. Pak ernata dan bu ernata adalah sepasang suami istri yang mempunyai enam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *