Kisah Pak Hery

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 January 2016

Matahari mulai memancarkan cahayanya dan menandakan kalau pagi sudah datang, seperti biasa Pak Hery bersiap untuk berangkat bekerja. beliau adalah seorang pekerja keras, beliau bekerja dengan gigih hanya untuk menghidupi kedua putrinya. Istri Pak Hery sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Putri sulung Pak Hery yang bernama Rani kini sudah mempunyai pekerjaan sendiri, sedangkan Lia putri bungsunya dia masih duduk di kelas 2 SMA.

Suatu hari Pak Hery mendapat musibah, dia terserempet sebuah mobil mewah, parahnya lagi setelah mobil itu menabrak Pak Hery mobil itu langsung pergi. Akhirnya dengan kaki berlumuran darah Pak Hery berusaha berdiri, dan dia memutuskan untuk segera pulang. Sesampainya di rumah, Rani terkejut melihat kaki ayahnya yang berlumuran darah, dia berkata.
“kaki Ayah kenapa?”
“tadi Ayah terserempet mobil Nak” ujar Pak Hery.
“lantas kenapa Ayah tidak pergi ke rumah sakit?” tanya Rani.
“Nak, ini hanya luka kecil, nanti juga pasti akan sembuh dengan sendirinya.” ujar Pak Hery.

Dua hari kemudian luka Pak Hery semakin parah, lukanya mulai membusuk dan mengeluarkan bau yang sangat menyengat. Saat Lia pulang studytour dia mencium bau yang sangat menyengat di rumahnya, dia bertanya kepada kakaknya. “Kak, ini bau apaan sih?”
Rani menjawab, “bau kaki ayah” Lia sangat terkejut dan berkata, “apa yang terjadi dengan Ayah Kak?”
“2 hari yang lalu Ayah terserempet mobil, dan kakinya tidak segera diobati, dan alhasil kakinya kini mengeluarkan bau yang sangat mengganggu” ujar Rani.
“oh tidak, bau ini sangat mengganggu pernapasanku Kak” ujar Lia.
“bukan kamu saja yang merasa terganggu, tapi Kakak juga Dek!” ujar Rani.

Lalu mereka telah sepakat untuk mengusir ayahnya dari rumah, Rani berkata, “Yah, lebih baik Ayah pergi saja dari rumah ini, bau kaki Ayah itu sangat mengganggu kami”
“tapi Nak, aku ini kan Ayah kalian kenapa kalian tega mengusirku?” ujar Pak Hery.
“ya sudah kalau Ayah tidak mau pergi biar aku dan Kakak yang akan pergi!” ujar Lia, lalu dengan berat hati Pak Hery memutuskan untuk mengikuti keinginan anaknya, dia berkata.
“baiklah, jika kalian menginginkan Ayah pergi sekarang juga Ayah akan pergi, jaga diri kalian baik-baik.” dengan penuh kesedihan dan rasa sakit.

Pak Hery berdiri dan dengan menyeret kakinya, beliau pergi meninggalkan rumah itu. Singkat cerita Pak Hery sudah berjalan sangat jauh, kini kakinya sudah mulai susah digerakkan, dan beliau memutuskan untuk mendiami salah satu TPU di kota indramayu, karena kakinya kini sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari beliau hanya menangis karena memikirkan kenapa anaknya tega mengusir ayahnya sendiri.

Cerpen Karangan: Kuresih
Facebook: KuresihC’ridhorious

Cerpen Kisah Pak Hery merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Terakhir Sahabat Ku

Oleh:
Fiha, sahabatku. Ia adalah sahabat sejak kecil bagiku. Tak pernah terpisahkan oleh apa pun. Bagai kepompong dan kupu-kupu. Itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan persahabatanku dengan Fiha. Hari demi

Hilanglah Separuh Nyawaku

Oleh:
Sore itu, bersamaan dengan kumandang Adzan salat Ashar, Aku terbangun dari siumanku. Cahaya lemah di ruangan itu sudah cukup untuk menyilaukan kedua mataku yang baru tersadar dari operasi kuret

Merajut Kepingan Hati

Oleh:
Sudah tiga jam lebih Fani menunggu kedatangan fina di serambi samping rumahnya sambil mendengarkan musik dari ipad nano yang baru ia beli satu minggu yang lalu. Fani sangat cemas

Kesempatan Berharga

Oleh:
Pukul tujuh pagi, aku terbangun dari tidurku dan beranjak pergi dari kamarku. Hari ini adalah awal dari libur panjangku, hari yang kugunakan untuk beristirahat dari aktivitas sekolahku yang melelahkan.

Unique Stories

Oleh:
“Hai mama.. Aku merindukanmu… kenapa aku tidak bisa melihatmu? Setidaknya hadirlah dalam mimpiku. Aku benar-benar merindukanmu. Aku ingin memelukmu, mama. Jawab ma! Mama tidak pernah membalas suratku.. mamaaa!!!” Sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *