Kisahku di Bulan Juni

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 31 March 2013

Namaku Lilyana Putri. Aku biasa di sapa dengan sebutan nama Riri. Aku anak keempat dari empat bersaudara. Aku baru saja LULUS dari bangku Sekolah Dasar dan sebentar lagi aku akan mengikuti test masuk SMP.
Hari ini tanggal 4 Juni 2012 aku merasa sangat bahagia, karena sebentar lagi aku akan mempunyai keponakan. Kakak perempuanku yang bernama Angel kini telah hamil anak pertamanya dan kini usia kandungannya telah 11 bulan, telah melewati batas normal orang yang hamil. Pagi ini kakakku dan suaminya pergi ke dokter untuk merangsang kandungannya. Karena dokter menyarankan untuk merangsang kandungan kakakku, karena dedeknya tak lekas keluar.

Pukul 13.00 aku, kak Dini dan ayah pergi menyusul kak Angel ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk menengoknya. Disana aku melihat keadaan kak Angel, kak Angel baik-baik saja dan belum ada tanda-tanda apapun untuk melahirkan. Pukul 13.40 kak Dian datang bersama ibu untuk menemani kak Angel diruang bersalin. Waktu begitu cepat berlalu, kini waktu telah menunjukkan pukul 16.00, masih tak ku lihat tanda-tanda kakakku melahirkan. Akhirnya ibu menyuruhku dan kak Dini untuk pulang terlebih dahulu ”Riri, sebaiknya kamu pulang terlebih dahulu bersama kak Dini dan minta ayah untuk mengantarmu. Ini masih lama, nanti ibu akan kabarin kamu lagi” suruh ibu padaku “Baik bu” jawabku dengan tenang dan bergegas pergi meninggalkan ibu.

Pukul 18.15 aku dan kak Dini kembali lagi ke Rumah Sakit Bhayangkara. Saat kami sampai disana, kak Angel belum juga melahirkan. Kami disini tetap setia menunggu kehadiran sang malaikat kecil ke dunia ini. Pukul 19.35 adikku belum juga lahir, aku dan kakak-kakakku yang lain ingin sekali melihat proses melahirkannya, tetapi tempat bersalinnya sangat tertutup, pintunya di tutup rapat-rapat, jendelanyapun terlalu tinggi untuk kami capai dan tertutup rapi oleh korden. Akhirnya kami pun berusaha mencari jalan untuk dapat melihat dan memastikan apakah adeknya sudah lahir apa belum. Di belakang ruangan bersalin kami menemukan sebuah ruangan medis yang tidak berpenghuni, kamipun pergi keruangan tersebut. Kami melihat disana terdapat jendela yang tidak terlalu tinggi, akhirnya kamipun naik ke tempat tidur pasien agar kami bisa melihat sesuatu yang terjadi didalam ruangan bersalin, tetapi saat kami baru saja melihat kearah yang berada di balik jendela, salah satu perawat yang berada di dalam ruangan bersalin tersebut mengetahui bahwa kita mengintip, kamipun cepat-cepat turun dan begegas pergi dari ruangan tersebut agar tidak dicurigai. Disaat seorang perawat keluar dari ruangan bersalin kamipun cepat-cepat mencari alasan dan berpura-pura tidak tahu.

Pukul 19.55 ibu keluar dari ruangan bersalin dengan sedikit tetesan air mata, aku tak mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan bersalin. Kini hatiku bertanya-tanya “Mengapa ibu menangis? mengapa tak ada suara tangisan dari dalam ruangan bersalin? Mengapa awalnya mereka semua tersenyum dan akhirnya menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?”. Tiba-tiba salah satu seorang perawatpun keluar dari ruangan tersebut sambil membawa adikku. Ku lihat adik begitu lemas dan pucat, saat aku ingin melihat wajah adik seorang susterpun melarangku dan ia cepat-cepat di bawa pergi ke suatu ruangan, entah itu ruangan apa aku tak mengerti mungkin saja ruangan khusus bayi. Aku tak percaya ketika ibu mengatakan sesuatu kepada kami “Adeknya sudah tidak ada” aku tak percaya semua ini yang aku tahu adekku baik-baik saja, saat itu aku bergegas pergi menemui ayah yang sedang duduk dengan ayah dari suami kak Angel, akupun memeluk ayah dan berkata, “Ayah, adik gak ada.. Riri gak percaya ini semua ayah” ayah membalas pelukanku “Tenang Riri, mungkin saja adiknya masih pingsan. Sekarang kita doakan saja semoga tidak terjadi apa-apa” “Iya yah” jawabku dengan tangisan, tiba-tiba kak Dian datang dan ayah menanyakannya pada Kak Dian “Nak, bagaimana keadaan adiknya?” kak Dian terdiam sambil menangis dan berkata “Adiknya sudah positif tidak ada, kamu sabar ya Ri” “Kenapa ya Tuhan ini semua terjadi, aku tak percaya secepat itu adik di panggil, dia tak memiliki dosa ya Tuhan” Kataku dalam hati dan terus-terus menangis.

Kini aku memang masih belum ikhlas atas kepergian seseorang yang selama ini aku sayang, tapi aku yakin adik lebih bahagia disana. Setelah aku mengetahui suatu penyakit yang di derita adik, kini aku sudah ikhlas memang sebaiknya seperti itu. Disaat kami semua menangis seorang dokter menghampiri ibu dan berkata, “Maaf saya mengganggu sebentar, bu sebenarnya cucu ibu ini mengidap penyakit yang awalnya terkena virus hewan. Saya benar-benar salut dengan cucu ibu dia dapat tetap hidup sampai saat ini, baru kali ini saya melihat seorang bayi yang mengidap penyakit TOKSOPLASMA GONDII seperti ini dapat di lahirkan normal, sebelumnya saya pernah melihat soarang bayi yang mengidap penyakit seperti ini, tetapi harus lahir dengan cara operasi. Bu, sebaiknya memang harus begini, jika cucu ibu saat ini masih hidup, hidupnya juga tidak akan lama.” “Iya dok.. saya mengerti” jawab ibu dengan senyuman. Di saat aku mendengar kata-kata itu, aku tak sanggup lagi menahan air mataku yang terus membasahi pipiku. Aku tahu kak Angel pasti sudah tau tentang masalah ini sejak awal, karena aku tak melihat kak Angel mengeluarkan sedikit air matapun, aku bangga memiliki kakak seperti kak Angel yang selalu tabah dan kuat menghadapi semua cobaan ini.

Hari ini tanggal 5 Juni 2012 adalah hari ulang tahun ayah dan hari ini juga adik di kuburkan. Hari ini seharusnya ayah bahagia atas kelahiran cucu pertamanya, tetapi sebaliknya ayah tak bahagia di hari ulang tahunnya, karena harus kehilangan cucu pertamanya. Ayah pernah berkata padaku “Hari Selasa besok ayah akan dapat hadiah terindah dari kak Angel”, aku sedih mengingat kata-kata ayah tersebut. Aku tak bisa tahan air mataku saat keponakan pertamaku dikuburkan. Semua orang termasuk aku begitu sedih saat harus kehilangan malaikat kecil yang selama ini kami impikan. Air mata yang turun membasahi pipiku begitu deras, aku tak bisa hentikan air mata ini. Setiap saat aku mengingat masa-masa yang telah lalu, aku jadi ingin menangis dan tak bisa ku hentikan. Air mataku sulit untuk di tahan. Walaupun kejadian itu telah lama berlalu, tapi aku tak bisa melupakannya mungkin karena itu kenangan termanis. Kakakku memberi nama yang sangat indah dan bagus untuk putra pertamanya, “REAGAN HADYAN INDRAJAYA” namanya yang memiliki arti “Raja Cilik yang berkedudukan mulia di hati ayahnya (INDRAJAYA)”. Kini aku hanya dapat mengucapkan Selamat Tinggal “Reagan Hadyan Indrajaya” semoga di terima di sisi Tuhan. Amiin.. Kami akan selalu menyayangimu Reagan.

SELAMAT JALAN REAGAN 🙂

Cerpen Karangan: Amelia Putri Aditiya
Facebook: AmeLia Dhiethieyea
Hy perkenalkan namaku Amelia Putri Aditiya. Aku bisa di sapa dengan nama Amelia atau Putri.
Ini cerpen kisah nyataku..
Semoga kalian semua suka dengan karyaku 🙂

Cerpen Kisahku di Bulan Juni merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Edelweis

Oleh:
Lagi-lagi aku harus meninggalkan pelajaran. Selalu, di setiap pagiku di sekolah, aku dilanda rasa khawatir dan cemas, sehingga membuat sahabatku Masya ikut cemas karenaku. Pagi ini jam 09:25, aku

Tidur Nyenyak, Mikha

Oleh:
Hari ini cuaca sangat dingin. Seorang bocah perempuan yang mungil berada di kamar, meringkuk dalam selimut sambil mendengar lagu-lagu kesayangannya. Baru saja ibunya beranjak dari speaker di atas meja

Sayap Bidadari (Part 2)

Oleh:
Malam pun tiba. Hawa dingin semakin menyelimuti siapapun yang tengah tertidur nyenyak. Semilir angin berhembus sepoi-sepoi, menemani udara malam. Burung-burung malam mulai berkicau, suara jangkrik mulai terdengar lebih keras

Penggerebekan Teroris di Rumah Kami

Oleh:
Entahlah, apa yang dimaui oleh teroris berbulu hitam dan berekor panjang ini. Beberapa dari mereka berhasil menyusup ke dalam kediaman kami yang terletak di tengah pegunungan Alpen ini. Pintu

Entahlah

Oleh:
“Entahlah” hanya kata itu yang bisa ku katakan saat melihat whatsapp ku tak dibalas olehnya. Aku selalu memulai dan aku selalu mengakhiri setiap pembicaraan dengannya “mengenaskan” kata yang muncul

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *