Kopi Dengan Sebaris Puisi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 21 September 2022

Sore itu, awan kelabu mengadu pada alam yang membeku. Hujan merebak menikam bumiku.
Pagi sekali aku bangun, jam 04:05 mata mulai terbuka namun telingga masih marah pada suara-suara yang mencengkam. Perlahan aku menggerakan kaki melangkah ke depan, buka jendela padamkan lentera. Aku melihat hujan bagaikan paku tak berpalu.

“Ahhhh, sial sekali pagiku”. Sedikit kesal dan mengadu.
Rasa sesal bangunkan kantuk, sekali lagi gerakan yang sama. Melangkah menuju kamar. Namun tiba-tiba, sesampainya di dalam kamar aku tak jadi tidur lagi. Terlintas ingatanku pada segelas kopi hitam pekat yang membara.
“Hmmmm. Dingin sekali ya, mending putar kopi dulu”. Sambil berjalan menuju dapur.

Tengok kiri tengok kanan. Dimana ya kopinya?
Sudah sepuluh menit berlalu, kopinya belum ketemu juga. Terpaksa kubangunkan adikku, dan dia masih dalam mimpi dan mungkin mimpinya belum bersambung. Hehehehe.

“In…. n… n…. n!”. Memanggil dengan suara lantang.

Aduh ini anak belum jawab juga ya, sial amat hidupku ini. Masa cari tepung saja sampai berjam-jam. Hiiiisss.

Tiba-tiba dia bangun.
“Ehhh maaf ya, aku agak mengusik pagimu”. Sambil tersenyum, agar dia tidak marah.
“Ihhhhhh, ka Ronald ada-ada saja. Ganggu orang tidur saja”. Muka cemberut seakan-akan baru berperang melawan penjajah.
“Ya udah, mana kopinya?” Tanyaku sambil obrak abrik barang di rak.
“Di kamarnya mm kak!” Sambil melihat kedalam rumah.
“Astaga, kopi kok ditaruh di kamar sih!” “Pantasan sudah cari semua disini, nggak dapat-dapat”. Sambil memukul dahi.

Diapun kembali tidur, mungkin mau melanjutkan mimpinya yang belum bersambung. Hehehe.

Yuhuuuu, minum kopi lagi.
Hujan semakin menjadi-jadi, kadang kecil kadang deras bagaikan musik country.
Perlahan kunikmati secangkir kopi di pagi itu, sedikit demi sedikit kuteguk. Perlahan-lahan dingin pun mati, aku sudah sedikit hangat.
Pagi itu sebenarnya tak ada aktivitas yang harus dilakukan.

“Untung saja ini hujan datang pas lagi nggak ada urusan, aman deh”. Ujar dalam hati.

Diam dan melihat keluar rumah.

“Jam begini enaknya bikin apa ya”.
Pikir-pikir, hmmm mending tulis puisi, kan asik.

Lalu kusiapkan selembar kertas, perlahan menulis dan memilih diksi. Beberapa menit berlalu puisinya pun sudah selesai dan aku memilih judul “Cawan Rindu” pas banget merindukan seseorang saat hujan begini, padahal gadis yang dirindukan adalah punya orang. Sial amat, Hhehe.

CINTA GADIS PERTIGAAN

Terkurung dalam sangkar sang biduan
Berkat ulah cinta gadis belia di pertigaan
Terjebak dalam sangkar asmara
Berkat ulah tuan berdusta

Untukmu wanodya
Jalanmu jalanku bersahaja
Semerbak jalan kenangan
Seruput kisah di pertigaan

Disana tempat kau menunggu
Padaku yang masih berseru
Gadis belia bagaikan biduan
Namun sudah punya tuan

Hadirkan diam
Padamkan pelukan
Tinggalkan canda
Hilangkan cengkerama

Kita pulang
Tak sejalan.

Satu puisi menutup hariku di ruang tamu. Dan waktu terus mengadu hingga aku lupa sorepun kembali.

Selesai…!!

Cerpen Karangan: Ronaldus Heldaganas
Blog / Facebook: Ronaldus
Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.

Cerpen Kopi Dengan Sebaris Puisi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Merindukanmu

Oleh:
Sinar mentari menyinari kamarku. Melalui jendela kamar yang terbuka. Wangi bunga-bunga di halaman yang diselimuti oleh embun pagi, memenuhi kamar mungilku yang juga berhias bunga. Pagi ini begitu cerah.

Salam Rinduku Untuk Ibu

Oleh:
Malam ini tidak ada yang berbeda. Sunyi sepi. Awan mendung tanpa bulan dan bintang menambah kesepian hati ini. Sejak kecil aku memang hidup dalam kesepian tanpa kedua orangtuaku. Orangtuaku

Cintaku Juga Darahku

Oleh:
Sejak kejadian beberapa tahun silam, seiring berjalannya waktu yang aku lewati dengan rasa trauma yang sangat mendalam. Sejak kejadian bencana alam itu tejadi, masih ku ingat betapa isi bumi

Mimpi Buruk Si Pembangkang

Oleh:
Seperti biasa, liburan kali ini aku habiskan dengan menonton film. Genre yang aku suka itu horror atau thriller. Karena kebanyakan film dari kedua genre tersebut memuat cerita yang nggak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *