Kopi Hitam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 3 April 2018

Selamat pagi hari yang tak terduga, setiap hari kata itu terucap dalam hati seorang gadis berusia 18 tahun. Tinggal di sebuah rumah yang cukup mewah di daerah Jakarta, hidup sendiri yang ia jalani sudah berlangsung selama kurang lebih 5 tahun. Kesendirian sudah menjadi kebiasaan baginya. Hidup yang ia jalani sekarang terjadi semenjak kedua orangtuanya memutuskan untuk bercerai dan ayahnya menikah lagi. Ayahnya tinggal bersama istri baru. Selain itu, ia mempunyai seorang kakak perempuan yang sudah menikah. Perceraian yang awalnya ia abaikan kini menjadi pikiran untuknya, berkembang sesuai usia yang mulai bertambah.

Pagi itu, ia bangun sangat pagi, membuat sarapannya sendiri dan bergegas berangkat ke universitas ternama di salah satu kota Jakarta. Aktivitas yang ia lakukan, tak jauh dari hari sebelumnya hanya berbeda mata kuliahnya saja, sungguh tak bergairah ucapnya dalam hati. Ia kuliah di jurusan kedokteran dan tahun ini memasuki semester ke 2.

“Panggil gua Abel, cukup itu aja karena kalo kalian tau nama asli gua, mulut kalian bakal langsung nganga selama 2 menit lah. Kenapa? Masih kepo? Oke oke gua kasih tau nih nama asli gua Raden Nyimas Saputri Rahayu Belsahi Notoajeng. Udah puas? Seiring waktu gua emang sering kepikiran tentang perceraian orangtua gua tapi itu gak jadi beban buat gua. gua hidup dengan normal. Normal dalam arti bangun pagi berangkat ke kampus, di sana belajar. Punya temen-temen yang lumayan banyak dan gua punya pacar namanya Evan. Itulah normal dalam arti sempit buat gua.” Perjalanan hidup yang singkat itu ia ceritakan pada sahabatnya, Emily, Nathan, dan Galang.

Abel memang bukan satu-satunya anak yang ditinggal kedua orangtuanya bercerai tetapi setelah ia paham akan situasi yang ia alami, akhirnya ia semakin mandiri, tak bergantung pada orang lain, dan selalu ceria. Tak biasanya pagi itu Abel semangat sekali pergi ke kampus, ternyata akan ada grup band favoritnya datang ke kampusnya untuk memeriahkan acara seusai ospek kemarin. Entah kenapa ia jadi sibuk sendiri mencari informasi tentang band favoritnya itu pada panitia, ia mencari tahu semua tentang kostum yang akan dipakai band favoritnya itu, lagu yang akan dibawakan sampai jam menit detik band itu akan tampil. Panitia sampai kewalahan menanggapinya.

“Bel, lu ganggu banget sih. gua sibuk. Nanti aja nanyanya!! Kalo lu mau tau banget, tanya langsung aja sama orangnya dan sekalian deh jemput mereka” geram Farhan sang panitia acara ospek sekaligus teman Abel. “Beneran nih gua boleh jemput, oke oke deh. Alamatnya mana, gua ke sana sama siapa? Naik apa? Tulis alamatnya yang jelas yah” celetuk Abel. “Tengkurep!!” alhasil Farhan kesal dan langsung meninggalkan Abel. Abel tak patah semangat ia tetap mengincar panitia lain. Seketika Galang melihat Abel yang terlihat sibuk dan langsung menghentikan langkahnya “Masih ngejar?” Tanya Galang. “Iya, sampai akhir” semangat Abel sambil mengepalkan tangannya bak seorang pahlawan yang berjuang pantang mundur. Belum sempat Abel melangkahkan satu kakinya tiba-tiba Galang berkata “Kamu ditipu Bel, itu kerjaannya Emily biar kamu bangun pagi, katanya rezeki kamu kebanyakan dipatok ayam”. Abel termangut “Yakin? Berapa kali gua ditipu macem-macem gini sama kalian”. Mereka pun tertawa dan menuju ruang kelas.

Sepulangnya dari kampus, ia langsung menghentakkan tubuhnya ke tempat tidur. Tubuh dan otaknya terasa lemas, karena mata kuliah hari ini membuatnya harus menahan buang air kecil selama dosen mengajar. Setelah dirasa sudah santai, ia meraih handphonenya dan memeriksa apakah Evan menghubunginya. Ternyata ya benar.

Evanku: Hari ini kuliah kamu gimana? Aku lancar
Received: Today, 12.35
Me: Biasa aja, banyak yang ngerjain
Sent: Today, 16.47
Evanku: Tetap semangat yah? nanti malam aku telpon
Received: Today, 16.49

Setelah membaca sms dari Evan, Abel pun tertidur. 4 jam dia tertidur, sehingga ia tak sempat mengangkat telepon dari Evan. tetapi Abel segera menelepon kembali, entah kenapa matanya terasa berat dan tangannya sudah lemas, akhirnya ia tertidur lagi.
Menurut Abel, Evan adalah lelaki yang baik, jujur dan penasihat baginya. Ia sudah berpacaran dengan Evan selama satu tahun sejak masih dibangku SMA. Evan kuliah di salah satu universitas swasta ternama di daerah Bogor, jurusan teknik komputer. Sehingga Abel jarang bertemu dengannya.

Hari ini minggu ke 4, Abel berangkat ke kampus sangat pagi. Padahal Emily tak sedang menipunya. Rupanya kejadian seminggu yang lalu membuatnya sadar. Pada hari itu, ia pulang menemui ayahnya. Pada hari pertama kepulangannya, ayah dan istri barunya menyambutnya dengan hangat. Tetapi ketika ia akan pulang kembali ke daerah ia kuliah, tiba-tiba ayahnya menghentikan langkah Abel di depan pintu rumah dan berkata “Abel, maafkan ayah. Kuliahmu harus berhenti sampai di sini, ayah tak punya cukup biaya untuk pembayaran semester tahun depan dan membayar cicilan rumah di sana. Adikmu, mengalami penyakit yang cukup serius sehingga butuh biaya yang banyak.” Abel menatap kedua mata ayahnya untuk sesaat dan berkata “Ayah, jika aku sudah menjadi dokter, orang pertama yang akan aku sembuhkan adalah adik. Akan aku pastikan biaya pengobatannya akan aku tanggung..” belum Abel selesai bicara, seketika ayahnya dengan nada agak tinggi dari sebelumnya “butuh berapa tahun lagi Abel? Bahkan sebelum kau jadi dokter bukan hanya adikmu yang meninggal tapi ayah dan ibu juga. Untuk apa sekolah tinggi, jika seorang perempuan pada akhirnya hanya akan melayani kebutuhan suaminya!!!” Tak terasa Abel mengepalkan tangannya, ia merasa marah dan kecewa akan perkataan ayahnya. “Untuk kali ini aja, jangan hentikan sekolahku karena ayah yang bilang kesempatan tidak datang dua kali.” Pertengkaran hari itu cukup menegangkan, ayah dan ibu menjadi bertengkar karena perkataan ayah tentang perempuan itu. Sehingga, ayahnya mengusir Abel dari rumah dan tak peduli dengan apa yang akan dilakukan Abel dikemudian hari. Pada saat itu Abel cukup terpukul dan bertekad akan menjadi dokter yang baik.

Tahun demi tahun Abel lewati dan banyak kejadian nyata dari yang termudah sampai yang terumit serta tantangan yang ia temui. Ia tak hanya kuliah tetapi bekerja separuh waktu untuk mencukupi kebutuhannya. Pekerjaan apa saja ia kerjakan asal halal dan dianggap wajar. Sehingga tahun ini ia akan melaksanakan wisudanya. Abel cukup yakin dengan hasil belajarnya selama ini. Gelar S1, mungkin akan segera ia peroleh. Sebelumnya Abel sudah mempersiapkan segala sesuatu yang ia perlukan seperti topi dan jubah hitam seorang wisudawan. Teman-temannya pun dengan bangga mengenakan seragam yang sama seperti Abel. Para orangtua juga hadir, Nathan, Emily, dan Galang satu persatu meninggalkan Abel. Para sahabatnya juga terlebih dahulu berkumpul dengan orangtua mereka. Sehingga ia mulai berguman sendiri “Tak ada satu orang pun yang akan hadir nemuin gua, memberi dukungan. Jangan berharap dapat memeluknya, melihatnya saja tidak” air matanya mulai membasahi kedua pipinya.

Tak terasa acara puncak sudah di depan mata, ini saatnya mengumumkan wisudawan terbaik dan akan langsung diterima di rumah sakit ternama di Jakarta. “Dan ini dia kebanggakan universitas kami, saudari Raden Nyimas Saputri Rahayu Belsahi Notoajeng, kepadanya kami persilahkan,” semua mata memandangannya dan memberikan tepuk tangan yang meriah. Perlahan Abel maju ke atas panggung, kakinya terasa lemas dan ingin pinsan. Setelah Abel memberikan sambutannya, ia serasa akan jatuh dari gedung berlantai 30 karena ayah, ibu tiri, dan adiknya naik ke atas panggung serta memeluknya. Pelukan ini terasa lebih istimewa dibanding dengan pelukan para orangtua yang Abel lihat di luar gedung tadi. Kejadian ini tak pernah ada dalam bayangan Abel sebelumnya karena Abel berpikir ayahnya sudah sungguh-sungguh mencampakkannya. Abel mengira kejadian seperti ini hanya akan terjadi pada acara sinetron yang sering ia lihat namun hari ini benar-benar terjadi pada dirinya. Masalah keuangan yang dialami ayah Abel sudah terselesaikan, karena ayah Abel selalu berjuang dan tak pernah putus asa. Meskipun penyakit adiknya belum sembuh total, tetapi sebelumnya dan sekarang ayahnya yakin, Abel mampu melakukan yang terbaik untuk adiknya. Selama ini keluarganya tak pernah meninggalkan Abel, bagaimana pun Abel, ayahnya tetap bangga terhadapnya. Terima kasih ayah.

Acara wisuda tadi mengharukan dan akan menjadi kenangan yang yang terbaik untuk Abel. Setelahnya Abel mengajak ayah, ibu, dan adiknya untuk makan malam di rumahnya. Sebuah keluarga baru yang sebelumnya tak pernah berkumpul seperti malam ini, sebuah mimpi Abel yang menjadi kenyataan. Tak terasa, untuk menyatukan mereka ada satu yang kurang yaitu secangkir kopi hitam yang hangat.

Jangan sia-siakan mereka yang masih lengkap mempunyai kasih sayang, yang akhirnya akan mereka berikan juga untukmu.

Cerpen Karangan: Lusi
Facebook: Lusi Ratna Kusuma

Cerpen Kopi Hitam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Cinta Tidak Direstui Ayah

Oleh:
Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira berpangkat tinggi, keturunan “Pasha” yang sangat terhormat di negeri yang tidak disebutkan namanya.

Tuhan, Dengar Aku

Oleh:
Aku memaksakan kedua mataku terbuka. Melawan bisik-bisik halus untuk tetap terlelap di sepertiga malamnya. Jika saja bukan karena sebuah kewajiban dan keharusan bagiku, selimut tebal itu tentu akan ku

Cinderella’s Pan

Oleh:
Masa putih abu-abu sudah berakhir dan besok adalah acara perpisahan sekolah. Momen yang dinantikan siswa-siswi namun, tidak bagiku! Aku sudah tak peduli dengan apa yang akan ku kenakan nanti.

Burung Dari Kertas Origami

Oleh:
“Happy Britdhay Lissa..” Nyanyian Saudara dan keluargaku, memenuhi rumah ku dan sekitarnya. Hari ini adalah ulang tahun kesepuluh, Lissa. Lissa adalah namaku, lengkapnya, Lissa Margareth Carramely. “Lissa, selamat ulang

December 22nd

Oleh:
Ibu, kau tau, ia adalah bidadari tanpa sayap yang telah dipercayakan oleh Tuhan menjadi tamengmu, menjadi pedangmu, dan menjadi rumah tinggal bagimu. Menyayanginya? Tentu saja, Mengecewakannya? Lebih dari sering.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *