Korban Korupsi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 19 December 2015

Masa kecil adalah saat yang paling membahagiakan. Siang itu aku bermain layangan dengan Adik kecilku tersayang. Di sawah dekat rumah, kebetulan sedang selesai panen sehingga tersisa lapangan yang luas dan anginnya cukup kuat. Suasana ini sungguh menyenangkan ditambah dengan naungan awan yang melindungi kami dari terik matahari.
“Dika ayo cepat kamu lari ke sana layangannya kamu pegang di ujungnya ya kayak gini oke,” kataku.
“iya kak oke,” ia tersenyum dan berlari dengan semangat.
“sip, nah sampai situ tahan ya tunggu angin datang.. satu.. dua… tiga lepas dek,” aba-abaku.
“wah tinggi ya kak, loh itu ada layangan lain yang deketin layangan kita ya,” tanyanya heran.

“wah iya, coba dek kamu pegang senarnya,”
“boleh kak, nanti kalau jatuh gimana dong?”
“ya terbangin lagi lah masa dibiyarin aja hahaha..” ujarku sambil terkekeh.
“loh kak layangan lain ngedeketin layangan kita,” sambil memperhatikan layangan lain.
“tarik aja dek turun dikit biar gak diserang sama layangan lain,” saranku, namun ia masih mempertahankan ketinggian layangannya.
“emang layangan bisa nyerang ya kak?” tanyanya.
“iya dong tuh dia mulai deketin senar kita buat mutusin senar kita,” sambil menunjuk layangan lain yang semakin mendekat.

“oh iya kak, yah tatas deh deh hiks..” ia sedih dan hampir menangis.
“gak apa-apa dek itu lah namanya main layangan, yang menang pasti senarnya tajam dan menunggu kesempatan buat mutusin senar kita,” jelasku.
“terus layangan kita gimana kak?” sambil mengusap sedikt air matanya.
“ya sudah ikhlasin aja, kalau mau kamu kejar entar kesasar mending beli lagi aja yang baru yah,” sambil mengelus kepalanya.
“oke kak, tapi itu kan layangan yang kita bikin kak?” protes.
“gak apa-apa dek yang penting kita masih bisa bikin lagi dari awal, gampang kan?” sambil tersenyum dan mengulung senar layangan.

Sepulang sekolah, kami membuat lagi dari awal, kali ini layangan yang lebih bagus dan juga menggunakan senar gelasan supaya tidak kalah dengan layangan lain. Dika sangat senang dengan layangan barunya sampai ia rela mengorbankan poster pahlawan kesukaannya, superman, untuk dibuat layar.
“Kali ini kita gak boleh kalah ya kak,” ujarnya dengan penuh semangat.
“iya dong kita pasti menang kali ini, kan udah pake senar gelasan hahaha,” kataku bangga.
“layanganya aku bawa ke sana ya kak nanti Kakak yang terbangin,” ia berlari melewati pematang sawah dengan lincah.
“oke, dah siap kak satu dua tiga” layangan pun ku tarik hingga terbang.
“waw tinggi ya kak..” gumam Dika.

“nah itu ada layangan kita yang kemarin,” aku menunjuk ke arah layangan lain.
“mana kak mana?” tanyanya penasaran sambil memegang bajuku.
“Tuh…” sambil meraih tanganya menunjuk ke arah layangan lain.
“wah iya..” Dika melongo menerima kenyataan layangan miliknya direbut.
“eh.. itu kok deket-deket lagi sih?” Dika kesal.
“tenang dek kita menang kok kali ini,” jawabku percaya diri. “hmm..” Dika bergumam.
“iya kak kita menang layangan kita yang dulu aku ambil ya?” dengan semangat mengejar layangan yang jatuh di sekitar area sawah.
“oke sip, hati-hati ya!!” teriakku. Lelah bermain layangan kami pun pulang.

Sampai di rumah sebuah mobil box dan avanza putih terparkir. Ada orang-orang dengan pakaian rapi sedang mencatat sesuatu, salah seorang sedang berdiskusi dengan Ibu di ruang tamu, raut muka Ibu sedikit kesal. Namun berubah ketika melihat kami datang.
“Loh bu kok ada tamu, tumben?” tanyaku heran karena Ibu jarang ada tamu kecuali saudara.
“hahaha iya, sekarang kalian kemas-kemas ya rapiin semua barang kalian ke dalam box,” kata Ibu.
“loh kenapa bu kok dimasukin ke box?” tanyaku protes.
“iya kita mau ke tempat Kakek,” jelas Ibu.

“oh mau liburan ya bu?” tanyaku karena Kakek tinggal di desa terpencil, hanya ketika liburan kami berkunjung ke sana.
“hahaha iya tapi nanti kita mungkin tidak balik lagi ke rumah, dah sana kalian mandi terus rapiin barang kalian jangan sampai ada yang ketinggalan ya,” pinta Ibu.
“oke bu…” meski kurang paham kami tetap melakukan apa yang Ibu minta.
Selesai berkemas Ibu menyuruh kami berpamitan dengan teman-teman perumahan. Meski sedih Adik tetap berusaha untuk tersenyum, terlihat dari raut wajahnya yang sedikt murung. Kami pamit dengan teman kami satu per satu.

“Kalian mau pergi ke mana? liburan ya?” tanya Tia.
“iya.. mau ke tempat Kakek,” jawab Dika dengan wajah polosnya.
“terus kapan pulang?”
“Hmm.. gak tahu,” jawabku.
“kok gak tahu?” Tia penasaran. “Soalnya Ibu bilang kita mungkin gak balik ke rumah,” jawab Dika.
“kenapa kok gak balik?” Tia heran. “Hmm.. gak tahu juga,” jawab Dika.
“yah.. bakal jadi kangen nih sama kalian hahaha,” Tia terawa. Dika mulai menunjukkan wajah sedihnya, baginya Tia adalah teman yang paling baik.
“ciee kangen sama kita ciee.. ya kapan-kapan kita main bareng lagi kok,” jawabku untuk meredakan kesedihan Dika. Kami pamit pulang.

Mobil box yang terparkir tadi sudah menghilang kini tinggal mobil avanza putih. Dan orang yang berbicara dengan Ibu tadi sedang memasang papan di pagar rumah. Beberapa lainnya sedang memasang sesuatu pada pintu bentuknya seperti selotip berwarna kuning dengan tulisan kecil yang tak ku baca.
“Nah sekarang kalian dah pamit kan dengan teman-teman?” tanya Ibu.
“sudah bu,” jawab kami serempak.
“kita berangkat sekarang bu?” Tanyaku ketika melihat Ibu mengambil kunci mobilnya.
“Iya supaya tidak terlalu malam” jelas Ibu.

Sebelum berangkat kami berfoto di depan rumah untuk kenang-kenangan sebelum kami meninggalkan rumah ini.
“Bu kok Ayah belum pulang?” tanyaku.
“Iya Ayahmu sedang ada tugas sekarang sedang menginap di hotel prodeo,” sambil melihat langit.
“oh jadi Ayah lagi ada tugas ya?” jawabku berlagak mengerti.
“wah enak ya di hotel,” celoteh Dika.

“Iya tapi mungkin kalian bakal lama gak ketemu Ayah untuk beberapa tahun ini,” jawab Ibu menyesal.
“yah.. kenapa bu?” tanyaku.
“Ayahmu tugasnya lama dan sekarang kita mulai lagi dari awal” jelas Ibu meski kami tak paham artinya.
“oh layangan Ayah putus senarnya ya?” Dika mencoba membuat kesimpulan.
“hahaha iya” tawa Ibu dengan sedikit masam.
Aku melihat foto rumah. “Rumah ini disita kpk hmm.. gitu ya” gumamku.

Sejak saat itu aku mulai bersekolah di tempat yang sederhana, berbeda dengan sekolahku yang dulu. Sekarang aku sudah berusia 15 tahun dan mulai bekerja sebagai tukang sol sepatu untuk membantu Ibu yang bekerja sebagai tukang cuci serabutan di perumahan kumuh pinggir kota. Kakek sudah meninggal dan harta warisannya habis untuk membayar denda Ayah. Kini aku sudah tidak bisa bermain dengan Dika lagi 2 tahun lalu demam berdarah mengantarnya berjumpa dengan sang kholik. Aku tinggal bertiga bersama Ibu dan Ayah yang sedang berjuang melawan stroke. Untuk itu aku harus bekerja demi kesembuhan Ayah.

“Tenanglah Dika, Kakak harus menang kali ini..” gumamku menatap foto kami bertiga di depan rumah mewah kami dulu.

TAMAT

Cerpen Karangan: Adib

Cerpen Korban Korupsi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ujung Dua Sahabat

Oleh:
Datang, duduk, diam itulah yang selalu ku kerjakan selagi pelajaran berlangsung, ku lirik lagi arloji yang melingkar di lenganku pukul 13.00 ku hela lagi napas dalam-dalam rasanya menunggu satu

Kesabaran Ibuku

Oleh:
Pada suatu ketika Bapak dan Ibuku bertengkar, entah apa yang dipermasalahkannya. Pada saat itu aku bertanya kepada ibu. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita

Juara Pertama Yang Berkesan

Oleh:
Pagi ini, adalah hari pengambilan raport di salah satu SD yang berada di desa Sriwangi. Para wali murid telah berdatangan memadati halaman sekolah, untuk mengambilkan raport anaknya. Tak hanya

Aku Pulang… Kekasihku

Oleh:
Teriknya matahari siang tak menyurutkan niatku untuk bertemu dengannya, kekasihku. Dia telah menunggu berjam jam lamanya di sebuah perempatan jalan kota itu. Kini barulah aku bisa menghadap kepadanya. “Sayang

Senja Untuk Ayah

Oleh:
Aku Dita, usia ku 12 tahun, aku lupa kejadian terakhir yang menyebabkan saat ini aku harus dirawat di Rumah Sakit, ayah ku bilang aku kemarin pingsan dan sempat mimisan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *