Ku Kayuh Ribuan Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi, Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 5 February 2014

Secuil kisah tentangku yang merupakan gadis kecil anak kampung yang tinggal di sisi pinggir kota besar. Aku Sriami Wulandari anak pertama dari keluarga kecilku. Keluarga kecil yang bisa dibilang berkecukupan meski tidak lebih seperti halnya teman-temanku. Ayahku bekerja hanya sebagai buruh sampah di sebuah pabrik. Sedangkan ibuku sebagai PRT. Bisa dibayangkan berapa penghasilan yang di dapat dari orangtuaku setiap bulannya.

Kadang terselip dalam hati kecilku rasa iri melihat teman-temanku semua. Dan tak jarang ku habiskan waktuku hanya untuk berandai-andai jika aku menjadi orang kaya. Pasti semua akan tercukupi atau bisa dibilang lebih dari cukup. Aku mau ini atau itu tak perlu pikir panjang lagi. Tak perlu menunggu sampai tabunganku tercukupi. Semua bisa dibeli sesuka hati jika menjadi orang kaya. Tapi sayang semua tak bisa ku nikmati di dunia nyataku. Di bumi tempatku berpijak dan juga tak ku dapatkan pada kondisi keluargaku.

Ahh, tak seharusnya aku mengeluh dan terus larut dalam angan-angan kosongku. Tak sepatutnya juga aku meminta lebih dari apa yang sudah ada sekarang. Sama halnya aku mencekik kedua orangtuaku sendiri jika aku terus seperti ini.
“Ayo dong ami sadar, sadar jangan terus-terusan berangan-angan ndak jelas gini. Lihat dong realita yang ada.” Desahku pada diri sendiri sembari menampar pipi dengan pelan.
“Maafkan aku ya Allah.” Cetusku pelan.

Di sebelah barat terlihat matahari tengah kembali keperaduannya pertanda akan datangnya malam. Menit demi menit telah berlalu terdengar adzan maghrib berkumandang. Aku pun bangun dari ranjang kesayanganku dan bergegas mengambil air wudhu. Aku jalankan perintah agamaku. Selesai shalat aku haturkan doa pada sang pencipta dan berharap akan penghapusan dosa, kemuliaan, sekolah serta rezeki untuk kedua orangtuaku.

Selesai shalat aku dan keluarga makan malam bersama-sama. Menikmati masakan super lezat buatan ibuku tercinta.
“Ayo-ayo makanan sudah siap.” Teriak ibu memanggil.
“Yee menu lezat dari masterchef kita udah di hidangkan dik.” Jawabku sambil berlari kecil bersama adikku.
“Woow enak nih masakannya. Ibu tau deh makanan favoritku sama adik apa. Ya ndak dik?” cetusku saat melihat masakan ibu.
“Iya mbak. Ibu baik ya.” Jawab adikku singkat sambil mengambil makanan ke piringnya.
“Udah-udah ayo makan jangan bicara aja.” Sahut ibuku.
“Iya bu. Sayang ya bapak belum pulang jadi tidak bisa makan bareng.” Kataku.
“Namanya juga masih kerja. Jadi ya belum pulang sayang. Udah sekarang kita makan dulu aja.” Jawab ibuku.

Seusai makan malam ibu menyuruh aku dan adik untuk belajar. Ya sudah aku langsung terbang menuju kamar mencari santapan-santapan untuk bekalku kelak. Yups, waktunya belajar menyiapkan pelajaran besok. Aku belajar bersama adik sekaligus mengajari adikku juga. Susah susah gampang mengajari adikku yang satu ini. Ya begitulah anak cowok main terus yang dipikirkan.

Tak terasa jam dinding mungil telah menunjuk angka 21.00. pertanda kami harus menyudahi belajar malam ini dan beranjak untuk menjelajah ke pulau mimpi. Tapi sebelumnya shalat isya’ terlebih dahulu karena tadi belum menjalankan perintah-Nya. Sesudah bermunajat pada sang khalik aku menyiapkan pelajaranku untuk besok pagi agar tidak ada yang ketinggalan.
“AKB sudah B.Indonesia sudah Matematika sudah SEBUD sudah. Oke semua sudah siap.” Kataku sambil memasukkan buku ke dalam ransel mungilku.
“Siipp waktunya pergi ke pulau mimpi. Akan mimpi apa ya aku malam ini?” Cetusku seorang diri sambil senyum-senyum sendiri.

Di sana terlihat ranjang kesayanganku memanggilku. Bantal dan guling seraya melambaikan tangannya yang berharap agar aku segera berlari kecil menghampirinya. Seakan-akan mereka siap mengantarkan tuan puteri ini menuju pulau mimpi yang di idam-idamkannya. Aku pun berlari kecil dan segera merebahkan tubuh mungil ini ke ranjang kesayangan sembari mendekap guling empuk seukuran lebih kecil dariku.

Samar-samar terdengar seruan adzan subuh membangunkanku dan membuyarkanku mimpi yang tak jelas itu. Perlahan-lahan ku mencoba mengumpulkan nyawaku yang belum kembali ke raga ini. Dan aku pun segera mandi membersihkan tubuh ini dan menjalankan shalat subuh. Seusai shalat subuh ku sempatkan sedikit waktu untuk membaca ayat suci Al-Qur’an meski hanya sedikit. Selesai mengaji aku segera ganti pakaian seragam.

Jam dinding menunjuk pukul 05.30 dan aku senyum-senyum sendiri.
“Ayo mi cepat sedikit nak sudah jam berapa ini? Buruan makan nanti terlambat kamu. Teriak ibu yang sudah aku tebak sebelumnya makannya aku senyum-senyum sendiri.
“Iya-iya bu. Aku sudah siap kok dari tadi.” Jawabku seraya menghampirinya.
“Hmm enak nih masakannya.” Saat melihat menu masakan ibuku.
“Udah ayo makan sana makananmu.” Jawab ibuku singkat.

Selesai makan aku pun berpamitan ke orangtuaku dan mencium tanngannya. Bergegas keluar rumah dan mengambil sepeda yang selalu setia menemaniku kemanapun. Sepedaku menjadi saksi bisu dalam bagaimana aku menggapai ilmu selama ini. Selama 12 tahun dia telah menjadi kekasihku dan selalu menemani mengarungi hidup. Aku saat ini duduk di bangku SMK kelas XII AKUNTANSI 5. Bersekolah di sekolah negeri di Surabaya yaitu SMKN 1 SURABAYA.
“Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah aku sekolah mencari ilmu. Berkahi dan berikan ridha-Mu supaya hari ini lancar serta ilmu yang aku terima dapat bermanfaat untukku dan orang lain.” Kata-kata yang selalu aku sematkan dalam hati sebelum ku kayuh sepeda untuk berangkat sekolah.
“Aku berangkat. Assalamu’alaikum.” Pamitku ke orangtua.
“waalaikumsalam. Hati-hati di jalan dan sungguh-sungguh dalam belajar.” Teriak ibuku.
“Iya bu.” Jawabku sebelum menghilang dari tikungan.

Aku berangkat seorang diri karena memang di kampungku tidak ada yang satu sekolah denganku. Tapi tak jarang aku bertemu anak dari AK lain jadi kita berangkat bersama-sama atau juga ada adik-adik sd yang biasanya mengajakku untuk balap sepeda sampai di seberang tikungan sebelum mereka menghilang. Tapi hari ini tak ketemui mereka semua. Tapi meski begitu tak mengurangi semangatku yang membara di pagi hari ini. Ku kayuh sepedaku lebih cepat dari sebelumnya agar aku segera sampai.

Sesampai di sekolah terlihat gerombolan teman-temanku sekelas. Ternyata pada banyak yang tidak sengaja bertemu disini.
“Pagi kawan-kawan.” Sapaku ke mereka.
“Pagi Amiii. Ayo-ayo bareng ke kelas.” Jawab mereka serempak.
“iya sebentar.” Kataku dengan membenarkan posisi sepedaku.
“Ndak capek ta mi ngontel tiap hari?” Tanya riza temanku.
“Ya lumayanlah dianggap olahraga aja jadi capeknya capek wajar gitu.” Jawabku sambil tersenyum.
“Emang rumahmu jauh?” Tanya try.
“Ya ndak juga seh. Ayo kapan-kapan kerumahku biar tahu rumahku.” Ajakku ke mereka.
“Iya-iya boleh boleh mi.” jawab anak-anak antusias.
“Ngontel mah nggarai kentol gede tok mi.” kata salah satu temanku dengan ketusnya.
“Ya gak pa-palah mungkin udah resikonya. Yang penting aku bisa sekolah itu udah lebih dari cukup.” Jawabku.
“Aku ngunu mah yo isin.” Jawabnya seraya berlari mendahului kita semua.
“Hmm sudah jangan kau tanggapi omongan anak itu. Kamu tahu sendiri bagaimana sifat dia kan? sabar aja hadepin dia mi.” nasehat dari sofi ketua kelasku.
“Hehehehe iya terserah apa kata dia aja. Yang penting bagiku cuman sekolah. Ngapain harus gengsi atau malu sama keadaan kita sendiri. Justru aku lebih malu lagi kalau aku sudah seperti ini tapi aku tidak mau usaha dan bersungguh-sungguh untuk menjadi lebih baik.” Jawabku seraya menahan airmata agar tak menetes.
“Iyo-iyo bener iku mi.” balasnya dengan senyum dan dua jempol di acungkannya.

Ya, seperti inilah kehidupan yang aku jalani. Ada sebagian teman-temanku yang menghargai dan menyemangatiku. Ada pula yang mencibirku dengan sesuka hatinya. Apapun yang mereka kicaukan tak pernah ku tanggapi. Karena mereka tidak pernah merasakan berada di bawah makannya dia tidak tahu bagaimana kerja kerasku dan keluarga memupuk dan membangun semangat dan rasa kuat dalam hati meski sebenarnya kita lemah dan ingin memungkiri semua ini. Celoteh dari mereka aku jadikan motivasi dan cabuk agar aku bisa lebih baik. Agar aku bisa tunjukkan kepada mereka aku bisa lebih melampaui dari dia meski derajat kita tak sama.

Tak terasa waktu sangat cepat berlalu. Jam dinding menunjuk pukul 14.50 sudah waktunya pulang saja. Bel pulang sekolah berbunyi alunan mars sekolah menjadi pertanda usainya pelajaran hari ini. Sorak sorai anak-anak terdengar di dalam kelas. Ya, kita sudah kelas XII tapi perangai kita masih ke kanak-kanakan. Seusai berdoa anak-anak berhamburan keluar meninggalkan kelas.

Begitu juga denganku ku langkahkan kakiku menghampiri sepedaku tersayang. Segera ku pulang karena masih ada tugas rumah yang harus ku kerjakan. Sesampai di rumah.
“Assalamu’alaikum bu.” Ku ucapkan salam.

Tapi rumah masih sepi tak terdengar balasan salamku dan tak tampak sosok ibu cantikku di rumah begitu juga adikku. Ya berarti ibuku belum pulang dari kerja. Mungkin adik lagi main juga. Aku lekas ganti pakaian dan membersihkan rumah membantu ibu. Setelah itu mandi dan shalat ashar.

Masih ada waktu luang sejenak ku gunakan untuk rehat dari aktivitas seharian ini. Aku pun melihat TV. Tapi tiba-tiba aku teringat akan perkataan dari temanku tadi. Terselip rasa sakit hati tapi juga greget untuk maju. Aku pun mengambil buku diary ku dan seperti biasa akan terselip goresan penaku disana. Selalu ini yang aku lakukan jika aku punya rasa tak tentu. Setidaknya dengan ini aku merasa sedikit lebih lega.

Dear diary,
hari ini aku semangat sekali mengawali hari. Tak ingin tersaingi sinar cerah layaknya mentari pagi. Tapi setelah aku bertemu dengan dia. Dan karena cibirannya aku merasa down. Ada rasa sakit hati juga, tapi ya sudahlah akan aku jadikan motivasi untuk jauh lebih baik lagi.
Penggugah semangatku untuk masa depanku. Goresan penaku:
RIBUAN MIMPI
Tatapan nanar menyapu seisi langit kamar
Pandangan kosong memikirkan tujuan hidup kedepan
Gelap gulita tanpa secercah cahaya
Hitam pekat tanpa goresan tinta warna
Tuhan
Haruskah aku seperti ini terus menerus
Tidak…
Tak mungkin aku terlahir tanpa tujuan hidup
Tak mungkin aku akan berdiam diri tanpa langkah
Tuhan
Apa rencanaMu untukku?
Aku yakin Engkau telah gariskan masa depanku
Dan juga langkah yang harus kutempuh
Tunggu siapa disana?
Sekilas bayangan ku tangkap dalam mataku
Sosok bayangan yang menjadi motivasiku
Sosok yang membuatku berani tuk bermimpi
Walau beribu-ribu banyaknya tanpa rasa takut
Sosok itu adalah keluargaku
Tanpanya tak berarti ku disini
Tanpanya tak ku miliki semangat juang
Keluargaku adalah motivasiku
Kini…
Kubuang gengsi
Kan ku songsong masa depanku
Kan ku kayuh ribuan mimpi
Ribuan mimpi perubah masa depanku
SW.A_Ami

Aku harus rajin belajar sungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Aku tahu bagaimana keadaan keluargaku. Aku tahu bagaimana kerja keras yang dilakukan orangtuaku hanya untuk menyekolahkan aku dan adikku. Rasa lelah dan badan sakit semua tak pernah mereka rasakan. Tak pernah sedikit pun mereka tunjukkan pada kami. Selalu terlihat seulas senyum menghias wajah-wajah mereka tanpa mengeluh. Senyum tulus seolah tanpa adanya beban. Meski seringkali bapak lembur hanya untuk mencari tambahan uang.

Tugas yang menumpuk bagai sebuah gunung, ujian yang dulu menghantui dan semua kegiatan kelas XII telah ku lalui beberapa bulan terakhir ini. Dan tanpa kusadari lusa aku akan menghadapi UNAS.
“Ya Allah cepat sekali waktu berlalu. Serasa baru kemarin aku masuk menjadi siswi SMK dan kini hanya tinggal menghitung hari lagi aku akan melaksanakan kelulusan dan keluar dari sekolah ini.” Desahku dengan menggenggam kalender di tangan.
“Ada apa denganmu?” suara ibu membuyarkan lamunanku sesaat itu.
“Ndak pa-pa bu. Cuman sedikit takut dan khawatir untuk besok lusa.” Jawabku pelan dengan nada gemetar.
“Kenapa harus takut dan khawatir?” Tanya ibu padaku.
“Karena UNAS kan menentukan kelulusan bu. Aku takut kalau aku tidak lulus.” Jawabku lagi.
“Selama ini apa kamu malas-malasan belajar?” lagi ibu bertanya.
“Tidak juga. Aku berusaha keras belajar pagi, siang dan malam. Ibu juga tahu sendiri bagaimana usahaku.” Jelasku padanya.
“Lantas apa yang kamu takutkan? ingat kan Man Jadda Wa Jada. Barang siapa bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil. Jadi, jika kamu kemarin belajar dengan serius semua akan memuaskan nantinya. Tetap berdoa, berusaha dan berserah diri padaNya.” Jelas ibuku dengan lembut.
“Iya bu. Terimakasih banyak. Doa kan ami ya bu untuk kelancaran dan hasilnya nanti.” Pintaku pada ibuku.
“pasti sayang doa ibu menyertaimu selalu.” Kata ibu seraya memelukku penuh hangat kasih sayang.

4 hari telah kulewati UNAS telah kulahap habis dengan susah payah. Kini aku hanya menunggu hasil pengumuman. Dag dig dug jantung terdengar begitu keras. Aku dan sahabat-sahabatku saling berpelukan satu sama lain. Satu per satu anak sudah mengetahui hasilnya. Menyebar dan semakin menyebar luas. Harap-harap cemas aku dan sahabatku semoga hasilnya sangat memuaskan.
“Selamat ya anak-anakku tercinta.” Kata wali kelasku.
“Bagaimana pak hasilnya?” Tanya anak seisi kelas serempak.
“Seperti yang bapak bilang tadi nak. Selamat kalian semua lulus dan sekolah kita lulus 100%.
“Yyyeee hhooorreee.” Sorak-sorai anak seisi bergema.
Saling memberi selamat satu sama lain, menangis bahagia dan terharu, saling berpelukan. Semuanya sujud syukur atas nikmat Allah SWT ini. Begitu juga dengan aku tiada kata syukur Alhamdulillah dan terimakasih untuk Allah SWT dan juga keluargaku terutama ibuku tercinta. Terlihat ada rasa bungah, lega dan bangga dari wajah kedua orangtuaku.

Terimakasih ya Allah untuk semuanya. Selama 3 tahun aku sekolah dengan bersepeda. Keringat bercucuran karena terik matahari. Rasa lelah capek karena selalu mengayuh sepeda setiap hari. Belajar pagi, siang dan malam hari selalu kujalani. Kini semua sudah terbayarkan. Rasa lega dan bangga akan hasil ujian kini dapat kurasakan. Rasa takut kemarin kini telah lenyap. Kerja keras dan jerih payah orangtuaku kini membuahkan hasil.

Satu mimpiku untuk lulus dengan hasil yang memuaskan dapat aku wujudkan. Tapi mimpiku tak hanya berhenti disini. Masih ada ribuan mimpi lainnya di luar sana, di depanku mataku kelak yang menunggu kehadiran putri ami.

Aku memang terlahir dari keluarga kecil yang sederhana. Keluarga yang susah buat mengingikankan sesuatu. Dan harus dengan pengorbanan penuh dalam mewujudkannya. Maka dari itu disini aku punya mimpi atau cita-cita bisa menjadi sebagai seorang Direktur Keuangan di suatu perusahaan ternama. Dimana nantinya aku dapat membahagaikan kedua orangtuaku dan keluarga lainnya. Meringankan beban kedua orangtuaku. Dan aku bisa merasakan menikmati rasanya menjadi orang yang sukses, orang yang kaya. Dan yang paling penting mengangkat derajat orangtuaku.

Satu telah ku dapatkan kini aku semakin bersemangat untuk meraih yang di depanku. Aku inginkan wujudkan semuanya. Semua mimpi dan menjadikan hobiku sebagai penunjang juga di masa depan. Meski kini aku sudah tidak mengendarai sepeda tapi akan tetap ku kayuh ribuan mimpi menuju masa depan yang gemilang. Kini aku akan menguasai ribuan mimpi-mimpi yang akan aku taklukan.

Cerpen Karangan: Sriami Wulandari
Blog: siamiwulan62.blogspot.com
Nama saya Sriami Wulandari
Saya senang menulis dan saya berharap tulisan saya ini bisa dibaca oleh semua orang disini. terima kasih 🙂

Cerpen Ku Kayuh Ribuan Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan Memang Datang Terlambat

Oleh:
“Ibuuuuu!! Mana uang jajannya?” Teriak Cintya. Seorang pelajar SMP yang baru akan berangkat ke sekolah saat jam sudah menunjukan waktu untuknya harus berangkat saat itu juga. “Kemarin kan sudah

Hari Bahagia Ku

Oleh:
Mentari pagi menyapa hangat melalui jendela kamarku. Namaku Lani. Aku dilahirkan di keluarga yang cukup. Sudah 9 tahun aku ditinggal ayah dan mamaku ke luar negeri. Aku hanya tinggal

Sabda Sang Dalang

Oleh:
“Hore, aku memenangkan sayembara ini.” kata Raden Rama Wijaya. “Baiklah karena kau pemenangnya, kuserahkan Dewi Shinta kepadamu.” kata Prabu Janaka. Raja Rahwana, ia adalah raja dari Kerejaan Alengkadiraja. Ia

About Me And My Write World

Oleh:
Inilah aku, Zalfa Nurima, penulis berusia 13 tahun yang sedang dicengkeram oleh kebingungan tentang duniaku sendiri. Dunia apa lagi jika tidak yang satu ini? Ya dunia menulisku yang entah

Perjuangan Nisa

Oleh:
Pagi yang cerah. Nisa terbangun lalu bersiap membantu ibunya. “bu nanti waktu masuk smp aku sekolah di mana bu?” Nisa begitu semangat bercerita kalau dia ingin sekali masuk smp.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *