Ku Rindukan Pelukanmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 18 April 2016

Di tanah jawa saat itu, ada sebuah keluarga yang sangat berkecukupan bahkan, hampir bisa dibilang kalau keluarga ini adalah keluarga miskin atau orang tak punya. Panggil saja keluarga ini adalah keluarga baPak Hadi dan ibu munah. Bapak Hadi mempunyai tiga orang anak di antaranya dua perempuan dan satu laki-laki. Anak pertama dan yang terakhir berjenis kelamin perempuan panggil saja mereka berdua dengan nama Eka dan Tri dan anak yang kedua berjenis kelamin laki-laki yang bernama Arif. Mareka keluarga yang sangat rukun, bergotong royong satu sama lain.

Keluarga ini tak seperti keluarga lainnya, yang sedikit-sedikit bertengkar hanya gara-gara masalah uang. Putra satu dari bapak Hadi ini adalah seorang remaja yang tumbuh cerdas, berbakat dan juga tampan. Saat-saat yang paling menyenangkan buat Arif dan saudara-saudaranya adalah ketika mendengarkan ayahnya bercerita di malam hari. Atau ketika ayahnya mengajari anak-anaknya untuk membaca al-qur-an dan terjemahannya. Malam itu Pak Hadi sedang menceritakan sebuah cerita malin kundang kepada anaknya.

“Si malin manja banget ya Pa, diajak cari kayu bakar saja malah minta gendong,” ujar Tri pada ayahnya.
“Kamu ini gimana Tri, kalau nggak minta gendong namanya bukan malin kundang tahu,” sahut Eka si kakak.
“Lalu, kalau bukan malin kundang apa dong?” lanjut Tri.
“Kalau bukan malin kundang yaa… Malin kandang kali,” sahut Arif sambil mengajak saudaranya bergurau agar tidak terlalu tegang dalam mendengarkan cerita. Mereka semua tertawa dan sangat menikmati suasana ramai di teras rumahnya. Mendengar jawaban anak-anaknya tadi, Pak Hadi pun juga ikut tertawa dan segera melanjutkan ceritanya agar tidak sampai larut malam.

Anak-anak Pak Hadi saat mendengarkan cerita suasana menjadi hening dan hikmat serasa ikut upacara bendera di gedung kemerdekaan. Bla… Bla… Bla… Akhirnya cerita Pak Hadi pun telah berakhir. Nah, saatnya Pak Hadi memberi tugas kepada tiga anaknya untuk memikirkan pelajaran yang dapat diambil dari cerita tadi, “Nah, hayoo dari cerita tadi siapa yang dapat menyimpulkannya?” tanya Pak Hadi pada ketiga anaknya. Anak Pak Hadi nggak mau kalah sama ayahnya, lomba ancung tangan pun dimulai seperti anak sekolah yang dapat kuis dari pak gurunya. Siapa yang jawabannya paling benar maka dapat hadiah. Akhirnya, si Arif saat itu yang ditunjuk ayahnya untuk menjawab pertanyaan ayahnya. Tak usah ragu, tak usah terkejut, si Arif memang anak yang terkenal cerdas dari kecil. Jawaban si Arif akhirnya benar dan berhak untuk mendapatkan hadiah.

“Arif, Ayah senang sekali padamu. Cara berpikirmu pun cepat sekali. Jawaban yang kau jawab selalu benar. Selamat ya Nak, kali ini kau dapat hadiah lagi,” kata Pak Hadi sembari memegang salah satu pundak Arif.
“Iya Pa, kalau boleh Arif tau hadiahnya apa?” tanya Arif sambil menampakkan senyumnya yang manis kepada orangtuanya.
“Apalagi Kak, kalau bukan pelukan Ibu,” kata si bontot yaitu tak lain adalah Tri.
“Iya Dek, hadiah paling terindah itu adalah hadiah pelukan dari orangtua,” sahut Eka sang kakak.
“Apalagi dari Ibu ibu, waaa.. Berharga banget tuh,” lanjut si Eka.
“Cooocok, haaha,” jawab si Arif. Larilah Arif ke arah ibunya untuk mengambil hadiahnya yaitu hadiah pelukan hangat dari seorang ibu.

Keesokan harinya. Si Arif yang dulunya masih duduk di bangku sekolah kini, dia sekarang telah tumbuh menjadi searang pemuda yang besar. Hari ini adalah hari penting Arif yaitu hari kelulusannya dari sekolah SMA-nya. Pagi-pagi sekali si Arif siap-siap untuk menyambut hari besarnya. Dari mulai menyetrika baju, jas, dan celana sampai beli wangi-wangian pun telah ia siapkan. Tepat pukul 06.30, Arif siap untuk berangkat menuju sekolahnya dengan memakai baju hem lengan panjang yang berwarna putih dan jas hitam tak lupa juga dasinya.

“Grek,” suara pintu dibuka Arif.
Semua terkejut melihat penampilan Arif yang rapi dan ganteng ini bak seorang pengantin pria yang mau pergi untuk melamar seorang gadis pujaannya.
“Subhanallah Rif, ganteng sekali kamu Nak,” kejut ibu ketika melihat penampilan Arif yang baru keluar dari kamarnya.
“Ya Allah Bu, Ibu selalu mengejutkan Arif tahu nggak sih. Jantung Arif hampir copot nih,” jawab Arif.
“Arif ganteng nggak Bu?” Lanjut si Arif.
“Kan Ibu tadi bilang ganteng Nak. Kamu nggak dengar ya?”
“Hehehe.. Maaf Bu. Tapi bener ganteng kan?”
“Iya, kamu ganteng banget, Ibu yakin nih semua cewek pasti klepek-klepek kalau lihat kamu,”
“Iya dong, anak siapa dulu anak Ibu gitu lo,”

Terik matahari sudah semakin panas saat itu, si Arif harus sarapan dan langsung berangkat ke sekolah untuk ritual hari besar. Setelah sarapan bersama keluarga Arif langsung berangkat menuju ke sekolahnya bersama keluarganya. Keadaan sekolah yang rame pada waktu itu, semua mata tertuju terbelalak dengan tampilan Arif yang sangat berbeda dan tak seperti biasanya. Kegantengan Arif memang tak diragukan lagi, itu terbukti pada saat ada cewek yang lagi enak berjalan dan asyik dengan hp-nya tapi ketika ngelihat Arif cewek itu tak sengaja menabrak salah satu temannya sendiri sampai jatuh.

Pengumuman kelulusan segera dimulai, semua peserta dan wali murid disilahkan untuk duduk di tempatnya masing-masing. Sebelum bapak kepsek mengumumkan siapa yang lulus dan tidaknya, semua kelas diwajibkan untuk menyumbangkan sebuah karya seni yang pentaskan. Entah itu membaca puisi, bernyanyi, dan lainnya. Hari itu pertunjukan juga sangat seru, kelas tiga ipa 1 menampilkan sebuah lagu, ipa 2 menampilkan sebuah tarian dan inilah saatnya Arif untuk tampil membacakan puisi mewakili dari kelas ipa 3. Semua bersorak memanggil-manggil nama Arif. Terharu dan bangga rasanya seperti seorang idola di atas panggung yang mempunyai begitu banyak fans. Berdiri, merapikan dasi lalu ia beranjak dari tempat duduknya untuk meraih sebuah mikrofon yang di atas panggung.

Catatan hati
Ada sesuatu yang terasa hampa
Saat langit-langit semakin menua
Ada sesuatu yang terasa berbeda
Saat hujan tertahan di antara mega
Sendiri dan sepi, aku ingin berlari
Menelusuri mimpi yang tak kunjung menepi
Atau haruskah aku hanya berdiri di sini
Mengeja bait pelangi yang hampir saja mati
Di penghujung hari,
Ketika senja berlalu dan pergi
Ketika hati ini terhenti bernyanyi
Aku ingin kembali
Di sini, sekali lagi

Suara merdunya telah membawa hawa keheningan. Ketika Arif membacakan sebuah puisi semua mata penonton tertuju hanya pada Arif. Arif begitu tak menyangka kalau puisinya itu berhasil membuat orang terpesona dan terharu. Semua karya seni telah selesai dipentaskan. Acara yang terakhir inilah yang ditunggu-tunggu untuk semua orang. Saat bapak kepsek menaiki panggung, hati berdegup kencang, keringat ke luar dengan deras, perut juga ikutan mules. Semua orang yang ada di gedung sekolah saat itu menampilkan wajah takut seperti orang yang baru saja melihat hantu. “Dar, dor rasanya hatiku, ya Allah, semoga saja temanku tidak ada yang tinggal kelas dalam tahun ini dan seterusnya,” kata si Arif dalam hati.

Satu.. Dua.. Tiga…

“Duuooorrrrr,” suara petasan yang muncul dari belakang panggung. Itu tandanya tidak ada satu pun murid yang tinggal kelas. Bersorak gembira, menangis terharu, bangga, dan tak lupa juga berfoto dan saling bertukar nomor handphone. Selesai membacakan kelulusan, kini ganti wakepsek yang naik ke atas panggung untuk membacakan siapa yang dapat beasiswa ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya. “Lulus saja sudah bangga apalagi kalau bisa ke luar negeri ya Bu, gimana ya rasanya?” kata Arif penuh harap
“Ya jelas enak toh Rif, kalau kamu bisa ke sana Ibu bakal bangga sama kamu,” jawab si ibu.

“Bener itu kata Ibumu Nak, Bapak juga bakal bangga sama kamu. Berarti Bapak sama Ibumu ini nggak rugi nyekolahin kamu sampai SMA,” sahut bapak Hadi.
“Amin.. Doakan ya Bu,” jawab Arif sembari memeluk orangtuanya. Mendengarkan wakepsek berbicara sambil melamun. Eeeehh tak tahunya nama Arif juga ikut kesebut dalam kumpulan anak yang dapat ke luar negeri. Harapan Arif telah diijabah sama Allah. Ya.. Meskipun nggak juara satu nggak apa-apa, kan masih ada juara dua. Hehe.

Kecerdasan Arif dalam berbahasa kini dapat membawanya ke pelosok negeri. Arif jadi teringat kata ayahnya ketika ia mengambil ijazah kelulusannya di sekolah pada waktu itu, “Man jadda wa jadda, barang siapa yang bersungguh-sungguh ia pasti berhasil,” sambil menelusuri jalan dengan menghirup udara segar ternyata ada seseorang yang Arif rindukan di sana. Arif mengambil sebuah kertas lalu dituliskannya surat yang berisikan kerinduan pada seseorang.

“Kini, di kejauhan sana nggak ada lagi kuis berhadiah dan juga nggak ada lagi pelukan hangat darimu. Di negeri kincir angin sini aku merindukan keceriaanmu, canda tawamu, bahkan pelukan hangatmu Ibu. Tapi, meskipun jauh setidaknya aku bisa senang karena bisa membuat bangga dirimu. Kini kau telah berhasil membuat anakmu menjadi sukses dan bisa mengangkat derajatmu Ibu. Ibu dan Ayah telah berhasil mendidikku menjadi orang yang bermartabat, mempunyai harga diri dan tidak ada lagi hinaan dan cacian dalam diriku. Terima kasih Ibu, Ayahku, kau segalanya bagiku,” isi surat Arif. Setelah ditulisnya, dilipatlah surat itu hingga membentuk sebuah perahu. Setelah itu dihanyutkanlah perahu kertas itu ke sebuah danau.

Tamat

Cerpen Karangan: Ika Windy
Facebook: Ika Windy

Cerpen Ku Rindukan Pelukanmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lagu Terakhir Untuk Bunda (Part 1)

Oleh:
Namaku Tya, Ayahku meninggal ketika aku berumur 11 tahun, tepatnya 4 tahun yang lalu. Kini aku tinggal bersama Ibu yang sangat menyayangiku dan Kakakku yang selalu mendukungku. Nama Kakakku

Helena oh Helena

Oleh:
Deras hujan yang turun, melayangkan lamunan seorang gadis yang tengah duduk menghadap jendela. Entah kemana arah pandangannya, entah kemana matanya menatap, dia terus membuka matanya dan terdiam. Gadis itu

Jujur Tidak Ajur

Oleh:
Laki-laki itu kini berusia 17 tahun. Ia dilahirkan dari pasangan Kolman dan Fatimah. Ia hidup dalam kesederhanaan bersama 2 kakak kandung dan 1 kakak ipar. Ia adalah seorang siswa

Secangkir Rasa Kehidupan

Oleh:
Angin malam menyelimuti tidurku, dengan alunan daun-daun yang menari bersama hangatnya cahaya kesunyian. Malam ini tidak seperti biasanya, ku melamun menatap wajah sesosok bidadariku yang tergambar bersama kenangan-kenangan lalu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *