Ku Telah Lama Menunggu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 9 July 2013

Dimana dia? Orang tua yang selalu menyayangi anaknya. Yang selalu bangga jika anaknya dapat ranking di sekolahnya. Selalu memeluk anaknya di kala merasa sedih dan senang. Tapi, bagaimana denganku? Aku tidak pernah merasakan rasa hangatnya pelukan dari orang tua. Dari kecil aku sudah tinggal dengan paman dan bibiku. Seharusnya aku bisa menganggap mereka sebagai orang tua. Tapi tidak, mereka selalu menyiksaku. Apalagi jika aku tidak mengerjakan perintah mereka. Semua orang bisa tersenyum saat dibelikan baju baru, aku hanya bisa duduk merenung memikirkan apakah aku bisa bebas dari semua penderitaan ini. Aku sangat menderita, jika aku tidak menyelesaikan pekerjaanku, aku pasti di hukum.

Seperti, mereka tidak memberiku makan sehari semalam dan pernah mereka menyetrika tanganku. Wajah dan tubuhku memar-memar akibat perbuatan mereka. Aku bagaikan budak bagi mereka. Aku sangat ingin melaporkan ini kepada polisi. Tapi jika kulaporkan, mereka akan semakin menyiksaku. Teman-teman di sekolahku bahkan selalu bertanya apa yang terjadi padaku jika mereka melihatku memar-memar seperti itu. Tapi, aku hanya bisa menjawab ‘aku tidak apa-apa, aku hanya jatuh di jalan’. Temanku saja sangat peduli padaku, tapi kenapa mereka tidak? Mereka bahkan tak pernah menganggapku ada. Aku hanya seperti debu yang mengganggu mereka.

Aku tidak tahan, aku mau bebas, aku mau pergi, aku mau melampiaskan semua amarahku ini. Ku kayuh sepedaku dengan cepat ke tempat yang sepi, sehingga tidak ada orang yang tahu aku sedang disini. Setelah sampai, aku turun dari sepeda, dan langsung saja aku teriak aaaaaaaaaa… ku teriak sekencang-kencangnya di atas bukit ini. Aku tak tau apa yang merasukiku. Ku hanya ingin berteriak menumpahkan segala perasaanku disini. “paman, bibi, liat aja nanti, jika aku sudah tidak tahan lagi aku tidak akan ragu-ragu untuk terjun dari atas bukit ini. Aku lebih baik mati daripada harus tersiksa dianiaya oleh kalian. Dan aku bersumpah jika kalian memintaku untuk kembali, aku akan, aku akan…” teriakku yang terpotong saat melihat kaki seseorang yang ada di balik pohon beringin itu. Kenapa bisa ada orang disini, setauku tadi tidak ada orang.

Aku penasaran, jadi kuikuti saja kaki itu. Dan saat ku berjalan mendekat, dia berkata “kenapa berhenti? Tadi kan kamu mau teriak-teriak gak jelas, kenapa berhenti. Lanjutkanlah, aku tidak akan mengganggu.” Ucapnya sambil berdiri memperlihatkan dirinya. “aku tidak mau melanjutkan lagi, kau menggangguku. Aku mau pergi.” Ucapku. “justru kamu yang menggangguku. aku lagi tidur siang kamu malah teriak-teriak gak jelas, ganggu aja.” Ucapnya yang mulai berjalan mendekatiku. Dia sangat menjengkelkan masa aku yang jadi dibilang pengganggu. “hey, kamu yang ganggu aku, tempat ini adalah tempat rahasiaku. Mana mungkin orang lain tau tempat ini. Jangan-jangan, kamu ngikutin aku ya?” ucapku. Plettakk.. dia menjitak kepalaku. “semua orang juga bisa pergi kesini kali, ini kan bumi tentu orang lain pasti bisa berada disini.” Ucapnya yang kemudian menjewerku dan berbicara di telingaku.
“ngomong, ngomong aja kali gak usah pake jitak dan menjewerku. Aku juga masih bisa denger. Sakit tau.” Ujarku yang kesakitan. “oke sorry, abis kamu ngegemesin. Hehe.” Ucapnya yang lalu mencubit pipiku. “oh iya, kenalin aku Avian, aku baru pindah kesini. Aku juga sekelas sama kamu. Masa kamu gak inget sih.” Lanjutnya. “aku inget ko.” Jawabku. “kenapa kamu tadi teriak kaya gitu?” tanyanya. “karena perkataanku yang tadi itu benar, aku selalu dianiaya oleh paman dan bibiku.” “loh emang kemana orang tuamu?” tanyanya. Saat mendengar pertanyaannya aku pun menunduk dan wajahku berubah menjadi muram. “sudah bertahun-tahun aku tidak mengingatnya lagi. Bahkan dari lahir aku belum pernah melihat wajah mereka. Mereka pergi meninggalkanku, pamanku bilang aku ini anak haram. Ibuku hamil di luar nikah. Dan setelah aku dilahirkan, mereka meninggalkanku begitu saja. Lalu aku tinggal dengan paman dan bibiku, tapi mereka menyiksaku.” Ucapku panjang.
“maaf ya, aku tanya itu, sa.” Ujarnya sambil mangusap punggungku untuk menenangkanku. “gak papa, itu emang kebenarannya, aku menyedihkan ya.” Ucapku seraya menangis. “kamu jangan gitu, tuhan hanya memberi cobaan kepada kamu. Itu berarti kamu di sayang oleh tuhan, dan kamu hanya perlu ikhlas dan sabar menghadapinya. Kamu harus kuat, pasti tuhan akan memberikan yang lebih baik daripada ini.” Ujarnya panjang. Ucapannya benar, aku saja yang lupa bahwa di dunia ini masih ada tuhan. Aku dan Avian sekarang menjadi berteman baik, bahkan dia mau bersahabat denganku. Kami jadi sering ke atas bukit ini untuk bercerita dan main bersama. Kadang mengerjakan pr pun disini. Aku juga semakin kuat menghadapi cobaan ini.

Walaupun hari demi hari siksaan dari paman dan bibiku jadi bertambah berat, tapi Avian selalu mendukungku dan memberi banyak nasihat padaku sehingga aku dapat bertahan sampai sekarang. Setelah bermain dan mengerjakan pr, aku pulang sore, aku harus bersiap-siap atas apa yang akan bibi katakan padaku. Dia pasti marah jika aku pulang sore, dengan alasan tidak ada yang membersihkan rumah, dan yang pasti aku di hukum lagi. Entah hukuman apa yang akan ia berikan padaku. “assalamu alaikum, aku pulang, sore.” Ucapku seraya tersenyum. Bibiku hanya tersenyum kecut dan aku bisa menebak apa reaksinya setelah itu. “Khalisa… Khalisa kamu tau sekarang jam berapa, ha? Kenapa kamu baru pulang, oh pasti kamu mau di hukum, ya? Jadi sekarang kamu udah kebal sama semua hukuman itu? Sekarang akan ku tambah hukumanmu dengan yang lebih berat.”

Akhirnya aku di hukum untuk membersihkan rumah, setelah itu aku tidak diberi makan selama 2 hari, jangankan 2 hari 1 hari saja aku tidak kuat. Lihatlah tubuhku yang semakin mengecil. Bagaimana bisa aku tidak makan dengan tubuhku yang seperti ini. Dan dia tak mau memberiku uang saku. Setelah itu, dia menceburkan kepalaku di kolam kamar mandi berkali-kali. Aku tidak bisa bernapas, dadaku sesak tubuhku lemas. Aku tidak kuat, dan kubiarkan saja tetes-tetes air menetes dari dalam mataku. Aku sudah teriak sekuat tenaga tanda sudah tak kuat lagi. Tapi, apa daya, dia malah semakin semangat menceburkanku. Dan 1 jam berlalu, akhirnya dia melepaskanku juga. Napasku tersengal-sengal, tubuhku lemas. Ku menangis, kenapa bibiku sendiri bisa melakukan hal seperti itu pada keponakannya yang baru berumur 12 tahun.

Aku iri pada teman-temanku, disaat remaja, mereka bisa menikmati masa-masa itu, sedangkan aku, aku rindu orang tuaku. Bagaimana rasanya di rawat dengan mereka. Apakah akan sama seperti ini, ataukah aku akan bahagia jika dengan mereka. Bertahun-tahun aku menunggu mereka, mengharapkan mereka kembali padaku. Kenapa mereka tega meninggalkanku saat masih di bawah umur. Ku telah lama menunggu, kenapa mereka tak kunjung datang. Apa mereka sudah melupakan buah hatinya ini, walaupun ibu hamil di luar nikah, tapi aku tetap anaknya. Tak tahukah mereka betapa tersiksanya aku disini.

2 tahun kemudian
Inilah saatnya aku tamat dari SMP, dan meneruskan ke SMA. Aku pun memberanikan diri untuk megajak paman dan bibiku ke acara perpisahan sekolahku sekaligus mengambil ijazah. Dan tak ku sangka mereka mau, aku pun pergi ke sekolah dengan hati yang tenang. Ini pertama kalinya mereka datang ke sekolahku. Sudah saatnya acara dimulai, tapi mereka belum datang. Sudahlah, tidak apa, mungkin di jalan macet, terlambat sedikit itu bukan masalah besar. Sudah hampir akhir acara, mereka belum datang juga aku pun merasa gelisah. Hingga akhir acara dan mengambil ijazah mereka tidak datang, aku merasa kecewa. Dan aku pulang ke rumah.

Aku melihat mereka sedang bercanda dan tertawa bersama teman-temannya dan mabuk-mabukan. Keterlaluan mereka seharusnya ada di sekolah 2 jam lalu. Tapi mereka malah mengadakan pesta disini. Amarahku meledak dan “cukup, kalian semua keluar! Keluar dari sini!” bentakku pada teman-teman paman dan bibi. “hey, kau sudah pulang rupanya. Sini, kita merayakan kelulusanmu, nilaimu bagus tidak. Kalau tidak bagus kau harus melayani teman-temanku di kamar.” Ucap bibi dalam keadaan mabuk. “paman, bibi, kenapa kalian seperti ini padaku. Kalian sudah bilang akan datang ke acaraku di sekolah, kenapa kalian tidak datang, ha?” teriakku.

Lalu pamanku berjalan ke arahku dan menjewerku “kau sudah berani ya membentak kami, ha? Emang seberapa penting acara itu, ha? Kau saja yang tidak mengerti betapa letihnya aku bekerja untuk membayar uang sekolahmu. Dan kau tidak mengucapkan terima kasih? Yang benar saja.” Ucapnya. “lebih baik aku pergi dari sini dan mencari orang tuaku.” Ucapku dan kemudian masuk ke kamar. “tunggu, apa kau bilang mencari orang tuamu? Aku tau mereka dimana, kemari kau apa kau ingin tau dimana mereka?” ucap bibi yang membuatku menghentikan langkahku. Aku pun berpikir sejenak dan baiklah aku akan ikut bibi. Lalu aku membalikkan badanku dan “baik, aku mau tau mereka dimana.” Ucapku dengan lantang. Kemudian bibi menjambak rambutku dan keluar.

Aku dimasukkan ke dalam mobil dan paman mulai menyetir mobilnya. Sepertinya aku mengenal tempat ini, ini kan bukit yang sering aku datangi. Kemudian kami keluar dari mobil dan bibi menarikku ke atas bukit itu, tepatnya di balik pohon beringin. Saat sampai, aku melihat di atas tanah ada dua buah batu berukuran sebesar batu bata, dan dihiasi dengan bunga-bunga yang bertaburan di atas tanah. “inilah kedua orang tuamu, jika kau ingin melihat mereka, kau bisa terjun dari atas sini. Hahaha.” Ucap bibi yang dilanjutkan dengan suara tawanya. “apa maksudmu? aku bingung, kalian bilang orang tuaku pergi meninggalkanku, dan sekarang kalian bilang ini adalah makam orang tuaku.”
“sebenarnya hubungan orang tuamu tidak disukai oleh teman ayahmu karena dia mencintai ibumu, jadi dia tidak mau bila mereka berdua bersatu. Jadi setelah orang tuamu menikah, mereka selalu di teror. Dan akhirnya mereka di bunuh disini, mereka bilang agar tidak memberitahu hal ini padamu, tapi ternyata rahasianya sudah terbongkar. Hahaha.. kematian orang tuamu tragis sekali, apa mungkin kau juga akan seperti ini.” Ucap paman yang masih dalam keadaan mabuk. Setelah itu mereka meninggalkanku disini. Aku menangis disini yang hanya ditemani angin dan pohon-pohon di sekitar sini. Ternyata disinilah mereka. Selama bertahun-tahun kutunggu, ternyata mereka ada di dekatku. Tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh pundakku dan langsung saja aku menoleh, dan ternyata Avian.

Aku pun langsung memeluknya. “ternyata mereka disini, mereka di dekatku, kenapa aku tidak tau itu.” Ucapku yang menangis tersedu-sedu. “sudahlah, yang penting kamu udah tau dimana mereka. Akhirnya tuhan memberi tahumu keberadaan mereka. Seharusnya kamu bisa ikhlas dan berdoa agar mereka bisa tenang di sana.” Ucapnya menenangkanku. Dia benar, aku harus bisa mengikhlaskan mereka. Aku harus kuat, mungkin akan ada cobaan yang lebih berat lagi, dan aku harus terus menjalani hidup ini walaupun banyak cobaan dan rintangan yang datang.

TAMAT

Cerpen Karangan: Ellisa Rachmawati
Facebook: Ellisa Rachmawati

Cerpen Ku Telah Lama Menunggu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kemalangan Seseorang

Oleh:
Saya punya sahabat, namanya Lisa, Risa, dan Rista. Lisa mengajak kita untuk menghabiskan malam tahun baru bersama-sama dan bersenang-senang untuk melepas beban di kepala kita setelah perang dengan soal

Antara Cinta Dan Teman

Oleh:
Namaku Nini. Hari ini adalah hari terakhirku berada di rumah, karena aku akan memulai kehidupan baru. Kehidupan yang akan menjadi tantangan bagiku, karena aku akan tinggal di asrama. Yang

Burung Kertas Sang Putri Tidur

Oleh:
Sore itu, daun-daun yang berguguran Iringan semilir angin yang dengan hembusannya menyapaku Kelabunya langit mendung, telah berganti dengan warna-warni goresan tinta pelangi Ku langkahkan kaki ku perlahan Sambil menghirup

Tetaplah Menjadi Bulan (Part 1)

Oleh:
Rintik-rintik hujan berjatuhan membasahi kota, membuat kaki-kaki itu perlahan melangkah mencari perlindungan. Berbeda dengan para burung yang kian liar berterbangan, seolah menyambut datangnya gerimis dengan riang. Di antara ratusan

Tara

Oleh:
Setahun yang lalu… Hari pertama masuk sekolah setelah MOS di SMAN 21… Pelajaran fisika. Seorang guru muda masuk ke sebuah kelas. “Selamat pagi anak-anak. Baiklah sebelum kita mulai pelajaran

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *