Kucing dan Beruang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 12 May 2013

Seekor burung pipit terbang rendah. Mengeja kata membentuk kepakan berirama untuk menuju sarang. Di sarang, beberapa anaknya telah membuat sebuah penantian dengan mulut menganga, tanda lapar. Tangis anak pipit takkan terdengar. Apa lagi di tengah guyur hujan ketika Dinu merujuk. Ia memang kerap seperti itu. Mengkhayali entah. Mendekap ibunya dalam pelukan di balik jendela. Berdua, mereka menatap burung pipit yang terbang rendah tadi. Lalu, masuk ke sebuah semak dan tidak kembali.

Dinu masih saja memperhatikan semak itu, sementara sang ibu melakukan hal lain. hal yang tidak pernah Dinu tahu dengan jelas. Keinginan yang coba diajukan di tolak Ibu mentah-mentah. Ia sadar. Tiada mungkin, Ibu mengijinkannya keluar dalam rinai hujan, membawa payung yang hasilnya percuma. Tidak menghindari basah dari tubuhnya. Paling-paling Ibunya akan mengatakan di sana ada Kucing, atau Beruang. Dua hal yang paling ditakutkan Dinu.
“Ibu, apa itu di balik semak? Bulung tadi di makan om yang besal.” Teriak Dinu pada ibunya. “Dinu sayang, itu cuma beruang, makanya jangan keluar. Nanti Dinu di makan.” Sahut ibu dengan ketus. Beberapa saat berselang, Dinu kembali memulai debutnya. “Ibu beluang tadi masih di cana, malah ada lagi beluang lain. Lebih kecil. Bajunya putih bu, lambutnya panjang. Itu beluang apa bu?” Ibu yang sedang memasak makan malam tentu risih mendengar anak semata wayangnya yang tiada henti mengeja tanya dari balik jendela. Tiada jawaban dari sang Ibu, si Dinu kembali ke ruang makan sementara Ibunya menutup toko di depan rumah karena senja terus merangkak naik. Malam akan segera bersambut nyata.

Seperti biasa, keluarga Dinu akan menyantap makan malam bersama. Melepas lelah sambil berbincang riuh menjaga kebersamaan yang semu. Semua begitu mengharukan. Canda ayah pada anak, Ibu pada anak, dan ayah pada Ibu. Semua begitu indah terlihat secara kasat mata. “Ayah, tadi Dinu melihat Beluang dan anaknya yang kecil tapi lambutnya panjang. Lebih panjang dali ibu dan Dinu. Meleka jahat. Bulung pipit dan ayam kita di makan. Padahal Dinu juga suka ayam.” Rujuk Dinu pada ayahnya. Sang ayah hanya menggelang senang lalu memeluk putri kesayangannya. “Biasa pa anak kecil. Tadi mama asal bilang aja. Mama bilang itu Beruang sama Kucing. Biar dia tidak keluar waktu hujan.” Kata Ibu Dinu memberi alibi pada suaminya.

Keesokan paginya, Dinu melihat tempat di mana Beruang dan Kucing itu keluar. Tempat itu di belakang rumahnya. Didapatilah beberapa ekor ayam milik ayahnya mati dan sebuah kotak misterius tergeletak. Dinu menangis sejadi-jadinya. Kontan saja Ibunya langsung berlari melawan rasa lelah yang menggerogoti IRT secara umumnya. Ibu Dinu terkejut melihat bangkai ayam dan anaknya yang telah menangis di tambah sebuah kotak misterius yang terus di genggam anaknya. Sang Ibu tidak sempat menanyakan rimba ayam-ayamnya dan memilih menenangkan sang anak yang menangis bagai orang kesurupan.

Beberapa saat, tangisan Dinu terhenti. Ia bercerita bahwa ia sedih ayam-ayamnya telah mati. Di makan beruang dan Kucing tempo hari. Ibunya pun hanya menggeleng bingung dan kembali duduk melayani pelanggan toko yang akhir-akhir ini sangat sepi. Anehnya, baru saja Ibu Dinu sampai di teras toko, belasan pelanggan telah menjejali tepat itu. Tidak seperti biasanya. Dalam sekejap, dagangannya ludes terjual dengan sempurna. Masih sempat-sempatnya Ibu Dinu memelototi dagangan itu dengan perasaan tidak percaya. Heran, kalut, senang. Sungguh perasaan yang tak terdefinisi kata. Atau jiwa yang tak percaya dengan mukjizat. Mukjizatkah? Atau berhubungan dengan kotak misterius yang di taruh Dinu di toko itu? Entahlah.

Tidak seperti biasanya, makan malam selanjutnya berubah mewah. Semewah hotel berbintang lima. Ibu Dinu tidak bosan-bosannya menceritakan hal itu kepada suaminya. Sesaat, keluarga tersebut diselimuti suka-cita dibanjiri pelanggan. Sungguh surga dunia. Dinu yang ikut-ikutan tertawa, angkat bicara. “Ayah, Ibu, Dinu lihat om beluang ama tante kucing lagi tadi sole. Meleka main di deket lumah kita. Meleka juga Dinu lihat ke lumah Yanu.” Sambil menunju arah rumah temannya yang hanya beberapa meter. “Dinu, mungkin om Beruang sama tante Kucing lagi pengen jalan-jalan. Makanya jangan keluar malem, nanti Dinu di makan.” Kata ayahnya mencoba mengikuti jalan pikiran anaknya. Tanpa sadar, sebuah mind-set perlahan menyeruak untuk jadi ideologi.

Keesokan harinya, Yanu menghilang dari rumah. Orang tuanya khawatir minta ampun. Begitu pula dengan Dinu. Tapi tidak bagi Ibu Dinu yang terlanjur sibuk mengurusi pelanggan yang kian membeludak jumlahnya. Sangat banyak. Segelintir kabarpun cuma di anggap lalu oleh Ibu Dinu.

Efek kotak ajaib itu dipercaya oleh orang tua Dinu sebagai pembawa mukjizat bagi tokonya. Padahal kotak itu kecil, terbuat dari kayu yang di cat merah-putih-hitam melintang. Sebuah pintu kecil mengundang ingin tuk membukanya. Tapi, Dinu melarang niat kedua orangnya. Entah mengapa.

Dari hari ke hari, Dinu semakin sering membicarakan Beruang dan Kucing yang katanya selalu mengunjunginya. Tentu saja Ayah dan Ibu Dinu terus memberikan pengalihan perhatian. Sebab, kelogisan pernyataan anak mereka sangat jauh dari realita. Tentu tidak mungkin adanya. Tapi, mereka percaya kelogisan yang jauh dari realita lain. yaitu, jumlah pelanggan yang hingga membuat antrian panjang. Sangat panjang untuk sebuah toko kecil di depan rumah.

Rasa penasaran tentu membelenggu raga mereka untuk melihat isi kotak tersebut. Kotak yang saat ini masih tergeletak di atas kulkas di toko mereka. Kotak itukah penyebabnya? Tiada yang tahu. Maka, rasa penasaran mendorong mereka membukanya saat Dinu tidur. Betapa terkejutnya mereka setelah mendapati kotak tersebut berisi sebuah. Bukan sebuah, tapi beberapa buah hampa, yang berarti tidak berisi apa-apa. Segera mereka tempatkan kotak itu di posisi awalnya seperti sedia kala, berharap tidak akan terjadi apa-apa.

Pagi hari yang cerah, Ibu dinu membuka toko lebih awal. Tengah hari sudah, tiada seorangpun pelanggan yang singgah. Aneh, pasca dibukanya kotak itu, tiada batang hidung yang nampak. Tidak seperti hari-hari kemarin. Bingung sang Ibu semakin dilapisi rasa bersalah akan penasaran yang telah membuka kotak misterius itu. Berbuah sesuatu yang ada di dalamnya, hampa. Dinu juga belum keluar dari kamarnya. Dalam tubuh yang tergontaikan angin, sang Ibu hendak melihat buah cinta yang paling ia sayangi.

Betapa terkejutnya ia setelah menemukan hampa lain. Hampa akan anaknya yang tiada tampak. Seisi kamar di babat habis dalam kegalauan yang tiada tara. Semua keluarga besar diberitahu. Juga polisi, juga pemadam kebakaran dan banyak lagi. Akhirnya, sebuah surat yang di tulis anaknya dengan tulisan yang agak sulit terbaca menjawab semua. “Yah, Ibu, Dinu di ajak main sama om Beluang dan tante Kucing. Mereka tadi ke cini lewat tembok belakang lumah. Dada.” Seketika tubuh ibu terjatuh ke lantai dan hanya melihat hampa.

Cerpen Karangan: Gede Agus Andika Sani
Blog: babibubebong.blogspot.com
Facebook: Sani Agus
Penulis merupakan penggemar cerpen yang bersekolah di SMA Negeri Bali Mandara. Cerpen masuk koran dan website merupakan keinginan terbesarnya.

Cerpen Kucing dan Beruang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Novel Dari Kalirejo

Oleh:
Sebelum libur akhir tahun datang, aku mendapat kabar mengejutkan yang datang dari tanteku di desa kalirejo. Katanya kakek sakit keras maka dari itu dia menyuruh ibu untuk datang ke

Tangis Mu Merayu

Oleh:
Suara burung hantu dan lolongan anjing di atas bukit mengusik sepi yang hampir abadi malam ini. Sesaat suara mereka bersahutan. Entah anjing atau serigala, tapi lolongannya kian melengking memenuhi

Bangku Terlarang

Oleh:
Hari ini adalah hari awal aku masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas. Namaku Tania. Aku duduk di kelas 1 SMA PERWIRA HUSADA. Aku berjalan melewati koridor kelas yang

Suara Misterius di Pagi Buta

Oleh:
Kisah ini berawal di pagi buta. Ketika itu aku masih nyantri di pondok Kliwon. Suasana masih gelap dan sepi waktu itu.Udara dingin yang menyeruak masuk dari ventilasi asrama serasa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *