Kursi Kakek

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 February 2015

Hari-hariku selalu diwarnai dengan kakekku, walaupun aku dijahilin sama teman-temanku. Tetapi kakek selalu menghiburku, dengan usia kakek yang semakin tua aku pun sangat prihatin dengan kondisi kakek yang sering sakit-sakitan. Kakek sangat lucu jika bercerita dan dia sangat bersemangat menghiburku, kakek selalu memakai kursi goyang di depan teras rumahku. Kakek pernah bercerita tentang perang dulu, bercerita dongeng, kadang-kadang cerita lucu juga. Aku sampai tertawa geli melihat wajah kakek yang disesuaikan dengan cerita, kakek sangat berarti bagiku.

Pada suatu hari, kakek ku mengalami sakit keras. Karena faktor usia, belakang hari ini kakek jarang bercerita dan belakang hari ini juga kakek sering sakit. Aku takut kehilangan kakek, sesampai aku menangis saat kakek batuk-batuk
“doa kan saja yang terbaik sayang..” kata ibuku

Bagaimana bisa kakek yang sangat berarti bagiku akan pergi tuk selamanya, itu sangat tidak mungkin dan akan menjadi kenangan pahit yang teramat sangat. aku sangat ingin bercanda lagi bersama kakek, aku sangat merindukan wajah kakek yang keriput. Kakek biasanya duduk di kursi goyang menunggu ku pulang sekolah sekarang tidak ada lagi, nenek terus menangis melihat kakek sekarat.
“nenek, aku juga sedih lihat kakek sakit. Nenek jangan nangis ya, nanti nenek yang sakit” kata ku sambil memeluk nenek.

Akhirnya setelah lama kemudian hal yang tidak inginkan pun terjadi, kakek ku sudah meninggalkan kami sekeluarga, dia memberi pesan kepadaku untuk yang terakhir kali dia berkata:
“Diana, kakek selalu bilang. Jaga ibumu dan jangan pernah menangis karena kau sangat cantik jika kau ceria. Diana, hiburlah dirimu sendiri jika kakek tidak ada” kata kakek ku untuk terakhir kali. Aku terus memegangi tangan kakek sambil menangis
“kakek, Diana janji Diana akan turuti perintah kakek…, kek…, jangan pergi kek… kakek…” kata ku sambil menjatuhkan air mata,

5 bulan sudah berlalu, aku sudah melupakan kesedihan pahit kehilangan kakek. Tetapi kenangan itu tidak akan terlupakan sampai kapanpun, kursi kakek sudah menjadi kenangan kakek dulu. Kursi kakek tetap di tempatnya karena untuk kakek yang sangat berjasa dan sangat pandai menghibur cucu-cicitnya,

“Diana! Kenapa kamu melamun? Ayo kita pergi!” kata Fellysia aku pun langsung pergi ke sekolah. Aku tak akan pernah melupakan kakek untuk selamanya, dan begitu juga saudara ku yang lain. Untuk sebagai mengenang kakek, kursi yang biasa diduduki kakek itu pun tetap diletakkan di depan rumah ku. Itulah dia, kursi kakek yang tidak pernah dan tidak akan kami lupakan.

Cerpen Karangan: Aulia Febi Rahmah

Cerpen Kursi Kakek merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Membutuhkan Sayapku

Oleh:
Selepas shalat shubuh, kubangunkan kedua anakku. Mendekati dan mencium keningnya adalah cara terbaik seorang ibu membangunkan anaknya. “Kak, bangun kak, anak sholihahnya mama..” bisikku lembut tepat di telinganya. “Mama

Surat Kecil Untuk Tuhan

Oleh:
Mentari mulai terbit. Burung burung mulai berterbangan. Kulirik jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 5:30 WIB. Aku bangun dan segera mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Aku membuka pintu

Air Mata Hasna (Part 2)

Oleh:
Sesampai di rumah sakit, suster juga langsung membawakan adiknya ke dalam ruang ugd. Hasna juga ikut berlari sambil berdoa dalam hati. Agar apa yang dialami adiknya itu tidak membahayakan

Bukan Titik

Oleh:
Sudah seminggu sahabatku, Dinda meninggalkanku. Bukan pergi untuk satu dua hari, tapi untuk selamanya. Ya, dia meninggal dunia. Karena penyakit itu, penyakit hati yang menggerogoti tubuhnya. Ternyata, lama sebelum

Bunga Tidur Jagoan Mama

Oleh:
Terlahir menjadi seorang laki-laki dari sepasang raja dan ratu yang telah mengindahkan hidupku. Ucapan beribu terimakasih sama sekali tidak cukup untuk kupersembahkan kepada mereka. Bahkan sekuat apapun usahaku tetap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Kursi Kakek”

  1. Alamanda says:

    Nice banget ini! Wahh, semoga dengan media seperti ini bisa membuat banyak anak bangsa yang mulai berani mengasah kemampuan menulisnya yaa. Nice gan^^

  2. Aulia Febi Rahmah says:

    Terimakasihh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *