Lagu Terakhir Untuk Bunda (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 28 November 2015

Sejak saat itu hubunganku dengan Karizha, Finn dan Vita yang dulu sangat dekat kini menjadi semakin jauh. Kami tak pernah lagi ke kantin bersama lagi, tak pernah SMS-an lagi. Tapi keputusanku memang benar, aku sering melihat mantan sahabatku itu bersama dengan musuhku. Ia menjadi anak yang sangat nakal. Tak seperti Karizha, sahabatku yang dulu.
“Ah.. sudahlah.. lupakan saja. Sekarang aku harus fokus terhadap lomba pop singerku. Aku harus latihan dan menggapai juara.” Ucapku dalam batin.

Hari ini dalah hari dimana Ulangan Fisika itu dibagikan. Karizha memasang wajah aneh yang tertuju padaku. Tetapi sesaat setelah diumumkan bahwa akulah yang mendapat nilai terbaik. Ia marah kepada sahabatnya. Memang ia begitu aneh. Hingga membuat Widi tertawa terbahak-bahak. Kring.. bel pulang berbunyi. Aku menemui sahabatku Widi terlebih dahulu sebelum pulang.
“Wid boleh gak bantuin aku latihan nyanyi?”
“Boleh kok kapan?”
“Besok aja jam 4, aku ke rumahmu ya Wid.”
“Iya deh.. ajak dong Deva sama Riza dong.”
“Iya deh, nanti kalau ketemu aku bilangin mereka deh..”

Sore harinya, aku pergi ke rumah Widi, tetapi sebelum itu aku menjemput Deva dan Riza dulu. Setelah itu kami menuju ke Rumah Widi.
“Pertama-tama itu ngapain ya.. hehe.. soalnya aku gak pernah latihan nyanyi.”
“Latih saja napasmu..”
“Oh.. oke oke, makasih Dev, coba nada tinggi ya”
“Iya.”

Setelah pulang dari rumah Widi, aku pun mencoba melatih suaraku di Kamar. Tanpa ku sadari Kak Yanti mendengarkanku.
“Cie.. yang suaranya bagus..”
“Ah.. Kakak.. pandai sekali mengejekku. Pasti ada yang lebih bagus kak besok.”
“Ah.. kamu pasti menang kok, kalau suara kamu kayak tadi..”
“Huh.. sudahlah aku mau mandi dulu ah..”
“Ya udah mandi sana, habis itu nyanyi lagi ya.. hehehe..”

Aku terus saja berlatih, hingga tak ku sadari bahwa lomba tinggal 2 hari lagi, aku dan Widi pun menyempatkan diri untuk pulang sore. Pada latihan kali ini aku tak yakin dengan kemampuanku.
“Wid, aku gak akan mampu melaksanakan lomba ini.”
“Tya, suaramu itu bagus buanget eh.. kamu pasti menang lah.. lagian Kakakmu kan udah ndaftarin kamu ke lomba itu kan?”
“Iya sih..”
“Helloo.. siapa tadi yang bilang suara Tya bagus?” Kata Karizha.
“Aku Widi kenapa emangnya? Itu fakta kan? Jadi gak salah aku ngomomng kayak gitu. Lagi pula dibandingkan suaramu suara Tya jauh lebih bagus keles.”
“Helloo.. jelas-jelas suaranya jelek banget ya kan temen-temen?”
“Iya dong suaramu itu juelek buanget nget, nget, nget deh..” Jwab Finn.
“Hahaha!!”

“Astaghfirullahhaladzim.. inikah perubahan yang terjadi dalam 2 bulan itu? Setelah kau bergabung dengan anak yang selalu mengejekku, ternyata kau juga ikut-ikutan mengejekku? Akhirnya inilah yang ku terima..” Ucapku di lubuk hatiku yang paling dalam.
“Oh iya.. satu lagi ya.. kamu gak akan menang dalam lomba itu, lomba itu akan aku menangkan dengan mudah.” Kata Karizha sambil mengerutkan wajahnya.
“Lihat saja besok. Tya pasti menang.” Sahut Widi.
“Sudahlah.. ayo latihan lagi.. Wid.”
“Udah deh.. mendingan kamu stop itu latihanmu.. lalu lupakan semuanya dan mundurlah dari lomba itu, karena akulah yang akan menang.” Kata Karizha sambil meninggalkanku.
“Lihat aja besok aku yang akan menang!” Teriakku.
“Sudah-sudah ayo latihan lagi.”
“Iya iya..”

Hari yang dinanti pun tiba.. pagi itu Tya bangun dengan wajah ceria, besinar seperti matahari yang menyinari bumi pada pagi itu.
“Kakak, Bunda aku tak yakin dengan semua ini.”
“Kamu bisa Tya lagi pula suaramu itu udah buagus banget, merdu, haduh pokoknya sip deh, salut deh punya adek kayak kamu. Nanti malam kalau Kakak nggak bisa tidur biar kamu aja yang menyanyikan lagu nina bobo, hehehe”
“Iya, Tya kamu gak boleh pesimis ya.. Tya harus optimis.” Kata Bunda.
“Iya.. makasih ya kak, bun, karena udah ngedukung aku. Aku mau siap-siap dulu ya”
“Nah gitu dong anak Bunda kan ceria.”

Setelah bersiap-siap dan menggunakan baju berwarna merah dengan pita berwarna biru, bak perpaduan antara api dan air. Layaknya baju yang bercampur-campur perasaannya pun bercampur aduk menjadi satu.
“Kak, Bun, Tya berangkat dulu ya.. doakan Tya supaya menang ya bun.”
“Iya Bunda dan Kakak akan mendoakan Tya..”
“Oh iya Tya, kalau Kakak ada waktu nanti Kakak akan datang ke acara lombamu deh.”
“Iya kak, Assalamualaikum Bun, Kak.”
“Waalaikumsalam”
“Waalaikumsalam dek”

Setelah Tya pergi Bunda pun ke dapur, Bunda mengambil air, tiba-tiba gelas Bunda terjatuh dan pecah, airnya pun tumpah dan menyebar ke segala arah.
“Bunda kenapa?”
“Bunda tak apa kak, hanya kurang enak badan saja.”
“Yanti bawa ke rumah sakit ya Bunda?”
“Tidak usah Yanti, Bunda nggak apa-apa”
“Ah, Bunda nggak apa-apa gimana sih? Ayo ah Yanti bawa ke Rumah Sakit.”

Sementara di sisi lain aku menjemput Widi, Deva dan Riza di Rumah masing-masing. Tetapi ketika mereka dalam perjalanan mereka melihat orang kecelakaan, dengan spontan Tya mengarahkan ke delapan jarinya dan menekan rem. Akhirnya Widi, Deva, dan Riza pun terkejut dan tak terkendali. Akhirnya mereka berempat pun jatuh.. Ketika terjatuh entah mengapa aku memiliki firasat yang buruk.
“Emm.. temen-temen aku kok tiba-tiba dapet firasat buruk gini ya”
“Huh.. Naudzubillah, semoga firasatmu itu tidak benar Tya.” Jawab Deva.
“Ayo bangun.. nanti Tya terlambat dalam lombanya” kata Widi.

Sesampainya di sana ia bertemu dengan Karizha. Karizha tampak cantik menggunakan gaun yang berwarna pink tua dengan berhiaskan bunga-bunga yang cantik menawan, sedangkan di kepalanya terdapat mahkota yang berkilauan.
“Wow.. kayaknya aku harus mempersiapkan mentalku agar kuat saat Karizha dinyatakan menang.”
“Tidak Tya Karizha tak akan menang, lagi pula gaun yang digunakannya tak secantik suaramu.” Dukung Riza.
“Lagi pula lomba ini mencari bakat menyanyi, bukannya bakat mendandan kan?” Kata Deva meyakinkaan Tya.
“Kamu benar juga, tapi.. bisa saja juri juga melihat dari penampilan.”
“Sudahlah.. jangan pedulikan dia. Fokuslah pada lombamu dan optimislah terhadap kemampuanmu.” Kata Widi.
“Terima kasih ya teman-teman kalian memang sahabatku yang paling oke deh, dari sahabatku yang lain.”

Keempat sahabat itu pun saling berpelukan satu sama lain. Tiba-tiba Karizha datang menemui mereka.
“Eh.. Tya.. halo apa kabar?”
“Baik, kamu?”
“Baik dong, oh iya maaf lo ya tentang omonganku yang kemarin, tidak sepantasnya aku ngomong kayak gitu ke kamu.”
“Iya gak apa-apa kok.”
“Mm.. ini aku bawain jus avokad buat kamu, kamu haus kan? Ini buatan Mamaku lo..”
“Iya makasih ya..”
“Sama-sama, diminum ya.”
“Iya.”
“Mm.. Tya aku kok merasa ada yang janggal di sini?” bisik Widi.
“Ahh.. perasaanmu saja kali, nggak ada yang janggal kok, mungkin Karizha udah berubah.”

Ternyata dugaan Widi memang benar. Setelah Tya meminum jus itu, suaranya menjadi serak, dan tak bisa merdu lagi. Sebetar lagi waktu untuk Tya maju.
“Teman-teman gimana nih?”
“Haduh.. coba aja maju, nanti siapa tahu di atas panggung ada mukjizat suaramu bisa kembali normal lagi.” jawab Widi.
Pada saat musik di putar, Tya hanya bisa diam. Ia pun didiskualifikasi dari lomba itu. Tya pun turun dari panggung dan menemui teman-teman yang menunggunya di bawah.
“Lain kali kita coba lagi ya Tya.. Semangat ya..” kata Widi.
“Oke, dan butuh waktu lama lupakan kenangan ini.”

Mereka pun melihat penampilan dari Karizha, ternyata Karizha dapat menguasai panggung dan membuat lomba itu menjadi keren.
“Wow.. keren banget..” Kata Tya.
Teleponnya pun berbunyi, Kring, Kring, Kring.. .
“Ehmm.. iya kak, ada apa?”
“Dek gimana lombanya?”
“Aku di diskualifikasi kak.”
“Oh.. ya udah gak apa-apa.. kan lain kali bisa dicoba lagi, oh iya sekarang kamu ke Rumh sakit Taruna Jaya ya..”

“Siapa yang sakit kak?”
“Bunda dek”
“Hah??!! Bunda masuk Rumh sakit? Ruangan apa kak?”
“Iya dek, Ruang Anggrek dek.”
“Oh.. oke oke.. oke, aku ke sana sekarang.”
Setelah itu aku memberitahu pada teman-temanku.
“Mm.. oke jadi gini aja aku sama Riza pulang, terus kamu sama Widi pergi ke Rumah sakit.” Jawab Deva.

Setelah sampai di sana ia sudah ditunggu oleh Kakaknya di depan pintu kamar Bunda.
“Kak gimana kedaan Bunda?”
“Sebentar dek, itu juga masih diperiksa sama dokternya.
“Oh.. iya kak.”
Mereka tak tahu apa yang terjadi di dalam, Bunda meminta padaa dokter itu untuk tidak memberitahukan hasil pemeriksaannya kepada Tya dan Kakaknya. Setelah dokter itu memeriksa Bunda.
“Dokter bagaaimana keadaan Bunda ku?”
“Maaf ya dek, saya belum bisa beritahukan hal ini?” ucap dokter sambil meninggalkanku dan Kakakku.

Aku segera masuk ke kamar untuk memastikan keadaan Bunda tak apa. Aku tak ingin kehilangan sosok yang aku cintai untuk kedua kalinya, setelah Ayahku pergi untuk memenuhi panggilan sang pencipta.
“Bunda!! Bunda tak apa kan? Bunda tak akan meninggalkan ya dan Kakak sendirian kan? Kalau Bunda sayang pada Tya dan Kakak Bunda tak akan lakukan itu.”
“Tya, Bagaimana lombamu nak?”
“Mafkan Tya Bunda, Tya didiskualifikasi, karena tadi tiba-tiba suara Tya serak. Tapi Tya janji suatu saat Tya akan memenangkan lomba itu.”

“Iya Tya tidak apa, lagi pula menang atau kalah dalam suatu perlombaan itu kan hal yang wajar. Kamu sudah berani untuk mengikuti lomba itu pun Bunda sudah bangga kok. Oh iya Tya kamu maukan menyanyikan lagu terakhir untuk Bunda?”
“Apa maksud Bunda? Bunda tak akan pergi menyusul Ayah sekarang kan? Ku mohon Tuhan, jangan engkau sedihkan aku jikala aku masih dalam keadaan seperti ini.”
“Hush.. Tya nggak boleh bilang kayak gitu, sudah, bernyanyilah saja.”
“Baik Bunda.”

“Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang
Nada-nada yang indah Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku Tak kan jadi deritanya
Tangan halus nan suci Telah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup Rela dia berikan”

“Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh.. Bunda ada dan tiada dirmu kan selalu ada di dalam hatiku”

Saat aku selesai menyanyikan lagu itu, Bunda pun menghembuskan napas terakhirnya. Cairan bening yang berkilau itu pun tak berhenti mentes dari kedua kelopak matanya yang bersinar ketika melihat wajah Bundanya untuk yang terakhir. Tangisan deras dari sang Kakak pun tak dapat dihentikan. Tangisan kedua bersaudara itu telah membasahi kedua tangan dan kaki Bunda. Pada akhirnya dokter pun memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi kepada kedua bersaudara itu.

“Sebenarnya Bundamu itu sudah sering sekali datang ke sini untuk memeriksakan kondisi tubuhnya yang terasa tak enak. Ternyata ia mengidap penyakit kanker servik. Kalau tidak salah itu skitar 8 bulan yang lalu ia sudah memasuki stadium 3, dan tadi maktu saya periksa stadiumnya sudah 4 dan sudah tak bisa diselamatkan lagi. Saya tadi juga terkejut melihat keadaan Bundamu dan turut berduka cita. Tadi itu Bundamu meminta waktu untuk berpamitan dulu kepadamu dan Kakakmu.”
“Terima kasih dokter.” Ucap Kakak.

Tya menjalani hidupnya bersama Kakaknya. Tya mengukir cukup banyak prestasi di Sekolah ini, hingga ia diberi beasiswa oleh sekolah dan melanjutkan kuliahnya di Unervesitas Indonesia. Lalu setelah aku menyelesaikan kuliahku, akhirnya aku bisa melupakan masa laluku yang begitu menyedihkan. Tya kini menjadi gadis yang cantik dan baik budinya di bawah bimbingan sang Kakak. Ia menjadi penyanyi yang terkenal dan memiliki banyak fans.

Sementara kak Yanti menjadi pengusaha di bidang kuliner dan memiliki Restoran yang bercabang hingga ke Negeri Jiran atau Malaysia. Sementara Karizha menjadi baby sitter, Finn menjadi pembantu rumah tangga, dan Vita menjadi pelayan di salah satu Restoran milik kak Yanti. Kak Yanti dan Tya hidup bersama dengan berkecukupan dan ia tak melupakan nasihat Widi yaitu kebahagiaan tak akan kamu peroleh dari seseorang saja tapi bisa jadi dari berpuluh-puluh orang.

Cerpen Karangan: Anindya Firdaus
Facebook: Anindya Firdaus
Twitter: @Anin_0626

Cerpen Lagu Terakhir Untuk Bunda (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Jalan Nila

Oleh:
Krriiinnnggg…Kkkrriiinnnggg… jam beker menunjukkan pukul 06.00. tetapi Nila masih terlelap. Suara ketok pintu sayup-sayup terdengar. “Nila… nila… ayo bangun sayang! ingat sekarang hari pertama masuk sekolah kan?” “Iya ma…”

Teori Bahagia

Oleh:
Tahukah kamu apa yang bisa membahagiakan seseorang? Untuk para pengusaha, mungkin bahagia adalah saat omzetnya sampai puluhan atau ratusan juta per bulan. Untuk bapak-ibu guru, mungkin bahagia saat anak

Dulu

Oleh:
Menyedihkan sekali kisah persahabatanku dengan Rinka. Dia dulu sahabatku. Dia dulu orang yang bisa kupercaya. Dia dulu selalu menghiburku saatku bersedih. Dulu kami saling berbagi cerita. Tapi itu semua

Hadiah Buat Mama

Oleh:
Suatu hari saat Ina baru saja pulang sekolah, dia dikagetkan oleh suara mamanya yang memanggil namanya. “Ina… ina…” “iya ma ada apa?” Jawab Ina dengan sopan. “kamu itu lagi

Ruang Kehampaan

Oleh:
Hidup bagai ruangan yang hampa. Tanpa seseorang yang kita sayang. Hidup bagai ruangan yang hampa. Penuh tekanan, kekangan, paksaan. Selasa pagi, gerimis masih saja datang dan terpaksa aku harus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *