Last Present

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Korea, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 July 2013

“Dad, please, trust me!”
Kim So Eun hampir frustasi mengatakannya. Hari ini, untuk kesekian kalinya dia kembali bertengkar dengan temannya di sekolah high school. Bukan dia yang memulai, bukan dia yang mencari masalah, namun terlihat sekali ayahnya sangat marah dan kecewa padanya.
“Kau seharusnya tidak membuatnya memancingmu lebih dalam lagi,” seru Minjun marah. “Kau bisa mengabaikannya bukan?”
“Dad, aku bukan pecundang!”
“Yes. Kau bukan pecundang!” seru Minjun keras. “Tapi kau pun juga bukan gadis liar yang suka berkelahi.”
So Eun hanya berdecah kesal, memukul pintu mobil yang sedang di kendarai ayahnya keras-keras.
“Kelakuanmu benar-benar tidak bisa di rubah,” ucap ayahnya lelah. “Jika terus seperti ini, aku akan mengirimu kembali kepada ibumu.”
“NOT! I don’t wanna go back to Seoul!” tentang So Eun tegas sambil menatap Minjun tajam. “Never.”
“Kali ini kau tidak bisa membujukku.”

“Sso?”
Jaebum memasuki kamar adiknya yang berantakan. Dia menghela nafas, lalu mendekati So Eun yang tengah duduk di tepian jendela kamarnya.
“Ada apa lagi sekarang?”
“Silent!” ucap So Eun tegas.
Jaebum menyeret kursi belajar So Eun dan meletakannya di dekat gadis itu, kemudian dia menududukinya.
“Sso, kau bisa, kan, menceritakannya pada – ”
“Shut up, Jay!” potong So Eun kesal. “Aku sedang tidak butuh ceramah dan sebagainya.”
“Aku tidak memberimu ceramah. Aku hanya ingin kau cerita padaku,” kata Jaebum bersikeras.
“I’m fine, oke!” kata So Eun tegas sambil menoleh ke arah kakaknya.
“I know you, and you not fine,” kata Jaebum telak. “Apa ini karena ayah?”
“Dia ingin mengusirku!”
“Sso – ”
“Dia terus saja mencari-cari kesalahanku agar dia bisa mengirimku kembali ke Seoul.”
“Dia tidak seperti itu, oke,” kata Jaebum memberi pengertian, wajahnya memanas. “Ayah hanya ingin kau bersama Ibu untuk beberapa saat.”
“UNTUK APA?!” teriak So Eun kesal. “Lalu bagaimana denganmu?”
“Sso – “
“Dia sudah tidak ingin menjadi ayahku lagi,” kata So Eun sambil menangis. “Dia mungkin berharap aku akan akrab dengan laki-laki yang ibu nikahi dan menjadikannya sebagai ayah peganti.”
Jaebum bangkit dan segera memeluk adiknya. Dia mengelus kepala So Eun dengan sayang, berharap adiknya bisa mengerti dan lebih tenang.
“Ayah punya alasan, dan kau akan tahu alasan itu nanti,” janji Jaebum.
“Kalau begitu kau mengetahui alasan ayah?” bisik So Eun.
Jaebum mengangguk kecil, masih memeluk So Eun. “Tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu.”
“Kenapa kalian berdua begitu jahat padaku?”
“Pulanglah. Seattle tidak baik untukmu.”
“Aku akan membenci kalian setelah ini, terutama ayah.”
“Nanti jangan lupa hubungi kami.”
“Aku benci kalian.”
“I love you too.”

Minjun sudah mengecek paspor dan barang bawaan So Eun dan semuanya sudah oke. Jaebum pun tak lupa terus memberi nasehat dan perkataan-perkataan yang menyenangkan, namun tak pernah So Eun tanggapi.
“Semuanya sudah siap,” jelas ayahnya.
“You must becarefful, alright!” kata Jaebum sambil mencubit pipi So Eun yang langsung di hindari oleh sang empunya. “Sampaikan salamku pada Omma.”
So Eun tak bicara sepatah katapun dan langsung pergi untuk menyerahkan tiketnya pada si pegawai.
“Langsung hubungi kami setelah sampai!”
“Aku akan merindukanmu!” teriak Jaebum.
“Ayah akan merindukanmu, So Eun-ah,” ucap Minjun dengan suara pelan, wajahnya berubah murung. “I love you.”
Saat So Eun memasuki pintu, air matanya tak bisa tertahan lagi. Wajah dinginnya kini berubah sendu, bahkan dari sorotan matanya terlihat jelas kalau gadis itu sangat terluka.
“Sekarang ayah tidak punya alasan lagi untuk menolaknya,” kata Jaebum saat mereka dalam perjalanan pulang. Minjun hanya tersenyum menanggapi perkataan anak pertamanya itu.

“Kau… Kim So Eun?”
So Eun mengangguk. Taecyeon tersenyum lebar setelah berhasil menemukan sosok adik tirinya itu setelah dari tadi berkeliling membawa papan nama.
“Aku Hwang Taecyeon. Aku – “
“I know you!” ucap So Eun cepat.
Taecyeon agak terperangah. “Ah, okay,” dia tersenyum kikuk. “Aku minta maaf karena te– ”
“Sudahlah.”
Taecyeon hampir tidak tahu harus berkata apa lagi. “Ayo.. kita pulang,” maka hanya itu yang dia ucapkan.
Taecyeon membantu So Eun membawa dua koper berukuran sedang milik So Eun. Gadis itu sendiri hanya membawa tas ranselnya yang berwarna putih tulang hadiah dari Jaebum tahun lalu.
“Bagaimana perjalananmu?” tanya Taecyeon basa-basi saat berada di mobil.
“Aku mengalami jedlag,” ucap So Eun yang langsung membuat Taecyeon bungkam. Perkataan So Eun ini bisa di artikan kalau dia sedang tidak ingin di ajak ngobrol.
“Aku minta maaf,” ucap Taecyeon pelan. So Eun hanya menghela nafasnya, menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobil, matanya memandang keluar.
“Bye the way, selamat datang di Korea,” kata Taecyeon melanjutkan.

“So Eun-ah! Sayang,” Chae Won menghampiri anak perempuannya yang baru saja tiba dan hendak memeluknya.
“Don’t, Mum! I’m tired, okay,” So Eun buru-buru menghindar. Chae Won jelas sekali kecewa. Sudah hampir lima tahun semenjak dia bercerai dengan Minjun dia tidak pernah bertemu dengan So Eun maupun Jaebum, dia sangat merindukan anak-anaknya. Chansung yang melihat itu buru-buru mengusap pundak istrinya.
“Bagaimana perjalananmu?” tanya Chansung ramah.
“I’m tired,” ulang So Eun datar, wajahnya menunjukan sedikit ekspresi. Namun jika ekspresi itu bisa mengeluarkan suara, dia pasti akan berkata, “hal bodoh macam apa yang di tanyakan orang kepada orang yang baru saja perjalanan jauh? Bagaimana perjalananmu? Tentu saja lelah.”
Chansung tersenyum merasa tidak enak. Ini pertama kalinya dia bertemu anak tirinya, dan sepertinya anak tirinya itu tidak bisa menerimanya dengan baik.
“Oke, maafkan aku,” kata Chansung pada akhirnya. “Ya, tentu saja kau lelah. Kalau begitu kau segeralah istirahat.”
Maka hari itu Chansung putuskan sebagai pertemuan paling buruk. Padahal jika dia bertemu dengan para kliennya, suasananya tidak secanggung seperti ini.
“Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Chae Won pada suaminya.
Chansung mengangguk sambil tersenyum. “I’m fine.”

Makan malam hari itu So Eun tidak ikut turun berkumpul bersama keluarganya. Dia masih belum terbiasa, ini benar-benar terasa aneh baginya untuk bisa akrab atau bahkan hanya sekedar mengobrol. Dia bahkan tidak merindukan ibunya sama sekali. Dia sudah terlalu terbiasa tanpanya. Ini membuat So Eun sedikit risih.
Saat So Eun baru saja selesai mandi, Chae Won datang kekamarnya sembari membawa sepiring makanan.
“Lihat, Omma sudah siapkan bulgogi kesukaanmu,” kata Chae Won sambil tersenyum.
“Aku fegetarian,” kata So Eun sukses membuat Chae Won terkejut.
“Sejak kapan?”
“Sejak kau memilih pergi meninggalkan kami,” kata So Eun datar, meski begitu sangat menusuk.
“So Eun-ah, itu… sudah lama,” lirih Chae Won.
“Ya, sudah lama,” kata So Eun sembari mengangguk. “Tapi maaf karena efeknya begitu besar sampai saat ini.”
“Aku minta maaf,” kata Chae Won sungguh-sungguh.
“Okay, aku mengantuk,” kata So Eun, mengusir ibunya secara tidak langsung.
Chaw Won keluar dari kamar sambil menangis, Chansung yang melihat istrinya seperti itu jadi tidak tega dan segera memeluk Chae Won.
“Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja,” ucap Chansung berusaha menghibur Chae Won.
“Aku benar-benar merasa bersalah,” isak Chae Won. “Seharusnya dulu aku merawatnya. Sekarang bahkan aku tidak tahu apa-apa tentang anakku.”
“Sudahlah,” kata Chansung.

“Aku sudah menyiapkan semua dan besok kau sudah bisa sekolah di sekolah yang sama dengan Taecyeon,” ucap Chansung pada So Eun saat mereka sekeluarga sarapan pagi itu. So Eun tak menyahut, dia hanya mengangguk kecil sebagai tanggapannya.
“Baiklah, kalau begitu sebaiknya kau berbelanja peralatan sekolahmu hari ini,” kata Chansung sesuadah melihat tanggapan kecil So Eun.
“Iya, So Eun-ah, nanti biar Omma yang mengantarmu berbelanja,” kata Chae Won.
“Tidak usah, aku bisa sendiri,” ucap So Eun yang lagi-lagi, meski datar, terdengar sangat menusuk.
“Apa kau nanti tidak bingung? Kau kan baru disini,” kata Taecyeon tanpa sadar.
“Aku tidak lupa ingatan. Aku juga pernah memiliki kehidupan di sini,” So Eun terdiam sejenak sembari mengambil apel yang berada di tengah-tengah meja. “Meski itu sudah sangat lama,” lanjutnya sembari menatap Chae Won.
Dan Taecyeon sudah putuskan, meski terlihat manis saat diam, sekalinya bicara, So Eun benar-benar bisa membunuh seseorang.

So Eun nampak tengah menunggu bis di halte. Siang itu, dia mengenakan celana jins panjang dan T-shirt serta jaket warana coklat muda, ransel dari Jaebum tertenggar manis di punggungnya.
Lima menit berlalu saat sebuah mobil berhenti di depannya. So Eun mengenali mobil itu karena baru saja kemarin dia menaikinya.
“Biar aku antar,” tawar Taecyeon dari kaca mobil.
“No, thanks,” ucap So Eun datar.
Taecyeon menghela nafasnya, lalu membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil.
“Kenapa tidak mau? Kita, kan, saudara,” ucap Taecyeon yang sudah berdiri di hadapan So Eun.
“Kita tidak saling kenal,” ucap So Eun tanpa melihat Taecyeon. Mendengar itu, Taecyeon tertawa pelan.
“Bagaimana mungkin saudara tidak saling kenal?” tanyanya heran. “Lagipula kita, kan, sudah tahu nama masing-masing.”
“Kau tidak seperti Jay,” kini So Eun menatap Taecyeon.
“Tentu saja! Dia, kan, kakak kandungmu,” ucap Taecyeon pelan.
So Eun menatap Taecyeon penuh arti setelah itu, dan kemudian pemuda itu mengerti.
“Karena aku hanya saudara tirimu?” tanya Taecyeon. “Apa kau tidak suka aku jadi saudara tirimu?”
“Aku tidak membencimu. Aku hanya membenci hubungan kita,” kata So Eun. “Dan aku harap tidak ada orang yang tahu kalau kita ada hubungan. Tidak ada keluarga, tidak ada saudara, tidak ada teman, tidak ada apapun. Kita berbeda dan pura-puralah tidak mengenalku.”
So Eun kemudian segera menaiki bis yang baru saja tiba di halte. Taecyeon sendiri tidak bisa berkata apa-apa. Dirinya menatap So Eun yang duduk diam dengan wajah datar di kursi bis.
“Segitu besarkah kau membenci kami?”

Malam itu So Eun berada di kamarnya tengah menyiapkan peralatan sekolahnya untuk besok. Dia sebenarnya tidak terlalu antusias, namun waktunya yang kosong membuatnya terus memikirkan kakak dan ayahnya yang berada di Seattle.
“Apa kabar mereka?”
Dulu, saat pertama kali mereka pindah ke Seattle lima tahun yang lalu, So Eun juga merasa tidak nyaman karena teman-temannya yang menurutnya aneh. Dia ngambek dan marah. Namun saat malam sebelum dia sekolah di sekolah barunya, Jay datang dan membantunya merapihkan peralatan sekolahnya.
“Aku ingin kembali ke Seoul, Jay, aku ingin bertemu Omma,” ucap So Eun saat itu kepada Jaebum. “Kenapa Omma tidak melarang kita pergi?”
“Omma punya alasan sendiri,” ucap Jaebum sambil tersenyum.
“Kalian orang dewasa selalu menyembunyikan sesuatu. Aku sudah bukan anak kecil lagi. Usiaku sudah dua belas tahun,” kata So Eun.
“Orang dewasa akan mengerti meski tidak di ceritakan,” kata Jaebum. “Kau berarti masih anak-anak.”
“Aku takut,” kata So Eun dengan mata berkaca-kaca.
Jaebum tersenyum dan mengacak rambut So Eun. “Tidak apa-apa. Mereka tidak akan menyakitimu.”
“Mereka terlihat lebih besar dariku,” ucap So Eun merenggut. “Kau bahkan kalah dari mereka.”
“Hya, kalau sedang curhat jangan nyerempet-nyerempet soal itu dong!” ucap Jaebum kesal.
So Eun tiba-tiba menyeringai jail. “Tapi benar, kan? Lihat tinggimu Cuma seberapa…”
“Hya!”
“Wae?”
“Aku benar-benar menyesal datang ke kamar ini,” ucap Jaebum sembari mendengus.
“Aku tidak menyuruhmu datang kemari.”
“Kuperingatkan! Sesama orang pendeng lebih baik jangan saling menghina.”
“I’m a girl.”
“So Eun-ah!”
“Ne?”
So Eun mendongak sembari tersenyum, namun kemudian senyumnya menghilang saat di tatapnya Taecyeon tengah berdiri di ambang pintu kamarnya. Lamunannya buyar sudah.
“Wae?”
“Kakakmu menelepon,” cuap Taecyeon sembari menyerahkan telepon rumah tanpa kabel itu ke arah So Eun.
So Eun bangkit dengan perasaan agak tidak enak, dia lalu mengambilnya tanpa mengucapkan terima kasih atau apapun.
“Hallo?”
“So Eun-ah…”
Taecyeon yang sadar diri segera keluar dan menutup pintu kamar So Eun. Dia kembali ke kamarnya yang berada di sebelah kamar adik tirinya itu.
“Kenapa kau tidak menghubungiku setelah tiba di Seoul?”
“…”
“Kau tahu, aku dan ayah sangat khawatir. Untung sekali Omma segera mengabari kami.”
“…”
“So Eun-ah, kau masih di sana, kan? Kau belum tidur, kan?” tanya Jaebum di seberang sana.
“Hmmm..”
“Kata Omma besok kau sekolah. Bagaimana persiapanmu?”
“Baik,” jawab So Eun singkat.
“Baguslah. Kau tidak takut, kan?”
“No.”
“Lalu, apakah kau suka di sana? Bagaimana Seoul, banyak perubahan?”
“No.”
“Baru kemarin kau pergi, tapi aku sudah sangat merindukanmu,” Jaebum sedikit tertawa. “Kau baik-baik saja, kan?”
“No.”
“Ck, kapan kau akan mengatakan yes?” kata Jaebum berusaha mengajak So Eun bercanda, namun So Eun tak sedikit pun tertawa.
Tiba-tiba…
“Tolong bawa aku kembali, Jay,” bisik So Eun lirih, air matanya mulai menggenang.
“So Eun-ah…”
“Aku merindukanmu, aku merindukan ayah.”
“Tidak bisa.”
“Apa yang sebenarnya kalian semunyikan dariku?”
“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang,” kata Jaebum lemah. Air mata So Eun sudah mengalir.
“Aku membenci kalian.”
“Aku tahu.”
“Jangan hubungi aku lagi kalau begitu.”
“Tidak bisa.”
“Damn you, Jay!”
“Yeah, I know,” tanggap Jaebum. “But, we love you so much.”
“You liar!” isak So Eun, buru-buru mematikan telefonnya.
Maka semalaman itu So Eun menangis sampai dia ketiduran di lantai. Foto-fotonya bersama Jaebum dan ayahnya, Minjun, berserakan tak berbentuk. Dia menghancurkan semuanya.

“Ingat perkataanku kemarin; kita tidak saling mengenal,” kata So Eun memperingat Taecyeon saat mereka memasuki gedung sekolah mereka, Horra High School. Taecyeon hanya tersenyum dan memasuki kelasnya.
“Loh, kau siapa?” tanya Junho yang baru saja akan duduk di kursinya yang sudah di tempati orang lain.
So Eun tak menjawab dan malah sibuk dengan ponselnya. Junho yang merasa di cueki melirik Taecyeon yang duduk paling depan.
“Dia siapa?”
“Dia…” Taecyeon melirik So Eun sejenak. “Dia murid baru. Pindahan dari Seattle.”
“Oh,” tanggap Junho.
Sudah hampir jam tujuh saat anak-anak kelas VII-B sudah datang semua dan bertanya-tanya karena ada murid asing yang duduk di kelas mereka.
“Siapa dia?”
“Katanya murid baru.”
“Kelihatannya dia sombong sekali.”
“Dia cantik, ya,” tanggap anak-anak cowok.
Yoona, gadis yang paling cantik di kelas itu tiba paling akhir dan langsung memeluk Taecyeon.
“Oppa!” serunya manja.
“Yoona-ssi, hentikan!” kata Taecyeon risih.
“Wae? Aku, kan, kangen,” kata Yoona genit.
“Jangan bersikap yang memalukan. Kita itu tidak pacaran,” ucap Taecyeon tegas.
“Ck, kau ini…” Yoona lalu tanpa sengaja melirik So Eun dan langsung mendekatinya. “Siapa kau?” tanyanya to the poin.
“Murid baru,” Sun Mi, gadis yang duduk disebalah So Eun yang menyahut karena So Eun sama sekali tidak menanggapi.
“Aku tidak bertanya padamu!” ujar Yoona tajam, dia kembali menatap So Eun. “Hya, kau tidak tuli, kan?”
“Son of bitch,” So Eun mengumpat pelan sambil melepas headsetnya. “Siapa kau?” tanya balik So Eun sambil menatap Yoona tajam.
“Mwo?” Yoona nampak tak terima. “Kau!”
Taecyeon sudah bangkit siap memisahkan mereka saat tiba-tiba Yoona mengayunkan tangannya dengan keras.
Kreak!
Semua anak membelalakan matanya, berjengit kecil. Taecyeon bahkan memandangnya tidak percaya.
So Eun menatap Yoona tajam dengan tangannya masih menahan lengan yang tadi hendak memukulnya itu. Yoona sendiri meringis kesakitan, tangannya sepertinya retak karena genggaman So Eun yang sangat keras.
“Bagaimana bisa kau menunjukan sikap yang tidak berkelas, no-na,” ucap So Eun dengan menekan kata nona. Dia segera melepaskan genggamannya dan kembali duduk dengan tenang.
Untungnya saat itu guru Song segera datang dan membuat anak-anak kembali duduk di kursinya masing-masing.
“Selamat pagi anak-anak!”
“Selamat pagi, guru!”
“Wah, aku dengar hari ini kelas kalian kedatangan murid baru,” segera setelah ucapan guru Song barusan, semua anak langsung menatap ke arah So Eun. Yang di tatap malah bersikap biasa saja.
“Siapa namamu?”
So Eun bangkit dari duduknya dan membungkuk tiga puluh derajat.
“Annyeong haseyo, Kim So Eun imnida.”
“Baik, Kim So Eun-ssi, semoga kamu betah di sini,” kata guru Song ramah. So Eun kembali duduk.
Yoona menatap So Eun dengan kesal, tangan kirinya masih terus mengelus pergelangan tangan kanannya yang masih nyeri akibat genggaman So Eun tadi.
“Awas kau, So Eun!” desisnya tak terima.

“Kenapa hari pertama sudah mencari musuh?” tanya Taecyeon saat dia dan So Eun dalam perjalanan pulang dengan bis.
“Aku tidak bermaksud melukai pacarmu. Dia yang mulai duluan,” kata So Eun datar.
Taecyeon tertawa kecil. “Dia bukan pacarku,” katanya.
“I don’t care,” ucap So Eun.
“Setidaknya kau bersikap ramah pada yang lainnya,” nasehat Taecyeon. “Misalnya Sun Mi-ssi. Dia orangnya baik. Kau bisa berteman dengannya.”
“Sebaiknya jangan mencampuri urusanku,” kata So Eun segera memasang headset di telinganya.
Taecyeon tersenyum. So Eun benar-benar keras kepala.

So Eun tengkurap di lantai kamarnya sambil memperbaiki fotonya yang kemarin dia sobek-sobek. Setelah kekesalannya yang sulit untuk di tahan, dia menjadi menyesal dan berharap dia bisa menahan emosinya agar tidak bertindak bodoh.
Satu foto yang menampilkan dia, Jaebum dan ayahnya saat ulangtahunnya satu tahun yang lalu sudah selesai dia perbaiki, meski kini fotonya menjadi tidak sempurna. Padahal barang-barang yang bisa mengingatkannya dengan keluarganya di Seattle hanya sedikit, dan foto-foto ini yang membuatnya sedikit melupakan rasa kangennya pada mereka, namun malah dia hancurkan.
“Ayah, aku sangat merindukanmu. Kau sedang apa sekarang?”
Di Seattel sendiri Jaebum nampak tengah panik karena tiba-tiba ayahnya pingsan di kamar mandi dengan mulut penuh darah.
“Bagaimana keadaan ayah saya, Dok?” tanyanya segera saat Dokter selesai memeriksa Minjun.
“Kenapa bisa seperti ini?” tanya Dokter Mike. “Apa dia tidak meminum obatnya lagi?”
Jaebum tak menjawab pertanyaan itu. “Tolong selamatkan ayah saya, Dok,” pinta Jaebum. “Dia bisa di rawat sekarang. Dia bisa menjalani kemoterapi sekarang.”
“Aku akan berusaha,” kata Dokter Mike, lalu pergi.
Jaebum hampir menangis melihat kondisi ayahnya. Selama ini ayahnya sudah menahan sakit hanya karena dia takut anak-anaknya merasa khawatir. Sekarang bagaimana Jaebum harus menghadapi ini?
“So Eun-ah, bagaimana ini? Oppa benar-benar bingung harus melakukan apa. Mungkin ini sebabnya ayah tidak ingin kau tahu masalah penyakitnya. Bukankah dia sangat hebat karena berhasil menyembunyikan penyakitnya darimu selama ini. Dia juga tidak akan memberitahuku jika aku tidak sengaja membaca surat keterangan dokter tahun lalu. Awalnya aku kecewa karena ayah tidak mempercayai kita. Tapi bagaimana setelah itu? Aku mencintai ayah juga dirimu. Aku tidak ingin kehilangan kalian. Tapi saat ini saja. Maaf karena aku lebih memprioritaskan ayah. Tolong kau baik-baik saja di sana. Aku merindukanmu, ayah pun sama. Dia bahkan lebih sangat merindukanmu.
So Eun-ah, tolong jangan pernah membenci kami”
Jaebum menurunkan ponselnya sambil menangis. Dia tidak benar-benar menelepon So Eun karena dia tahu nomor lama So Eun sudah tidak di gunakan lagi, dan perkataannya tadi akan masuk ke voice mail. Dia tidak akan takut jika So Eun akan mendengarnya.

So Eun terbangun pagi itu dengan keadaan lelah. Matanya layu dan dia masih merasa mengantuk karena tadi malam dia tidur sangat larut. Saat beranjak dari tempat tidur, dia melihat fotonya yang ada di atas meja, dan tiba-tiba dia jadi sangat merindukan ayah dan kakaknya.
“Apa yang sedang kalian lakukan sekarang?”
Saat di meja makan, So Eun terus mendengar Chansung batuk hingga nampak kesakitan. Dia jadi teringat ayahnya yang sering batuk-batuk dulu. Tapi Chae Won merawat Chansung dengan baik di sini. Apa Jaebum juga merawat ayah dengan baik di sana?
“Cobalah minum air jahe hangat, itu akan sedikit melegakan,” kata So Eun tiba-tiba. Tentu saja perkataannya itu membuat Chansung, Chae Won serta Taecyeon sangat terkejut. Bisa perhatian juga ternyata. Pikir Taecyeon saat itu
“Aku akan mencobanya,” kata Chansung ramah sambil meminum teh hangat yang sudah di sediakan Chae Won. “Terima kasih sarannya.”
“Ayahku juga sering batuk-batuk,” kata So Eun. “Beruntung karena Anda memiliki istri di sini.”
Dan pada akhirnya perkataan yang langsung menusuk di hati yang di ucapkan So Eun, karena setelah itu keadaan berubah jadi canggung.

Saat menuju kelas, So Eun jalan lebih dulu dan Taecyeon berada di belakangnya. So Eun masih tidak mau mereka dekat, apalagi sampai orang-orang tahu kalau mereka saudara. Taecyeon sebenarnya sedikit khawatir karena kemarin So Eun telah membuat masalah dengan Yoona. Dia akui kalau So Eun itu berani, tapi Yoona juga tidak bisa diremehkan. Dia punya kuasa, donatur terbesar sekolah ini adalah ayahnya.
“Annyeong, So Eun-ssi,” ucap Sun Mi gugup, wajahnya sedikit tidak enak. So Eun hanya menanggapinya dengan anggukan kecil dan setelah itu dia duduk di kursinya.
Saat itu anak-anak cekikikan, apalagi Yoona yang dengan blak-blakan memberinya seringai.
Taecyeon waspada. Dia tahu ada yang tidak beres.
“Apa yang kau rencanakan?” tanyanya pada Yoona yang duduk di sebelahnya.
“Kau lihat saja nanti,” ucap Yoona, kembali menghadap ke depan.
Saat pelajaran berlangsung, So Eun mulai merasakan yang aneh dengan rok sekolahnya. Dia bergerak gelisah sampai guru Hong memanggilnya untuk mengerjakan soal di depan.
“Baik, Sonsaengnim,” ucap So Eun cepat sembari bangun. Dan saat itu terdengar suara robekan rok. Semua anak tertawa, So Eun sendiri hanya mengepalkan tangannya.
“DIAM!” seru guru Hong. “Siapa yang melakukan ini?!”
Semua anak terdiam. Saat itu tiba-tiba Taecyeon bangkit sembari membawa jaketnya, Yoona memperhatikannya dengan terkejut.
“Kau mau kemana?”
Taecyeon tak menghiraukan dan terus mendekati So Eun. Setelah tepat berada di depannya, dia merunduk dan segera memasangkan jaket itu di pinggang So Eun.
“Taecyeon-ah, tolong bawa So Eun-ssi dulu keluar untuk berganti rok,” kata guru Hong.
Taecyeon mengangguk.
“Dan kalian!” guru Hong. “Jika bapak tahu siapa yang melakukan itu, akan langsung dapat hukuman dari bapak.”
So Eun masih mengepalkan tangannya dengan geram, saat melewati Yoona, matanya berubah tajam dan penuh dendam.
“Kau benar-benar tidak tahu siapa aku,” batin So Eun kala itu.
“Ini baru awal, So Eun-ssi,” batin Yoona kala itu juga.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Taecyeon saat mereka sudah berada di korido.
“Kau sepertinya tidak mengerti arti dari kalimat tidak kenal satu sama lain,” ucap So Eun.
“So Eun-ah, aku tidak bisa mengabaikanmu,” kata Taecyeon serius. “You’re my sister.”
“Step sister,” ralat So Eun.
“Yeah, whatever,” ucap Taecyeon bosan. “Ok, dengar, aku memang tidak bisa seperti Jaebum, karena memang aku bukan dia! Bisakah kau melihat aku karena aku Taecyeon, your step brother?”
So Eun menatap Taecyeon, dia lalu menggeleng kecil. “I’m sorry, I can’t.” Dan setelah itu dia pergi meninggalkan Taecyeon.

So Eun berjalan-jalan di sekitar sungai Han dengan masih mengenakan jaket Taecyeon. Tadi pagi dia memang tidak mengganti roknya. Percuma. Di lokernya tidak ada rok cadangan maupun celana olahraga.
Siang itu cukup terik. So Eun mengais tasnya dan berjalan ke bawah pohon untuk berteduh. Dulu sekali, saat dia dan keluarganya masih lengkap, mereka pernah jalan-jalan di sini. Entah apa yang mereka lakukan saat itu, So Eun sudah lupa. Tidak ada yang di ingat baik olehnya, pikir So Eun semuanya sia-sia saja.
Dia kemudian membuka ponselnya dan terus memandangi nomor Jaebum. Ingin sekali dia meneleponnya saat ini juga dan mengadukan kejadian di sekolah tadi. Tapi egonya tinggi dan rasa kesalnya masih banyak, dia tidak bisa melakukan itu. Nomornya yang dulu pun masih dia simpan. Seandainya dia mau memasangnya kembali, So Eun pasti akan langsung tahu kebenarannya. Dan setidaknya dia bisa mendengar suara Jaebum kembali, orang yang di rindukannya saat ini.

Perhatian Taecyeon kepada So Eun membuat Yoona naik darah. Amarahnya, juga rasa kesalnya semakin bertambah dan kegilaannya untuk mengerjai So Eun semakin terus menerus di lakukan. Taecyeon yang melihatnya geram sendiri. Sebenarnya kesal juga karena So Eun tidak melawan sama sekali.
Hari ini adalah yang terburuk yang pernah di lakukan Yoona. Setelah kemarin dia membuat So Eun kehilangan baju sekolahnya seusai olahraga, sekarang gadis itu malah sudah membuat So Eun basah dan juga kotor.
“Yoona-ssi, apa yang kau lakukan?!” seru Taecyeon marah, sedikit mendorong tubuh Yoona agar dia bisa mendekati So Eun yang terduduk di lantai dekat toilet, ember bekas air yang menyiram So Eun tergeletak begitu saja.
Taecyeon buru-buru membuka baju seragamnya dan segera memasangkannya pada So Eun. Untung saja dia pakai kaos.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya. So Eun tak menjawab, namun Taecyeon dapat melihatnya ada genangan air di pelupuk matanya.
“Kenapa kau peduli sekali padanya?” seru Yoona tak terima.
“Bagaimana mungkin seorang kakak tidak peduli kepada adiknya!” seru Taecyeon marah. Ini pertama kalinya anak-anak melihat Taecyeon marah, mereka terkejut, terutama Yoona, apalagi dengan perkataan yang barusan di ucapkan Taecyeon.
“Jika kalian berani mengusik So Eun lagi, kalian akan langsung berhadapan denganku!” ancam Taecyeon segera merengkul So Eun dan membawanya untuk pulang.
“Terima kasih,” bisik So Eun, air matanya sudah mengalir.

“Kenapa tidak melawan?” tanya Taecyeon saat dalam perjalanan pulang.
So Eun tidak langsung menjawab, dia teringat perkataan ayahnya dulu.
“Karena aku bukan gadis liar,” katanya pelan.
Taecyeon segera menoleh.
“Kenapa kau masih mau menolongku?” tanya So Eun.
“Tentu saja karena kau adikku, kan,” ucap Taecyeon sembari tertawa kecil. “Jangan bertanya hal-hal yang tidak masuk akal.”
“Menjadi adikmu sangat sulit,” ucap So Eun tiba-tiba.
“Apa?!”
So Eun menoleh dan memandang Taecyeon. “Mendapat perhatian dari seorang kakak sepertimu membuatku banyak masalah.”
“Maafkan aku,” kata Taecyeon menyesal.
Pandangan So Eun yang tadi serius, jadi melunak. Dia malah tersenyum, dan melihat itu membuat Taecyeon tertegun sesaat. So Eun hampir tidak pernah tersenyum , kini dia tersenyum di hadapannya. Tadi malam dia mimpi apa ya?

“Kami pulang!” seru Taecyeon saat memasuki rumah
Chae Won yang sedang menerima telefon menyahut. “Kenapa pulang cepat? So Eun-ah, ada apa dengan pakaianmu?”
“Tidak apa-apa,” jawab So Eun datar.
“Kebetulan sekali,” ucap Chae Won tersenyum. “Ayahmu sedang menelefon menanyakan kabarmu. Apa kau yang ingin menjawabnya? Apa kau ingin berbicara padanya?”
So Eun nampak terkejut dan terdiam sejenak. Dia lalu menggeleng pelan dan berlalu ke kamarnya, di ikuti Taecyeon. Melihat itu Chae Won jadi sedikit murung.
“Dia pasti tidak mau,” kata Minjun di seberang sana.
“Maafkan aku,” ucap Chae Won menyesal.
“Tidak apa-apa. Uhuk.. uhuk…!”
“Kau baik-baik saja?” tanya Chae Won khawatir.
“I’m fine. Don’t worry,” ucap Minjun menenangkan.
“Jaga dirimu baik-baik,” kata Chae Won sebelum menutup telefonnya.

“Memikirkan ayahmu?”
So Eun menggeleng. “Tidak.”
“Bagus,” ucap Taecyeon sambil tersenyum.
“Apa maksudmu?” tanya So Eun sedikit marah. “Kau senang aku tidak memikirkan ayahku?!”
“Maksudku,” ucap Taecyeon perlahan, “bagus karena aku memiliki adik yang jika berbohong sangat kentara sekali di wajahnya.” Pemuda itu menyentil kening So Eun pelan.
“Aku tidak berbohong,” kata So Eun agak kesal. “Dan jangan karena aku mau mengobrol denganmu, kau jadi sok dekat denganku.”
“Ck!” decak Taecyeon sedikit sebal. “Kau ini masih saja jual mahal pada kakakmu yang paling tampan ini.”
“Kau tidak tampan,” elak So Eun. “Kau hanya lebih tinggi dari Jay.”
“Oh ya?” tanya Taecyeon sangsi. “Memang bagaimana si Jay itu?”
“Dia tampan dan sangat pintar,” kata So Eun bangga. “Lebih daripada kau, dia bahkan jago ngedance dan seorang rapper yang handal.”
“Lalu kenapa dia tidak daftar saja sebagai muridnya JYP Entertaimen?” ucap Taecyeon kesal karena di banding-bandingkan.
“Berani bayar berapa JYP untuk merekrut kakakku?”
“Wah, daebak,” ucap Taecyeon tak percaya. “Kau benar-benar sombong sekali.”
“Memang benar, kan?!”
Chae Won yang tak sengaja melihat kedua anaknya tengah mengobrol di pinggir kolam renang, tersenyum lega. Sudah hampir satu bulan lebih dan akhirnya So Eun mau juga mengobrol, meski dengannya masih tidak mau terbuka. Setidaknya dia sudah bisa menikmati kehidupannya di sini.

Jaebum membulati tanggal dua empat Desember secara terus menerus. Sudah akan natal, itu berarti So Eun sudah tidak bersama mereka sekitar lima bulanan. Dia sangat merindukan adiknya. Biasanya menjelang natal seperti ini, mereka akan bersiap dengan berbelanja beberapa barang untuk natal dan mengias pohon. Tapi sekarang bahkan tidak ada waktu untuk itu. Keadaan ayahnya semakin buruk. Jaebum bahan tidak bisa fokus pada kuliahnya.
Siang tadi saat datang ke rumah sakit, ayahnya tengah di tangani Dokter karena paru-parunya semakin parah. Jaebum tidak bisa berharap banyak setelah itu. Bahkan Dokter pun tidak bisa berbuat apa-apa. Jaebum hanya ingin, jika Tuhan memberi ayahnya waktu, mereka, dia, ayahnya, dan So Eun bisa berkumpul saat natal nanti.
“Bagaimana keadaan ayah?” tanya Jaebum saat memasuki ruang inap Minjun.
“Lelah,” jawab Minjun dengan suara serak.
Mulut Jaebum mengatup, berusaha agar tidak menangis.
“Kau mau bantu ayah?” tanya Minjun.
“Apapun untuk ayah,” Jaebum tersenyum, namun saat itu pula hatinya sakit sekali.

“So Eun-ah, bisa bicara sebentar?”
So Eun dan Taecyeon menghentikan kejar-kejaran mereka. So Eun menatap Taecyeon sebentar dan mengangguk kecil.
Chae Won mengajaknya duduk di taman belakang, dengan dua cangkir teh hangat di atas meja.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Chae Won.
“Lebih baik,” jawab So Eun.
“Apa kau sudah memaafkanku?”
“Sedikit,” So Eun menunduk. “Aku sudah mulai mengerti dan terasa lebih jelas. Tapi tetap saja ada luka di hatiku yang belum tentu bisa hilang.”
Chae Won mengangguk mengerti. “Maafkan aku.”
“Tidak masalah.”
“Apa kau masih marah kepada ayah dan kakakmu?” tanya Chae Won setelah itu.
“Itu masalah lain,” ucap So Eun pelan.
“Hubungilah ayahmu sekali saja,” kata Chae Won punuh harap.
“Aku tidak bisa.”
“Ayahmu merindukanmu.”
“Maka salahnya karena dia mengirimku kesini,” kata So Eun, suaranya mulai serak. “Itu resikonya karena mengabaikanku.”
“Ayahmu tidak bermaksud seperti itu, dia hanya sedang ada sedikit masalah,” jelas Chae Won.
“Seandainya dia bisa terbuka padaku,” So Eun menatap ibunya. “Aku akan melakukan apapun untuknya saat itu juga, akan menjadi kuat untuknya. Tapi dia tidak percaya padaku.”
Air mata Chae Won sudah mengalir mendengarnya. Dengan pelan dia menarik tubuh anaknya dan memeluknya dengan erat.

Ini natal yang berbeda dan So Eun akui dia sangat asing dengan keadaan ini. Dia menginginkan Jaebum dan ayahnya berada di sini, sama-sama membuka kado natal.
“Merry Chrismast Jay, Dad,” bisik So Eun sebelum membuka kadonya.
Chansung memberinya kotak music di mana seorang laki-laki tengah memainkan sebuah piano.
“Trims,” ucap So Eun.
“Aku harap kau menyukainya,” kata Chansung.
“Ini sangat indah. Tentu saja aku sangat menyukainya,” kata So Eun jujur.
Ibunya memberinya sebuah boneka teddie bear satu pasang. Di bantal berbentuk hati yang di pegang boneka itu, ada tulisan Jay & Sso. Tentu saja itu menimbulkan protes dari Taecyeon.
“Omma, kenapa bukan namaku!”
So Eun tertawa menanggapi keluhan Taecyeon, lalu dia membuka hadiah terakhir dari Taecyeon.
Sebuah kalung dengan bandul berbentuk hati, ada inisial di tengahnya.
“BBF? Bukan Boys Before Flowers kan?” tanya So Eun sedikit mengejak.
“Hya, tentu saja bukan!” kata Taecyeon kesal. “Itu artinya Best Brother Forever.”
So Eun tersenyum. “Thank you,” ucap So Eun tulus.
“So Eun-ah,” ucap Chae Won kemudian, agak ragu.
“Mwo?”
“Ada hadiah terakhir,” Chae Won mengeluarkan kotak kecil pipih yang sudah di bungkus. “Dari Jaebum.”

So Eun membuka hadiah dari Jaebum di kamarnya. Ada satu CD dan sebuah surat di dalamnya. Dia membukanya perlahan…
Dear, Sso-ah
Apa kabar? Apa wajahmu masih lucu seperti dulu? Aku benar-benar merindukanmu selama ini. Kenapa kau tidak pernah menghubungi kami? Kenapa kau tidak mau berbicara dengan ayah ketika dia menelefon? Kau tahu ayah benar-benar merindukanmu? Kau tidak membenci kami, kan? Kenapa kau tidak kembali? Harusnya kau kembali dan menemaniku. (So Eun terisak dan meremas surat itu).
Aku lemah. Aku berharap kau bisa datang, namun kemudian aku berpikir akan sangat memalukan jika kau melihatku seperti ini. Kembalilah, Sso.. sekarang hanya kamu yang aku miliki. Aku mencintaimu, tolong kembalilah… aku sendirian sekarang.
So Eun menyusut air matanya dan segera memasang CD yang di kirim Jaebum ke laptop miliknya.
Tayangannya berisi kenangannya saat di Seattel. So Eun tersenyum, namun senyumnya hilang saat tayangan di laptopnya berubah dan menunjukan keadaan ayahnya saat di rumah sakit. Dia terkejut bukan main.
“Apa ini?”
So Eun buru-buru membuka surat Jaebum kembali dan membacanya.
Hanya kamu yang aku miliki… Aku sendirian sekarang… Aku sendirian sekarang.
“Hallo, So Eun-ah, apa kau bisa mendengar ayah dengan jelas?” suara ayahnya mengalihkan perhatiannya kepada video lagi.
“Dad…”
Wajah ayahnya sangat pucat dan begitu sakit, ada selang infus dan alat bantu pernafas di hidungnya.
“Maafkan ayah,” ayahnya terisak. “Ayah benar-benar sangat menyayangimu. Kau tidak membenci ayah, kan?”
So Eun mulai terisak hebat. Apalagi saat video yang di tampilkan berguncang dan terdengar suara panik Jaebum.
“Appa, jangan tinggalkan aku! Tolong, Appa! Kenapa kau seperti ini padaku? Kenapa?!”
Taecyeon hanya bisa berdiri di balik pintu kamar So Eun. Air matanya juga sudah mengalir deras.
“Dia akan segera baik-baik saja,” ucap Chansung yang juga ada di sana.
Chae Won sendiri tidak bisa berkata apa-apa, dan hanya bisa memeluk Chansung dengan erat. Air matanya sudah deras mengalir.
“Semuanya akan baik-baik saja.”

END

Udah, sad, kan? Aduh, takut kurang ngena feelnya… *garuk-garuk kepala*
Semoga Readers pada suka deh, terlalu sering bikin ff dgn happy ending, sekarang waktunya bikin yang sad Ending…
Commen ne.. ^_^

Cerpen Karangan: Fami Andrias .T
Facebook: Shymi Horvejkul

Cerpen Last Present merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saat Saat Kita Bersama

Oleh:
Namanya Elicia Fitra Andryna biasa ku panggil Elic, dia yang selalu menyemangatiku di mana-mana, dialah sahabat sejatiku, aku selalu kasihan padanya dia selalu diejek oleh temannya. Suatu hari.. “Hei,

Nasi Goreng Terakhir Untuk Alya

Oleh:
“Pokoknya aku gak peduli aku mau nasi goreng hari ini kalau enggak aku gak mau sekolah titik” ucap seorang gadis dengan nada tinggi kepada ayahnya. “Uhuk.. Uhukk.. Tapi Alya!

Emak (Part 1)

Oleh:
Gemuruh suara guntur terdengar lirih di kejauhan menyelimuti ruang gelap kami. Hempasan angin bercampur tempias air hujan membasahi jendela kecil rumah petak persegi ini. Jam sudah menunjukkan pukul 6

Impian Yang Hilang

Oleh:
Hujan menyisakan gerimis membasahi bumi, cuaca semakin dingin di pagi ini. sementara jarum jam baru menunjukkan angka 04:30 itu tandanya kegelapan masih menyelimuti desaku tapi itu takkan lama, karena

Apa Salahku?

Oleh:
Aku berjalan di lorong gelap berjalan dan terus berjalan tak tentu arah. Kulihat di setiap sisi kiri dan kananku tak terlihat seorang pun. Hanya suara burung hantu dan jangkriklah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

6 responses to “Last Present”

  1. Syariffah says:

    bgus..
    ckup sdih, tpi ending’ny dh mlai bsa d tbak saat p’tngahan crta..

    truz berkarya yy..
    Good Luck for U.. ^_^

  2. isna says:

    End nya gk jelas.masih bersambung.

  3. Shakira says:

    Ceritany mengharukan banget…

    Tp,endingny kurang jelas…tolong diperbaiki lagi ?ª?ª..Kªl? dah terbiasa bikin cerita happy ending,ga usah bikin yg sad ending deh……

  4. cisca says:

    Baru cerpen ini yang buat saya terharu bahkan menangis..
    Gud luck buat cerpen kamu berikutnya ..

  5. Syifa says:

    Ceritanya bagus.Tapi endingnya Kurang jelas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *