Layang Layang Koin Si Akbar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 10 November 2015

Anginnya sepoi-sepoi kala itu, namun wajah seorang anak yang mempunyai pipi tembem nampak pucat kusam, entah apa yang dipikir Akbar kala itu, ternyata tak jauh dari situ pula matanya kini memandang toko yang tak jauh dari sisi lapangan RW itu. Bukan es lilin yang dingin menggoda, maupun permen lolipop yang melingkar manis, namun sebuah layang-layang yang tergeletak di sisi sudut pinggir toko itu membuat khayalan anak berperut setengah lingkar itu tak keruan.

“hoi, bar.. ngapain kamu bengong?” tanya si Rafa.
“ha? Gak apa-apa..” ibarat lagu, jika usianya lebih dari 6 tahun mungkin ia akan mengerti lagu aku rapopo dari salah satu fenomenal Julia Perez ini menjadi gambaran perasaannya kini sekarang.
“ayolah main.. sini” angkat kakinya pergi beranjak dari bangku lapangan serta perginya bersama salah satu teman mainnya itu.

Sore. Sudah sore, katanya kepada dirinya sendiri yang menandakan bahwa waktunya untuk bermain ke luar bersama teman-temannya. Tapi, tunggu sempatnya ia berbicara kepada Ibunya yang sedang sibuk dengan urusan piring dan gelas di meja makan itu.
“mah.. beliin layang-layang dong..” senyum dan tingkah manisnya itu berharap akan berhasil.
“enggak, kalau punya uang saku itu buat beli, jangan boros terus.” Katanya tak seberapa panjang namun siksa dalam hati si pipi tembem ini sangatlah dalam, menurutnya.
“mamah tuh loh!!” perginya seiring dengan berputarnya sepeda roda yang ia kayuh itu ke luar dari rumah.

Di lapangan, semakin lama kiranya makin banyak saja layang-layang mulai berterbangan di sini, andai saja ada satu punyaku ikut berada di langit itu. Mungkin itu khayal Akbar kini.
“Bar.. akbar bantu terbangin layanganku yuk.”
“Ayo, fa..’

Mungkin hanya layang-layang Rafa penawar keinginan sementara si gendut itu sekarang. Cerianya terpancar dari wajah dan hati terdalamnya, walau ketika mereka juga sering berkata, “eh.. bar jangan ke arah sana..”
“bentar to bentar.. aku dulu yang main, Fa!!”
“ah.. kamu tuh loh…” walaupun hingga harus ada layang-layang yang menjadi korban tersangkut di kabel-kabel listrik kala itu.
“hhh.. Akbar!!!” perginya Rafa sambil memasang muka cemberut itu.
“hehe..” tawanya saja yang terdengar yaitu suara tawa kecil Akbar.

Di samping itu kini masalah selanjutnya ialah, sepulangnya wajahnya kembali merah pucat cemberut menjadi satu, ketika teringat kata-kata Mamahnya itu. Dan tak berselang lama kini terlihat sosok Ayahnya yang datang dengan pakaian kerja rapi, lalu tak berpikir lama kini Akbar siap melancarkan starteginya yang baru.
“Pah.. pah.. besok beliin layang-layang yaa.”
Dengan wajah yang sedikit lelah sepulang kerja kelihatannya Ayah Akbar pun hanya menjawab, “iya”

Pagi. Kini dengan biasa, seragam rapi bersetrika dan wangi, Akbar pun siap pergi ke sekolah dengan sedikit ngantuk memang terlihat dari kedua matanya. Dengan duduk di samping Ayahnya yang sedang mengemudi walau bukan mengemudi delman.
“pah.. beneran kan nanti beliin layang-layang?” tanya ia kepada Ayahnya saat perjalanan.
“tapi kan minta izin sama Mamah yaa..”
“halah..”

Sungguh memang harus butuh perjuangan lebih kini Akbar guna mendapatkan impiannya sebuah layang-layang, ternyata harapan terakhirnya pun harus kembali menunggu seizin Mamah dahulu. Dengan tak mempedulikan perkataan Mamahnya, dia pun selalu tetap melakukan kebiasaannya seperti biasa. Menghabiskan semua uang sakunya untuk memenuhi isi perutnya itu hingga ketika pulang ia tetap harus bilang merayu.
“mah.. beliin layang-layang yaa?” tanya si pipi tembem setiap saat kepada Mamahnya dan jawabannya pun selalu tak berubah.
“nabung sendiri.”
“arggh.. Mamah itu loh mesti..” gumam Akbar dalam hatinya yang membuat jengkel setiap waktu bermain dia bersama teman-teman.

“kamu gak beli layang-layang, bar?” tanya si Rafa. “ayo, aku beliin.. yaa?”
“moh.. kamu nakal o pelit pula.” Lalu seketika pun mood si Akbar kini sontak berubah, dan akhirnya dia memutuskan pulang lebih awal dari jam bermainnya di sore hari biasanya.
“kok tumben udah di rumah?” tanya Mamah kepada si pipi tembem yang kini raut wajahnya cemberut lucu itu. Hanya ada diam seiring langkah kaki Akbar masuk ke rumah, lalu tak lama dia hanya duduk di ruang tv dan melihat acara yang sebenarnya lucu namun Akbar hanya diam dan memikirkan kapan ia akan punya layang-layang itu.
“Aku bakal punya layang-layang besok!” Teriak Akbar dalam hatinya mungkin.

Kelas, kini waktu istirahat, namun seorang anak kecil gemuk berpipi tembem ini masih dapat bertahan di bangku duduknya di kelas sambil melihat ke kanan-kiri seolah tak terjadi apa-apa yang berubah, hingga.
“bar kamu gak ke koperasi? Yuk beli es lilin stroberi yang kemarin kamu bilang manis itu.” Jelas sih Rifky, dan apa yang terjadi sungguh luar biasa.
“ayo..”
Ternyata Akbar masih gagal menahan hasratnya untuk tidak menghabiskan seluruh uang sakunya, buktinya kini ia harus berkata, “oh tidak.. gak bisa beli layang-layang kan..” penuh dengan kecewa mungkin.

Hari kedua percobaan
“ayo pasti aku kuat” tiba-tiba suaranya aneh memecah seisi kelas 1-A di salah satu SD yang membuat heran teman-temannya, lalu salah satu mereka membalas.
“Bar ke kantin yuk?”
“enggak ah, aku mau di sini aja tadi pagi aku dah makan banyak” jawabnya dengan tegar. Kali ini kelihatannya usaha Akbar akan berhasil.
“bar kamu kenapa? Ini dah istirahat terakhir loh, habis ini pulang, beli pop ice cokelat yuk katanya sekarang ada jelly cokelatnya juga loh..” tawarnya si Anton teman bangku Akbar.
“ah masa? Em.. ayo..” ternyata masih gagal pula.

Kini sore hari masih menjelang, setelah 2 hari berselang musim layang-layang kini makin ramai pula, hampir setengah lapangan RW dekat rumah Akbar pun penuh dengan pemain layang-layang yang asyik dengan benda yang terbang mengambang di angkasa itu. Begitu pula khayalan Akbar, yang sekarang ia kini didampingi dengan Rafa di sampingnya duduk dan terlihat tak membawa layang-layang, namun apa daya.

“Bar.. bentar deh aku ingat uang jajanku masih seribu atau dua ribu ya? Beli layang-layang dulu deh.”
Ternyata memang harus lebih bersabar kini Akbar, hingga ia masih ingat suatu hal dari perkataan dari Rafa, Uang saku? Jadi selama ini Rafa juga ikut menyisakan uang sakunya? Pantas saja tubuhnya kurus kering, mungkin itu ejekan halus dari si pipi tembem itu.

Dengan semangat juang Bima si Garuda kini ia akan berusaha menyisakan uang sakunya, ia mulai hari ini.
“ah jajan ah. Oh ya tapi jangan banyak-banyak.” Harapnya tinggi itu pun berbuah hasil ketika siang menginjakkan kaki di rumah dan membuka saku kantong celana.
“ha? 500 doang?” nampaknya usahanya untuk mengubah kebiasaannya itu sungguh berat.

Pagi yang cerah, kini memancar kembali sang matahari di depan rumah Akbar dan seisinya. Seusai jam pelajaran lalu waktu istirahat dan perjalan setelah dari kantin.
“bar kamu kok sekarang jajanmu sedikit sih?” tanya Anton, mereka memang sebangku, namun juga seukuran tubuh.
“ah.. enggak ah aku gak mau boros, aku mau wujudkan impian aku.” Kata Akbar kelihatannya setinggi layang-layang, yang mungkin Anton hanya bisa membalas dengan senyum keheranan.

Dengan berjalannya waktu. Hari demi hari, kini ia selalu menyimpan semua koin-koin sisa uang sakunya yang ia kumpulkan bahkan ia hampir lupa sudah 5 hari berlalu, dan tidak memikirkan berapa banyak koin yang ia kumpulkan selama itu. Hingga ia tersadar saat.
“bar.. kamu serius gak mau beli layang-layang?” tanya si Rafa lagi.
“sebentar lagi kok, Fa” jelasnya.
“oh ya berapa sih fa harganya?”
“1500 aja kok yang kecil, kalau besar sampe empat ribu, tiga ribu deh”
“loh masa? bentar-bentar..”

Dengan lari bergesa-gesa, karena perasaannya yang sudah terlalu bosan hanya duduk dan melihat layang-layang orang lain terbang tinggi di pinggir lapangan, dan harusnya ada suatu saat layang-layang Akbarlah yang juga akan berada di atas sana, ia pun berlari cepat-cepat menuju rumah dan membalikkan tumpukan buku-buku di rak buku kecilnya itu, dan mengambil segenggam recehan lalu menghitungnya.
“satu.. tiga.. lima.. tujuh?”
“seribu, tiga ribu? Lima ratus? Hah? Asyik-asyik..” sontak dengan wajahnya gembira ia pun berlari pergi dari rumah dan bergegas menuju toko Ibu Ahmad penjual layang-layang itu.

“Bu Ahmad, bu..”
“Iya ada apa?”
“Itu layang-layangnya berapa?” sambil menunjuk layang-layang berukuran cukup besar itu.
“3500, dek”
“Tiga ribu lima ratus ya bu? Ini ya bu..”

Setelahnya mendapatkan dan bisa memegang layang-layang itu, betapa bahagia ia rasakan melebihi apapun kiranya kini, hingga Rafa pun menghampiri saat tahu ketika Akbar telah membeli layang-layang di Bu Ahmad.
“bar kamu udah beli ya?”
“iya dong..” sambil pamer memegang layang-layang berukuran raksasa itu.
“ayo terbangin.. tapi senar kamu di mana? Kan gak bisa kalau cuman layang-layang doang?”
“senar?”
“iya, benang buat nerbangin itu..”
“ha masa? aku lupa”

Wajah Akbar kini sontak menjadi bingung seketika, lalu entah tiba-tiba ada suara apa yang memanggilnya dari belakang, menjadikan ia tambah bingung.
“bar.. akbar.. akbar..”
“Ha? ha?” lihatnya kanan ke kiri, hingga akhirnya di belakang ada seseorang yang tak asing. “Mamah?”
“Ini benangnya, besok kalau lari beli layang-layang jangan lupa bawa uang beli benang buat nerbangin ya.” Sambil memberikan sekaleng benang baru dari toko itu, dan membayarnya kemudian ke bu Ahmad.

Entah apa yang ingin Akbar katakan sekarang soal perasaan terkejutnya terhadap sang Ibu yang ternyata tahu dan membuang akan semua pikiran Akbar bahwa Mamahnya seorang yang pelit, namun dia adalah Mamah yang super menurutnya, hingga hanya pelukan yang bisa ia berikan ke Mamahnya itu di depan toko Bu Ahmad kini.
“Makasih mah..”
“Ya udah sana suruh tolong Rafa ya kalau mau main layang-layangan itu, soalnya Mamah gak bisa menali layang-layangnya.”

Hanya senyum wajah dari Akbar dan langkah kakinya pergi menuju lapangan yang membalas, dan Akbar bersemangat kini bahwa hasil koin-koin yang ia kumpulkan kini bukan hanya mengajarinya menjadikan layang-layang tapi supaya berbaik sangka terhadap sikap Ibu, bahwa hemat itu indah.

Cerpen Karangan: Firman Fery Irawan

Cerpen Layang Layang Koin Si Akbar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tinta Hitam

Oleh:
Pepohonan mengibas-ngibaskan ranting seraya mengamatiku tajam. Aku termenung dalam dekapan kesengsaraan yang kini menderaku. Dedaunan berjatuhan pelan, kadangkala mengenai kepalaku yang sedang semrawut. Di bawah pohon beringin ini yang

Pencuri Pendatang Baru

Oleh:
Hari yang indah di Bennijarre. Siang itu Itzel sedang membawakan kue pai untuk pekerja konstruksi yang ingin membangun sebuah menara untuk museum kota. Sudah lebih dari 2 bulan menara

Terima Kasih Mang Udin

Oleh:
Pagi ini seperti biasanya. Aku berpamitan ke sekolah tanpa mencium tangan kedua orangtuaku. Aku tahu itu adalah hal yang tidak seharusnya kulakukan. Tapi aku tidak peduli. Persetan ah! Selalu

Petualangan 24 Jam

Oleh:
Gue selalu dituntut sama orangtua gue agar bisa berdagang, alasannya sih simpel. Agar bisa meneruskan usaha keluarga yang sedang berjalan. Gue selalu diajari caranya berdagang dari A sampai Z.

Bunga Terakhir Untuk Kak Vani

Oleh:
“Ma… kenapa ya, kok dada Ifa sakit banget?” “Pa… kenapa kok aku harus minum obat ini?” “Kak… kenapa aku gak boleh ikut main skateboard?” Pertanyaan-pertanyaan itu yang dulu selalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *