Lebaran Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Ramadhan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 August 2013

Bulan ramadhan akan segera menghilang dan berganti dengan lebaran. Aku tak tau apa yang bisa aku berikan untuk orang yang paling aku sayang seumur hidupku. Yaitu ayah. Ya, ayahlah yang selalu ada untukku mengurus ku dari kecil sejak kepergian ibuku. Aku sendiri tak tau kemana ibuku berada. Aku pernah bertanya pada ayah, tapi ayah tak pernah mau menjawabnya dan hanya dengan raut muka yang sedih yang bisa ia tunjukkan. Sejak saat itu aku tak pernah lagi bertanya pada ayah. Karena sedihnya adalah luka untukku.

Oh, ya! Namaku Ray. Aku adalah salah satu siswi SMK negeri di salah satu sekolah di daerahku. Untuk ingin bersekolah saja susahnya bukan main. Harus pinjam sana-sini untuk bisa sekolah. Aku sebenarnya sudah bilang pada ayah, untuk tidak sekolah saja, tapi ayahbersi keras untuk tetap melanjutkan sekolah. Karena pendidikan itu sangat penting. Oleh karena itu aku sangat sayang bangget sama ayah.
Aku adalah anak tunggal. Oleh karena itu aku harus bisa menjaga ayah. Karena dia lah satu-satunya keluarga yang aku miliki. Pagi-pagi ayah sudah membangunkanku “Ray cepat bangun sudah hampir imsak nih, nanti kamu gak sahur..”
“Ia yah, nanti aku bangun tenang aja..”
“jangan nanti-nanti.. cepat, nanti kamu ketinggalan sahurnya”
“ia yah”

Aku pun segera bangun dengan malasnya. Ini hari ke 21 puasa. Ingin rasanya cepat-cepat berakhir agar gak nahan-nahan perih di perut. Rasanya mau mati kalau puasa melulu. Hehehe, (lebay dikit ya)

Aku pun segera sahur karena waktunya sudah mepet banget dan dengan lauk yang seadanya. Maklumlah kami bukan dari keluarga yang berada. Aku sendiri selain bersekolah, aku harus kerja sampingan untuk membantu ayah untuk membiayai sekolah ku.
Aku bekerja sebagai pelayan toko dan walaupun dengan gaji yang kecil seenggaknya aku masih bisa mencari uang sendiri untuk meringankan beban ayah.
Setelah sahur, akupun langsung sholat shubuh. Ya, walaupun bandel tapi ibadah tatap jalan broww.. hehehehe

Setelah pulang sekolah kira-kira pukul 15.00 aku segera berangkat kerja. Dan sekitar pukul 6 sore aku pun pulang dengan badan yang hampir remuk.. Karena kecapean banget sob..
Huff, sampai juga di rumah.. buka dulu ah..

Setelah buka puasa aku pun langsung belajar karena besok ada ulangan kimia. Itulah yang paling aku benci dalam semua mata pelajaran. Otakku rasanya mau lari kalau pelajaran kimia. Hehehe

Hari ini adalah hari yang paling aku benci.. tetterererettt..
Ulangan KIMIA menanti… hufff.. ampunnn deh..!

Dengan penuh susah payah aku mengerjakan ulangan, akhirnya naik juga nilaiku.
Kalau kemarin dapat 2 akhirnya sekarang dapat 2,3 horeee.. wkwkwkwk

Keesokan harinya, tiba-tiba setelah ayah pulang dari kerja ayah pingsan di depan pintu. Dan langsung aku bawa ayah ke rumah sakit. Dan betapa kagetnya aku, ketika dokter bilang kalau ayah terkena penyakit kanker otak dan sudah parah banget. Dan saat itu juga aku menangis sejadi-jadinya. Karena aku gak bisa hidup tanpa ayah, aku hanya punya ayah dan aku gak mau kehilangan ayah..

Dalam pelukan ayah aku berkata “yah, ayah janji ya, gak akan ninggalin aku sendiri.”
“ia Ray, ayah janji sama kamu”

Dan beberapa saat aku melepaskan pelukan itu dan membawa ayah pulang. Dan aku gak kuat jika harus ditinggalin ayah sendiri, sedangkan dokter bilang kalau waktu ayah hanya satu minggu saja, dan itu berarti, tepat puasa berakhir ayah akan ninggalain aku? Ayah, aku gak mau sendiri yah, aku hanya mau bersama ayah… aku menangis dengan sejadi-jadinya. Hari ini adalah tepat hari setelah ayah di vonis dokter. Dan aku gak bisa nyembunyiin kesedihanku itu. Tepat jam 9 malam ayah masih belum tidur dan tiba-tiba mengajak aku untuk ke taman, walaupun untuk berjalan saja ayah susah. Di bawah pohon, di malam yang sendu ayah memelukku dengan hangat, seolah detik itu adalah detik terakhir ayah bisa memelukku. Ayah berkata “Ray, jadilah anak yang membanggakan untuk ayah, jangan tinggaln sholatmu.. ayah bangga punya anak seprti kamu. ayah udah gak bisa lama-lama jagain kamu, maafin ayah Ray..” itulah kalimat terakhir yang ayah katakan. Dan tiba-tiba pelukan tangan ayah terlepas.. “yahhh, ayahhh”

“Jangan tinggalin aku yahhh.. aku gak bisa hidup sendiri tanpa ayahhh, aku belum sempat bahagiain ayah, ayo bangun yah” Aku menangis tanpa lelah, berharap ayah akan hidup kembali dan ternyata tidak.

Setelah kepergian ayah, aku tak lagi bisa melakukan apapun, untuk makan saja aku tak punya selera, aku hanya menagis, merenung, sedih. Meratapi nasibku yang entah sampai kapan aku bisa bertahan. Tepat 3 hari kematian ayah, setiap malam aku hanya bisa bernyanyi lagu kenangan aku dan ayah.. dengan suara gitarku pemberian ayah aku menatap bintang dan bernyanyi.

Waktu terasa semakin berlalu, tinggalkan cerita tentang kita…
Akan tiada lagi kini tawamu tuk hapuskan semua sepi di hati…
Ada cerita tentang aku dan dia dan kita bersama saat dulu kala..
Ada cerita tentang masa yang indah, saat kita berduka saat kita tertawa…
Teringat disaat kita tertawa bersama ceritakan semua tentang kita…
Ada cerita tentang aku dan dia dan kita bersama saat dulu kala… ada cerita tentang masa yang indah saat kita berduka saat kita tertawa..

Itulah lantunan syair yang sering aku nyanyikan bersama ayah,

Yah, aku janji aku akan banggain ayah, aku akan, menjadi orang yang ayah harapin.. yah, ayah adalah nafas ku, ayah adalah karunia terindah yang diberikan Tuhan kepadaku…

TERIMA KASIH AYAH.. TERIMA KASIH ATAS PENGORBANAN YANG TELAH AYAH BERIKAN KEPADAKU…
Ini adalah lebaran terakhir aku bisa bersama ayah.. AKU KANGEN SAMA AYAH

Cerpen Karangan: Kiki Wahyuni
Facebook: Harry Kicky
Nama ku kiki. Ini adalah cerpen ke 2 yang aku kirim..
Maaf jika ceritanya jelek..
Fb: harry kicky
Umur 15 tahun dan sekarang saya bersekolah di smkn 1 pati

Cerpen Lebaran Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Kecil Untuk Tuhan

Oleh:
Mentari mulai terbit. Burung burung mulai berterbangan. Kulirik jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 5:30 WIB. Aku bangun dan segera mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Aku membuka pintu

Derita Seorang Anak

Oleh:
Di suatu desa terpencil, ada keluarga yang hidup harmonis. Mereka hidup berkecukupan, ayahnya bekerja sebagai seorang petani dan ibunya sebagai seorang ibu rumah tangga. Kehidupan mereka sangat bahagia. Mereka

Burung Kertas

Oleh:
Pagi ini kembali kulihat kak Devan tengah membenahi motornya yang sudah usang terkoyak usia, hal itu terlihat dari beberapa bagian motor yang terbuat dari besi yang kini sudah berubah

Ku Rindukan Pelukanmu

Oleh:
Di tanah jawa saat itu, ada sebuah keluarga yang sangat berkecukupan bahkan, hampir bisa dibilang kalau keluarga ini adalah keluarga miskin atau orang tak punya. Panggil saja keluarga ini

Bapak Pinjami Aku Hatimu

Oleh:
Suara burung terdengar seperti irama pengiring tidur, ditemani suara ombak kecil, berdenting sangat lembut alunannya. Daun pohon yang tertiup angin terlihat melambai-lambai, dan matahari mulai meredupkan sinarnya, sebab senja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *