Lemari Usang Umi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 12 July 2018

Suara gemericik hujan masih terdengar di telinga, aroma khas tanah masih tercium di hidung, aku dan umi menyaksikan rintik hujan di atas bale-bale yang sengaja umi simpan di teras rumah. Di tempat itulah aku dan umi sering bersantai saat sore menjelang. Umi dengan rajutannya sedangkan aku lebih suka melihat umi merajut.

Aku takjub melihat jari-jari umi menari dengan lihai mengait dari benang yang satu dengan benang yang lainnya. Hingga terbentuk satu rajutan yang sangat bagus. Pernah sekali aku belajar merajut tapi hasilnya tidak sebagus hasil tangan umi. Umi pun dengan sabar mengajariku hingga aku benar-benar bisa membuat rajutan sesuai dengan yang kuinginkan.

“Umi sudah magrib sebaiknya kita masuk,” Kataku kepada umi yang sedang sibuk membereskan hasil rajutannya.
“Zahra tolong bereskan benang umi yang berserakan,” perintah umi.
“Iya umi,” Aku mengambil benang-benang umi yang berserakan di bale-bale, kemudian memasukkannya ke dalam kotak tempat dimana umi sering menyimpan benang rajutnya. Setelah membereskan semuanya aku pun masuk menemui umi yang entah sedang apa di dalam.

“Umi sudah berwudhu?” tanyaku kepada umi yang sedang menyusun sesuatu di dalam lemari usang pemberian abi sebagai mas kawin untuk umi saat itu. Umi menoleh sebentar kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya.
“Umi masih membereskan barang-barang abi, sebentar lagi pekerjaan umi selesai, sebaiknya kamu shalat lebih dulu.”
“Iya umi. Jawabku. Aku mengambil mukenah yang sudah dilipat umi. Membentangkan sajadah dan mulailah aku melaksanakan shalat magrib. Setelah shalat aku melipat kembali mukenah yang tadi aku gunakan. Saat ingin meninggalkan kamar umi tidak sengaja aku melihat umi sedang menangis sambil memeluk Al-qur’an yang kuketahui pemberian abi. Aku berjalan ke arah umi yang sedang terisak.

“Umi kenapa menangis?”
“Umi tidak apa-apa nak, kamu sudah shalat?
“Sudah umi.”
“Umi ambil wudhu dulu, sebaiknya kamu beristirahat, kembalilah ke dalam kamarmu, tidak usah mengkhawatirkan umi, umi baik-baik saja.
“Iya umi. Aku meninggalkan kamar umi, berjalan keluar menuju bale-bale tempat dimana aku dan umi menghabiskan waktu saat sore menjelang.

Aku memandangi langit malam yang hitam ada rasa sedih yang tiba-tiba menyeruak di dalam dadaku. Aku kembali teringat memori beberapa bulan yang lalu saat abi masih bersama kami. Dan di tempat inilah aku, abi dan umi berkumpul menghabiskan malam sambil memandangi bintang malam.

Abi meninggal beberapa bulan yang lalu saat abi tidak mampu lagi melawan penyakit kanker darah yang ia derita selama hampir setahun. Penyakit yang selalu abi sembunyikan. Di depan kami abi selalu terlihat baik-baik saja, namun semua itu hanyalah topeng yang selalu digunakan abi agar aku dan umi tidak mengetahui penyakit yang dideritanya. Hingga abi menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit tempatnya di rawat. Umi sangat terpukul saat mengetahui abi telah meninggal, hampir setiap hari umi menangisi kepergian abi, umi sangat mencintai abi sehingga umi merasa kehilangan sosok laki-laki yang selalu membuatnya tersenyum.

Aku mengusap air mata yang membasahi pipiku, aku sangat merindukan kehadiran abi di sisiku, laki-laki yang selalu mebuatku tertawa, laki-laki yang selalu memberikan nasehat-nasehat dikala aku melakukan kesalahan. “Abi, Zahra sangat merindukan abi, abi apa kabar di sana?”

“Zahra kamu belum tidur nak?” Suara umi membuatku kaget, aku menoleh saat kulihat umi berdiri di ambang pintu.
“Belum umi, sebentar lagi Zahra tidur sebaiknya umi tidur lebih dulu.”
“Jangan lama-lama di luar angin malam tidak baik untuk kesehatanmu.”
“Baik umi. Sepeninggal umi aku kembali menatap langit malam yang sudah semakin gelap. Aku menghembuskan nafas dengan perlahan kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.

Matahari baru merangkak di ufuk timur. Cahaya merah berpendar indah di sela-sela gorden kamarku yang masih terbuka setengahnya. Aku membuka mata perlahan-lahan mencoba menetralisir cahaya yang masuk di retina mataku. Pagi ini sangat cerah namun tidak secerah hatiku. Bayangan abi masih terbayang-bayang di pelupuk mataku, walau abi sudah meninggal selama berbulan-bulan tapi kasih sayangnya masih membekas di hatiku.

“Zahra, kamu sudah bangun nak?” teriak umi dari balik pintu.
“Sudah umi,” Aku menyingkap selimut yang menutupi tubuhku. Kemudian aku berjalan menemui umi yang tadi memanggilku.
“Umi lagi ngapain? Lemarinya mau dipindahin ke mana?”
“Ini umi mau pindahin ke kamar, tolong bantu umi mengangkat lemarinya,” aku hanya mengangguk mengiyakan.
“Umi kenapa lemarinya masih dipakai, Padahal lemari ini sudah sangat tua.”
“Karena lemari ini salah satu pemberian abi nak, salah satu bukti bahwa abi sangat mencintai umi. Karena lemari ini pula umi dan abi bisa bersatu. Umi tidak akan pernah membuang lemari ini meskipun sudah sangat usang,” Aku tertegun mendengar cerita umi, bagaimana mungkin hanya karena sebuah lemari cinta mereka bersatu? Bagaimana mungkin hanya karena sebuah lemari umi tidak ada niatan untuk mencari pengganti abi? Inilah kekuatan cinta sejati, cinta sejati yang tidak akan pernah luntur termakan zaman.

Cerpen Karangan: Riskiani
Blog / Facebook: Rhizky

Cerpen Lemari Usang Umi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Putri dan Putra

Oleh:
Hujan turun dengan lebatnya, suasana dingin tapi menyejukkan. Aku dan keluarga sedang berkumpul menonton televisi. Kebersamaan yang selalu aku rindukan setiap sudah berada di kos. Orangtuaku bekerja sebagai karyawan

Sayap Bidadari (Part 1)

Oleh:
Tangan mungil itu menggenggam sang bunda dengan erat. Seakan berada dalam detik-detik perpisahan yang membuatnya kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Seakan ia akan kehilangan sentuhan lembut yang

Ku Telah Lama Menunggu

Oleh:
Dimana dia? Orang tua yang selalu menyayangi anaknya. Yang selalu bangga jika anaknya dapat ranking di sekolahnya. Selalu memeluk anaknya di kala merasa sedih dan senang. Tapi, bagaimana denganku?

Entah Mengapa

Oleh:
Terakhir kali aku mendengar suaramu ibu kau bicara tentang dia yang sempurna. “Kau seharusnya bisa menjadi seperti dia!”. Ya kau membentakku seperti itu, kau menginginkan aku seperti dia. Anak

Remember Who You Are

Oleh:
Hai namaku airtas, aku berusia 19 tahun, ya ini adalah cerita tentang pengalaman pribadiku diawali dimana ketika keluargaku mulai terombang-ambing ekonominya, saat itu aku benar-benar masih ingat ayahku masih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *