Lembah Hijau

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 3 February 2017

“di sebuah lembah kecil yang jauh dari jangkauan manusia, hiduplah sekelompok peri peri yang sangat cantik dan baik. Tugas peri-peri itu beragam, dari yang menjaga keseimbangan ekosistem bumi, menjaga cuaca, menjaga para binatang, serta ada pula yang menjaga anak-anak yang masih dibawah umur…”

“Penjaga anak-anak? Wah, berarti Reina masih dijaga oleh peri-peri ya, nek?” Nenek Reina hanya tersenyum mendengar celetukan usil cucunya tersebut. Reina, anak perempuan satu satunya di keluarga itu sekarang berumur 16 tahun. Bayangkan, 16 tahun bukanlah umur untuk anak-anak lagi, bukan?

Itulah kebiasaan Reina setiap hari minggu, mengunjungi rumah nenek dan mendengarkan dongeng. Sementara di sebelah Reina, Devan yang merupakan kakak lelaki Reina menguap lebar-lebar. Lelaki itu bosan mendengarkan dongeng dari nenek jika menyangkut tentang lembah hijau dan para peri yang menjaganya. Nenek sudah berkali kali menceritakan tentang lembah itu dan mereka telah berkali kali pula mendengarnya, tetapi, Reina tetap antusias karena daya imajinasinya sangat tinggi.

“Lucu kali ya kak kalau kita mengunjungi Lembah Hijau seperti yang ada di cerita nenek, Reina pengen kesana..” Devan yang sedang membaca tentang dunia paralel refleks menoleh. Mengunjungi Lembah Hijau katanya? Yang benar saja. Devan yakin otak adik perempuannya ini sudah terkontaminasi khayalan dan dongeng. Devan berusaha tidak mempedulikan adiknya, dia terus membaca buku. Tetapi, Reina terus merajuk dan mengancam akan menangis jika tidak diajak kesana. Akhirnya Devan setuju membawa Reina ke Lembah Hijau. Tentu saja bukan yang di dalam dongeng. Lelaki itu telah menyiapkan rencana.

Keesokan harinya, mereka berangkat ke Lembah Hijau. Mobil yang dikemudikan Devan melaju kencang melewati sawah, aliran air sungai, serta gunung.

“Sebenarnya kita akan kemana sih, kak?” Tanya Reina yang penasaran.
“Katamu ingin ke Lembah Hijau? Ya ini jalannya, kita bukan di negeri dongeng Rein, kita tidak bisa terbang atau berteleportasi seperti di dalam buku buku. Makanya realistis dikit.” Devan mendengus sebal. Reina hanya menyengir tak jelas, sadar jika pertanyaanya adalah sesuatu yang tidak perlu dijawab.

Dua jam kemudian, mobil yang dikemudikan Devan sampai di tujuan. Bola mata Reina berbinar kagum. Ya, ini Lembah Hijau ala Devan. Padang rumput hijau yang sangat luas, di sana terdapat juga aliran air terjun serta bunga dandelion sedang bermekaran indah.

“di sini tidak ada peri jika kamu bertanya tentang itu, Rein.” Devan mulai menjelaskan, “Peri peri itu antara ada dan tidak ada. Kamu boleh percaya, tetapi jangan terlalu berambisi untuk menemukannya sebab rahasia dunia hanya di tangan Allah misalnya tentang apa yang ia ciptakan, garis keturunan, rahasia masa depan, dan sebagainya. Oleh sebab itu, berhenti berkhayal tentang apa yang menjadi rahasia dunia karena kita belum pantas untuk mengetahui itu. Terkadang tidak semua yang di dalam dongeng itu benar, seperti Lembah Hijau ini, keindahannya sama seperti di cerita nenek setiap kita berkunjung ke sana tapi untuk mengetahui mahkluk apa yang tinggal di sini, kita tidak tahu Rein, apakah dia makhluk baik seperti di cerita ataukah sebaliknya.” Reina hanya mengangguk paham. Lihatlah, mahakarya tuhan yang sangat indah kini, dia tidak peduli lagi dengan nyata atau tidaknya para peri. Ia hanya bisa bersyukur kepada tuhan yang telah menciptakan bumi dan isinya sedemikian indah nan lengkap.

Remaja itu memetik satu dandelion terindah yang ditunjukan oleh Devan kemudian meniup butirannya. “Tuhan, terima kasih atas nikmat yang engkau berikan kepada kami selama ini. Sungguh, tak ada nikmat darimu yang bisa didustakan.” desisnya dalam hati. Devan yang melihat itu tersenyum gembira. Misinya telah berhasil untuk memberikan pengertian kepada Reina agar bersikap lebih realistis dan masuk akal.

Cerpen Karangan: Puan Permata
Blog: puanpermata.blogspot.com

Cerpen Lembah Hijau merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga Merah Muda

Oleh:
Burung-burung berjajar rapi membentuk barisan yang abstrak. Bertengger di atas pohon yang merdu apabila sedang melambai. Suara siulannya bagai melodi yang indah. Mereka berjajar di taman menunggu si awan

Sepenggal Kenangan

Oleh:
Namaku, Giselle Trixiena. You can call me Giselle. Aku adalah seorang gadis yang beranjak dewasa. Lahir dari keluarga sederhana yang menginginkan kebahagian. Aku punya keluarga yang standard, sepasang orang

Cerpen Yang Tak Berguna

Oleh:
Setiap hari aku selalu membuat cerpen, sudah beribu-ribu cerpen yang kubuat tetapi ada saja kakakku yang tidak suka dengan semua cerpenku, namanya Zanet dia itu selalu memarahi aku karena

Kembali Ke Pangkuan Mu

Oleh:
Terik matahari menyengat kulit, namun awan gelap mulai menutupi sebagian wilayah kota. Pohon-pohon di kanan kiri jalan tertiup hembusan angin kencang. Dingin seketika menyergap seluruh badan. Tiupan angin terkadang

Cinta Berkicau

Oleh:
“Pak Arka, ada?,” tanya Felly kepada resepsionis kantor. “Pak Arka sedang meeting dengan pihak luar negeri. Apakah ada yang bisa saya bantu?” “Saya mau bertemu dengannya sekarang juga.” “Maaf,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *