Light Farewell

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 February 2016

Langkah gontai gadis itu membawanya menuju sebuah rumah sederhana. Terlihat jelas raut lelah di wajah cantiknya, kulitnya yang putih semakin putih akibat pucat. Dengan perlahan ia meraih kenop pintu dan membukanya.

“Asslamualaikum!” Tak ada yang menyahut. Ia bergegas berjalan menuju kamarnya. Baru saja ia membaringkan tubuhnya di kasur, suara ketukan pintu memaksanya untuk bangun.
“Bia, Ibu mau bicara!” Ucap wanita paruh baya saat Bia muncul di balik pintu. Bia tidak menjawab, ia hanya menatap ibunya datar. Ia tahu persis apa keinginan ibunya kalau sudah seperti ini. Ibunya hanya butuh, UANG. “Apa kamu punya tabungan? Ibu sudah tidak punya uang lagi, Bi.” ucapnya kemudian. Bia masih tidak merespon. “Ibu mohon, Bi. Uang itu juga untuk kamu sendiri.” lanjutnya. Bia masih tak bergeming, ia masih mendengarkan ucapan ibunya dengan baik.

“Ayolah, Bi. Kan cuma kamu di rumah ini yang paling sering menghabiskan uang. Ibu, Bapak, dan Adekmu bahkan tak pernah mendapat jatah. Ibu tahu kamu pasti punya uang simpanan,” ucap wanita itu memohon. Bia memalingkan wajahnya. Ia sudah cukup sabar menghadapi sikap ibu dan bapaknya yang selalu menyalahkan dirinya.
“Bukannya Ibu yang selalu menghabiskan uang dengan anak kesayaangan Ibu itu,” Batin Bia. Luka di hatinya kian membesar akibat perkataan ibunya yang begitu menohok.
“Bi..” panggil wanita itu. Bia tidak menyahut, kemudian masuk ke dalam kamar dan kembali lagi dengan sebuah celengan Doremon di tangannya. Bia memberikannya pada ibunya. Lalu, beranjak pergi keluar rumah masih dengan seragam putih-abunya.

Bia berjalan tak tentu arah, ia hanya mengikuti kakinya yang ingin melangkah entah ke mana. Air matanya sudah berjatuhan bagai hujan deras. “Ibu dan Bapak tidak akan pernah mengerti apa yang aku rasakan. Aku puasa untuk menghemat uang jajanku. Aku menabung untuk keperluanku di sekolah, agar tidak merepotkan Ibu dan Bapak. Tapi, dengan mudahnya Ibu menyalahkanku. Bukannya selama ini Ibu dan Bapaklah yang sering berfoya-foya ria. Lantas, kenapa aku yang disalahkan. Ibu dan Bapak benar-benar berubah sejak dia lahir. Aku tak pernah melihat ada sorot kasih sayang dalam tatapan kalian padaku.” Ucap Bia lirih, ia sesenggukan sepanjang jalan.

Bia tiba di rumah sahabatnya, Gea. Kebetulan teman-temannya yang lain juga ada di sana. Bia segera berlari menghampiri mereka. Ia berhambur ke dalam pelukan Gea. Dina dan Lusi hanya menatapnya bingung. “Ada apa, Bia?” tanya Gea. Bia tidak menjawab, ia masih terus menangis.
“Ceritalah, Bi!” tambah Dina. Bia malah menggeleng. Kemudian, ia menghapus air matanya.
“Apa kalian pernah merasakan rasanya selalu disalahkan. Bahkan, oleh kedua orangtua kalian sendiri?” tanya Bia kemudian. Mereka bertiga kompak menggeleng.
“Aku cuma parasit bagi mereka. Aku hanya benalu yang selalu merugikan mereka. Tak ada kasih sayang lagi untukku,” ucap Bia parau. “Itu tidak benar, Bi. Kamu cuma salah paham.” ujar Lusi.

“Iya Bia. Kamu tidak boleh berburuk sangka,” timpal Gea.
“Bahkan sahabatku sendiri menyalahkan aku!” Pikir Bia dalam hati.
“Kamu tidak boleh bersikap seperti itu, Bi,” kata Dina.
“Aku selalu menuruti semua kemauan mereka!” kata Bia dalam hati. Ia tersenyum miris.
“Begitu ya…” hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Bia. Ia kemudian beranjak, berlalu pergi dari hadapan ketiga sahabatnya.

“Sahabat yang aku percaya pun, sama sekali tidak mengerti. Semuanya tidak ada yang mengerti. Ah, bukan tidak mengerti. Tapi, memang tidak mau mengerti. Aku ini bagai payung yang hanya digunakan saat dibutuhkan. Kenapa hidupku seperti ini? Tak bisakah kisah hidupku seperti cerita dongeng yang memiliki kebahagiaan mutlak. Daripada hidupku harus seperti ini, lebih baik aku tidak pernah lahir. Lebih baik aku tidak punya Cinta, rasa sayang, perasaan, dan Hati sekalian bahkan, akan jauh lebih baik baik jika aku tidak punya JANTUNG.” ucap Bia di sela tangisannya. Ia terus berjalan tanpa arah. Sampai matanya melihat sesosok wanita dengan seorang anak kecil ke luar dari Mini Market dengan beberapa plastik besar berisi belanjaan.

“Itukah yang kau sebut aku mesin penghabis uang,” ujar Bia miris. Ia berlari menembus udara dingin tanda sebentar lagi akan hujan. “Disisihkan dan disingkirkan oleh kedua orangtua sendiri itu lebih menyakitkan dari apa pun. Aku harap aku bisa menghilang sekarang juga. AKU INGIN MENGHILANG!!!” Teriak Bia, tangisnya begitu menyayat hati orang yang mendengarnya.

Angin berhembus kencang, membentuk sebuah pusaran angin yang mengelilingi Bia. Tubuhnya bersinar, tapi gadis itu tak menyadarinya. “Aku hanya ingin menjadi seseorang yang ingin kalian pahami, cintai, juga kalian sayangi. Bukannya seperti ini yang telah kalian abaikan..” Lirihnya tertunduk, dengan deraian air mata yang deras. Seorang pemuda mematung melihat keadaan Bia. Tubuhnya menegang melihat Bia menangis tersedu-sedu. “Bia..” panggilnya pelan. Bia mendongak, mendapati seorang pemuda yang sangat dirindukannya ada di hadapannya. Sorot kerinduan tergambar jelas di iris mata Bia yang digenangi air mata.

“R-a-y..” gumam Bia terbata. Senyumnya mengembang.
“Tubuhmu.. Bersinar, Bia!” ucap Ray tak percaya. Bia langsung menatap tubuhnya. Matanya membesar, namun senyumnya melebar. “Akhirnya… aku akan.. Menghilang!” Sinar itu semakin terang. Ray tidak bisa mendekat, ada pusaran angin yang mungkin bisa membuatnya terpental jika mendekati Bia.
“Jangan beritahu ini pada siapa pun, Ray. Dan jangan pernah mencariku. Lupakan saja, Ray. Lupakan aku! Ini permintaan terakhirku! Aku percaya padamu. Aku menyayangimu, Ray. Selamat tinggal…” ujar Bia dengan senyum lebarnya. Belum sempat Ray bicara, tubuh Bia sudah menghilang bagai ditelan pusaran angin. Ray membeku di tempatnya, ia memejamkan matanya yang terasa panas.

“Ini hanya mimpi.. Mimpi terburukku!” ucap Ray lirih. Seseorang menepuk bahunya.
“Mimpi apaan? Kau sakit ya? Aneh banget!” ucap Jojo, orang yang menepuk bahu Ray.
Air mata Ray langsung meluncur dari matanya.
“Tidak mungkin! Ini pasti mimpi. Bia.. kau tidak pergi kan?” Ray terduduk di tanah. Jojo hanya menatapnya bingung. “Sudah lama kita tidak bertemu. Di saat kita bertemu kembali.. kenapa kau malah.. Pergi.. Jauh.. aku merindukanmu! SAAABIIIAAA!!!”

Sabia. Gadis itu pergi. Benar-benar pergi. Pergi jauh… Menghilang. Tanpa kata. Tanpa rima. Menghilang tanpa meninggalkan jejak satu pun. Lenyap ditelan angin. Hanya kesedihan yang ditinggalkannya. Sabia hanya ingin dipahami, dimengerti, dihargai. Keinginan terbesarnya hanya satu, disayangi. “Kehidupan itu terlalu sakit untuk ku lalui. Kebahagiaan hanyalah khayalan semata. Kasih sayang yang aku inginkan hanya mimpi tak bermakna. Kenyataan hanyalah sebuah pedang tajam yang menyayat hatiku menjadi kepingan debu tak berharga.” Ungkapan hati Sabia yang sangat membekas di hati orang-orang yang mengenalnya.

THE END

Cerpen Karangan: Luluah Nurwijaya
Facebook: http://facebook.com/ulue.nurwijaya

Cerpen Light Farewell merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Harapan, Kenyataan Dan Waktu

Oleh:
“Teruslah berjuang meskipun harus mengorbankan tangan dan kakimu, berjuanglah, hadapilah, sampai kau mendapatkannya.” Itu adalah kata-kata yang didapat Risceal dari film yang baru saja ditontonnya. Setelah mendengarnya Risceal langsung

Kado Terakhir Untuk Mamah

Oleh:
Di pagi hari itu, hawa terasa dingin, ibarat jarum yang menusuk-nusuk di tubuh kita. “Emm, dingin banget sih hari ini.” Oceh Dina sambil menoleh ke arah kalender yang ada

Ricky Ferdian

Oleh:
Waktu itu, menjelang penerimaan siswa baru. Aku yang baru saja lulus Sekolah Dasar (SD) tentu saja ingin sekali melanjutkan sekolahku ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu SMP. Sungguh

Bersama Hujan

Oleh:
Hujan turun membasahi jendela kamarku, berembun sejak butiran pertama. Aku tersenyum melihat ada segerombolan anak kecil bermain sepeda. Seperti itu aku yang dulu. Polos, yang hanya tahu bermain dan

Penyu dan Jetil

Oleh:
Hari masih pagi buta, handphoneku bergetar. Kuambil benda canggih itu, ternyata ada pesan singkat dari Penyu, adik sepupuku. Aku biasa memanggilnya Penyu dan dia suka memanggilku Jetil, meski itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Light Farewell”

  1. Arcangela Aqua Gene says:

    TOPP (bukan sinetron lho ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *