Lihatlah Bu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 9 May 2017

Aku masih duduk termangu, memandangi gerimis sore ini. Mendengar gemericik air yang jatuh ke tanah. Sisa-sisa air menggenangi pelataran, yang kini telah rata tertutup oleh tumpukan pasir bercampur semen.
Tak lagi seperti dulu, ketika pelataran masih berupa tanah liat. Dimana derasnya air akan membuat kakiku terjebak di dalamnya saat bermain di bawah hujan. Lalu butuh usaha keras untuk dapat melangkah dari satu pijakan ke pijakan lainnya.
Meskipun begitu aku tetap menikmatinya. Namun akibat ulahku itu, ibu jadi marah padaku. Sebab usai hujan reda, akan terlihat bekas telapak kakiku yang memenuhi halaman.

“Fania… coba lihat!” seru ibu memanggilku.
“Apa Bu?” sahutku bergegas menghampiri ibu yang sudah berdiri di luar pintu dengan tatapan serius.
“Itu halaman jadi becek begitu!” tunjuknya ka arah pelataran yang jadi tak beraturan. Bukan lagi tanah yang rata.
“Hihihi…” aku cuma tersenyum nyengir membalas omelan ibu.
“Terus lihat itu! bekas kakimu ada di mana-mana!” tunjuk ibu lagi. Kali ini ke arah lantai yang kotor, karena tanah liat yang membentuk seperti telapak kaki.
Aku memandanginya dengan seksama. Melihat ukuran dari bekas pijakan tersebut. “Ahh… iya maaf…” ucapku kemudian, begitu menyadari itu memang sesuai dengan bentuk kakiku.
“Ibu udah bilang kan berkali-kali? Jangan main hujan-hujanan! Kayak gini nih jadinya! Halaman jadi becek semua!” bentaknya mengomel.
“Maaf bu. Tapi aku kan cuma pengen kayak teman lainnya. Main air hujan…” bantahku.
“Ibu sih nggak melarang kamu buat main. Tapi kamu lihat sendiri kan? Jadinya gimana?! Kotor semua! Mana pelatarannya jadi becek gitu!” ujar ibu nampak kesal.
Aku merasa sangat marah, mendengar omelan ibu. Aku yang kala itu masih anak-anak tidak bisa berpikir hal lainnya, selain membenci ibu. “Arrghhh… ibu nyebelin banget sih! Masa cuma main hujan-hujanan di omelin terus! Teman-teman yang lain nggak apa-apa kok. Malahan ibu mereka ngijinin!” gerutuku kesal.

Itu bukan pertama kalinya aku menerima omelan ibu, namun udah yang ke sekian kalinya. Hari-hari sebelumnya aku selalu main air dan berlarian di bawah hujan. Aku tak pernah mendengar ataupun menghiraukan ucapan Ibu. Walaupun dia melarang, dan mengingatkan agar aku tak hujan-hujanan.
Aku yang waktu itu masih berusia muda, tentu tak mau tau. Aku cuma ingin melakukan hal yang kusukai. Jadi setiap kali hujan datang, tanpa berpikir, kakiku sudah berlari menuju pelataran yang tidak beratap. Sehingga aku bisa merasakan dinginnya tetesan air yang jatuh mengenai tubuhku.
Aku begitu menikmatinya. Berlarian, lalu menjulurkan lidahku keluar, supaya terkena air. Juga memercikkan air hujan ke mukaku. Aku merasa sangat senang. Aku menyukainya. Dengan hujan-hujanan, rasanya sangat menyenangkan. Tidak ada beban sama sekali.
Aku tak mau peduli, kalaupun setelah itu ibu akan mengomel dan marah-marah. Tapi biasanya aku sudah berlari menghindar, sebelum kena omelan. Bahkan tak jarang aku bersembunyi, jika melihat aura ibu penuh kemarahan. Namun bila tertangkap basah, aku cuma perlu membalas omelannya dengan nyengir.

“Fania!” bentaknya. “Dibilangin susah banget!” terlihat wajah ibu penuh amarah. Ia memelototiku, membuatku bergidik ketakutan.
Tapi dasarnya aku yang tak pernah menganggap kemarahan ibu dengan serius. Lagi-lagi cuma melempar senyum. “Tenang Bu, jangan marah-marah…” sahutku sembari mengangkat kedua tanganku ke depan dada.
“Bagaimana ibu tidak marah?! Kamu nggak pernah dengerin omongan ibu!”
“Nanti ibu, cepat tua lo…?” godaku. Beruntung amarah Ibu bisa mereda. Ia menghela napas pelan.
“Hemmt… kamu itu memang ngeyel…” keluhnya.

Walaupun kerap memarahiku, namun ibu tidak pernah sekalipun memukulku. Ia palingan cuma mengomel, setelah itu juga reda sendiri amarahnya. Aku sudah hafal betul, dengan sikapnya. Karena itu pulalah, aku seringkali membantah dan tetap ngeyel main hujan.
Sampai suatu ketika, secara tidak sengaja aku mengucapkan apa yang mendadak terlintas di kepalaku. Awalnya cuma berniat membuat candaan. Supaya ibu tidak marah-marah terus. Akan tetapi ternyata kata-kata tersebut telah membuat perubahan besar, yang tak pernah kusangka sebelumnya.

“Fania…!” panggil ibu, waktu melihatku hujan-hujanan. Kulihat ia tengah berdiri di depan pintu memandangiku.
“Ap Bu?” sahutku berseru dari kejauhan.
“Sudah mainnya…! Nanti pelataran bisa jadi becek semua…” balasnya.
“Udahlah bu… jangan marah-marah terus!” seruku manyun menggodanya.
“Ibu juga nggak akan marah, kalau kamu nggak bikin halamannya jadi becek begitu!” serunya menunjuk halaman yang penuh bekas telapak kakiku.
“Tenang saja Bu, nanti kalau aku udah besar, seluruh halaman ini aku ratain dengan pasir!” ucapku percaya diri. “Jadi nggak akan becek lagi,” lanjutku melempar senyum.
“Halah… kamu itu…” celoteh ibu tak percaya.
Aku tak sadar, jika candaan yang kubuat ketika itu, ternyata memberikan perubahan besar. Ucapan tersebut awalnya hanya lelucon untuk membuat ibu tak lagi marah-marah padaku. Nyatanya malah menjadi sebuah fakta yang mampu kutunjukkan padanya. Wanita paruh baya, yang kini genap berusia 49 tahun.

“Hey, jangan main hujan-hujan!” seru ibu pada bocah kecil yang bermain larian di bawah derasnya hujan.
“Sudahlah bu… biarkan saja!” ujarku kemudian.
“Tapi nanti…” sergahnya.
“Nanti apa? becek lagi?” potongku, memandangnya. Ibu menatapku bingung. “Lihatlah Bu…! Sekarang tidak lagi seperti dulu bukan? Ibu tidak perlu khawatir halamannya jadi becek,” tukasku sambil menunjuk pelataran yang sudah rata tertutup campuran pasir dan semen.

Benar, genap dua tahun aku berhasil menunjukkan padanya, akan ucapanku waktu kecil dulu. Bermodalkan uang yang kukumpulkan selama kerja dari sebelum menikah, hingga si kecil lahir. Akhirnya pelataran yang berdasar tanah liat, seluas 5 x 10 meter tersebut rata dengan pasir.
Sekarang bukan lagi aku yang berlarian main air hujan. Melainkan Deon, putra kecilku yang kini berusia tiga tahun.

“Lihatlah Bu… cucumu!” seruku menunjuk bocah laki-laki yang sedang berlarian di pelataran. “Dia senang sekali bukan? Pasti sama seperti aku dulu?” celotehku nampak manja pada ibu.
“Kamu itu…!” Ibu menempeleng kepalaku.
“Tapi sekarang ibu tidak perlu takut atau cemas, pelatarannya jadi becek! Kan aku sudah membuktikan ucapanku bukan?! Aku bakal meratakan halamannya dengan pasir!” ujarku percaya diri sembari membusungkan dada.
“Iya… iya…” sahut ibu sumringah, melemparkan senyum padaku. Lega rasanya melihat senyuman yang mengembang di wajahnya. Bukan lagi raut muka yang menatap tajam penuh amarah. Akan tetapi ekspresi kebahagiaan yang selama ini tak pernah ia tunjukkan.

Cerpen Karangan: Putri Andriyas
Blog / Facebook: Www.putriandriyas.wordpress.com / Putri Andriyas
Masih terus aktif membuat cerpen dan mengisi artikel di blog. Untuk melihat hasil tulisan saya, silahkan kunjungi blog pribadi saya.
Hubungi saya di
Facebook/Twitter : @PutriAndriyas
Email : putriandriyas[-at-]gmail.com
Silahkan, jika ingin share ^_^

Cerpen Lihatlah Bu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Impian

Oleh:
“Riski bangun salat subuh!” perintah Nenek Riski. “iya nek” jawab Riski. Riski adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama Neneknya, Riski menjadi yatim piatu sejak dia berumur 3

Setelah Setahun Dua Bulan

Oleh:
Tok, tok, tok. Ketukan kuat pun terdengar di pintu kamar, suara Kak Sifa pun terdengar dari balik pintu. “Caa, buka pintunya, ayo ke sini, ayo keluar, lihat Papa sebentar,”

Upiak Siti

Oleh:
Malam semakin larut kelam. Hening. Hanya sesekali terdengar isak tangis pilu, yang kadang ditemani nyanyian lirih jangkrik malam di halaman. Gadis bermata sipit itu meratap sendiri di sudut kamar

Lilin 17 Tahun Ku (Part 2)

Oleh:
Tak terasa alarm di ponselku sudah berdering. Itu menunjukkan bahwa sudah pukul 04.00 WIB. Ini memang sudah menjadi kebiasaanku bangun jam 4 pagi. Aktivitas yang aku lakukan saat masih

Saat Terakhirku

Oleh:
Diagnosa dokter membuat Silvi menjadi bersedih dan takut akan kematian sebab ia didiagnosa menderita sakit kanker otak stadium akhir dan umurnya tak akan lama lagi. Silvi menerima cobaan dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *