Lingkunganku Masa Depanku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 2 April 2015

Lidya adalah murid yang sekolah di SD Pertiwi, Kota Jakarta. Sekarang Lidya kelas 3 SD. Lidya adalah anak yang sangat cinta terhadap kebersihan, baik di sekolah, di rumah dan dimanapun ia berada.
Lidya adalah anak dari bapak Erik dan ibu Ratsih, yang dikaruniai 3 orang anak. Ketiganya perempuan yaitu yang sulung bernama Friska, yang sekarang sekolah di SMA 25 Jakarta, yang tengah bernama Lidya dan yang bungsu bernama Silvia, sekarang kelas 1 di SD Pertiwi.

Keluarga Lidya sangat sederhana, bapak Erik adalah seorang guru dan ibu Ratsih seorang penjahit pakaian pesanan di rumahnya. Lidya adalah anak paling patuh pada kedua orangtuanya kecuali pada kakaknya, ia sering bandel jika disuruh kakaknya melakukan sesuatu, banyak saja alasan yang ia berikan pada sang kakak.

Saat di dalam kelas, pada saat jam pelajaran IPS berlangsung, “Lidya! Lidya!” kata Ayu teman dekat Lidya sekaligus teman sebangkunya, Lidya yang melamun tidak bergerak sedikitpun, Ayu menggunakan trik lain yaitu dengan mencabut bulu ayam dari kemoceng yang tergantung di lemari dekatnya, bulu ayam tersebut diletakkan di telinga Lidya, “aduh!!” seru Lidya yang terbangun dari lamunannya dan sedikit kesal, sedangkan Ayu tidak tahan menahan ketawa.
“Ayu! Kamu jahat” kata Lidya dengan nada pelan, “habis kamu dipanggil diam aja, makannya tidak ada cara lain selain menggunakan bulu ayam. Makasih ya bulu ayam, telah menolong Ayu membangunkan Lidya” balas Ayu dengan ketawa. Lidya hanya cemberut karena tidak tahu apa yang akan dia jawab.

Sekolah hari ini tidak seperti biasanya, anak-anak pulang lebih cepat karena guru-guru di sekolah mengadakan rapat untuk ujian naik kelas. Hari ini Lidya pulang dengan Silvia, berbeda dari biasanya Lidya pulang dengan Ayu karena Ayu dijemput ayahnya, yang tidak tahu apa alasannya, oleh karena itu Lidya pulang dengan adiknya.

Rumah Lidya tidak jauh dari sekolah, bisa ditempuh dengan jalan kaki saja. Di perjalanan mereka berdua hanya diam karena hanyut dalam angan pikiran masing-masing. Silvia memikirkan kalau dia naik kelas pasti sangat senang, sedangkan Lidya memikirkan kalau tamat SD nanti ia mau sekolah dimana.

Akhirnya mereka berdua tiba di rumah, mereka melepaskan sepatunya di luar dan meletakkannya di rak sepatu dan masuk ke dalam rumah. Di rumah ibu sedang menjahit di ruangan tengah.
“Assalamu’alaikum” kata Lidya dan Silvia berbarengan, “Wa’alaikum salam” kata ibu yang sedang menjahit dengan serius tanpa memandang mereka berdua. “Kok, sekarang pulang sekolahnya cepat Lid?” kata ibu yang sedang memasukkan benang ke dalam lubang jarum mesin jahit, “tadi guru-guru di sekolah rapat Bu” jawab Silvia yang tidak ditanya malah menyambar menjawab, Lidya hanya terdiam. “Rapat tentang apa?” tanya ibu kembali yang masih sedang memasukkan benang ke jarum yang sejak tadi tidak masuk-masuk, “rapat untuk ujian naik kelas Bu!” Jawab Lidya yang tidak mau kalah dengan adiknya.

Lidya dan Silvia masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian, setelah mengganti pakaian, mereka mengambil piring dan langsung memasukkan nasi yang ada di rice cooker ke dalam piring, mereka makan dengan lahap walaupun lauknya hanya sederhana, setelah kenyang Lidya mencuci piring di dapur.

Setelah mencuci piring, mereka berdua langsung belajar karena akan ujian naik kelas. Belajar sepulang sekolah adalah kegiatan rutin mereka sampai pukul 15.30, setelah belajar mereka shalat berjamaah dengan diimami oleh ibu karena ayah belum pulang dari mengajar.

Setelah shalat, Silvia seperti biasa pergi bermain ke rumah temannya, sedangkan Lidya membantu ibu membersihkan rumah dan halaman. Halaman rumah Lidya sangat bersih karena Lidya sering membersihkan halamannya. Di samping rumah Lidya ada terdapat pohon Mangga yang rimbun daunnya, Lidya selalu menyapu daun mangga yang berguguran. Selain itu Lidya suka menanam bunga di halamannya, agar rumahnya terlihat lebih indah dan asri.

Pukul 17.05 Ayah Lidya pulang dari mengajar, Ayah Lidya pulang dengan taksi langganannya karena jarak tempat mengajar ke rumah cukup jauh. Lidya menyambut ayah yang baru pulang dengan menyiapkan segelas air putih dan sepiring kue kering.

Sudah pukul 17.30, Friska belum juga pulang dari sekolah. Ayah, Ibu, Lidya dan Silvia sudah berkumpul di ruang tengah menonton televisi. Beberapa lama kemudian, Friska sampai di rumah, “Kak, kenapa hari ini pulangnya terlambat?” tanya Lidya dengan penuh penasaran, “tadi di sekolah ada acara Go Green Event” jawab kakaknya pendek. “Apa itu Go Green Event Kak?” Tanya Lidya tambah penasaran, “acara penanaman pohon” jawab kakaknya, Lidya hanya diam tidak mau bertanya lagi, takut nanti kakaknya marah karena kakaknya kelihatan capek.

Mereka bertiga sekamar, saat sudah jam 21.30 Lidya dan Friska disuruh ibu untuk tidur supaya besok tidak kesiangan sedangkan Silvia sudah tidur duluan. Di kamar, Lidya bertanya pada kakaknya sembari menghidupkan lampu tidur, “Kak, kenapa ya di tempat tinggal kita sedikit pepohonan?”, Friska yang sudah menarik selimut menjawab dengan suara sayu “karena setiap pohon yang ditanam selalu ditebang untuk pembangunan rumah, pembuatan perabot, dan lain lain”. Mendengar jawaban kakaknya, Lidya mangut-mangut. Sebelum kakaknya keburu tidur, Lidya bertanya lagi “oh ya Kak, kenapa di Jakarta sering banjir Kak?” Friska tidak menjawab lagi karena sudah tidur akibat kelelahan. Lidya hanya terdiam menatap langit langit rumahnya, sambil memikirkan jawabannya.

Keesokan pagi, Friska membangunkan Lidya, “Lid, ayo bangun! Kita shalat subuh berjamaah”, Lidya menjawab dengan suara parau “sebebentar lagi Kak, masih ngantuk”, Friska dengan sedikit kesal berkata pada Lidya yang masih tidur, karena Lidya selalu susah dibangunkan, “ayo cepat bangun, nanti waktu subuhnya habis, pokoknya cepat bangun!” Friska yang mulai kesal membuat Lidya langsung bangun dan mereka shalat subuh berjamaah diimami sang ayah.

Hari ini adalah hari Minggu, Lidya dan keluarga pergi jalan-jalan ke Puncak Bogor dengan taksi langganan ayah, mereka berangkat pagi-pagi menghindari macet kalau kesiangan berangkat.

Setiba di Puncak, mereka sangat senang karena mereka bisa melihat pepohonan yang rimbun, mata terasa segar saat melihat dedaunan yang bewarna hijau. Mereka terbiasa untuk menjaga kebersihan, dan terusik jika melihat sampah berserakan dimana mana. Dengan senang hati Lidya mengambil sampah yang berserakan begitu juga kakak dan adiknya. Ayah dan Ibu tersenyum dengan tingkah anak-anaknya.

Melihat Lidya, kakak dan adiknya yang memungut sampah disana, beberapa orang yang berkunjung juga ikut memungut sampah itu. Tempat tersebut menjadi bersih dan indah dipandang mata. Lidya, kakak dan adiknya bermain sepuasnya hingga waktu makan siang. Mereka makan siang dengan lahap dengan bekal yang sudah disiapkan ibu dari rumah.

Setelah makan siang, Lidya memulai pembicaraan, “Bu! Enak ya, udara di sini sangat segar”, Friska menyahut, “karena disini banyak oksigennya Lidya” Lidya menjawab, “yee… Lidya kan nanya sama Ibu bukan sama kak Fris” . “Iya Lidya, di sini pepohonan sangat banyak, maka daun pohon tersebut mengeluarkan oksigen yang sangat kita perlukan” kata ibu pada Lidya, “oo, jadi pohon itu sangat penting ya Bu?”, tanya Lidya kembali. “Sangat penting, karena tanpa pohon kita akan kekurangan oksigen, tanpa pohon juga bisa terjadi banjir, tanah longsor, dan banyak lagi” jawab ibu menjelaskan pada Lidya. Lidya mengangguk paham.

Liburan hari ini menyenangkan, Lidya dan keluarga pulang ke rumah menjelang sore. Di perjalanan pulang, Lidya berjanji dalam hati bahwa ia akan menjaga pohon Mangga dan bunga yang ada di halamannya sebagai salah satu hal yang bisa ia lakukan menjaga kelestarian alam.

Esok harinya, sepulang sekolah, Lidya memberi pupuk pohon Mangganya dengan pupuk kandang yang diletakkan Ayah di belakang rumah, Lidya berharap semoga pohon Mangganya tumbuh makin besar, rindang dan banyak buahnya.

Hari-hari pun berlalu, besok adalah hari pertama ujian naik kelas, Lidya berharap semoga dia dapat menjawab soal-soal yang di berikan dengan mudah. Malam harinya Lidya belajar untuk ujian besok, Lidya juga berdoa agar ujian besok lancar. Setiap hari dia persiapkan sebaik-baiknya mengahadapi ujian.

Hari-hari ujian telah dia lewati dengan baik, setelah ujian Lidya menyerahkan semuanya pada Yang Esa. Hingga hari penentuan naik kelas pun tiba. Saat penentuan rangking kelas, Lidya berdebar-debar karena semester yang lalu ia mendapatkan rangking 4 dan dia berharap semester ini bisa mendapatkan rangking yang lebih baik lagi.
Saat pengumuman peringkat kelas 3, “Rangking 5 diperoleh Dewita Diana Putri, rangking 4 diperoleh Syifa Anggita Murni” kata Kepala Sekolah. Lidya semakin berebar mengikuti pengumuman tersebut, dan cemas jika ia tidak mendapatkan rangking pada semester ini. Lidya berdoa kepada Allah, agar dia mendapatkan rangking pada semester 2 ini. Bapak sekolah melanjutkan pengumuman nya, “Rengking 3 diperoleh…” Lidya menutup matanya, dia semakin berdebar dan terus berdoa pada Allah, “Fannisa Lidya Humaira” Lidya sungguh tak percaya, akhirnya dia mendapatkan rangking 3, dia sangat senang karena perjuangannya berbuah hasil yang memuaskan. Ia sangat bersyukur kepada Allah.

Kepala sekolah melanjutkan pengumumannya, yang sempat berhenti karena ada sorakan bahagia, “rangking 2 didapat oleh Ayu Jelita Pertiwi” Lidya pun memberikan selamat pada Ayu yang dulu mendapatkan rangking 3, Ayu juga sering menjadi tempat bertanya Lidya saat Lidya kurang mengerti pelajaran dan mereka juga sering belajar bersama. “Selamat ya Ayu!” kata Lidya dengan gembira, “selamat juga buat Kamu” balas Ayu dengan hati yang sedang berbunga bunga.

Adik Lidya, Silvia mendapatkan rangking 3 di kelas 1, Lidya juga mengucapkan selamat pada Adiknya, yang akhir-akhir ini semangat dalam belajar. Pembagian rapor semester 2 ini di hadiri oleh orangtua murid karena ada beberapa hal yang akan disampaikan kepada orangtua murid.

Setelah menunggu beberapa menit, Ibu Lidya dipanggil oleh wali kelas 3 yaitu pak Ridwan, “Ibu Ratsih, nilai Lidya meningkat dibanding semester yang lalu. Selamat ya Bu, tolong ibu ingatkan Lidya untuk lebih giat belajar. Semoga di kelas 4 nanti Lidya mendapatkan peringkat yang lebih tinggi” kata pak Ridwan. “Ya Pak, ini juga berkat bimbingan Bapak selama ini di kelas”, Ibu Ratsih tersenyum, “terima kasih banyak Pak!”, “sama-sama” jawab Pak Ridwan.

Selanjutnya ibu Ratsih mengambil rapor Silvia di kelas 1, yang diserahkan oleh wali kelas ibu Rahmi, “ibu Silvia, selamat atas anaknya yang mendapatkan rangking 3, semoga cara belajar Silvia ditingkatkan lagi dan belajar lebih rajin, untuk bermain tolong dikurangi, agar Silvia memiliki waktu yang banyak untuk belajar” Kata ibu Rahmi dengan senang hati.

Setelah pembagian rapor, Lidya, Silvia dan ibu pulang dengan hati yang senang. Setiba di rumah, Lidya dan Silvia memberikan rapornya pada Ayah dan kakaknya. Ayah memberikan Selamat pada Lidya dan Silvia agar prestasinya dipertahankan dan belajarnya ditingkatkan lagi, sedangkan kakaknya memberikan dukungan agar Lidya dan Silvia semakin semangat belajar.

Esok harinya mereka bertiga menikmati liburan selama 2 minggu dengan membersihkan rumah dan halaman. Lidya tidak lupa memberi pupuk untuk pohon Mangganya agar tumbuh besar dan memiliki daun rindang dan buah lebat.

Setelah membersihkan halaman, Friska dan Lidya memilih sampah yang ada di jalan depan rumahnya, karena mereka sangat cinta terhadap lingkungan, mereka tidak ingin di sekitar rumahnya kotor. Keluarga bapak Erik sangat suka terhadap kebersihan. Setelah bergotong royong, mereka istirahat di dalam rumah sambil berbincang bincang, “Lid, kamu mau tidak menemani nenek di Kampung?” ayah memulai pembicaraan, “Di Bukittinggi Yah?” jawab Lidya, “iya, di Sumatera Barat” kata Ayah pada Lidya, “kenapa emangnya Yah?” Tanya Lidya balik, Friska hanya diam karena sebelumnya sudah tahu dan Silvia ingin tahu,“ karena semenjak kakek meninggal, nenek tinggal sendirian. Kamu mau tidak menemani nenek di sana?” Ayah melanjutkann pembicaraan.
Lidya hanya diam memandang Ayah, Ibu, kakaknya dan adiknya yang hatinya mulai sedih, “tapi Yah, apakah Lidya sendiri yang menemani nenek, Lidya kan juga ingin tinggal dengan ibu, kakak dan adik”, kata Lidya dengan mata mulai berkaca-kaca. “Kalau begitu Friska dengan Lidya aja yang menemani Nenek”, kata Ayah. Lidya hanya diam, tidak tau apa yang akan dijawab, “Lidya tidak mau ninggalin Silvia, tapi Lidya juga sedih kalau nenek tinggal sendirian” kata Lidya pada ayah, “adikmu, tinggal saja dulu dengan ayah dan ibu” kata ibu.
Lidia terdiam dan berpikir, “iya deh, Lidya temanin nenek di kampung, tapi sampai kapan Lidya di sana?” tanya Lidya pada ayah, “kalau masalah itu, Lidya jangan pikirkan dulu. Sekarang Ayah akan mengurus surat-surat pindah sekolah juga untuk kakakmu” jawab ayah. Lidya hanya diam, Friska menguatkan hati adiknya untuk tinggal dengan nenek “Lid, tidak apa-apa kita nemanin nenek di kampung ya, tar disana kita bisa melihat daerah yang lebih asri di banding Jakarta. Disana masih banyak hutan dan kebunnya”. Ayah dan ibu ternyata sudah membicarakan hal ini kepada Friska.

Pada saat di kamar, Lidya bertanya pada kakaknya, “Kak! Kak beneran mau tinggal dengan Nenek?” kakaknya menjawab, “mau aja, kakak juga belum pernah ke sana, namun cerita ayah dan ibu disana lebih indah dari pada sini, pasti akan sangat menyenangkan di sana”, Friska menyemangati adiknya. Lidya hanya diam, dia membayangkan bagaimana ia nanti di sana.

Keesokan hari, setelah Lidya berfikir panjang, akhirnya dia membulatkan tekad untuk tinggal dan sekolah di kampung bersama nenek. Sebenarnya ada perasaan penasaran juga di pikirannya mengenai keadaan kampung neneknya yang masih asri dan sepertinya akan menjadi pengalaman yang seru juga nantinya bersama kakak.

Lidya bersiap-siap dan menyiapkan pakaian yang akan dibawa, termasuk Friska yang juga menyiapkan buku-buku, Silvia hanya diam melihat dari daun pintu kamarnya, ada perasaan sedih juga menghampirinya karena akan ditinggalkan. Lama kelamaan air mata Silvia berlinang, mendengar isak tangis Silvia, Lidya dan Friska berhenti membereskan pakaian mereka. Pada saat itu Ibu dan Ayah tidak ada di rumah, karena pergi membeli tiket pesawat untuk keberangkatannya ke kampung.

Lidya mendekati Silvia, “Sil, Kamu kenapa?” tanya Lidya dengan hati yang juga sedih pada Adiknya, “Silvia sedih, siapa yang akan jadi teman main Silvia nanti kalau kakak pergi?” katanya sedih. “Kakak juga gak mau ninggalin kamu Sayang, tapi kalau kakak tidak pergi, kasihan kan Nenek yang tinggal sendirian di kampung, Kakak janji akan sering menelpon Silvia jika kakak tidak sibuk ya”. “Silvia juga telpon kakak jika Silvia kangen sama Kakak dan Kak Lidya ya” kata Friska, “Iya adik ku, Kakak juga akan nelpon kamu jika kakak juga kangen sama Adik kakak yang Imut” kata Lidya menghibur Silvia, “ya deh, Kakak janji ya, nelfon Silvia”, kata Silvia yang hatinya tidak sedih lagi, “Iya kakak janji” kata Lidya.

Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba, hari ini Lidya dan Friska akan pergi ke kampung. Tidak hanya mereka berdua, Silvia, Ibu dan Ayah juga ikut pulang ke kampung. Mereka pergi dengan pesawat, baru kali ini mereka naik pesawat.

Di atas pesawat, pemandangannya sangat Indah, apalagi kalau Pulau Sumatera dari atas semuanya hijau, mata Lidya tidak lepas dari pandangannya ke bawah, karena ini adalah pengalaman yang paling mengesankan baginya, di dalam hati dia berkata, “Sungguh indahnya, kehijauan yang menyelimuti pulau Sumatera, Subhanallah.”

Beberapa jam kemudian, Mereka tiba di Bandara Internasional Minangkabau, Bandar udara yang terletak di kota Padang. Berbeda dengan Jakarta, di sini banyak pepohonan yang membuat udara semakin sejuk. Tempat tinggal nenek berada di Kota Bukittinggi, sekitar 2 jam perjalanan dari bandara. Mereka naik taksi menuju Bukittinggi. Saat di atas mobil, Lidya membayangkan betapa indahnya nanti di kampung nenek, sedangkan di padang sudah Indah. Lidya sibuk saja menghayal, sedangkan Kakak sedang menelpon teman-temannya di Jakarta, Lain hal dengan Silvia, dia nyenyak tidur karena kelelahan.

Di Tengah perjalanan ke Bukittinggi, Pada saat tiba di Lembah Anai, mereka berhenti sejenak. Mata Lidya tertegun melihat air terjun yang jatuh dari ketinggian, rasanya segar sekali melihat curahan air terjun tersebut. Namun karena mareka ingin cepat sampai di Bukittinggi, mereka hanya sejenak disana. Perjalanan ke Bukittinggi dilanjutkan.

Sesampai di rumah nenek, “Assalamu’alaikum Nek!” kata Kak Friska, Lidya dan Silvia, “Wa’alaikumsalam, Ondeh! Lah tibo cucu ambo di siko!” kata Nenek dengan bahasa daerah Minangkabau, walaupun Lidya tidak bisa bahasa Minang, tapi Dia mengerti karena ayahnya sering berbahasa Minang di rumah.

Setelah berbincang bincang dengan nenek, Lidya masuk ke kamar yang telah di siapkan nenek. Di rumah nenek terdapat 3 kamar. Lidya, Friska, dan Silvia tidur satu kamar. Mereka memasukkan baju ke dalam lemari, lalu bermain di halaman nenek yang cukup luas. Di sudut halaman ada pohon Rambutan yang sedang berbuah, dengan spontan Friska mengambil galah yang ada di bawah pohon Rambutan itu dan mengambil Rambutan itu menggunakan galah. Lidya dan Silvia mengumpulkan Rambutan yang berjatuhan. Kemudian membawa Rambutan itu ke dalam rumah dan memakannya bersama ayah, ibu dan nenek.

Pada sore hari, Ayah mengajak Lidya dan Silvia untuk berkeliling di kampung, sedangkan Friska membantu ibu dan nenek menyiapkan makan malam. Ayah mengajak Lidya dan Silvia ke Sawah, Lidya sungguh kagum melihat pemandangannya yang sangat indah, hamparan padi kehijauan yang luas terbentang hingga bukit barisan. Sungguh pemandangan yang menakjubkan bagi mereka yang sehari-hari berada di tengah keramaian kota yang disana sini hanya ada bangunan megah yang terkadang disisipi oleh pemukiman kumuh. Lidya juga suka naik dan menurun pematang sawah, yang belum pernah Dia lakukan sebelumnya.

Puas melihat keindahan alam di kampung, mereka pulang karena cahaya mentari pun sudah mulai merona merah menandakan waktu magrib sebentar lagi masuk. Saat perjalanan pulang, ayah bertemu dengan teman lamanya, ayah kelihatan sangat senang. Saat ayah berbincang-bincang, Lidya dan Silvia asyik memandang kunang-kunang yang terbang disana sini, cahaya yang dihasilkan sungguh indah bewarna warni, begitu juga dengan pohon di sekelilingnya yang sangat rimbun dan kicauan burung menghiasi sore menjelang malam itu. Mereka berdua diam terpesona dengan keindahan itu.

Setiba di rumah mereka shalat Magrib berjamaah yang di imami oleh ayah, setelah shalat dan mengaji mereka makan bersama-sama. Mereka makan dengan hidangan yang spesial, yaitu rendang. Lidya menikmati makan malam ini, karena rendang merupakan lauk favoritnya apalagi buatan nenek lebih enak daripada yang biasa dibeli ibu di pasar.

Keesokan harinya bertepatan dengan hari Minggu, warga di sekitar kampung melakukan kegiatan rutin mereka yaitu bergotong royong menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan. Warga di sini memang terkenal dengan kecintaannya terhadap lingkungan. Mereka membersihkan jalan, selokan dan sungai agar bebas dari sampah. Sungai di sini sangat bersih, airnya jernih dan banyak ikannya, nenek menjanjikan kepada kami menangkap ikan di sungai ini, Lidya sangat senang mendengarnya.

Warga disini tidak mau membuang sampah sembarangan, tempat sampah telah disediakan di pinggir jalan. Disana tersedia tempat sampah organik yaitu sampah yang bisa dibusukkan dan sampah anorganik yang tidak bisa dibusukkan. Setiap hari Minggu warga membakar sampah anorganik yang diolah sendiri oleh warga untuk dijadikan pupuk.
Ayah, Lidya, Friska dan Silvia juga ikut bergotong royong, karena bekerja besama-sama akan lebih cepat selesainya. Lidya dan Silvia membantu mencabut rumput di pinggir jalan dan memberi pupuk untuk tanaman yang ditanam di sepanjang jalan.

Hari-hari terasa berlalu dengan cepat. Akhirnya sampai juga pada hari Ibu, Ayah dan Silvia balik ke Jakarta, sedangkan Lidya dan Friska tinggal bersama nenek. Wajar jika kesedihan menyelimuti perasaan Friska dan Lidya kerena akan berpisah dengan ayah, ibu dan adiknya.

Selepas berpamitan, Ibu, Ayah dan Silvia telah ditunggu oleh taksi yang dipesan oleh Ayah beberapa hari yang lalu. Mereka melepas keberangkatan ayah, ibu, dan Silvia dengan berlinang air mata. Untuk menghibur mereka, nenek mengajak Lidya dan Friska memancing ikan di sungai dan membuat ikan bakar. Lidya dan Friska memulai hari baru di kampung yang asri dan indah. Mereka menyadari, mecintai lingkungan sejak kecil merupakan langkah awal merajut masa depan yang cemerlang.

Cerpen Karangan: Nurul Khaira Sabila
Facebook: Nurul Khaira Sabila

Cerpen Lingkunganku Masa Depanku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Membutuhkan Sayapku

Oleh:
Selepas shalat shubuh, kubangunkan kedua anakku. Mendekati dan mencium keningnya adalah cara terbaik seorang ibu membangunkan anaknya. “Kak, bangun kak, anak sholihahnya mama..” bisikku lembut tepat di telinganya. “Mama

Sahabatku Zahra dan Nayla

Oleh:
Namaku Rainy, usiaku 10 tahun, aku bersekolah di SD The Emergency school, disana, aku mempunyai 2 sahabat dekatku yaitu Zahra dan Nayla. “Hai Zahra, Nayla” Sapaku kepada Zahra dan

Ujung Dua Sahabat

Oleh:
Datang, duduk, diam itulah yang selalu ku kerjakan selagi pelajaran berlangsung, ku lirik lagi arloji yang melingkar di lenganku pukul 13.00 ku hela lagi napas dalam-dalam rasanya menunggu satu

Pesan Yang Kurang

Oleh:
Sepi. Berat. Itulah yang setidaknya ku rasakan saat ini. Semua indraku belum berfungsi dengan baik. Telingaku, tengah berusaha menyempurnakan pendengarannya. Aku menarik nafas kembali. Mataku, masih terpejam dan seluruh

Fia dan Apel Yang Ada di Puncak

Oleh:
Fia berjalan sendirian sambil menendang kerikil-kerikil kecil di hadapannya. Kepalanya yang setengah tertunduk seolah memberikan pancaran kemurungan. Padahal dia adalah seorang gadis ceria dan senantiasa bersemangat. Tiba-tiba, langkah kakinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Lingkunganku Masa Depanku”

  1. rina says:

    sebuah narasi yang cukup bagus, thanks dan terus berkarya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *