Little Angel

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 November 2015

– Bunga.
Sudah lama sejak hari kepergian Bunda, aku belum sempat lagi mengunjungi Ayah. Entah apa kabar Ayah sekarang, aku pun sudah mati rasa. Hati ini terasa dingin, kosong, hancur, seakan tak ada lagi sesuatu yang dapat menghangatkannya, mengisinya, atau memperbaikinya. Walau aku pun sangat ingin memaafkannya, kejadian itu seakan akan selalu membayangiku setiap saat.

Dia hanyalah pemabuk tua yang membuat hidupku, Bunda dan adik-adik semakin susah! Kalau saja uang untuk biaya operasi Bunda tidak dipakai dan dibawanya pergi, mungkin saja Bunda masih ada di sini mendampingiku. Menyaksikan penampilanku di atas lantai theater broadway ini sebagai awal kesuksesanku. Bunda pasti akan duduk di kursi VIP bersama Intan dan Mutiara, bertepuk tangan dan memberikan teriakannya yang paling kencang sambil berkata, “Lihat!! Itu anakku!!”

Tepuk tangan dan sorak sorai para penonton membuatku tersadar dari pikiranku yang kosong dan seulas senyum kecil tercipta di bibirku. Maklumlah, aku dapat berada di sini bukan karena perjuangan yang cukup mudah. Dapat dibilang aku mungkin satu satunya Dancer paling melarat yang pernah tampil di panggung super mewah ini. Walaupun aku tidak menari secara solo, aku cukup puas dan sangat senang karena telah menginjakkan kaki di panggung ini.

Tapi akan ku pastikan aku akan menari di atas panggung spektakuler ini secara solo. Kemandirian yang telah ku pupuk sejak dulu membuatku menjadi seorang pekerja keras dan bukanlah seorang anak manja yang diantar jemput menggunakan Limo atau berpergian sendiri menggunakan Lamborghini Reventon seharga 16 milyar yang hanya disebarkan sebanyak 20 unit di dunia. Untukku, busway telah menjadi sahabat baikku sejak aku tinggal di sini.

“Kak, kenapa kita harus naik busway lagi? Kakak sudah cukup terkenal dan sukses. Kakak bisa membeli mobil dan mempekerjakan seorang supir pribadi untuk mengantar kita ke mana pun kita mau.” Ujar Mutiara adik terkecilnya dengan polos.
“Mutia, kenapa kita tidak belajar untuk mandiri dan sedikit rendah hati saja untuk menggunakan transportasi umum? Pengurangan polusi sangat baik untuk kesehatan kita loh.” Ujar Bunga.
“Kakak sedang mengumpulkan uang untuk masa depan kita dan membuat yayasan panti asuhan baru, Mutia. Makanya semua keinginan kita tertunda!” Ucap Intan dengan sedikit kesal.
Busway yang telah berhenti mengakhiri pembicaraan kami. Hari yang semakin menggelap dan bintang-bintang yang semakin meredup membuat kami untuk mempercepat langkah kami agar sampai ke rumah lebih cepat, karena sepertinya hujan akan segera turun.

Malam itu, bayang-bayang Bunda membangunkan tidurku. Ku rasa aku kembali rindu dengan tanah airku Indonesia dan seluruh kenanganku dengan beliau yang tersimpan di dalamnya. Ku coba untuk tidur kembali, tapi tetap tidak bisa. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kamar para malaikat kecilku yang sebentar lagi akan tumbuh menjadi para gadis cantik. Aku memasuki kamarnya yang dipenuhi dengan foto-foto tertempel di dindingnya. Ku belai wajah polosnya yang kembali hadir saat ia terlelap tidur di samping adiknya. Tiba-tiba dia menarik tanganku saat dia mulai terbangun, “Apa yang sedang Kakak lakukan di kamarku? Apa AC Kakak mati lagi? Sudahku bilang pada Mr. David untuk memperbaikinya! Dia benar-benar tidak bisa diharapkan! Akan ku temui dia besok!” Tegasnya dengan nada yang masih mengantuk.

“Tidak Intan, Kakak hanya tidak bisa tidur. Dan ada yang ingin aku ceritakan padamu. Aku masih terbayang-bayangi cinta Bunda pada kita. Aku masih ingat, hal yang paling menyakitkan hati saat Bunda pergi adalah saat Bunda menatap mataku tepat sebelum kepergian beliau, dan berkata “Seandainya nanti Tuhan mengijinkan Bunda pulang, Bunda titip Intan dan Mutiara, yah sayang. Dan ingat ya Bunga, untuk tidak pernah mengecewakan siapa pun, selalu membantu orang lain, dan ingatlah untuk tetap menjaga hatimu.. rendah hati.” Bunda sangat sayang dan peduli pada kita, tan. Satu satunya hal yang membuat Kakak tidak berpikir dengan sehat adalah kebaikan dan ketulusan hati Bunda. Kakak ingin kamu, Mutia dan Kakak juga mempunyai karakter Bunda dalam diri kita.” Tiba-tiba saja setetes air mata terjatuh membasahi pipiku.

Dengan cuek dan tenang Intan pun akhirnya berkata “Aku masih ingin tidur. Banyak yang harus aku lakukan untuk besok, aku masih mau mengumpulkan tenaga.” Tidak terbayang apa yang terlintas di pikirannya, aku pun tak mengerti, aku merasa kehabisan akal dan pikiran untuk menebaknya. Aku melangkahkan kakiku ke luar sambil berkata.
“Ku harap kau bermimpi indah.” Memang tak banyak orang yang mengerti tentang sikap Intan yang selalu misterius dan tak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Sahabatnya pun Britten yang sangat pengertian dan sabar, mengaku masih suka bingung menghadapi sikap Intan yang terlalu gak peduli sama sekitarnya bahkan perasaan orang lain. Itu semua lantaran sifatnya yang terlalu tertutup, egois dan kasar untuk seorang perempuan.

Pagi itu kala matahari belum memunculkan dirinya, burung-burung belum bersiul, dan Mr. David yang belum ke luar untuk mengajakku berkeliling, ku lihat adikku Intan sudah bersiap-siap untuk pergi. Dengan tatapan bingung aku berkata, “Apa kau benar-benar telah sadar? Ku rasa masih ada separuh dari dirimu yang masih tertinggal di tempat tidurmu itu. Apa yang kau pikirkan, sehingga adik tersayangku bisa bangun sepagi ini? Bukankah ini hari sabtu yang menyenangkan untuk ke luar dan berjalan-jalan bersama? Mau pergi ke mana sepagi ini? Bagaimana kau bisa bangun sepagi ini?” Beribu-ribu pertanyaan telah ku tanyakan pada malaikatku yang super cuek ini, tapi dengan lantang dia hanya menjawab satu pertanyaan.

“Alarm..” Sebenarnya aku merasa beruntung hari ini dia mau bangun pagi dan yang terpenting dia menjawab pertanyaanku, walaupun hanya satu.
“Mau ke mana kak Intan pergi sepagi ini, kak?” Tiba-tiba saja suara kecil itu mengejutkanku yang sedang melamun memikirkan sifat sifat buruk Kakaknya yang satu itu. Dengan boneka jerapah kecilnya dia menghampiriku.
“Mutia, Apa yang kamu mau untuk sarapan? Aku punya sereal koko crunch terbaru rasa blueberry. Apa kau mau?” Ucapku untuk mengalihkan pembicaraan tentang Intan.

“Benarkah? Kau membelikannya untukku?” Kata Mutia melontarkan perkataannya dengan penuh semangat dan rasa senang. Tetapi tiba tiba saja ekspresinya kian berubah.
“Mengapa kau membelikan kemasan ekonomis lagi untukku? Bagaimana bila ada temanku yang ingin datang ke rumah? Aku ingin menunjukkannya..” Kata Mutia sambil memohon padaku dengan harapan membelikannya sereal koko crunch dengan ukuran normal.
“Hey, Kau kan bisa membeli sereal lainnya yang berbeda rasa agar tidak bosan.” Kataku. Mutia mengganguk dan mengakhiri pembicaraan itu, aku kagum dengan Mutia.

Adikku yang terkecil ini mempunyai sikap yang lebih dewasa dari pada Intan. Bahkan Mutia sangat mudah bergaul dengan banyak orang di sekitarnya, sikap itu yang selalu mengingatkanku pada Bunda. Miniatur Bunda yang sangat manis, kecil, polos, sangat membanggakan. Mutia selalu mencoba berusaha sendiri dalam hal apa pun dan sangat sulit untuk menyerah. Karakter itulah yang membuatnya multitalented, dia dapat melakukan banyak hal yang anak-anak seusianya belum dapat melakukannya. Juga, dia sangat musikal. Dia dapat bermain Gitar, Piano, Harmonika, Biola, dan Drum. Dia adalah gadis kecil yang sangat berbakat, terlebih lagi di usianya yang baru menginjak 8 tahun. Tetapi sayangnya, Mutia sangat sering merasa lelah sehingga ia perlu banyak istirahat.

– Mutia.
Tuhan, kenapa kepala Mutia sakit yah? Tuhan tolong Mutia Tuhan.
“Tiaa!! Mutia!! Kakak butuh bantuanmu untuk berbelanja ke supermarket.” Teriak kak Bunga.
“Iya kak, sebentar ya kak. Mutia akan menemui kakak sebentar lagi, sehabis Mutia berganti pakaian.” Aku mencoba membangunkan diriku perlahan lahan dan mengganti bajuku.
“Mutia, bisakah kau ambilkan susu low fat rasa vanilla untukku dan cokelat untukmu dan Intan? Aku akan menunggumu di kasir nomor 9, oke?” Pinta kak Bunga padaku.
“Siap kak!” Kataku dengan penuh semangat.

Saat aku berjalan menghampiri lorong bagian susu, aku melihat seorang anak laki-laki seusiaku yang terlihat bingung. Ternyata dia tidak mempunyai cukup uang untuk membeli susu yang dia inginkan. Aku meraih dompet kecil berisi dollaran koinku menghitung seluruh uangku. Susu yang dia inginkan sama dengan susu yang inginku beli, harganya $2.99. Aku tersenyum, dan meberikan $3 milikku kepadanya untuk membeli susu itu. Saatku berikan uangku padanya dia menolak, dia menjelaskan padaku bahwa dia malu untuk menerima pemberianku itu. Tetapi aku tetap memaksanya menerima uang itu, dan dia pun menerima uang itu pada akhirnya.

“Terima kasih.” Kata anak itu kepadaku.
“Jangan sungkan, aku senang bisa membantu. Namaku Mutia, Namamu siapa?”
“Maaf aku harus pergi. Terima kasih Mutia..” Anak itu berlari meninggalkanku sebelum ia sempat memberitahu namanya.

Aku berpikir sejenak dalam hati, apakah mungkin aku sangat menyeramkan? Aku lupa menyisir rambutku pagi ini! Pantas saja. Dengan sekejap aku merapikan rambutku, mengambil susu low fat rasa vanilla dan cokelat, lalu berlari ke kasir nomor 9 tempat kak Bunga menunggu.
“Kemana saja kau, malaikat kecilku? Aku menunggumu dari 15 menit yang lalu. Dasar kau malaikat kecil yang bau!” Gurau kak Bunga padaku, Untunglah dia tidak marah setelah 15 menit menunggu di kasir. Kak Bunga selalu baik kepadaku, dan semoga saja dia tidak menanyakan uang $3 itu atau mungkin aku akan belajar berbohong padanya.

Setelah seluruh barang yang kami beli dibayar, penjaga kasir itu tersenyum padaku. Tentu saja aku harus kembali melontarkan balasan senyumku itu pada Mr. David. Dia adalah orang yang hebat, dia bisa melakukan apa saja untukku dan Kakak. Dia yang membuat AC kak Bunga dingin kembali, memperbaiki lemari bonekaku, bahkan memasang alat penyiram bunga di halaman belakang. Biasanya kami selalu menghabiskan sabtu pagi kami untuk berjalan jalan dengannya, tapi hari ini dia diminta menggantikan penjaga kasir lainnya yang sakit.
“Selamat berjumpa lagi Mr. David!” Ucapku dengan senyum lebar terbaikku.
“Hati-hati malaikat kecil!” Balas Mr. David.

Semua orang di sini sedikit berbeda dengan orang-orang di rumahku yang dulu, di Indonesia. Mereka mengganti namaku menjadi Little Angel, padahal aku lebih menyukai nama Mutia. Tapi mereka tentu memberikan alasan, mereka bilang nama Mutia sangat susah untuk disebut. Mereka mengucapkan kata Mutia menjadi Myutaea, yang kata kak Intan seperti bahasa latin dalam pelajaran Biologi di kelasnya. Jadi, sebaiknya memang mereka harus berhenti memanggilku seperti itu. Hahaha. Aku tertawa dalam hati.

Tunggu!! Sebentar!! Bukankah dia anak yang bertemuku tadi pagi di Supermarket? Aku mulai merasa bingung. Aku masih penasaran mengapa dia langsung lari dariku. Aku harus turun dari busway ini. Tapi bagaimana cara menghentikannya? Untunglah jarak dari tempat ini ke rumahku hanya sekitar 10 meter, aku yakin Kakak mengizinkannya.
“Kak, bolehkah aku turun di sini? Lihat! Itu temanku, aku ingin menemuinya.” Pintaku dengan penuh harap.
“Apa kau yakin dia temanmu? Siapa namanya? Sepertinya aku tidak pernah bertemu dia di sekolahmu.” Balas Kakak bertanya padaku. Sekarang jantungku berdegup sangat kencang. Aku belum pernah berbohong pada Kakak, dan aku pun tidak mau berbohong padanya. Bagaimana ini?
“Pak, sebentar. Adik saya turun di sini.” Kata Kakak begitu tiba-tiba, sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya. Aku belum sempat berkata apapun, aku melangkahkan kakiku ke luar busway dan tersenyum padanya. Dia adalah Kakak yang sangat baik.

“Hey!! Kau!!” Teriakku berharap dia mendengarnya. Anak itu menoleh ke belakang melihatku dan berhenti.
“Aku akan mengembalikkan uangmu saat aku punya uang lagi.” Ucap anak itu.
“Aku tidak mau kau mengembalikkan uangku, aku ikhlas. Aku hanya ingin tahu di mana rumahmu dan siapa namamu. Kau belum sempat menjawabnya.” Anak itu lagi lagi terdiam, dia hampir mencoba untuk berlari meninggalkanku lagi. Tetapi kali ini aku menahan tangannya.
“Namaku Mark. Tak punya Ayah dan Ibu. Tinggal di lorong dekat tong sampah..”

Aku terdiam sesaat. Aku pun merasa sedih mendengar jawaban itu.
“Maukah kau menghabiskan hari ini dengan bermain ke rumahku? Di halaman belakang Mr. David sudah memasang ayunan di bawah pohon untukku..” Kataku lagi-lagi dengan semangat dan senyum terlebarku.
“Baiklah, tapi mungkin hanya sebentar..” Ucapnya sambil membalas senyumku.

Kami berjalan ke rumahku bersama sama, tetapi saat di tengah tengah perjalanan semuanya terasa seperti berbayang. Aku harus sampai dulu ke rumah. Aku tidak ingin membuat teman baruku pergi menjauhiku. Aku harus menguatkan diriku, sebentar lagi sampai. Saat Mark dan aku sampai di depan rumah, kak Bunga ke luar untuk menyambut kami. Tetapi sayangnya aku tidak kuat berjalan lagi. Tuhan, tolong kuatkan Mutia.
“Tia.. Tiaa.. Mutiaaa.” Suara itu seakan membayangiku terus.
“Tiaa!!!” Aku pun membuka mataku dengan tiba-tiba.

Seluruh keringat mengalir dari tubuhku, tubuhku terasa sangat berat, kepalaku sangat sakit, dan seakan ada yang menutupi telingaku. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas, pengelihatanku pun terasa berbayang seperti sebelum sebelumnya. Ada apa ini? Mutia kenapa ya Tuhan? Aku mengedipkan mataku perlahan walaupun terasa berat.
“Tiaa.. kamu sudah sadar Mutia?” Tanya kak Intan padaku.
“Di mana Mark? Di mana aku, kak? Aku sudah berjanji padanya untuk bermain ayunan bersama.” Kataku gelisah.
“Kamu ada di rumah sakit, Mut. Mark yang menemanimu semalaman sampai pagi ini.” Kata kak Bunga dengan wajah yang sedih.

Aku bahkan tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Apapun itu, aku tahu mereka pasti menungguku untuk sembuh. Aku harus sembuh secepatnya. Harus! Tapi mengapa aku merasa berbeda. Aku mudah terjatuh saat berjalan, aku sering mual akhir-akhir ini, bahkan aku sering muntah.
“Kak, Mutia ingin pulang. Apakah boleh? Aku harus menepati janjiku.” Kataku.
“Aku ingin menemui Mark sebelum nanti aku tidur lagi. Aku merasa lelah kak. Aku ingin pulang.” Pintaku dengan sepenuh hati.
“Tapi kamu belum pulih, Mutia. Kamu harus sembuh terlebih dahulu..” Kata kak Intan.

Semenjak kapankah kak Intan begitu perhatian pada Mutia? Mutia sangat senang diperhatikan oleh kak Intan. Ini adalah hari terbaik Mutia. Tapi entah mengapa, kak Bunga terus menangis. Apa Mutia melakukan sesuatu yang salah lagi? Oh iya, Mutia baru tersadar bahwa Mutia berada di rumah sakit. Uang Kakak akan cepat habis apabila Mutia semakin lama berada di sini, Mutia tidak ingin cita-cita kak Bunga terhambat oleh Mutia. Dengan nada penuh harap, aku menangis sambil berkata pada kak Bunga.

“Kak, aku mohon. Mutia akan sembuh secepatnya. Mutia janji, sehabis Mutia menemuinya aku akan lekas tidur kak. Ku mohon.” Aku tak tersadar setetes air mata jatuh mengalir dengan lembut membasahi pipiku. Saat ku lihat wajah kak Bunga dan kak Intan, mereka pun menangis.
“Kak Bunga, biarkan Mutia pulang..” Kata kak Intan pada kak Bunga yang masih menangis.
“Mutia, kalau kamu merasa sakit lagi harus segera bilang ke Kakak ya..” Kata kak Bunga padaku.
“Terima kasih, kak. Mutia sayang kak Intan dan kak Bunga.” Itulah kalimat terakhir yang menutup pembicaraan kami di rumah sakit itu. Aku merasa senang, karena kali ini kami tidak pulang dengan menggunakan busway. Hari aku dan Kakak-kakakku menaiki sebuah mobil pribadi yang ternyata telah kak Bunga pesan khusus untuk kami sebulan yang lalu.

– Intan
Mutia memang seorang anak yang baik, dia selalu menepati janji-janjinya. Begitu pula janjinya dengan kak Bunga. Setelah Mutia menebus seluruh janjinya pada Mark, dia pergi ke kamar lalu memintaku mengambilkan secarik kertas dan pulpen kesayangannya. Dia mengurung diri di kamar sampai senja pun tiba. Saat itu, ku lihat dia yang sedang tertidur lelap. Dia menuliskan secarik surat untukku.

“Surat untuk kak Intan,
Terima kasih untuk selalu menjadi pelindungku, menemaniku, menjagaku. Terima kasih karena pagi ini kakak telah mengambilkan daun mapple untukku. Aku selalu ingin memilikinya. Walaupun semua orang selalu mengira Kakak berbeda, Kakak selalu sama di hati Mutia. Mereka hanya tidak pernah mengenal Kakak yang sesungguhnya. Tolong jaga Mark seperti kalian menjaga aku. Sampaikan juga rasa terima kasihku pada kak Bunga atas mobil baru yang sangat istimewa, aku menyukainya! Kak!! Jangan lupa untuk Mr. David yang selalu berkata bahwa aku adalah Little Angel yang artinya Malaikat kecil, katakan padanya bahwa aku akan segera tumbuh menjadi big angel!! Hahaha”

“Daun mapple ini aku titipkan untuk Mark ya kak, tolong jangan diambil. Aku juga ingin memberikan boneka jerapah kecilku untuknya. Hanya saja dia laki-laki, mungkin dia tidak akan menyukainya. Maafkan aku, uang sakuku sudah habis. 3 dollarnya ku berikan untuk membeli susu Mark, dan 2 dollarnya ku belikan mobil-mobilan ini kak, Bagaimana? Bagus tidak? Apa menurut Kakak dia akan menyukainya? Besok adalah ulang tahunya yang ke-9, dia menyukai kue cokelat. Tolong belikan kue itu untuknya ya kak. Aku tahu tidak sopan berbicara dengan cara seperti ini, maafkan aku. Hanya saja aku terlalu lelah untuk mengatakannya. Aku ingin tidur lebih lama lagi kak. Selamat tinggal Kakak. Mutia sayang kak Intan, kak Bunga, Mr. David dan Mark.”

Surat itu adalah peninggalan terakhir yang ditinggalkan Mutia. Dokter telah berkata pada kami tentang penyakit yang menyerang Mutia. Kanker otak. Dokter berkata bahwa seharusnya Mutia sudah pergi dari 2 hari yang lalu. Tetapi sekarang aku mengerti mengapa Mutia pergi hari ini. Karena Mutia adalah malaikat kecil kami yang kuat, tegar, bahkan malaikat kecil yang berpengharapan. Ia tidak pernah mengeluhkan sakitnya kepada kami.
“Mutia adalah adik kecil Kakak yang paling baik, kamu telah melakukan tugasmu dengan baik tia.. Love you my Little Angel.”

Cerpen Karangan: Mannuela Amsal Sumitro

Cerpen Little Angel merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Serba Pertanyaan

Oleh:
Haiii perkenalkan namaku anastasia, aku gadis berusia 16 dan sekarang aku duduk di kelas ehhh seharusnya maksudnya karena aku sudah tidak melanjutkan pendidikan sekolah menengah atas karena… ehemmm pengen

Ibu

Oleh:
Terkadang segala sesuatu itu tak semudah yang kita bayangkan. Kehidupan berjalan terasa begitu cepatnya. Awalnya aku merasa masih sangat muda tak terasa usiaku semakin bertambah. Aku takut tak bisa

Bobby Yang Hilang

Oleh:
Nama ku Dinda Ayu pratiwi aku duduk dikelas 4 SD, pada hari minggu mama sangat sibuk jadi akhirnya mama menyuruh ku untuk menjaga adikku yang bernama Bobby. Adikku ini

Amnesia

Oleh:
Kakek keluar dari kamarnya dengan kedua mata yang tidak terbuka sepenuhnya, baru bangun tidur. “Ini hari apa?” “Minggu, Kek,” adik laki-lakiku yang sedang memainkan kucing tetangga segera menjawab. Mengangguk,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *