Luki Mencuri Jambu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 26 May 2013

Hari itu hari minggu. Langit mendung dan hujan mulai turun. Semakin lama, hujan turun semakin deras. Luki yang sedari tadi hendak pergi bersama teman-temannya terlihat kesal. Ia memajukan bibir dan berkacak pinggang di depan pintu. Sesekali ibunya memanggil Luki untuk mengingatkan bahwa Luki harus makan. Tapi, anak itu tetap keras kepala dan memilih tetap pada posisinya walau terkadang hujan mengenai kulitnya.
Mungkin karena dingin, Luki beranjak menuju kursi di depan TV. Ia memeluk ibunya erat. Luki menangis di pangkuan ibu yang sangat ia cintai. Tangisnya yang sesenggukan perlahan hilang di telan suara TV yang mulai hidup. Ibunya tahu, obat dari tangis Luki adalah TV. Untuk kali ini, obat itu manjur.

Luki begitu seksama menonton TV yang pada waktu itu memperlihatkan seorang nenek yang sedang duduk di pengadilan. Nenek tersebut sedang di adili karena telah mencuri beberapa buah jambu karena ia sangat lapar. Luki tidak terlalu mengerti akan tetapi, yang ia lihat adalah Nenk itu menangis ketika berada di tempat yang di sebut pengadilan.
“Ibu, pengadilan itu jahat ya? Kok nenek itu di hukum?” tanya Luki kepada Ibunya yang sedari tadi menemani akan itu menonton TV.
“Tidak Luki. Nenek itu yang jahat. Dia mencuri Jambu yang bukan miliknya. Itu namanya dosa. Nanti Luki nggak boleh mencuri. Oke sayang?” balas Ibunya sambil mengecup kening Luki
“Tapi bu, nenek itu kan lapar. Lagipula, itu Cuma jambu kayak yang di depan rumah. Kasihan nenek.” Sahut Luki lagi.
“Ia sayang. Tapi tetap saja mencuri itu tidak boleh. Mencuri itu jahat sayang.” Kata Ibu Luki terakhir lalu pergi meninggalkan anaknya.

Hari senin merupakan hari yang paling tidak disukai Luki. Mau tidak mau, anak ini harus bangun pagi dan mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Luki sendiri masih merupakan siswa kelas 2 di salah satu SD di daerah asalnya. Pagi itu seperti biasa ia sedang berjalan menuju sekolahnya yang tidak begitu jauh dari rumah. Sepanjang jalan yang dilalui, Luki melihat banyak pohon jambu yang buahnya sangat banyak. Akan tetapi, ia sangat takut untuk memetik karena menganggap dirinya bisa duduk di pengadilan seperti nenek yang dilihatnya kemarin.

Tak terasa sekolah hari itu berlalu lebih cepat. Para guru memulangkan siswa lebih awal. Luki yang tidak mengerti hanya mengikuti teman-temannya meninggalkan sekolah hendak pulang. Tiba-tiba salah seorang temannya berkata.
“Luki kamu laper gak? Aku laper banget nih?” kata Joni, salah satu teman sekelasnya.
“Laper Jon. Aku belum makan dari tadi.” Kata Luki kepada Joni.
“Itu ada Jambu. Kita makan yuk?” ajak Joni kepada Luki.
Tentu saja Luki menolak ajakan itu. Ia terus terbayang akan nenek yang ditontonnya di TV. Ia sangat takut di bawa ke pengadilan oleh orang yang punya jambu tersebut. Luki mencoba menjelaskan hal tersebut kepada Joni. Akan tetapi, Joni menganggapnya penakut dan lebih memilih mengajak teman lain untuk mencari Jambu tersebut.
“Awas Joni, nanti kamu masuk pengadilan. Kamu akan menangis di sana. Jangan mencuri.” Teriak Luki kepada Joni dan Ibnu, dua teman sekelasnya yang sudah berada di atas pohon.
Tampaknya, kedua orang ini tidak memperdulikan Luki. Luki yangg kesal berniat menunggu untuk melihat sahabatnya yang ia sangka segera akan masuk pengadilan.

Sudah sangat lama Luki menunggu dengan posisi jongkok di bawah pohon Jambu itu. Sedangkan, dua sahabatnya sudah selesai “mencuri” Jambu itu. Akan tetapi, tidak ada satupun di antara sahabatnya masuk pengadilan. Bahkan, hingga keesokan harinya tidak ada seorangpun temannya masuk pengadilan dan mendapat perlakuan seperti yang dipirkan Luki.

Hari rabu, Luki sudah agak tenang. Ia pergi ke sekolah dengan biasa-biasa saja. Hari ini banyak guru dan siswa libur karena hari raya agama. Gurunya memberi tahu Luki bahwa siswa dan guru lain hendaknya menghormati dengan cara memberikan libur kepada mereka.
Akibatnya, sekolah lebih singkat. Luki pulang ke rumah sambil berjalan kaki. Kali ini, ia memilih jalan melewati pasar. Betapa terkejutnya Luki. Ia sedang berjalan di pasar itu dan kedua orang tuanya berjalan beriringan tepat di depannya. Orang tuanya tampak tidak menyadari kehadiran Luki di belakangnya. Luki terus mengikuti mereka berdua. Keinginannya untuk menyapa Ayah dan Ibunya sirna ketika didapati dengan sangat jelas, Ibunya berusaha hendak merogoh saku salah seorang pembeli di pasar. Sementara, ayahnya entah membicarakan apa dengan pembeli itu. Jelas saja Luki ketakutan. Keringat dingin membasahi kulit tubuhnya begitu deras. Ia tidak ingin kedua orang tua yang ia sayangi masuk pengadilan. Maka dengan sekuat tenaga Luki berteriak.
“Papaaa! Mama hendak mengambil uang om itu. Jangan biarin Pa, nanti mama masuk pengadilan. Mama… Jangan!” Teriak Luki.
Walau suasana pasar sedang ramai, teriakan Luki terdengar jelas oleh semua pengunjung pasar. Mereka semua menatap ke satu titik secara bersama. menatap kepada Ibu Luki yang tertangkap basah hendak mengabil dompet seorang pembeli. Tidak jelas apa yang terjadi. Satu hal yang Luki tahu adalah semua orang tiba-tiba mengerumuninya hendak mencari orang tuanya. Entah kenapa, Luki merasa dirinya telah menjadi pahlawan dengan mencegah ibunya masuk pengadilan. Luki begitu senang saat itu. Akan tetapi, semakin banyaknya sosok yang berdatangan menyebabkan ia tidak bisa bergerak hingga tidak sadarkan diri.

Ketika sadar, Luki telah berada di rumahnya. Sementara, Ayah dan Ibunya terduduk lesu di sofa rumah tersebut. Luki terkejut. Seisi rumahnya sudah tidak ada apa-apa. TV, Kulkas, Laptop, AC, dan beberapa barang yang lain hilang entah kemana. Ketika ditanyai, Ibu dan Ayahnya terus memarahinya. Luki menjadi bingung. Padahal ia telah menyelamatkan Ibunya agar tidak masuk pengadilan. Akan tetapi, ia terus disalahkan oleh ibunya prihal rumah dan isinya yang kosong.
“Ini semua salahmu! Seharusnya kamu tidak memberi tahu kepada semua orang kalau Ibu sedang mencuri.” Teriak ibunya marah.
“Tapi bu, kan ibu yang memberi tahu Luki bahwa kita tidak boleh mencuri. Nanti masuk pengadilan.” Kata Luki polos.
Merasa kalah posisi, Ibu Luki kemudian menangis sembari berkata.
“Luki, maafkan ibu nak. Ini salah ibu dan ayah. Kami tidak bermaksud mengajarimu hal buruk. Tapi, kita tidak akan bisa makan jika tidak mencuri.” Kata ibunya bergelinang air mata.
Luki menjadi binngung. Seketika timbul sebuah kesimpulan di otaknya.
“Oh jadi mencuri itu boleh, besok aku mau mencuri Jambu ah…”

Cerpen Karangan: Gede Agus Andika Sani
Blog: babibubebong.blogspot.com
Facebook : Sani Agus
Penulis merupakan penggemar cerpen yang bersekolah di SMAN Bali Mandara. keinginan terbesarnya adalah cerpen yang ditulis bisa dimuat di koran dan website

Cerpen Luki Mencuri Jambu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tompel

Oleh:
“Dua puluh lima tahun lalu? Tidakkah Bapak ingat?” katanya kepadaku. Ah, usia mengikis memoriku. Aku bahkan sudah lupa kapan aku lahir. Hal terakhir yang aku ingat adalah hari wafatnya

Seruling Ajaib Dimas

Oleh:
Matahari bersinar dengan teriknya. Dimas, Bagas, Satria, dan Ludvi berjalan pulang sekolah menuju rumah Ludvi. Mereka akan mengerjakan tugas kelompok. Saking panasnya, Bagas mengeluh, “Mataharinya panas banget. Dimas, jajanin

Kedelai atau Keledai

Oleh:
Halo teman-teman, namaku Layra. Aku kelas V-A di SDS islam terapan An-Nur. Aku akan menceritakan kisah lucuku di kelas saat pelajaran IPA Hari selasa, aku seperti biasa masuk ke

Rahasia Ayu

Oleh:
Suatu hari, saat itu cuaca sangat cerah, dan panas menyengat sinar matahari dapat dirasakan hingga ke tulang rasanya. Terdengar suara merintih sakit yang dialami oleh anak keluarga Bapak amri.

Mengertilah

Oleh:
Ketakutan. Itu yang kurasakan saat ini. Aku selalu takut.. Tidak! Bukan karena aku sendirian di rumah, tapi karena kakakku. Aku tau aku selalu membuatnya marah. Entahlah, apa karena kenakalanku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *