Maaf

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 September 2015

Terlihat sorang gadis muda tengah duduk di kursi taman di bawah pohon yang bisa dikatakan hampir gugur daun-daunnya. Sangat nampak dari air mukanya yang murung, ia sedang bersedih. Ya, gadis itu seperti pohon di atasnya. Sangat rapuh. Tetesan air bening mulai nampak di pipinya tatkala ia sedang memikirkan seseorang. Seseorang yang telah membuatnya sangat rapuh, seperti sekarang ini. Ia mencoba mengingat-ingat kejadiannya.

“kenapa tidak mengatakan semuanya saja hah!!!” umpat gadis itu sambil menatap tajam wanita paruh baya di hadapannya.
“Irene, Ibu minta maaf. Mengertilah.. Ibu hanya mengatakan kebenarannya.” jawab wanita tua itu sembari memegang bahu anaknya lembut.

Ya, wanita paruh baya itu adalah Ibu kandung gadis di hadapannya. Gadis muda itu bernama Irene, anak kandungnya. Sudah 7 tahun ia tak bertemu dengannya. Setelah perceraian yang dialaminya dengan suaminya, Irene memutuskan untuk tinggal bersama dengan Ayahnya, dengan sepihak. Itulah yang membuat wanita paruh baya itu bertanya-tanya namun tak kunjung ditanggapi oleh Irene. Anak kandungnya sendiri.

“Untuk apa menemuiku!!! Bukannya kau sudah bahagia dengan pria lain dan mengkhianati Ayah hah!!” Ucap Irene tanpa melihat raut muka Ibunya.
“lelaki yang mana Irene? Ibu tidak pernah melakukan hal itu, justru Ayahmu,” jawab wanita tua itu meneteskan air mata.
“Ayah? Ayah hah? JANGAN PERNAH MENUDUH Ayahku!!! Bukannya Ibu yang meninggalkan Ayah hah!! Berselingkuh dengan orang itu!! hiks..” bentaknya sembari menangis.
Ia sudah sangat benci sekarang. Benci terhadap Ibu yang telah membuatnya seperti ini. Membuat hidupnya terkesan berantakan bak brandalan.
“apa Ibu ingat, Ibu sendiri yang bilang akan menjaga keluarga kita. Menjagaku dan Adik-adikku. Tapi apa?! Ibu malah pergi dangan laki-laki itu!!” ucap Irene lemah. Ia tak sanggup lagi menahan amarahnya. Dendam ditinggalkan orang yang sangat dihormatinya. Apakah itu salah?

Irene menangis dalam diam. Ia merasa malu akan dirinya sendiri. Ia tak bergeming, tak menyadari Ibunya telah memeluknya. Hangat. Ia merasakan batinnya hangat. Ia sudah dapat mengontrol emosinya sekarang.
“Ibu merasa bersalah Irene, maafkan Ibu, Hiks, Hiks,” ucap wanita paruh baya itu sambil mengusap tengkuk anaknya lembut. Irene tak bergeming.
Tiba-tiba semburat merah merasuki hatinya. Tak disangka, Irene mendorong kasar tubuh kecil Ibunya dari pelukannya. Emosinya memuncak kembali. Ia teringat apa yang dikatakan Ayahnya. bahwa Ibunya sudah meninggalkannya. Sudah mengkhianatinya. Sudah tak bertanggung jawab lagi padanya.

Irene berlari kencang meninggalkan wanita paruh baya yang tersungkur lemah. Irene tak mempedulikan Ibunya terus memanggilnya untuk berhenti. Sampai ia di jalan raya. Pikirannya kacau, ia melihat ke belakang, Ibunya sudah dekat mengejarnya. Ia menyeberang tanpa memerhatikan mobil yang berlalu lalang sangat cepat. Sampai tiba-tiba.

Braaakkk!!

Ia tersungkur di pinggir trotoar. Ia masih bisa melihat, sesosok wanita paruh baya yang tersungkur dengan darah yang mengalir di seluruh tubuhnya. Ia pun melihat orang-orang mulai berjalan mendekati sosok tak berdaya itu. Matanya mulai kabur. Ia tak dapat melihat dengan jelas. Tapi ia tak sadar, telah berucap, “Ibuu!!!” kemudian semuanya menjadi gelap.

Irene berdiri sempoyongan, ia memang masih dinyatakan oleh dokter belum sembuh betul, setelah kecelakaan yang menimpanya seminggu lalu. Tepatnya bukan menimpanya. Tetapi menimpa Ibunya. Ia mengetahui dari penyelidikan polisi yang menyatakan ia diselamatkan oleh Ibunya saat sebuah mobil akan menabraknya.

Irene berjalan tak tahu arah. Hanya berandalkan kaki yang entah membawanya ke mana. Rasa sakit yang mendera tubuhnya, pasca kabur dari rumah sakit. Tak sebanding dengan rasa sakit hatinya kini. Ia sungguh menyesal. Begitu menyesal. Bahkan kalau ia bisa membalikkan waktu, ia ingin sekali pergi ke masa lalu dan mengatakan pada Ibunya kalau ia sangat menyayanginya. Irene berjalan terisak, tak peduli orang lain menatap aneh padanya yang masih menggunakan pakaian pasien. Ia hanya ingin Ibunya sekarang. Ingin mengatakan bahwa ia sudah salah sangka. Ia ingin meminta maaf pada Ibunya karena menuduhnya yang tidak-tidak.

“Ibuuu, Hiks.. Hiks” bulir air matanya terus membanjiri pipinya.

Ia sudah tak kuat menopang badannya. Ia terjatuh. Tubuhnya mengenaskan. Ia sudah tak memikirkan apapun. Setelah ia mengetahui Ibunya sudah meninggal hanya untuk menyelamatkan anak yang tidak berguna. Ia juga tak dapat memungkiri, bahwa kenyataannya, Ibunya tidak berselingkuh. Tetapi berobat kepada temannya yang seorang dokter karena penyakit kanker otak yang memungkinkan terus menggerogoti separuh nyawa Ibunya. Irene sangat merasa bersalah, terlebih lagi ia tak mengetahui kalau Ibunya sakit parah. penyesalan yang mungkin akan seumur hidup akan dijalani.

“Ibuuu, Hiks, Hiks,” ia terus bergumam lirih.

Air matanya tak kunjung berhenti. Sampai akhirnya ia sudah tak sanggup lagi. Matanya berkunang-kunang. Ia merasakan hawa dingin. Sungguh dingin. Ia tersungkur. Merasakan semuanya kembali seperti semula. Ia merasa sangat tenang. “Apakah ini yang dinamakan kematian?” Gumamnya membatin.

Matanya mulai terpejam. Seketika suasana sore itu menjadi gelap gulita.

Cerpen Karangan: Resty Indah Yani
Facebook: Indach Ade Widyaismatriayuningsih

Cerpen Maaf merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayah, Aku ini Anakmu

Oleh:
Di pagi hari yang cerah, aku seperti biasa melakukan aktivitas yang mungkin tidak pantas untuk anak seusiaku. Aku Zakri, umurku masih 5 tahun. Setiap hari aku selalu bangun pagi-pagi

Diary Elza

Oleh:
Lembar demi lembar buku diary milik Elza sudah terisi deretan tulisan Elza yang begitu rapi. Entah apa jadinya jika lembar demi lembar itu sudah penuh oleh kata-kata ungkapan dari

Kolecer Jejen

Oleh:
Sudah dua hari anak itu menangis dan bersembunyi dari peradaban. Matanya sudah sayu dan kulitnya seolah mulai menempel dengan tulang. Ya, semenjak matanya mengeluarkan air mata, anak itu menghentikan

Je T’aime (Part 3)

Oleh:
“Dek cepetan ke sini sekarang!! Emergency!!” teriak kak Cello tiba-tiba setelah Chika mengangkat telponnya. Chika menjawab dengan bingung, “Kemana kak? Apa yang emergency?”. “Pokoknya sekarang kamu ke rumah sakit,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Maaf”

  1. ela says:

    Sedih banget….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *