Maaf Adikku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 19 June 2016

Seperti pagi-pagi sebelumnya, tidak ada sapaan pagi darinya, senyumnya yang ceria, dan suaranya yang selalu membangunkan tidurku. Sekitar 3 tahun sudah, semua itu hilang. Dia… takut padaku. Bukan apa dan bagaimana, aku juga tidak tahu kenapa semuanya jadi seperti ini. Aku memang sempat menolak keberadaannya, aku menyesal karena dia hadir di antara keluargaku. Dia… adikku.

Kiki, begitu biasanya dia dipanggil. Sebelumnya dia adalah seorang gadis yang ceria, dia satu-satunya teman terdekat yang aku miliki, bukan karena aku tidak punya teman, tetapi karena dia satu-satunya saudara kandungku dan kami selalu bertukar cerita dalam segala hal. Sudah 3 tahun ini kami tidak pernah bertegur sapa. Ini salahku, aku yang dengan bodohnya sempat membenci keberadaannya di keluarga ini.

Semenjak memasuki bangku SMA, Kiki yang memang senang aktif menjalankan hobinya dalam berorganisasi menjadi semakin aktif dan jarang berada di rumah. Fisiknya tidak sekuat diriku, sedari kecil dia jauh lebih sering sakit ketimbang aku, tapi dia tetap senang menjalani hari-harinya yang sibuk. Berbeda denganku yang terkesan lebih santai dan cuek dengan lingkungan sekitar, dia justru sangat sensitif dengan keadaan dan mudah terbawa perasaan. Ya, begitulah dia, adikku. Kesibukan yang dia jalani kini mulai membuat dia jauh dariku dan semakin dekat dengan segerombolan teman-teman barunya. Aku kesal, iya. Aku iri, iya. Aku egois, tentu saja. Aku tidak ingin dia jauh dariku. Kekesalan ini semakin hari justru malah semakin menjadi-jadi sampai aku pernah mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku membencinya, orang yang sok sibuk dengan fisik lemah, orang yang tidak pernah aku harapkan hadir dalam keluargaku, ya… aku rasa dia tahu itu.

Sudah 3 tahun, kebencianku mulai mereda, aku tahu bahwa aku masih menyayanginya. Egois jika aku hanya menginginkannya ada di dekatku. Dia butuh lingkungan baru. Namun rasa gengsi menyelimutiku, aku tidak bisa memulai percakapan apapun dengannya, selalu ada nada sinis setiap kali aku berbicara padanya.
“Teman-teman Kiki pada nanyain dia tuh, katanya siapa cewek yang tadi itu? Dia kakakmu ya? Cantik sekali ya!”, ucap mama padaku setiap kali Kiki mengundang temannya ke rumahku. “Trus?”, tanyaku dengan nada ketus sambil memutar kedua bola mata. “Dia bangga banget cerita tentang Ella ke teman-temannya, dia bangga punya kakak seperti Ella”, jawab mamaku. Selalu, setiap kali membicarakannya, aku merasa malu pada diriku sendiri dan langsung pergi meninggalkan percakapan.

Dua hari kemarin aku mendapatkan pesan dari mamaku bahwa adikku sedang diopname di rumah sakit karena besok harus menjalani operasi untuk pengangkatan cairan di sendi pergelangan tangannya yang kedua kali. Keesokan harinya mama menyuruhku datang ke rumah sakit untuk menjenguk adikku yang belum sadar setelah operasi, tapi aku menolak dengan mengarang berbagai alasan. Sepanjang operasi aku terus berdoa dan meminta keselamatannya pada Tuhan. Aku berharap operasi kali ini akan suskses. Aku malu untuk datang, aku malu untuk memberi selamat, dan aku merasa malu kalau sampai aku menangis saat melihat keadaannya. Ya, rasa gengsi sudah menggerogoti seluruh akal dan perasaannku.

Minggu siang ini dia sudah kembali berada di rumah, seperti operasi pertamanya, dia terlihat lemas dan sulit menggerakkan tangan kanannya. Pasti akan sulit baginya untuk mulai belajar menulis kembali. Berkali-kali mama menyuruhku untuk menghampirinya di kamar sekedar menanyakan keadaannya, dan lagi-lagi aku merasa malu pada diriku sendiri, aku tidak tega melihat keadaannya, aku tidak sanggup memulai pembicaraan padanya. Bingung harus berbuat apa, aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan berangkat kembali ke kos-kosan ku. Sepanjang perjalanan aku menyalahkan diriku sendiri. Ingin rasanya aku membelai rambutnya dan mengatakan bahwa dia akan pulih segera, semuanya akan baik-baik saja. Aku menyesal, maaf, maafkan aku adikku. Aku terlalu egois untuk ukuran seorang kakak.

Cerpen Karangan: Bella Cintyadevi
Facebook: https://www.facebook.com/bella.cintyadevi
Lahir, besar, dan tinggal di Bali.
Senang menulis sejak dibangku Sekolah Dasar.
Selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam segala hal sampai aku bisa membuktikan bahwa aku bisa.

Cerpen Maaf Adikku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salam Rinduku Untuk Ibu

Oleh:
Malam ini tidak ada yang berbeda. Sunyi sepi. Awan mendung tanpa bulan dan bintang menambah kesepian hati ini. Sejak kecil aku memang hidup dalam kesepian tanpa kedua orangtuaku. Orangtuaku

Maafkan Aza

Oleh:
“Azaaa!!” Seru bunda. Aku menoleh dengan sebal. “Apa-apaan, sih, bunda ini!?” Bentakku. Oh iya, namaku Azara Citra Bunga. Aku sering dipanggil Aza. “Ini, sarapan telur dadar dulu,” kata bunda.

Temani Aku

Oleh:
Girls, sebagai perempuan rada terlalu risih kalau ke mana-mana cerita tentang cinta. Loves exist while breathing. Mungkin iya untuk perempuan hobi hang out, nongkrong, dsb. Artinya sebut saja kisah

Putri Simfoni

Oleh:
Hai… aku bernama Sheila, aku sih anak biasa aja tapi aku suka sekali dengan menyanyi, kalau dulu kata mamaku suaraku bagus sekali, sayangnya entah kenapa orangtua angkatku bilang orangtuaku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *