Maaf Mama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 15 April 2013

“Kalau pulang sekarang pasti gak ada lagi angkot, tapi kalau gak pulang mama pasti marah. Tapi mau naik apa, aduh…” langkah Dita tergangu karena lubang besar di jalannya. Karena terlalu sibuk memikirkan cara untuk pulang dan menghindari amarah dari mama karena terlambat pulang. Sejak awal Dita sudah ragu dengan ajakan teman-temannya, Ria, Rini, Rika dan Alvira. Tapi akhirnya ia kalah dengan bujuk rayu teman-temannya.

Hari ini kembali Dita harus mendengar bujuk dan rayu teman-temannya itu. Setelah kemarin Dita dan teman-temannya mengikuti lomba menggambar di aula sekolah SD Permata Ibu yang jarakya cukup jauh memang dari sekolahnya ternyata Dita berhasil meraih Juara 1 dengan gambar Dita yang bertemakan ‘Kasih Ibu’ dan besok adalah hari penyerahan piala dan hadiahnya.

“Ayolah Dit… Cuma sebentar kok. Janji pun…” bujukkan pertama dari Alvira.

“Gak enak kalau Cuma kita-kita aja Dit. Seru loh… rugi kali kalau gak ikut. Ikut aja ya..” tambah Rika.

Kembali Dita memutar otak untuk menolak ajakan temannya dan segera bergegas pergi menuju kelas. Namun bujuk teman-temannya tak putus sampai disitu. Dikantin giliran Rini yang menghampirinya dan melemparkan bujukan pada DIta.

“Dita, aku diajak Rika lho.. Dita juga ikut ya…” Kata Rini memulai.

“Enggak”

“Kenapa Dit, ikut dong… yah, aku gak jadi ikutlah kalau gitu.” Ancam Rini sambil memasang wajah cemberutnya. Hampir-hampir matanya yang cipit tak terlihat lagi tetutupi pipi gemuknya.

“Yah, jangan dong. Aku benar-benar gak bisa. Aku belum dapat ijin dari mama, lagi pula mama pasti gak akan kasih ijin”

Dita kian bingung harus memilih yang mana pergi bersama Rini, Rika, Alvira dan Ria atau diam di rumah saja karena takut harus bilang apa pada mamanya. Setelah giliran Rini, kini maju giliran Ria yang juga teman satu bangkunya di kelas.

“Dita, kata Rini, Dita gak ikut ya? Kenapa?” Tanya Ria begitu melihat Dita duduk di kelas.

“Aku gak berani bilang sama mama Ri… pasti mama semakin marah sama ku kalau aku bilang tentang ini” wajah Dita berubah merah hampir-hampir menangis.

“Sabar Dita, kenapa rupanya dit?” dengan sabar Ria mendengar cerita Dita dan mengelus punggung Dita.

“Ini masih tentang lomba gambar kemarin. Karena aku lupa memberitahu mama kalau aku ikut lomba kemarin jadi pulang terlambat. Mamah marah dan aku jadi takut” jelas Dita.

“Jadi DIta gak bilang sama mama kalau Dita menang dan hari ini piala diberikan? Kenapa gak dibilng Dita…?” Tanya Ria sedikit terkejut.

“Aku gak berani. Kemarin saja mama sudah marah besar padaku. Aku tahu aku salah, tapi kemarinkan aku sudah bilang sama Kak Irma kalau aku mau ikut lomba” lanjut Dita.

“Jadi kemarin itu, Kak Irma gak ada bilang apa-apa sama mama DIta?”
Belum sempat Dita menjelaskan bel berbunyi tanda masuk kelas. Perbincangan ini pun terputus. Dia sangat ingin datang ke acara itu. Dimana namanya akan dibaca sebagai juara pertama dan naik keatas panggung untuk menerima piala. Tapi itu tidak mungkin, keberaniannya untuk bicara pada mama sudah tidak ada lagi. Bukan hanya karena keterlambatannya saja yang membuat mama marah, tapi juga karena Kak Irma yang juga harus dimarahi mama juga karena itu. Dita semakin bingung harus memilih apa.

Sepulang sekolah Dita pulang sendiri karena tiba-tiba Alvira, Ria, Rini dan Rika tidak bisa pulang bersamanya. Sedikit kecewa, tetapi Dita tidak dapat bicara banyak dan hanya turut.

“Kami mau ngerjakan sesuatu lagi Dit, jadi Dita pulang duluan aja ya, nanti Dita kena marah lagi karena kami.” Kata Ria.

Dita yang sejak pagi memang sudah tidak ada semangat lagi untuk menanggapi apa pun terima saja alasan dari Ria dan pulang lebih dulu.

***

Keesokan harinya di sekolah Dita masih tampak cemberut dan tak semangat. Rika mencoba menyapanya di gerbang sekolah, tapi Dita tidak mendengar dan tidak menghiraukannya. Di kelas Ria juga menyapanya di bangku karena sejak tadi DIta tidak konsentrasi ia jadi terkejut mendengar suara Ria.

“Maaf Dita, aku gak bermaksud mengejutkanmu”

“iya, aku yang salah kok”

“Jadi Dita masih belum bicara sama mama ya”

“belum, aku tak berani bicara”

Sampai bel berbunyi tak ada perbincangan yang terjadi diantara 5 sekawan itu. Semua turut bersedih atas duka Dita. Tak ada yang berani bicara apa lagi mengenai lomba menggambar kemarin. Semua terlarut dalam kesediahan Dita.

Bel pulang sekolah pun berbunyi semua teman sekelas Dita berhamburan menuju gerbang sekolah, namun Dita masih saja Cemberut apa lagi memgingat bahwa ia tak dapat datang untuk melihat namanya di panggil dan menerima piala.

“Dita, kamu di jemput mama kamu ya…” Lamunan dita pecah saat Ria menarik tangan Dita.
“hah… Enggak ah…” bantah Dita.

“Tapi itukan mama Dita sama Kak Irma.”

“Iya, mama… ” teriak Dita.

Entah mengapa Dita rasanya ingin menangis melihat mamanya datang menjemput DIta kesekolah. Tidak seperti biasanya. Terakhir kali Dita dijemput atau diantar mama adalah ketika hari pembagian rapor penaikan kelas 3 bulan lalu.

“Kenapa nangis sayang…” kata mama lembut.

“Dita senang melihat mama, mama gak marah lagikan sama Dita” tangis Dita pecah

“Mama gak marah kok sayang, udah ya… jangan menangis lagi ya. Kata Ria hari ini pemberian hadiah lomba kemarin ‘kan. Masa sang juara naik panggung sambil menangis” sapuan sayang tangan mama dikepala Dita.

“Jadi mama datang karena itu. Mama tahu dari mana? Dita kan belum cerita apa-apa.” Dita terkejut mendengar maksud kedatangan mamanya datang menjemput Dita kesekolah.

Ternyata alasan Ria, Rika, Alvira dan Rini kemarin membuat Dita pulang sendiri adalah untuk menemui Mama Dita dan menjelaskan semua masalah karena Ria dan teman-temannya Dita masalah ini juga terjadi karena kesalahan mereka sehingga mereka memutuskan untuk menemui Mama Dita untuk minta maaf dan menjelaskan masalahnya.

Setelah semua masalah telah selesai, Dita, Mama, Kak Irma dan teman-temannya Dita pun pergi bersama ke SD Permata Ibu. Dan tibalah nama Dita dipanggil sebagai juara pertama lomba gambar. Dita sangat bahagia bukan hanya karena telah datang dan meraih juara 1, tetapi juga karena ia dan mama sudah baikan. Dita belajar hal besar dari hari ini, dalam hati Dita berjanji untuk lebih menyayangi Mama dan akan selalu pamit dan memberi kabar pada Mama apa pun yang sedang dilakukan Dita.

Cerpen Karangan: Hotma Lam Uli Marbun
Blog: http://hotmalamuli.blogspot.com
mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia Universitas Negeri Medan. lahir 31 Juli 1992 di Riau.

Cerpen Maaf Mama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kain Tenun Seribu Warna

Oleh:
Hembus angin bersemilir menyatu bersama derita yang dirundung Hanung sebagai perempuan yang sebentar lagi mungkin berpisah dengan suaminya. Kegundahan semakin menggelora di pelupuk matanya. Bukan karena nususnya terhadap suami,

Salah Sangka

Oleh:
“Bian, temenin gue dong, beli baju… Pliss…”. Ya ampun. Anak ini ya… Nyusahin orang aja kerjanya. Aku mendengus kesal. Mau beli baju buat apa lagi sih? Kan kemaren udah

Harapan

Oleh:
“Eh?” Misa terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Nel. Sungguh saat itu Misa tak pernah menyangka, dan belum bisa memahami apa yang dikatakan Nel. Kalau dipikir-pikir, kondisi Nel memang

Yang Ada Menjadi Tiada

Oleh:
Gadis berambut ikal itu mendekapkan kedua tangannya tepat di depan dada sembari memejamkan kedua matanya. Terdengar kata aamiin dengan lirih dari bibir mungilnya. Tak lama ia membuka kedua matanya

Kue Bolu Buat Dimas

Oleh:
Ketika tuhan memberikan ujian kepada hamba-hambanya secara terus menerus, bukan berarti DIA membenci, tetapi malah sebaliknya tuhan sayang kepada hambanya dan akan mengangkat tinggi derajat kita jika kita berhasil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *