Maaf Untuk Kekasih Yang Harus Kulepaskan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 13 January 2018

Malam indah bertabur bintang. Udara yang sejuk, nyaman, namun masih saja membuat mataku enggan untuk terpejam, padahal jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Ya, inilah malam tersulit yang pernah aku jalani.

Kulihat sekeliling kamarku, hampa. Istriku tidak sedang di sini. Aku terdiam sejenak di ujung tempat tidur, setelah itu bergegas kucari sebuah surat yang kutulis kemarin lusa, namun masih tertahan karena aku masih belum siap. Ya, belum siap akan kehilangan “dia”.

Detak bunyi jam dinding memecah kesunyianku. Sudah sepuluh menit aku termenung. Kutarik ujung bibir, mencibir sinis diriku yang terasa lemah ini. Aku harus siap untuk melepas kekasih yang aku cintai.

Kubuka pintu kamar. Kulihat sanak saudara yang sedang menonton TV, berkumpul, beberapa orang sedang bermain catur dan ada pula yang mencoba bertahan melawan kantuk di kursi sofa tersebut. Maklum, beberapa hari lagi kita akan merayakan hari besar.

Dia, orang yang aku cari rupanya sedang duduk sendiri di tepian kolam di belakang rumah. Dia melihatku. Senyum manisnya menyambut kedatanganku. Sial, aku hanya bisa berbohong akan perasaanku dengan membalas senyumnya. “Rupanya langit cerah sekali ya malam ini, bintang-bintang bercahaya menambah keindahannya”, kataku.

Kumulai sebuah percakapan sambil duduk di sampingnya. Kumasukan kakiku ke dalam air kolam, dingin, sedingin hati dan perasaanku malam ini. “Tentu. Begitupun dengan diriku”, jawabnya. Dia tersenyum sambil mengangkat kepalanya menghadap ke langit. “Jahat!”, fikirku. Spontan dia menghadapkan wajahnya ke hadapanku, tentu dengan senyum manisnya itu. Sial, lagi-lagi aku harus berbohong! “Apa itu?”, tanyanya. “Yang mana?”, jawabku mengelak. “Itu, kertas yang kamu pegang di tangan kananmu”, sambil berusaha untuk merebut. Spontan kujauhkan tanganku dari dia, tentu aku masih belum siap. Dia terdiam. Cukup lama kami terdiam. Aku berusaha untuk mencairkan suasana karena insiden tadi. Kami cukup sensitif karena kami tau bahwa kami tidak akan bersama lagi. Mungkin, secara raga kita masih dapat berjumpa. Namun, kenyataannya dia akan menjadi milik orang lain.

“Ibu sudah berbicara denganku tadi”, katanya, setelah beberapa menit kita berbicara tentang hal yang kita berdua sukai, baik itu jenis makanan ataupun hobi. Kita kembali ke topik sensitif ini. Namun, kita berdua kini mencoba untuk tenang dalam menanggapi argumen masing-masing. “Bagaimana tanggapan ibumu?”, tanyaku. “Dia senang”, jawabnya. “Tentu”, jawabku. “Bagaimana denganmu?”, tanyanya. Dia mencoba memojohkanku dengan pertanyaannya. Dia mengkerutkan dahi pertanda sudah tidak sabar akan jawabanku. “Tentu”, jawabku secara diplomatis. Dia menghembuskan nafas panjang, sambil kembali mengangkat kepalanya melihat langit namun kali ini dengan raut wajah yang datar. “Apakah dia kurang baik?”, tanyanya lagi. “Tentu. Asal kamu tau, dia ternyata orang jahat!”, jawabku. Dia cukup kaget. “Maksudnya?”, dia penasaran. “Ya karena dia seorang pencuri”, jawabku. Dia mengerti maksudku. “Kalau dia jahat, berarti ayah juga jahat karena sudah merebut ibu dari kakek”, katanya. Sial, dia membalas semua perkataanku, tapi aku senang karena sifat itu merupakan turunan dariku. Kita berdua tertawa.

Sesosok wanita tangguh menghampiri kita. Ya, istriku yang selalu mengerti diriku. Dia tau, sekarang aku berada dalam posisi yang sulit. Bagaimanapun, mungkin setiap ayah akan merasa bahwa dirinyalah yang paling bisa, mengerti dan pantas untuk membahagiakan setiap putrinya. Namun, kenyataannya puterinya tersebut memiliki keinginan yang lebih dan itu ditemukan pada laki-laki lain selain ayahnya. “Di sini dingin, apakah kalian membutuhkan teh hangat?”, tanya istriku kepada kita. Aku mengangguk, begitupun dengan putriku.

Dengan sigap istriku pergi ke dapur untuk membuatkan kita teh. Tak berapa lama dia datang lagi. Melambaikan tangan pertanda teh sudah siap. Dia meletakannya di meja. Dia menunjuk ke dalam, pertanda dia harus kembali dan pamit diri. Kita berdua mengerti, malam itu ibu, tante dan dan saudara yang lainnya sangat sibuk untuk mengurus segala perlengkapan pernikahan. Lantas, kita berdua pergi menuju meja tersebut karena memang, malam semakin dingin menyambut akan detik perpisahan kita.

Dia tuangkan teh dari teko ke dalam gelasku. Inilah pelayanan terakhir dia sebagai anak, sebelum dia menjadi istri dan ibu untuk anak-anaknya kelak. Kuceritakan kisah masa lalu, tentang dia yang pernah jatuh dan hampir tenggelam di kolam, tentang dia yang menyukai bunga mawar, tentang kisah cinta monyetnya semasa SMA dan cerita lainnya. Kita tertawa puas. Tertawa akan betapa anehnya masa lalu kita.

Jam sudah menunjukan hampir pukul satu. Aku tau kita harus beristirahat cukup. Apalagi untuk dia, sang aktris utama pertunjukan besok pagi. Waktuku sudah habis, tidak mungkin untuk mengulurnya lagi. Mau tidak mau aku harus siap menerima kenyataan bahwa aku harus melepaskan dia.

“Nak, ayah harus berkata jujur padamu. Kamu kini akan menjadi milik orang lain. Ayah harap, kamu masih mau memberikan sedikit ruang di hatimu untuk masih mencintai ayah dan ibumu. Ayah akan selalu ada di sampingmu jikalau kamu membutuhkan ayah”, ucapku. Dia tersenyum, kulihat matanya berkaca-kaca, dia lantas memelukku erat. Setelah itu kuberikan surat yang sudah kusimpan tadi. Aku lantas pamit, takut akan air mata ini menetes dan kebohongan “ketegaranku” terungkap. Aku beranjak pergi. Dia memanggilku, spontan aku menoleh. Dia berkata “Terimakasih, ayah”. Aku hanya membalas dia dengan senyuman terindahku.

Cerpen Karangan: Rohandi
Facebook: m.facebook.com/ndy.citrasociety
Rohandi Andi, penulis yang menyukai dunia peran (teater) dan lebih mendalami penulisan naskah dan keaktoran. Selain itu pernah mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers yang berada di kampus. Menyukai buku/film yang memiliki alur twist story karena lebih memiliki daya tarik tersendiri dan membuat otak untuk bekerja memprediksi akhir/kesimpulan dari cerita tersebut.
Penulis memiliki motto bahwa: Bekerja produktif merupakan sebuah ke-“eksistensi”-an diri di dunia ini

Cerpen Maaf Untuk Kekasih Yang Harus Kulepaskan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelajaran Untuk Kakak

Oleh:
Ketukan air rintikan hujan yang jatuh dari atap rumah berbunyi layaknya alunan musik yang indah di pagi itu membuat Dika susah untuk bangun dari tidurnya. Lembutnya hawa dingin pun

My Destiny (Part 3)

Oleh:
Esoknya, aku bangun dari tidurku yang panjang. Kulihat jam, jam 6 pagi! Untung aku bangun jam segini, soalnya hari ini aku akan mulai sekolah! Aku langkahkan kakiku keluar kamar.

Selamat Jalan Adikku Tercinta

Oleh:
Malam yang begitu senang, senang dan senang, malam ini aku akan pergi ke rumah nenekku untuk bertemu saudarku Aulia aku pergi bersama kedua kakakku sementara adikku bersama kedua orangtuaku.

Ayahku, Raja Hatiku

Oleh:
Segala deritanya kini telah sirna. Penyakitnya sudah Allah angkat. Ada aura bahagia terpancar dari raut wajahnya. Perjuanganku telah berbuat manis dengan cara-Nya. Kini Ayah sembuh, Ayah sehat. — Mari

Maafkan Aku, Ayah

Oleh:
Dunia ini begitu keras bagi perempuan lemah sepertiku. Kerasnya dunia sudah aku cicipi, seperti halnya “PACARAN.” Ya, aku mengenal pacaran tepat pada usia 15 tahun mungkin orang bilang itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *