Maafkan Aku Bu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 October 2017

Aku terbiasa mendapati ibuku yang selalu duduk di sofa ruang tengah, ia duduk dan menyalakan televisi walaupun ia tak bisa melihat jelas ke televisi karena kedua matanya mengidap penyakit katarak sedangkan mata sebelah kirinya sudah dioperasi tapi masih tak bisa melihat dengan jelas, hanya bisa melihat sedikit keindahan dunia

“Keysha tolong belikan es krim!” Teriak ibuku, aku pun segera menghampiri ibuku
“Bu, ibu itu sakit diabetes sama ginjal! ibu gak boleh makan es krim.. apalagi sekarang ibu sedang batuk” ucapku, ibu sama sekali tak mendengar ucapanku ia masih tetap menginginkan eskrim
“gak mau tau belikan sekarang!” Pekik ibuku
“dasar orangtua keras kepala” ucapku sedikit kasar kepada ibuku
“kamu itu anak durhaka! berbicara tak sopan kepada ibumu!” teriak ibuku, tapi aku tak mendengar ucapanya aku terus berlalu membelikannya es krim

Tak berapa lama kemudian aku sudah membelikannya es krim, seketika itu senyum ibuku merekah terlihatlah sedikit keriput di pipinya karena ibuku sudah hampir berkepala lima

Aku merasa bosan di rumah, sore ini aku ingin bermain ke rumah temanku, tak terlalu jauh tapi aku suka bermain
“Bu aku pergi main dulu” ucapku
“iya” jawab ibuku, aku pun berlalu meninggalkan ibuku sendirian di rumahnya

Sebenarnya aku bukan anak tunggal, aku anak keenam dari enam bersaudara. Ketiga kakakku bekerja di pabrik kerupuk milik keluargaku, masih di sekitaran kampungku ini. Sedangkan kedua kakakku berada di luar kota untuk bekerja.

Aku bermain, tertawa hingga hari sudah senja, aku pun segera berlari karena sudah terdengar azan maghrib
“Assalamu’alaikum” ucapku seraya membuka pintu rumah
“Bagus ya anak perempuan pulang maghrib! sekalian aja gak usah pulang” Pekik ayahku dengan nada yang sedikit tinggi
Aku hanya terdiam dan menututup nutupkan semua gorden rumah, ibuku juga ikut mengomeliku
“Harusnya main itu tahu waktu! berangkat ashar pulang maghrib” ibuku terus saja menasahatiku
‘Berisikk!’ batinku, aku hanya menutup kedua telingaku karena aku tak suka dinasehati

Pagi hari pukul 06.40
Temanku sudah sedari tadi menungguku keluar rumah agar bisa berangkat bersamaku ke sekolah, karena aku menggunakan sepeda motor.
Aku pun berpamitan kepada ibuku, aku mencium tangannya lalu pergi
Cuaca pagi ini mendung karena semalam sudah turun hujan, aku sempat ingin memutar balikan motorku karena lewat jalan sini sangatlah becek

“Coba aja kalo tadi lewat jalan sebelah pasti gak bakalan becek gini!” ucapku sedikit geram karena melihat jalan yang sangat becek, temanku tak merespon ucapanku ia sedari tadi hanya diam

Di depan motorku ada sebuah lelaki yang sudah tua menjalankan motornya, sungguh lamban. Aku mencoba menyusulnya, tapi hasilnya aku malah terjatuh dari motorku, temanku juga ikut terjatuh tapi ia tidak apa apa. Sedangkan kakiku tertindih oleh motorku yang lumayan besar karena tubuhku kecil
“Aww sakit!” ringisku, lelaki tua tadi melihatku jatuh ia pun segera menolongku

Cukup lama lelaki tua itu turun dari motornya karena harus memarkirkan motornya terlebih dahulu
Motorku pun diangkat olehnya, tapi aku tak bisa bangun karena benar benar merasakan sakit yang sangat hebat di kaki. Aku lalu digendong oleh lelaki itu dan diantar pulang, sedangkan temanku tak apa apa, ia memutuskan berangkat sekolah

Sesampainya di rumah, aku duduk di kursi dengan jalan yang tergopoh gopoh karena kaki kananku sangat sakit.
“Sakit buu..” teriakku bersama tangis
“iya sebentar kita suruh ayah untuk cari tukang urut dulu” ucap Ibuku

Tak berapa lama kemudian ada seorang tukang urut kampungku, sangat sakit, aku menjerit jerit saat kakiku di urut olehnya
Setelah diurut, aku lalu tidur di kamarku. Setiap hari aku menangis karena kakiku malah semakin membengkak bukannya menjadi sembuh, ibuku duduk di salah satu sudut kamarku

“Sakitt buuu!!” ucapku sambil menangis di hadapan ibuku, ibuku yang tak tega melihatku hanya diam dan ikut menangis
“di mana bagian sakitnya?” tanya ibuku
“aku terkilir di pergelangan kakiku” ucapku
“kita telepon tukang urut dari kampung sebelah ya” ucap ibuku
“aku takut bu.. ini sakit sekali” ucapku
“kau sudah 5 hari tak sekolah, kau sudah kelas 3 SMP bahkan tiga bulan lagi kau akan menghadapi ujian” ucap ibuku, aku terdiam saat mendengar ucapannya
“baiklah bu.. aku ingin diurut olehnya” ucapku

Hanya butuh waktu penyembuhan 2 hari setelah diurut, kakiku kembali seperti semula. Walaupun masih sedikit sakit tapi setidaknya sudah tak bengkak lagi. Aku sudah bisa berjalan walaupun terpincang pincang.

Tak terasa sudah sebulan setelah kejadian aku jatuh dari motor, keadaan kakiku sudah benar benar membaik. Tapi sekarang keadaan ibuku yang semakin parah, ia sering batuk hingga muntah di setiap harinya
Pernah di suatu pagi di hari minggu aku sedang sarapan pagi, ibu berkata “Keysha.. bikinin ibu Piscok yah (Piscok adalah es krim yang terbuat dari Pisang yang dibalut Cokelat diluarnya, dan didinginkan di lemari es)” ucap ibuku
“iya bu nanti siang” ucapku

Hingga siang hari ibuku menunggu aku membuatkan Piscok untuknya
“Keysha udah jadi piscoknya?” tanya ibuku saat baru terbangun dari tidur siangnya
“belum bu, aku masih cari cokelatnya” ucapku
“Minta saja pada Bibi Sinta” ucap ibuku, aku hanya menggangguk dan pergi ke rumah Bibi Sinta yang tak terlalu jauh dari rumahku

“Bi.. punya cokelat gak?” ucapku saat mendapati bibi Sinta ada di dapur
“Cokelatnya ada.. tapi gulanya habis belum beli” ucap Bibi
“Kalo beli di mana bi?” tanyaku
“di toko depan sana juga ada” ucap Bibi, aku segera melaporkannya kepada ibuku

“Beli saja gulanya!” ucap Ibuku, aku lalu pergi menggunakan motorku ke Toko, ibuku tetap ingin Piscok padahal saat itu sedang gerimis

Sepulangnya dari toko, aku langsung mengolah semuanya hingga menjadi Piscok, tapi setelah menjadi Piscok, ibuku tak memakannya karena cuaca sedang turun hujan

Di tengah malam ibuku batuk dengan kencang, sehingga membangunkan Aku, Kakakku, dan Ayah.
“Makk!! kenapa badanku jadi begini.. huaa” Teriak ibuku setengah tak sadar, ia menangis karena setiap hari sakit sakitan.
“istighfar buu” ucap Kakakku, aku hanya terdiam tak bisa berbicara apapun saat melihat ibuku

Keesokan harinya keadaan ibuku semakin parah, akhirnya Ayahku memaksa ibu untuk pergi ke rumah sakit. Awalnya aku tidak diperbolehan pergi oleh kakakku, jadi aku tidak ikut. Tapi setelah adzan isya di malam hari, aku ditelepon Kakakku untuk pergi ke rumah sakit, aku pun pergi ke rumah sakit bersama Pamanku.

Aku memasuki ruangan ibuku, keadaan ibuku sangat memprihatinkan. Ada selang oksigen untuk membantunya bernafas aku sungguh tak tega melihatnya. Air mataku mengalir begitu saja, tapi hatiku berkata Aku harus kuat dan yakin bahwa ibuku akan sembuh

Semenjak aku datang dari Rumah Sakit, ibuku masih belum sadarkan diri, tapi ia masih bisa mendengar ucapanku dan sesekali mengangguk mendengar ucapanku.

Aku menjaga ibuku hingga pukul 00.00 Dini hari, setelah itu giliran kakak dan ayahku yang menjaga ibuku.

Keesokan harinya, keadaan ibuku semakin parah ia tak bisa mendengar orang yang berbicara padanya, ia tak bisa menggerakan tubuhnya. Dan ini sudah dipastikan ia koma.

Kedua kakakku datang dari luar kota, mereka langsung membuka ruangan dimana ibu dirawat
“Buu.. ibuu.. ibu kenapa? ibuuu!!” Teriak kakakku, Air matanya meluncur dengan hebat. Mereka berdua menangis padahal mereka adalah anak laki laki
“Bu.. ini hasan bu! ibu bangun!” Ucap kakakku yang bernama hasan, ia membisikkan ke telinga ibu
“Bu.. kemarin saat aku pulang ibu sudah hampir sembuh, tapi sekarang ibu kenapa?” Teriak Kakakku yang disebelahnya

Ibuku masih tak sadarkan diri, ia koma. Dokter mengatakan kepada kami bahwa ibu menderita Diabetes, Ginjal, dan sekarang paru parunya diisi cairan, yang seharusnya cairan itu menjadi urine tapi sekarang malah menyebar di tubuh ibu

“Bagaimana untuk penanganannya dok?” Tanya Kakakku
“Kita harus menunggu ibumu sadar dahulu, lalu kita akan lakukan cuci darah” ucap Dokter, tapi kami hampir putus asa. Kami semua menangis melihat kondisi ibu, lalu ayah menyuruhku untuk membacakan Surah Yasin. Aku pun membacakan Surah Yasin sudah 2x balikan, tapi ibu masih belum sadar.

Cerpen Karangan: Lisdi Diana
Facebook: Lisdi
Saya Lisdiana, ini adalah kisah nyata saya. Terima kasih karena telah menyisikan waktu anda untuk membaca Cerpen saya, jangan lupa Add Facebook saya “Lisdi”

Cerpen Maafkan Aku Bu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menjebak Pencuri Mangga

Oleh:
Entah ide apa yang ada akan dilakukan Roni. Saat ini, ia sangat kesal dengan ulah pencuri mangga. Meskipun sudah diberi pagar berduri, pencuri masih tetap nekat “membersihkan” pohon mangga

Hujan Dalam Gelap

Oleh:
Rintik air menari di jemariku. Aku memandang langit berwarna kelabu sambil terus memainkan jari-jariku di tetesan hujan yang turun tanpa henti. Gelap, gelap! Ku katakan langit kelabu, ketika raja

Particle and Iced Tears (Part 1)

Oleh:
Di mana Reyonale punya kesusahan untuk mengerti, mengapa Amarie membenci Suffron yang telah berbuat baik padanya. Dan Amarie yang kebingungan dan iri hati kepada Suffron, serta Suffron yang… Mencoba

Mutiara dan Sampah

Oleh:
Sampah dan mutiara, apakah perbedaan dari keduanya? Sungguh berbedakah? Bagaimana bila ada mutiara yang tanpa sengaja terjatuh pada tumpukan sampah apakah manusia akan melihatnya? Pasti mutiaranya terlihat, sungguh munafik

Lossing You

Oleh:
“Baiklah, jika tidak ada sanggahan maupun pendapat maka rapat kali ini saya tutup dengan bacaan hamdallah”, “Alhamdulillah”. Akhirnya rapat terakhirku bersama kalian semua, membahas tentang pelantikan pengurus OSIS periode

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Maafkan Aku Bu”

  1. Muhammad Bahrul Ulum says:

    Ceritanya bagus tapi di endingnya menggantung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *