Maafkan Aku Bunda


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 23 August 2013

Aku berada di sebuah taman hijau yang indah dipenuhi dengan bunga-bunga merah yang bermekaran, di tengahnya ada kolam air bundar yang penuh dengan susu coklat yang sangat menggiurkan, di samping kolam itu ku temukan pantai dengan air yang biru, aku berlari menuju pantai dan masuk ke dalam airnya, “begitu sejuknya air ini” ucapku. Tapi aku berenang terlalu jauh dan aku mulai lelah, tiba-tiba tanganku tak lagi bisa ku gerakkan begitu juga dengan kakiku. Aku kehilangan kemampuanku untuk berenang. Perlahan tubuhku masuk ke dalam air yang begitu dalam aku berusaha minta tolong tapi tak seorangpun yang ada di sekitarku. Aku bingung, aku melonjak-lonjakan kakiku berusaha berenang tapi aku tak bisa. Aku mulai kehabisan napas, mulut dan hidungku penuh dengan air. “Tuhan bantu aku” aku berdoa dalam hati.
Tiba-tiba…
Byuuurrr. Seember air menyiram mukaku…
“Liat jam tuh, mau libur kamu sekolahnya hari ini, kalau masalah bangunin kamu kalau gak kayak gini gak akan berguna” ucap Bundaku marah.
“Iya bun, bentar lagii!” jawabku.
“Liat jam tuh, mau dihukum sama Pak Joe lagi”
Dengan mata yang masih ngantuk aku menatap jam di dinding kamarku.
“HAH, udah jam delapan?”
Aku bergegas menuju kamar mandi. Dengan sabarnya Bundaku menyiapkan buku dan seragam sekolahku.
Selesai mandi aku segera bersiap, tanpa mencium tangan bundaku aku berangkat menuju sekolah.
“Jangan lupa makan Naa, uang jajan kamu udah bunda tambah buat kamu makan di sekolah!” ucap Bundaku dari jauh.
“Iyaa bun” Jawabku.

Sesampainya di sekolah, guru ekonomi yang paling tidak pengertian menurutku sudah berada di dalam ruangan. Dengan sedikit omelan aku diperbolehkan untuk mengikuti pelajaranku hari ini.
“Anak-anak sekarang kumpulkan buku kalian” ucapnya.
Aku membuka tas ranselku dan mencari buku Pr Ekonomi ku, tak ku temukan buku itu dimanapun. “Pasti bunda lupa sama buku Pr-ku, ini nih susahnya punya Bunda gak sekolah” gumamku marah. Aku kesal karena Bundaku lupa dengan Pr yang sudah susah-susah aku kerjakan. Aku minta izin keluar dan segera menelpon bundaku.
“Iyaa Naa, ada apa?” Jawab Bundaku di ujung telpon.
“Bunda lupa sama Pr Naa yaa, bunda gak tahu sih tadi malam Naa begadang buat ngerjain Pr itu, kalau sekarang gak dikasihin sama Bu Guru, Naa gak dapat nilai trus gak naik kelas kalau sampai Naa gak naik kelas itu gara-gara Bunda ya, kalau tau bakalan kayak gini mending Naa gak masuk aja dari tadi, atau sekalian Pr-nya gak Naa kerjaiin, Bunda sengaja ya mau bikin Naa gak naik kelas biar kita sama, Naa gak mau sama kaya Bunda. Naa mau pintar gak mau bodoh kayak Bunda, aku gak mau punya anak tanpa ayah sama kayak bunda”
“Naa, bunda minta maa…”
Tuuuttt… tuuuttt… Aku menutup telponnya setelah puas melimpahkan kekesalanku dengan Bundaku. Aku tak peduli bagaimana dengan keadaan bundaku di rumah.

Hari itu aku tidak masuk kelas lagi, aku bolos dengan beberapa temanku. Kami pergi ke pantai dekat dengan sekolahku. Kami di pantai sampai sore, malam ini aku juga tidak pulang ke rumah aku menginap di rumah temanku. HPku ku matikan agar tak ada gangguan dari siapapun.

Esoknya aku pulang ke rumahku dengan perasaan puas karena telah melampiaskan kekesalanku kepada bundaku. Sesampainya aku di rumah aku berharap bundaku akan meminta maaf kepadaku.
Namun apa yang aku dapatkan sangat berbeda sekali dengan apa yang aku harapkan. Entah mengapa banyak orang yang berada di rumahku. Aku bingung namun aku tetap masuk ke rumahku. Pandangan semua orang menuju kepadaku, ada apa gerangan pikirku.
“dari mana saja kamu!” Tanya pamanku padaku.
“Suka-suka aku dong, kaki aku ini, ngapain kalian di rumahku, pulang sana!” jawabku marah.
“KAMUUU!” jawab pamanku lagi sambil mengepalkan tangaannya.
“Yandi, sudah! dia masih anak-anak” sebuah suara lirih menyehut dari dalam kamar Bundaku. Aku menjulurkan lidahku memperolok pamanku.

Aku masuk ke kamar bundaku, aku berharap bundaku akan meminta maaf karena telah membuatku ketinggalan Pr-ku. Namun tak ku temui bundaku di kamar itu yang ada hanya Nenek-ku dan beliau menyerahkan sebuah surat padaku.
“Ibumu pergi Naa, sebaiknya kamu baca surat darinya” ucap nenekku sambil membelai lembut rambutku.

Dear anakku yang ku sayangi..
Maaf Naa, bunda gak bisa jadi bunda yang baik buat kamu. bunda juga minta maaf gara-gara bunda Pr Naa telat dikumpulnya.. bunda sudah antar Pr Naa ke sekolah, bunda juga sudah ngomong sama Guru Ekonomi Naa, dan dia mau nerima Pr Naa. Bunda nyesaalll banget Naa, gara-gara bunda juga Naa jadi dimarahin sama bu Guru coba Bunda bangunin Naa lebih pagi..? masalah Naa gak punya ayah itu gak bener Naa, ini Bunda pergi ke Semarang buat jemput ayah Naa. Nanti bunda kenalin sama ayah kalau Naa sudah gede. Mungkin Naa bisa mengerti kenapa bunda gak pernah ngasih tau Naa tentang ayah Naa. Bunda sudah nitipin Naa sama nenek, makanan buat seminggu ke depan juga sudah bunda siapin. Baik-baik sama nenek yaa Naa! Bunda sayaaanggg Naa..
Ciuman sayang dari bundamu ..:*

“Emang ayah Naa kenapa nek koq bunda gak pernah ngasih tau Naa” tanyaku perlahan pada nenekku.
“Ayah Naa sakit makanya dirawat di rumah sakit” jawab nenekku.
“Trus kok di rumah rame nek, mau nyambut kepulangan ayah yaa..”
“Nanti Naa juga tau” jawab nenekku singkat.
Malam ini aku tak bisa tidur nyenyak aku mengingat bundaku. Aku tidur ditemani nenekku.
“Naa, Naa sayang gak sama bundanya?” Tanya nenekku.
“Gak nek soalnya bunda gak pernah ngasih tau Naa siapa ayah Naa, Naa kan malu diejek sama teman-teman” jawabku.
“Naa mau nenek ceritain gak tentang ayah Naa?”
“Mau nek..” jawabku mantaapp.
“Ayah Naa itu seorang pelaut makanya ayah Naa jarang pulang, ayah Naa mengemudikan sebuah kapal besar. Ayah Naa sering keluar negeri”
“Artinya ayah pernah ke Eropa dong Nek” sahutku dengan penuh kekaguman.
“Iya Naa, ayah Naa juga sudah keliling Dunia, ayah Naa lelaki yang sangat hebat”
“Trus kenapa ayah gak pernah nengok Naa nek”
“Mungkin Naa udah lupa ayah Naa sering gendong Naa waktu Naa kecil”
“Trus kenapa ayah sekarang gak pernah nemuin Naa lagi nek?”
“Naa, semua hal gak selalu berjalan baik, suatu hari kapal ayah Naa dihantam badai besar dan ayah Naa menghilang ditelan lautan, sampai kemarin ada yang nelpon Bunda Naa katanya ayah Naa ditemukan di daerah Semarang, ayah Naa hilang ingatan sehingga harus dijemput, Bunda Naa langsung pergi jemput ayah Naa kesana,”
“trus kenapa di rumah ada tahlilan nek?”
“Untuk itu Naa harus sabaaarr ya sayang”

Aku berlari menuju nisan Bundaku. Aku menangis sejadi-jadinya di depan nisan itu berkali-kali ku ciumi benda putih itu tanpa bisa berkata apa-apa. Kata-kata nenekku malam masih membekas di hatiku. Nenekku juga menitipkan sebuah buku harian Bundaku kepadaku. “Bundamu kecelakaan sepulangnya dari mengantarkan Pr mu ke sekolah Naa, karena bundamu harus lekas ke bandara untuk pergi menyempatkan pesawat yang dipesannya, karena tergesa-gesa mobil bundamu menabrak tiang listrik, sehingga menyebabkan pendarahan yang sangat hebat di kepalanya”
“kenapa gak nunggu Naa nek?” jawabku terisak.
“Naa ditunggu beberapa jam gak datang, dihubungin gak aktif, trus ke sekolah gak masuk sedangkan darah yang mengalir di kepala bundamu gak berhenti makanya kami dari pihak keluarga memutuskan untuk memakamkannya segera, maafkan nenek Naa”
Cerita itu masih membekas di kepalaku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan malam itu.
“Ini Naa nenek menemukan diary ini di lemari bundamu”
Aku buka lembar diary itu satu persatu dan aku menemukan jawaban semua pertanyaanku.

Aku kecewa kenapa anakku sendiri harus begitu marahnya padaku. Aku gak memberitahu siapa ayahnya karena aku takut dia malu karena ayahnya seorang yang terkena gangguan jiwa. Aku takut dia malu, biarlah aku yang menanguung sakit hati ini asalkan dia bisa tersenyum sepanjang hari, itu sudah cukup mengobati sakit hatiku…

Hari ini aku bersikap tegas terhadap Naa, bukan karena aku tak sayang padanya tapi aku ingin dia lebih dewasa dalam menjalani hidupnyya, aku ingin dia lebih teratur lagi…

Cukuplah aku yang kecewa karena tak mendapatkan apa yang aku inginkan asalkan Naa mendapatkan semuanya.

Ku peluk buku kecil itu namun itu tak bisa menggantikan Bundaku yang teramat hebat. 17 tahun aku membenci Bundaku, namun seumur hidupku harus ku relakan untuk menyesali kebencianku kepadanya. Yaa, aku sangat menyesali apa yang telah aku lakukan dulu sampai saat ini dan itu karena aku kehilangannya.

Cerpen Karangan: Alfisah Rina
Facebook: Vhi Green Telmii

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Keluarga Cerpen Penyesalan Cerpen Sedih

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One Response to “Maafkan Aku Bunda”

  1. lije says:

    nice!! fighting ya selanjutnya

Leave a Reply