Maafkan Aku, Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 14 December 2015

Kehidupan ini memang tidak akan seutuhnya sempurna, begitu pula dengan sifat seseorang ada yang berhati malaikat dan berhati setan. Dan di sini aku adalah seseorang yang berhati setan.
“Rik, Na kalian jadi kan mampir ke rumah aku?” tanyaku.
“jadi dong Za.” jawab Rika dan Nana bersamaan.

Sampai di depan rumah.
“Wow.. Indah sekali rumahmu Za.” puji Nana.
“gak kok Na, biasa aja.”
“kenapa kamu gak pernah cerita?” Tanya Rika.
Aku hanya diam membisu mendengar pertanyaan Rika.
“hmm, masuk yuk.” kataku mempersilakan kedua sahabatku masuk ke rumah.

Kembali lagi mereka terkagum-kagum dengan rumahku. Ya memang rumahku terbilang cukup besar dan megah.
“Za, aku boleh lihat-lihat rumahmu nggak?”
“ya tentu.”
Saat mereka sedang berkeliling melihat rumahku tiba-tiba mereka melihat seorang wanita dengan wajah menyeramkan.
“Na-na-nana s-s-s-siapa i-i-itu se-seperti mo-mo-mon?”
“Monkey.”
“Bu-bukan ta-ta-tapi Mon-mon-monsterrrrrr.”

Rika langsung menoleh ke belangkang..
“Monsterrrr.”
“Iza, kitaaaa pamittt.”
Rika dan Nana pun langsung pamit pulang.

“hmm, benar dugaanku mereka pasti akan ketakutan. Hufft.. semua gara-gara tua Bangka itu.”
“sayang, di mana temanmu? Ini sudah Ibu buatkan minum.”
“dasar tua Bangka.. mereka pergi gara-gara lihat muka monster lo.”
“iza maafin Ibu, Ibu gak bermaksud membuat teman-temanmu pergi.”
“Tuhan itu gak adil, kenapa sih aku dikasih Ibu dengan wajah monster. Kenapa gak wajah bidadari.. aku benci Ibu, dasar Ibu pembawa sial!!!”
Aku langsung pergi meninggalkan Ibu.. Sungguh aku benci Ibu. Ibu selalu merusak kebahagiaanku. “ah lebih baik aku ke rumah Bibi saja.” kataku dalam hati.

Sampai di rumah Bibi.
“assalamualaikum bi.”
“walaikumsalam.. eh Iza, sini masuk nak.”
Aku pun masuk ke rumah Bibi dengan wajah tanpa dosa. Aku benar-benar tak memikirkan perasaan Ibu di rumah.
“tumben main Za.”
“ya bi, kangen sama Bibi.”
“mau minum apa Za?” Tanya Bibi.
“air putih aja deh bi.”
“ya udah Bibi ambilin dulu ya.”

Saat Bibi sedang mengambil minum, aku dibuat kagum oleh sebuah foto. Foto dua orang gadis sedang memegang boneka panda pink. Gadis sebelah kiri terlihat tidak asing di mataku, wajahnya manis matanya memancarkan cahaya yang menyejukkan hati. “ah dia seperti bidadari.” kataku dalam hati.
“yang kanan Bibi, yang kiri?”
“hahaha Iza kamu lucu.”
“loh lucu kenapa bi?”
“Itu kan Ibumu.”

“hah Ibu! Kok cantik bi?”
“ya Za, dulu Ibumu memang cantik. Tapi karena kejadian 13 tahun lalu.”
Tiba-tiba air mata Bibi menetes. Karena penasaran aku mencoba bertanya.
“Bi, apa yang terjadi 13 tahun yang lalu?”

“dulu waktu kamu masih bayi, terjadi insiden di rumahmu. Gas di rumahmu meledak dan terjadi kebakaran. Karena panik baby sitter yang mengasuhmu langsung ke luar tanpa membawamu. Ibumu yang sedang di kantor mendapat kabar tersebut langsung pulang dan nekad menerobos api demi menyelamatkanmu. Kamu selamat nak, Ibumu bahagia sekali tapi sayang wajah cantiknya terkena luka bakar permanen.”

“Dan yang paling Bibi kagumkan adalah Ibumu tidak melaporkan baby sitter yang ceroboh itu ke polisi. Ibumu hanya memecatnya dan memberi uang pesangon. Dan Ayahmu, Ayahmu malah meninggalkan Ibumu hanya karena luka bakar di wajah Ibumu itu. Tapi Ibumu tetap sabar mengahadapi semuanya. Sungguh Ibumu berhati malaikat nak. Kamu beruntung punya seorang Ibu yang cantik hatinya.”

Tak terasa air mataku menetes, aku pun langsung pamit pulang pada Bibi.
“bi, Iza pulang dulu ya.”
Di sepanjang jalan aku terus menyalahkan diriku sendiri. Kenapa aku sejahat ini.

Sampai di rumah.
“Ibu, Ibuuuu.” panggilku.
Ibu yang sedang mencuci piring langsung berlari menghampiriku.
“Ibu, kenapa gak cerita sama Iza?”
“Ibu kenapa membiarkan Iza jadi anak durhaka.”

“gak nak, Ibu gak bermaksud seperti itu.. Ibu yakin suatu hari nanti kamu pasti akan mengerti.”
“ya bu, kini Iza paham, kini Iza mengerti.. bu maafin Iza udah sering nyakitin hati Ibu. Bu, Iza sayang Ibu.”
“ya nak, Ibu juga.”
“terima kasih udah nyelametin Iza bu, maaf udah jadi anak yang kurang ajar. Iza sayang Ibu, Iza nyesel udah ngatain Ibu sebagai Ibu pembawa sial. Ibu itu luar biasa.. maafkan aku bu!!”

Cerpen Karangan: Icha Agustin

Cerpen Maafkan Aku, Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ternyata Ibu Peduli

Oleh:
Namaku wilania. Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Umurku kini 15 tahun. Aku tinggal dengan keluarga yang berkecukupan. Ayahku bernama Jaenal, beliau berumur 49 tahun. Ayahku sudah dua

Melawan Rasa Takut

Oleh:
“Fara lihat ini, kak Ame punya gambar bagus lho…” kata kak Ame.” Iya, gambar ini akan keluar dan makan fara,” tambah kak Tata seraya memperlihatkan gambar itu. Aku pun

Membagi Cinta

Oleh:
Jika Aku bisa memilih, Aku lebih baik dicintai daripada harus mencintai. Maafkan Aku.. Pagi itu ibu memintaku untuk mengantarnya ke pasar, baru kali ini Dia memintaku untuk mengantarnya. Biasanya

Senandung Aulia

Oleh:
Mungkin melihat setetes embun pagi adalah hal yang biasa bagi kalian, tetapi, hal itu adalah impian bagiku. Coba kau tebak, mengapa aku memimpikan hal itu? Ya, aku anak tuna

Ingat Alas Lupa Kaki

Oleh:
“Koran. koran..” Suara Jale yang tiap hari lantang terdengar di sepanjang jalan perempatan yang penuh dengan kendaraan berlalu lalang. Tentu saja bukan karena keinginannya Jale seperti itu, namun apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *