Maafkan Aku Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 26 April 2016

Namaku Lucy. Aku tinggal bersama ibu dan kedua adik kembarku. Ayahku bekerja di luar kota sehingga ia hanya kembali sebulan sekali. Sehari-hari aku dan ibuku merawat kebun sayuran yang ada di belakang rumah. Dan hasilnya kita jual. Hari ini tidak seperti biasanya. Ayahku pulang. Ia membawa berbagai macam hadiah untukku dan juga adik-adikku. Kami senang sekali apalagi kami sangat rindu dengan ayah. Kemudian aku mengajak adikku bermain. Malam sudah tiba. Ku lihat kedua adikku tidur nyenyak karena seharian bermain. Sedangkan aku masih terjaga padahal malam sudah hampir larut. Tiba-tiba aku mendengar keributan. Aku penasaran dan ke luar dari kamarku. Ternyata ibu dan ayahku bertengkar.

“Apa ini balasanmu padaku hah? Dasar wanita tidak di untung jika bukan karena aku kau dan anak hinamu itu sudah mati kelaparan!” bentak ayah.

Aku hanya bisa menangis mendengar itu semua. Kemudian terdengar suara duukk!! Seperti sesuatu yang menghantam dinding. Aku cepat-cepat menuju kamar ibu dan ayah. Betapa terkejutnya aku melihat ayahku yang terkulai lemas dengan kepala yang penuh darah. Ku lihat juga ibu menangis di atas ranjang. Aku tak habis pikir mengapa ibu tega melakukan ini. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter mengatakan ayahku telah meninggal. Polisi kemudian datang. Mereka lalu membawaku dan ibuku untuk dilakukan pemeriksaan. Kedua adikku syok. Mereka menjalani perawatan oleh psikolog yang telah disediakan oleh pihak kepolisian. Ku ceritakan semuanya pada polisi yang ada di hadapanku sambil terus menangis. Ibuku berada di ruangan terpisah sehingga aku tak tahu apa yang terjadi padanya.

Tak lama aku berada di kantor polisi. Aku pun pulang tapi bukan ke rumahku karena di sana masih dilakukan penyelidikan. Sehingga aku dibawa oleh Bu Mirna polwan yang bertugas menjagaku dan adik-adikku ke rumahnya. Kami tinggal di sana selama proses penyelidikan berlangsung. Bu Mirna sangat baik padaku dan adik-adikku. Mungkin karena beliau tinggal sendiri sehingga kehadiran kami membuatnya tak kesepian lagi. Hampir seminggu aku tidak mendengar kabar dari ibu. Tiba-tiba polisi datang. Tapi tidak datang sendiri melainkan bersama ibuku. Ibuku lalu menghampiriku dan kedua adikku. Tapi aku menolak dipeluk olehnya.

Sungguh hati ini sebenarnya rindu tapi entah mengapa dengan melihat wajahnya aku pun teringat kembali akan kejadian itu. Ibuku bisa bebas karena setelah dilakukan pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa ibuku mengalami gangguan jiwa. Kasus ditutup. Kami pun kembali ke rumah kami. Masih teringat jelas di pikiranku akan kejadian itu. Ini sungguh berat bagiku terlebih untuk kedua adikku. Kasihan mereka. Psikis mereka terganggu karena perempuan ini. Aku tak tahu tiba-tiba aku sangat membenci ibuku. Apalagi setelah kejadian itu kehidupan kami berubah drastis. Dari yang serba berkecukupan sekarang menjadi serba kekurangan. “Ini semua gara-gara Ibu kalau saja Ibu tak melakukan itu pasti kehidupan kami tidak akan seperti ini.”

Teringat kembali akan kejadian itu. Air mataku kembali menetes. Emosiku memuncak. Aku tak dapat menahannya lagi. Sungguh ini terlalu besar. Lalu ku ambil sebilah pisau kemudian aku masuk ke kamar ibuku. Ku tusukkan pisau itu ke tubuh ibuku yang sedang tertidur pulas. Di penghujung ajalnya ia berkata kepadaku bahwa ini tak seperti apa yang aku pikirkan. Aku tak menghiraukannya. Ku ***** lehernya hingga putus. Aku lega dan puas. Tapi setelah itu muncul perasaan bersalah di benakku. Aku tak tahu apa yang telah aku lakukan. Aku tak tahu lagi apakah aku masih waras atau tidak. Dan kejadian 4 bulan yang lalu itu terulang lagi dan sekarang aku yang akan disalahkan.

Polisi datang dan mereka membawaku. Ku lihat adik kembarku menangis histeris melihat mayat ibu yang berada di dalam kantong jenazah. Sirine mobil polisi pun memecah keheningan malam itu. Polisi mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Ku jawab semuanya dengan jujur. Tak ada satu pun yang aku tutup-tutupi. Besok adalah hari dimana aku melakukan pemeriksaan kejiwaan. Aku berharap semoga nasibku sama seperti ibu kala itu. Bebas karena dianggap sakit jiwa. Lima hari sudah aku mendekam dalam jeruji sel. Belum juga hasil labku datang. Keesokan harinya apa yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Tapi hasilnya mengecewakan. Hasil labku menyatakan bahwa aku tidak mengalami stres atau depresi. Ya memang aku akui aku melakukannya dengan kesadaran penuh. Bahkan bisa dibilang sangat sadar.

Bertahun-tahun kemudian. Akhirnya aku bisa menghirup udara bebas. Sudah lelah aku menghabiskan waktu dalam sangkar besi itu. Hmm untungnya hukuman yang aku jalani tidak seberat yang aku pikirkan. Aku berencana untuk kembali ke rumah itu sebelum menemui adik-adikku. Ya sejak kejadian itu rumah itu kosong tak ada satu pun yang berani menempatinya. Aku sudah sampai. Rumah ini masih sama seperti saat terakhir kali aku melihatnya. Ku susuri setiap ruangan tanpa terkecuali kamar ibu. Tak ada yang berubah dari ruangan ini termasuk ranjang di mana ia menghembuskan napas terakhirnya.

Aku masih bisa merasakan kalau ibu ada di sini. Sungguh aku menyesal telah melakukan itu. Tak terasa air mataku menetes. Bagaimanapun juga dia adalah ibuku tak seharusnya aku melakukan itu. Dasar anak durhaka!! Aku mengumpat pada diriku sendiri. Tiba-tiba buuk!! Seperti suara benda jatuh. Ternyata sebuah diary. Diary siapa ini? Saat ku buka halaman pertama sebuah foto jatuh dari dalam diary. Ini kan ibu? Ini siapa? Aku berpikir keras pada laki-laki yang merangkul ibu. yang jelas itu bukan foto ayahku. Di belakang foto itu tertulis “My Love”. Apa ini yang menjadi penyebab pertengkaran ayah dan ibu 10 tahun silam? Lalu ku buka halaman selanjutnya.

5 Januari 1975
“Aku bertemu dengan seorang pria. Ia pria yang baik dan bertanggung jawab. Ia membuat hidupku yang kelam menjadi lebih berwarna. Aku bahagia sekali. Ya aku rasa aku jatuh cinta padanya.”

23 Maret 1977
“Akhirnya dia menjadi milikku sepenuhnya. Aku sungguh sangat bahagia. Bagiku ia adalah pengganti kedua orangtuaku. Aku sangat mencintainya dan dia juga mencintaiku. Aku berjanji untuk sehidup semati dengannya. Apa pun yang terjadi.”

23 Maret 1978
“Sudah satu tahun aku hidup dengan laki-laki pilihanku. Sungguh di luar perkiraanku ia amat sangat perhatian terhadapku. Terlebih saat ini di perutku ada buah cinta kita. Ia amat senang mendengarnya. Begitu pun juga aku. Bagiku janin ini adalah hadiah dari Tuhan yang diberikan padaku setelah dia.”

15 Juli 1978
“Aku kehilangan orang yang paling aku cintai di saat aku mengandung buah cintanya. Aku tak tahu lagi harus ke mana. Aku bingung. Ingin rasanya aku menyusulnya tapi bagaimana dengan nasib janin yang ada di perutku ini. Ya Tuhan berikanlah aku kekuatan.”

7 Oktober 1978
“Aku terpaksa menikahi sahabat suamiku sendiri. Karena hanya ialah satu-satunya orang yang dapat ku percaya. Aku ingin menolak pinangannya tapi demi kelangsungan hidupku dan janin yang ada di perutku aku rela mengorbankan perasaanku. Sungguh aku sama sekali tak mencintainya meskipun ia sudah berapa kali menyatakan perasaannya padaku.”

5 Desember 1978
“Malaikatku telah lahir. Penguat hidupku yang membuatku bertahan. Aku akan menjaganya bahkan akan ku lakukan apa pun agar ia bisa hidup bahagia walau hatiku sakit karena harus hidup dengan lelaki yang tidak aku cintai.”

13 Agustus 1980
“Aku tak percaya ia tega melakukan ini padaku. Ia tega membunuh sahabatnya sendiri demi memilikiku. Sungguh dia manusia paling biad*b yang pernah aku kenal. Kalau saja bukan karena Lucy sudah ku bunuh dia saat ini juga. Aku sungguh sangat terpukul. Jadi selama dua tahun aku hidup dengan orang yang telah membunuh pria yang paling aku cintai. Dan dia berakting seolah tidak terjadi apa-apa. Sungguh bajing*n. Tak akan pernah ku maafkan.”

17 Mei 1982
“Aku sudah tidak tahan akan sikapnya. Aku ingin mati saja. Baginya aku hanyalah budaknya. Ia memperlakukanku seenaknya. Sudah berapa pukulan yang mendarat di pipiku. Sudah berapa tendangan yang ia berikan padaku. Sudah tak terhitung jumlahnya. Aku tak berdaya. Aku ingin menyerah tapi bagaimana dengan nasib anakku. Aku harus bertahan demi anakku. Hanya dia harta yang aku punya.”

8 Januari 1984
“Tuhan memberikan aku malaikat lagi. Dan kali ini dua sekaligus. Aku senang sekali. Kini aku memiliki tiga malaikat yang akan mengobati lukaku. Luka yang amat dalam di hatiku. Hanya mereka pelipur laraku. Hanya mereka penyemangatku untuk hidup.”

20 November 1993
“Kali ini aku benar-benar muak dengannya. Ingin ku bunuh dia. Sungguh kali ini ia sangat keterlaluan. Ia memintaku untuk merestui pernikahannya dengan janda kaya dari desa seberang. Sungguh aku tak tahu lagi apakah aku masih bisa bertahan dengan pria ini. Dan semalam aku tak sengaja mendorongnya setelah kami bertengkar hebat. Ia mengalami pendarahan di kepalanya. Nyawanya tak dapat tertolong lagi. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan aku bingung. Di samping itu anakku Lucy sepertinya marah karena aku sudah menyebabkan Ayah palsunya meninggal. Sungguh ini adalah sakit yang paling sakit di antara luka yang pernah aku rasakan selama aku hidup. Anakku membenci Ibunya sendiri. Sungguh duniaku rasanya hancur. Aku tak bisa menerima kenyataan itu. Kalau saja ia tahu aku amat menyayanginya melebihi apa pun. Aku rela menukarkan nyawaku untuknya. Akan ku lakukan apa pun untuknya. Ibu sangat menyayangimu Lucy. Sangat menyayangimu.”

Diary itu pun berakhir dan begitu juga hidupku. Hidupku rasanya hancur. Tak ada lagi yang dapat ku harapkan. Aku akan menebus kesalahanku pada ibuku. “Aku juga sangat menyayangimu Bu. Tenanglah sebentar lagi aku menyusulmu dan kita bisa hidup bersama selamanya.”

Cerpen Karangan: Nungki Dianita
Facebook: Dianita Nungki

Cerpen Maafkan Aku Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kau Selalu di Hatiku

Oleh:
“Masih ku ingat indah senyummu. Yang selalu membuatku mengenangmu. Terbawa aku dalam sedihku Tak sadar kini kau tak di sisi.” Keadaan rumah masih seperti kemarin dan 3 hari berturut-turut

Penyesalan di Penghujung Senja

Oleh:
Namaku Yuni, saat ini usiaku 17 tahun, aku seorang mahasiswa di kampus X. Kehidupanku nyaris sempurna, aku punya keluarga yang bahagia dan teman-teman yang baik. Semuanya berubah sejak aku

Merangkai Mimpi

Oleh:
Alunan piano terdengar merdu di tengah rumah, nada demi nada di alunkan lembut agar suaranya teralunkan dengan indah, senyuman lembut dan manis menemani piano itu bersuara, jari cantik dan

Anakmu Memang Sudah Durhaka

Oleh:
“An, tolong ambilkan HP ibu di atas meja depan!” teriak ibu dari dalam dapur. “Iya buk” jawab Andi dari ruang keluarga. Andi pun segera beranjak dari duduknya untuk melaksankan

Adikku Tersayang

Oleh:
Rika, adalah adik perempuanku. Usianya masih menginjak 5 tahun. Ia sangat menyukai sebuah cokelat dan gemar mewarnai. Di suatu hari saat pulang sekolah, Rika sangat membuatku kesal sehingga aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *