Maafkan Aku Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 December 2016

“Bu, lihat Sifa dapat juara 1 lagi di kelas!” kata Sifa sambil menyodorkan rapor di tangannya. Sifa memang seorang anak SD yang pandai, sudah 3 tahun dia selalu mendapat peringkat 1, meskipun dia dilahirkan dari keluarga tidak mampu tapi dia selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik, apalagi sejak ayahnya meninggal dunia, dia hanya tinggal bersama ibunya.
“Alhamdulillah, Ibu bangga punya anak seperti kamu, kamu anak yang baik dan juga pintar, semoga kelak kamu bisa merubah hidup kita ya nak?” kata Ibu Ani sambil memeluk Sifa yang tanpa disadari air matanya menetes.
“Ibu kenapa menangis, maaf ya bu kalau Sifa buat Ibu sedih, Bu, Sifa janji kalau Sifa sudah besar Sifa akan jadi anak yang berbakti sama Ibu” kata Sifa mengusap air mata Ibu Ani.
“Sifa, kalau Ayah kamu masih hidup mungkin dia akan sangat senang melihat kamu seperti sekarang ini, tapi..!”
“Ibu, Ayah sudah tenang di alam sana, jangan membuat Ayah sedih lagi?” jawab Sifa memotong pembicaraan Ibu.
“Iya nak, sekarang kamu mau hadiah apa dari Ibu nak?” Tanya Bu Ani.
“Sifa nggak mau apa apa Bu, Sifa hanya mau Ibu bahagia.”
“Terimakasih nak?”

7 tahun kemudian
“Bu! Minta uang buat beli kado dan juga buat beli baju baru aku.”
“Nak, Ibu nggak punya uang, kemarin kan kamu sudah beli sepatu dan tas baru?” kata Ibu Ani.
“Itu kan sepatu sama tas, sekarang baju Bu! Baju aku udah jelek semua, aku malu sama teman teman, sekarang ini aku udah SMA apalagi aku sekolah di sekolahan elit, itu juga karena aku dapat beasiswa, jadi aku berhak donk bu, mendapatkan apa yang aku mau.” kata Sifa.
“Ini nak, Ibu Cuma punya uang 20.000, tapi ini buat kita makan nanti” kata Ibu Ani memelas.
“20.000 Bu, buat beli baju bekas aja nggak cukup, kapan sih Ibu punya uang, setiap kali Sifa minta uang selalu saja Ibu bilang nggak punya, kapan Ibu bisa nurutin kemauan Sifa, kapan Bu!” Bentak Sifa. Ibu Ani hanya bisa diam sambil meneteskan air mata. Sifa lalu melihat cincin yang dipakai Ibu Ani.
“Aku mau cincin Ibu!” kata Ani ingin merebut cincin yang dipakai Ibu Ani.
“Jangan nak, ini peninggalan dari Ayah kamu, ini satu satunya benda yang Ibu punya nak.”
“Alah, Sifa nggak mau tau, pokoknya Sifa harus bisa dapetin semua yang Sifa mau!”
“Jangan nak, jangan!”. Setelah saling berebut, akhirnya Sifa bisa merebut cincin Ibu Ani, Ibu ani sempat terjatuh ketika mempertahankan cincin peninggalan suaminya itu. Tapi Sifa malah meninggalkan Ibu Ani yang sedang terbujur di lantai.

“Hai guys, lihat baju baru aku, ini bokap gue yang beli dari prancis lo, gimana bagus nggak?” pamer Sifa saat sampai di rumah Dina.
“Wah, beneran bagus banget, kapan kapan aku boleh donk dibeliin dari Prancis?” pinta Dina yang saat itu sudah berdandan layaknya berbie.
“Tentu donk, semua pasti gue beliin” jawab Sifa.
“Oke, btw rumah kamu tuh dimana sih, kita kok nggak pernah tau rumah kamu?” kata Risa
“Iya, kita nggak pernah tuh kamu ajakin ke rumah?”
“ehmm, soalnya nyokap gue orangnya galak, gue nggak berani ajak kalian semua, takutnya ntar kamu semua diusir lagi!” jawab Sifa agak gugup.
“Oh, ya udah ayo guys sekarang kita berpesta!” seru Dina.

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00
“Sifa, kamu kemana nak jam segini belum pulang?” batin Ibu Ani cemas.
“Tok tok” Terdengar suara pintu diketuk.
“Ani, kamu kemana aja nak, jam segini baru pulang?” kata Ibu Ani memeluk Sifa.
“Pesta di rumah teman!”
“Pesta sampai larut malam begini?”
“Iya, sudah lah aku ngantuk mau tidur.” jawab Sifa menuju kamar. Ibu Ani hanya menghela nafas kemudian hendak mengikuti Sifa menuju tempat tidur.

Keesokan harinya
“Nak bangun, Ibu sudah buatkan nasi goreng kesukaan kamu” kata Ibu Ani membangunkan Sifa.
“Apa sih buk, Sifa masih ngantuk!” bentak Sifa.
“Sudah siang nak, ayo bangun!”
“Iya iya Sifa bangun!”
“Ini nasi gorengnya, sudah Ibu bawakan” kata Ibu Ani yang sudah membawakan nasi goreng di depan kamar Sifa.
“ya!” jawab Sifa langsung makan nasi goreng itu.”
“Nak, cincin Ibu kemarin kamu bawa kemana?” Tanya Ibu Ani.
“Sudah Sifa jual!” kata Sifa acuh
“Lalu uangnya dimana?”
“Sudah habis, Sifa beliin baju.”
“Apa, nak itu buat bayar hutang kita, sekarang kita mau bayar pakai apa?”
“Terserah Ibuk donk, itu bukan urusan Sifa” kata Sifa kemudian pergi meninggalkan Ibu Ani yang sedang menangis.

“Sifa, besuk bukannya ulang tahun kamu ya?” kata Reni saat Disekolah.
“Oh iya, aku sampai lupa.”
“berarti ulang tahun kamu nggak dirayain donk.”
“ya dirayain lah, malah kata bokap dirayain di hotel berbintang!”
“Oh, kamu nggak ngundang kita?”
“ehmm, sory ya guys bukannya gue nggak mau ngundang kalian, tapi kata bokap yang diundang Cuma kerabat gue aja, maaf ya?”
“yaelah, kok gitu, ngak papa deh tapi nanti bawain jajan ya, hehe”
“iya deh!”

“Bu, aku minta duit buat jajanin teman teman”
“Ibu nggak ada duit nak”
“Bu, tadi di sekolah Sifa diledekin teman teman, besuk Sifa itu ulang tahun dan semua teman Sifa nanya kenapa nggak dirayain, Sifa malu Bu, malu!”
“tapi Ibu beneran nak, nggak ada uang sepeserpun!”
“selalu itu itu aja yang ada di pikiran ibuk, usaha donk buk, cari uang.”
“Ibu sudah mencari uang nak.”
“cari uang, jualan kue Ibu bilang cari uang, itu masih belum cukup buk, Sifa nyesel jadi orang miskin kayak ibuk.” bentak Sifa.
“Ya Allah, ampunilah segala kelakuan Sifa terhadap hambamu ini, tabahkanlah hamba menjalani cobaan ini, dan berikan Hidayah kepada SIifa anak hamba ya Allah.” do’a Ibu Ani dalam hati.
“Nak, Ibu mau ke pasar kamu jaga rumah ya?” kata Ibu Ani kemudian, tapi Sifa tidak merespon perkataan bu Ani, Ibu Ani kemudian langsung pergi.

Tinnnnn, Brukkkk
“Apa benar ini Rumahnya Ibu Ani?” Tanya seorang polisi yang mendatangi rumah Sifa.
“Iya benar, memang ada apa ya pak?” Tanya Sifa.
“Ibu anda mengalami keclakaan saat hendak pulang dari pasar.” kata Polisi yang membuat jantung Sifa berdetak kencang.
“Apa pak, lalu Ibu sekarang dimana?” Tanya Sifa cemas.
“Ada di rumah sakit Bayangkara.” Setelah mebndengar itu, sifa langsung berlari menuju rumah sakit. Setelah sampai di rmah sakit Sifa langsung melihat Ibunya yang sedang ditangani oleh dokter.
“Dok, gimana keadaan ibu saya?” tanya Sifa.
“Ibu anda mengalami gagar otak, mungkin…” Kata Dokter tidak meneruskan pembicaraan
Sifa langsung masuk ke ruang UGD dimana Ibunya sedang terbaring dengan muka pucat dan banyak darah di sekujur tubuhnya. Sifa kemudian terduduk di lantai, dia merasa tulang tulangnya sudah tidak berfungsi lagi, dia lemas kemudian pingsan.

“Ibu!” teriak Sifa yang sudah terbangun dari pingsannya.
“Kamu sudah sadar nak?” kata seseorang yang masuk dari sebuah pintu.
Sifa baru menyadari kalau ternyata ini bukan rumahnya, tapi ini adalah rumah sakit, dan yang baru saja masuk itu adalah dokter yang merawat Ibunnya.
“Dokter, Sifa kenapa disini?” Tanya Sifa heran.
“kamu pingsan tadi” jawab Dokter itu.
“Ibu dimana dok, ibu dimana?” Tanya sifa teringat ibunya.
“Ayo, ikut Dokter?” Lalu Sifa mengikuti Dokter itu menuju kamar rawat pasien. Entah kenapa perasaan Sifa saat itu sangat mencemaskan Ibunya. Sifa melihat seseorang sudah ditutup kain penutup jenazah sedang berbaring di tempat dimana Ibunya berbaring sebelum kemudian dia pingsan.
“Dok, itu siapa? Bukannya ini kamar Ibuk saya?” Tanya Sifa mengharap penjelasan.
“Coba kamu buka kain penutup ini?” Kata suster yang tiba tiba ekspresi mukannya menjadi sedih. Sifa kemudian membuka pelan pelan kain itu, dan betapa terkejutnya ternyata itu adalah Ibunya.
“Ibu, jangan tinggalin Sifa bu, Ibu!” teriak Sifa.
“Tenang Sifa, kamu harus sabar!” kata Suster menenangkan.
“Ini hanya mimpi kan sus, ini mimpi buruk, iya kan!” kata Sifa nggak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Sifa saat kamu pingsan Ibu kamu sempat kritis, lalu dia bangun sesaat untuk menitipkan ini ke kamu!” kata suster menyodorkan bingkisan seperti kado.
“Ini apa sus?”
“Itu pemberian Ibu kamu sebelum menghebuskan nafas terakhirnya, dia juga berpesan agar kamu bisa menjaga diri baik baik!” kata suster dengan nada sedih.
“Ibu! maafin Sifa bu!”.

Setelah jenazah Ibu Sifa dimakamkan, Sifa langsung tertunduk di makam Ibunya, dia tidak mau pulang, dia terus saja menyesali perbuataanya dan dia juga menyesal belum sempat minta maaf kepada Ibunnya. Setelah dibujuk oleh suster yang ternyata teman Ibunnya sendiri, dia akhirnya mau pulang. Saat tiba di rumah, ada seorang mengantar nasi kuning duduk di kursi depan.
“Ada apa ya pak?” Tanya bu Evi.
“Ini saya antarkan nasi kuning buat mbak Sifa dari Ibunya. Kata Ibunya anak kesayangannya lagi ulang tahun.”
“Ibu!” Batin Sifa dan langsung mengambil nasi kuning itu, lalu dia membuka kado pemberian Ibunnya tadi, betapa terkejutnya Sifa melihat kado yang ada di tangannya itu berisi sepatu yang selalu diidam-idamkan Sifa saat masuk SMP dan belum mampu membelinya sampai sekarang, dibawahnya juga ada beberapa foto kusam dan sebuah surat. Sifa membuka Surat itu pelan pelan.

Buat anakku tersayang
Selamat ulang tahun anakku.
Nak, semoga kamu suka dengan hadiah ibu, dan semoga kamu juga suka dengan nasi kuning pesanan ibu, ibu menyiapkan semua ini untuk kamu, Ibu mencari tambahan uang seperti yang kamu minta dulu, Ibu bekerja sampingan sebagai pembantu dan juga buruh cuci, untuk bisa membelikanmu hadiah ini.
Nak, satu pertanyaan kamu dulu yang belum sempat Ibu jawab “Siapa orang yang mendonorkan ginjalnya untuk kamu waktu kamu sakit saat kecil dulu.” itu Ibu, maaf jika Ibu menyembunyikan ini, Ibu tidak mau kamu cemas. Ibu jadi teringat janji kamu dulu sewaktu masih SD, tapi Ibu sudah cukup bahagia dengan adanya kamu di samping Ibu, maaf ya nak Ibu belum sempat jadi Ibu yang baik buat kamu, tapi Ibu mohon sama kamu, tolong tetap bersyukur dengan apa yang kita miliki. Itu saja pesan Ibu nak jangan sekali kali meninggalkan sholat 5 waktu, dan terus do’a kan ibu ya nak. Ibu sayang Sifa.

“Ibu! Maafkan aku, aku belum sempat menjadi anak yang berbakti sama Ibu, aku selalu menyusahkan Ibu, aku menyesal Bu” kata Sifa lirih dan terus meneteskan air mata.

Pesan moral: Ibu adalah seorang yang sudah merawat kita, melahirkan kita, dan rela berkorban demi kita, maka jangan sekali kali kamu mengecewakan Ibu kamu, bahagiakan dia sebelum terlambat, jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari.

Cerpen Karangan: Novita Layla
Facebook: Novitha Layla

Cerpen Maafkan Aku Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Untuk Tuhan

Oleh:
Ku awali kehidupanku yang baru, sekarang statusku bukan single lagi tapi seorang istri. Dengan suka cita aku awali kehidupanku yang baru ini dengan suamiku walau dia bukan seumuran denganku.

Indahnya Kebersamaan

Oleh:
Saat itu, hari pertama berkemah di sebuah desa yang bernama desa Dangdeur, pagi harinya murid murid melakukan upacara pembukaan perkemahan di Desa tersebut, lalu sesudah upacara semua bersiap untuk

Bahagia Hidup Pesantren

Oleh:
(Bel Berbunyi) Pagi menjelang subuh aku telah dibangunkan oleh suara bel yang sangat keras. Bergegas aku menuju kamar mandi untuk cuci muka dan wudhu, setelah itu aku dan kawan-kawanku

Kunang Kunang Kenangan

Oleh:
Mentari pamit ke rembulan, meminta agar kini rembulanlah yang bertugas menerangi jagat kehidupan. Mungkin rembulan masih mengantuk, atau bahkan malu sehingga malam ini ia sembunyi di balik awan yang

Maafkan Aku, Ibu

Oleh:
Kehidupan ini memang tidak akan seutuhnya sempurna, begitu pula dengan sifat seseorang ada yang berhati malaikat dan berhati setan. Dan di sini aku adalah seseorang yang berhati setan. “Rik,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *