Malaikat Malaikatku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 June 2013

Malam ini sangat sunyi. Jangkrik sekalipun tak terdengar kali ini. Bulan tak lagi menyinari.
Aku bingung melihat semuanya. Terbaring di rumah sakit, aku tak mampu melakukan apa-apa. Hanya dapat melihat ke jendela. Dengan tatapan hampa.
“Maura! Kamu enggak apa-apa?” Suara itulah suara yang kurindukan juga. Aku melihat seorang gadis memancarkan aura. Aura yang membuatku lebih tenang dan gembira.
“Enggak apa-apa, Aqeela,” Aku berusaha menenangkannya. Aqeela menebar pandangan ke seluruh kamarku. Kamarku terasa kosong.
“Ke mana orangtuamu?” tanya Aqeela lagi. “Kerja,” jawabku singkat. Mereka bekerja tiap hari. Aku tak memberitahu mereka bahwa aku sakit parah dan di rawat di sini. Aku bayar dengan uangku sendiri.
“Toh mereka tak mau pedulikan aku lagi…”
“Ra, dimana-mana orangtua peduli sama anaknya,” ujar Aqeela. “Tapi mereka lain…” ucapku. “Sudahlah, biar kutelepon mereka,” seru Aqeela. Dia meraih HPnya dan menelepon Mama dan Papa.

“Mereka berada dalam perjalanan ke sini…” jelas sahabatku itu. “Qeela, makasih ya. Selama ini enggak ada orang yang lebih peduli sama aku daripada kamu…” kataku. “Dan orangtuamu,” ujar Aqeela lagi, “Dimana-mana orangtua selalu peduli… Ingat itu, Maura.”
Aku mengangguk. Buktinya mereka berada dalam perjalanan ke sini.

Krieet.. Pintu dibuka. Mama dan Papa masuk.
“Maura!” seru mereka. Aku memeluk mereka erat. Aqeela tersenyum senang.
Tiba-tiba saja…
“Ah!” jeritku. Aku merasa sangat sakit. Hepatitis yang sangat parah ini… memang membuatku selalu terganggu.
Aku merasa hidupku akan segera berakir.
“Terima kasih malaikat-malaikatku,” ucapku perlahan. Seketika mataku tertutup.

Cerpen Karangan: Nada Azka
Facebook: Nada Azka

Cerpen Malaikat Malaikatku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Impian Si Ayah Penjahit

Oleh:
Digelarkanlah sehelai kain gerusan yang berwarna kuning tua di atas meja dan diukur dengan menggunakan meteran pakaian. Seorang laki-laki tua tampak sedang menghitung dan mengukur kain gerusan untuk dibentuk

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Pagi pagi sekali, Cindy sudah bangun dari tidurnya. Ia siap siap ke sekolah. Berganti baju,dan segalanya. Sampai di sekolah,… “Hai Ndy.” kata kata itu terdengar oleh telinga Cindy. “Hai

Mutiara dan Bunga (Part 1)

Oleh:
Namaku Hamidah. Aku tinggal di sebuah desa kecil di Kabupatan Banjarnegara. Aku terlahir dengan ketidakmampuanku berbicara. Mendiang nenekku, orang yang paling menyayangi dan menerimaku, pernah bilang padaku kalau aku

Mama Memang Kejam

Oleh:
Hay, namaku adinda taniadewi.. aku punya kembaran yang bernama aninda taniadewi, dia sangat baik denganku.. tapi mama lebih menyayangi dia, mama selalu memuji mujinya.. sedangkan aku tidak! aku seperti

Kepergian Seorang Sahabat

Oleh:
Drap… drap, suara kakiku berlari menaiki tangga menuju kamarku. Ku teteskan air mataku. “aku nggak mau pergi, nggak mau!. Aku nggak akan mungkin pernah bisa melupakan semua yang pernah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *