Malam Penghabisan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 February 2015

Aku dilahirkan dari keluarga sederhana. Keluarga yang ku rasa sama seperti keluarga lain. Kami saling menyayangi. Mengasihi. Dan selalu bersyukur atas apa yang tuhan berikan. Namun semuanya berubah. Hampir tiga tahun ini. Keuargaku berantakan. Hidupku kini semu adanya. Ayahku yang sering marah tanpa sebab. Menjadi tonggak utama runtuhnya keluargaku. Ibuku yang seharusnya bisa menjadi tempat bernaung kini hanya kenangan. Beliau meninggalkanku dua tahun lalu. Saat aku duduk di bangku kelas 2 SMP. Kakakku? ia yang jadi pengganti sandaran hidupku. Kini tak pernah ku dengar kabarnya. Dua bulan ini. Hidupku rasanya makin hancur. Kemelut hidupku rasanya tak pernah berakhir. Aku semakin dibuat koyak oleh cobaan ini. Apakah tuhan memang tak menyayangiku? hingga aku harus merasakan pedih yang amat sangat di usiaku yang masih sangat muda ini.

Pernah aku berfikir untuk mengakhiri hidupku. Tapi aku masih teringat pesan ibuku. Saat beliau masih berada dalam dunia yang sama denganku. Beliau berpesan agar aku tak mudah putus asa. Ingatlah bahwa Allah senantiasa bersama denganku. Menjagaku dan melindungiku. Dan ingatlah bahwa Allah tak akan memberi cobaan lebih dari kemampuan hambanya. Pesan itu masih selalu aku ingat. Bahkan selalu ku simpan di lubuk hatiku yang palang dalam. Hingga aku tak mampu melupakan pesan itu. Namun. Apakah ketabahanku ini akan berujung ya Allah? Apakah nantinya aku temukan kebahagiaan yang utuh? bersama dengan ayah dan kakakku? apakah mungkin aku sanggup bertahan hingga kebahagiaan itu tiba? Terkadang pertanyaan dan jeritan hatiku itu selalu terngiang dalam benakku.

Kini, aku hanya berjalan sendu. Dengan berjuta harapku yang mungkin tak akan bisa ku genggam. Membisu di antara pekat dan kelamnya malam. Menagis dalam kesunyian dunia yang ku rasa. Aku tak tau lagi kemana harus ku langkahkan kaki ini. Sejenak aku terhenti. Tepat di seberang jalan itu. Aku kini berjalan lagi. Menyeberangi ruas jalan itu. Dan Aku kembali kalut dalam lamunan dan keluhanku. Aku terlalu lelah dengan hidupku yang terus dihimpit sebuah penderitaan yang tiada habisnya. Aku hanya bisa berdoa kepada-Nya. Aku hanya mampu berserah dengan semua keaddan yang ada. Sampai nanti maut mungkin menjemputku. Membawaku kembali dalam dekapan–Nya. Dan bertemu kembali dengan sosok yang terus ku rindui.

Tiba-tiba, dari seberang jalan. Ku lihat sebuah mobil sedan melaju dengan kecepatan tinggi. Aku yang masih berada dalam himpitan jalan itu hanya terdiam. Membeku. Tak beranjak.
Dan, malam itu butiran doa ku terjawab. Aku menghilang dalam pekat malam. Mobil sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi itu menabrakku. Seketika. Jeritan demi jeritan histeris terus terngiang. Aku terseret jauh dari tempat ku berdiri. Kepalaku membentur pagar dinding yang ada di ruas jalan itu. Berulang kali juga aku terpental. Darah membanjiri setiap ruas jalan itu. Sedangkan mobil sedan yang menabrakku. Terseret jauh dan terguling. Setelah itu. Semua menghitam. Pendengaran ku kini hilang. Nafasku mulai terhenti. Dan penglihatanku pun kini gelap. Yang aku rasa kini hanya kegelapan dan kesendirian. Tak lama. Tubuhku rasanya melayang menembus awan.

Di ujung sana. Ku lihat sosok yang aku rindu. Ia seolah memanggilku. Mengajakku ke tempat dimana tak ada lagi penderitaan dan kesakitan. Aku mulai menggapainya. Namun. Aku terhenti. Aku melihat sosok ayah serta kakakku. Mereka memanggilku. Mengajakku kembali. Aku bimbang. Apakah aku harus kembali. Atau. Tetap berjalan dan menggapai sosok ibuku. Namun aku memilih untuk menggapai orang yang aku rindu. Aku menggenggamnya. Dan pergi bersamanya.

Malam itu. Berdarah. namun. Dengan ini. Semua penantian gadis cantik itu berakhir. Ia meninggal di tempat. Dengan kondisi yang sangat kacau. Tubuhnya yang berantakan. Dengan darah yang terus mengalir dari setiap bagian tubuhnya. Dan ini. Jadi sakit terakhir untuk gadis itu. Gadis yang dulu selalu tersenyum dalam lukanya. Gadis yang dulu selalu tabah dengan setiap cobaannya. Kini telah hilang dan kembali dalam pelukan sang Khaliq.

Sedangkan di tempat itu. Dua orang kini meratap dalam tangisnya. Ya, mereka ayah dan kakak gadis itu. Tangisnya benar-benar pecah. Mereka menyesali setiap perbuatan yang mereka lakukan. Dulu. Namun kini hanya penyesalan yang tersisa. Gadis itu telah menghembuskan nafas terakhirnya. Ia kini bahagia. Dan ia tak akan lagi mememukan kesendirian dan kepedihan itu. Yang dulu jadi beban hati dan sukmanya. Hanya saja. Kenangannya tak pernah hilang. Namanya akan tetap ada. Dalam hati orang-orang yang menyayanginya.

Cerpen Karangan: Ismatul Laila
Facebook: Izma Laila

Cerpen Malam Penghabisan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kerikil Kerikil Tajam

Oleh:
Dunia facebook yang sering kita kenal sebagai jejaring sosial, memang dunia maya yang banyak menyatukan kenangan-kenangan masa lampau, atau ajang untuk bertemu sahabat sahabat lama, meski kadang setelah saya

Telepon Terakhir

Oleh:
Sudah tiga tahun ini Sabrina tidak berjumpa dengan sahabat masa kecilnya. Ia adalah Sienna, wanita berusia 21 tahun yang memilih melanjutkan pendidikannya di Australia. Sabrina sudah lama tidak berjumpa

Mama, Lihatlah Aku Di Sini

Oleh:
Tanggal 19 Desember 2013. Hari ini pun sama dengan hari kemarin. Aku yang seorang anak tunggal Ayah dan Mama. Ayahku bekerja sebagai pekerja kantoran, sedang Mamaku adalah seorang editor

Surat Untuk Kakak

Oleh:
25 Januari, jam 00.00 Asa masih terjaga di depan meja belajar dengan sebuah pulpen di tangannya dan sebuah kertas di hadapannya. Asa sedang menulis surat untuk seseorang yang sangat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *