Mama, Lihatlah Aku Di Sini

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 15 August 2015

Tanggal 19 Desember 2013. Hari ini pun sama dengan hari kemarin. Aku yang seorang anak tunggal Ayah dan Mama. Ayahku bekerja sebagai pekerja kantoran, sedang Mamaku adalah seorang editor komik, mereka selalu pulang larut malam, jadi setiap hari aku selalu merasa kesepian. Yang menemaniku setiap hari hanyalah Mbok Siti.

Hari ini, aku berangkat ke sekolah diantar oleh Ayah. Sampai di sekolah, aku langsung menaruh tas dan duduk manis di bangku ku sambil membaca buku.

Ting, Tong.

Bel masuk kelas telah berbunyi. Sekarang, jam pelajaran matematika akan segera dimulai. Namun, sebelum pelajaran pertama dimulai, Ibu Guru memberi tahu kepada kami semua sebuah pengumuman.

“Anak–anak, ada sebuah berita gembira yang ingin Ibu sampaikan, lusa, 1 di antara kalian semua telah ditunjuk untuk mewakili sekolah kita dalam kegiatan olimpiade metematika untuk memperingati hari Ibu. Dan yang akan mewakili sekolah ini dalam olimpiade tersebut adalah… Laura!” Ucap Bu Guru.

Aku sangat kaget mendengarnya, karena tidak pernah kusangka aku yang akan mewakili sekolah ini dalam olimpiade tersebut.

“Dan, pengumuman pemenang akan diumumkan tepat pada tanggal 23 Desember 2013. Pemenang akan diberikan hadiah berupa piagam, dan uang sebesar Rp.5.000.000,00” tambah Bu Guru.
“Ehm… Kalau aku berhasil jadi pemenangnya, aku akan mengharumkan nama sekolah ini dan karena diumumkan dan diberikan hadiahnya tepat pada saat hari Ibu, aku bisa membelikan hadiah yang lucu untuk Mama nanti. Pokoknya, aku harus jadi pemenangnya!” ucapku dalam hati.

Usai pulang sekolah, aku langsung pulang ke rumah tanpa main ke rumah teman dulu. Begitu aku selesai makan siang, aku pun langsung membuka buku matematika. Sebagian buku–buku itu ada yang kupinjam dari perpustakaan dan sebagian lagi diberikan oleh Bu Guru Nisha. Mbok Siti yang kebetulan melihatku dikelilingi oleh buku, seketika bertanya.

“Non Laura, bukannya ulangan kenaikan kelasnya masih lama? Kok sudah dikelilingi buku seperti itu?”
“Hehe.. iya nih mbok. Kan, lebih baik belajar sekarang bukan?” jawabku menyembunyikan keikutsertaanku dalam olimpiade metematika.
“Iya Non, semangat ya Non!”
“Terimakasih Mbok Siti..”

Aku pun belajar dengan cara sistematis. Pada saat istirahat sekolah pun aku tidak jajan, karena aku membawa bekal. Aku memakan bekalku sambil belajar.

Hari–hari pun berlalu, sekarang waktunya aku mewakili sekolah ini untuk olimpiade matematika. Untuk mengisi semua soal–soal, seluruh pesrta lomba diberikan waktu 90 menit. Aku menyelesaikan soal–soal multiple choice terlebih dahulu. Ada beberapa soal yang susah, tapi tetap kukerjakan dengan baik dari rumus–rumus yang ku pelajari. Rasanya aku mengerjakan semua soal–soal dengan baik.

Ting, Tong.
Waktu mengisi soal–soal sudah selesai. Aku keluar dari ruang perlombaan dengan wajah sangat tegang. Sekarang hanya tinggal menunggu pengumuman pemenang.

Tanggal 23 Desember 2013, hari yang sudah ditunggu–tunggu. Ada seorang murid kelas 6 yang datang ke kelasku. Ia memberitahukan, bahwa aku dipanggil ke kantor kepala sekolah. Dengan langkah tegang, aku berjalan ke kantor kepala sekolah. Di sana, aku melihat Bapak kepala sekolah serta guru lainnya. Aku juga melihat Bu Guru Nisha ada di sana dan dengan senyumnya yang tak henti–henti, ia menghampiriku.

“Selamat ya, Laura! Kau berhasil meraih juara! Ini piagam dan uang Rp.5.000.000,00 yang dijanjikan panitia olimpiade” ucap Bu Guru.

Aku mengambil piagam dan uang itu dengan tangan gemetar. Bu Guru Nisha pun mengantarkan aku pulang ke rumah. Di perjalanan, aku melihat sebuah toko yang berisi peralatan–peralatan tulis yang lucu. Karena Mama seorang editor, aku ingin memberikan Mama satu pak pulpen yang lucu dan spidol. Aku juga membeli rangkaian bunga mawar putih. Setelah itu, aku dan bu guru berjalan menuju rumahku.

Sampai di depan pintu rumah, aku mengucapkan banyak terimakasih pada bu guru Nisha. Lalu, aku diam di rumah dan menunggu Mama pulang. Pada pukul 08.00 WIB Mama akhirnya pulang. Tapi, sewaktu aku ingin memberikannya hadiah, Mamaku langsung masuk ke kamarnya. Sewaktu aku buka pintu, Mama sedang menelpon sambil mengetik di laptopnya. Sepertinya dia sedang menelpon seorang komikus. Lalu, tibalah ide isengku. Aku pikir, pasti akan lucu jadinya kalau aku mengageti Mama. Seketika.

“Mama!! Lagi nelpon komikus ya? Oh iya, Laura mau bicara sama Mama!” Ucapku sambil berteriak. Mama yang kaget, langsung bilang begini.
“Laura!! Mama sedang bekerja, kamu bisa tidak diam sebentar?!!”
“Mama Jahat! Mama tidak pernah membiarkan Laura bicara sama Mama! Mama juga tidak pernah tahu apa yang terjadi pada Laura! Padahal Laura ingin Mama melihat ke arah Laura! Mama lebih sayang sama pekerjaan! Mama tidak pernah sayang sama Laura!!” ucapku sedih.

Aku pun lari ke kamarku dan menangis tersedu–sedu. Hadiah yang ingin kuberikan pada Mama sepertinya jadi tidak bearti lagi. Aku ambil hadiah itu dan aku lempar ke tempat sampah. Piagam penghargaan yang harusnya aku perlihatkan pada Mama, seketika karena sedih aku lempar piagam itu tepat di depan pintu kamarku.

Mama memang tidak pernah menanyakan hal–hal yang seharusnya ditanyakan. Misalnya, bagaimana tadi di sekolah? Atau, kamu sudah mengerjakan PR Laura? Mama juga tidak pernah menyempatkan waktu untuk mengajariku. Ketika ada soal yang sulit, aku hanya berusaha untuk menemukan jawaban yang tepat di dalam buku–bukuku. Lalu, merasa sangat mengantuk karena aku harus begadang memelajari rumus–rumus matematika. Jadinya aku tertidur di kamarku.

Pukul 05.00 aku terbangun. Aku masih kesal sama Mama. Dengan mata masih setengah terpejam, aku keluar kamarku. Entah kenapa, aku merasa ingin melihat ke arah samping kananku. Setelah aku menoleh, aku sangat terkejut karena aku melihat piagam penghargaan yang kemarin aku lempar sudah ada yang menggantungnya di dinding ruang keluarga. Lalu, tiba–tiba, ada yang menyapaku di samping kanan di belakangku.

“Selamat pagi, Laura!”
“Ma-Mama?”
“Mama sayang kamu deh!” ucap Mama sambil memelukku. Baru pertama kali ini aku dipeluk Mama. Ah, terasa hangat sekali.
“Laura, maafkan Mama ya sayang. Mama sudah tahu semuanya dari Bu Guru Anisha. Kamu hebat, kamu berhasil jadi pemenang! Oh iya, pulpennya lucu sekali. Rangkaian bunganya juga bagus. Terimakasih ya sayang. Uang sisanya, nanti tabungkan ya!” ucap Mama.

Aku salah menilai Mama. Aku jadi merasa barsalah pada Mama.

“Maafkan Laura juga ya Mama. Laura sudah salah sama Mama. Maaf ya ma…” Ucapku penuh haru. Kami berdua larut dalam kebahagiaan yang selama ini aku idamkan.
Sejak saat itu, Mama mulai menyempatkan diri untuk menemaniku.

Cerpen Karangan: Arifa Ainaya Azlyani
Facebook: Takashi Arifa Aquariusa (Einsteinnya Anime Kelas)
Hai! namaku Rifa. Biasa dipanggil Ri Chan. Cita-citaku aku ingin menjadi dokter yang sukses juga komikus yang handal! Hobbyku banyaak, salah satunya ya, membuat cerpen. Terima kasih telah membaca Cerpenku. Semoga kalian semua Terhibur.

Cerpen Mama, Lihatlah Aku Di Sini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)

Oleh:
Huh. Lagi-lagi masalah ini yang di bahas. Tahu tidak apa yang membuatku semakin kesal? Vater menyuruhku untuk membaca buku semacam Self Help yang dipopulerkan oleh M. Scott Peck. Well,

Lomba Yang Didambakan Hatiku

Oleh:
Namaku Novita Sari Sandrina. Biasa dipanggil Novi atau Vita. Aku baru saja menerima rapor kenaikan kelas 5 di SD Pramitra Indrayani. Alhamdulillah Aku diberi kesempatan untuk mendapatkan Juara 1

Hay

Oleh:
“Hay”, kata inilah yang membuat perjalanan hidup seorang remaja seumuranku seakan lupa akan kehidupan nyata. Yapp, bagaimana tidak? seorang yang mengucapkannya adalah wanita pujaan di hidupku. Aku yang sedang

Panutan Sampai Akhir Hayat

Oleh:
Ayahku adalah seorang yang pekerja keras, dia berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan keluarganya, karena sebab itu ibu selalu mengajarkan kepada kami, agar kami tidak menjadi anak yang sering berfoya-foya.

My Sister Forever (Part 1)

Oleh:
“Ugh!” saking kesalnya aku melempar tas Barbie kesayanganku. “Ih .. Dek, jangan seperti itu! Tidak baik!” tegur Kak Salsa. Aku hanya diam tak segera bangkit, meletakkan tasku pada tempatnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mama, Lihatlah Aku Di Sini”

  1. Santi says:

    Keren!!!!Terharu dan pokoknya bagus bgt dehh…baca ceritaku juga ya yang di kch berjudul “aku kok ada 2? Lantas siapa itu?’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *