Marwah Negeri Tanah Melayu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Daerah, Cerpen Budaya, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 6 March 2017

Manusia tamsilkan panas dan hujan permainkan hari suka dan duka permaianan hidup akhirnya tiada daya menentang maut, rusa mati rumput subur namun patah tumbuh hilang berganti, kayu-kayu besar-kecil terhampar di bumi ditimpa terik matahari dan pada saatnya dibakar laksana dahsyat di tengah hati yang kian waspada menyaksikan padi yang menguning runduk melambai seperti alunan riak sungai Batang Sosa di siang hari kala Kumala tengah duduk di bibir sungai sambil mencari ulat pocong di pasir putih sekitaran sungai Batang Sosa, hal yang biasa dilakukanya mengisi waktu suntuk atau sekedar mencari angin segar di sana, dari kejauhan tampak amai (panggilan dalam bahasa melayu yang berarti ibu) berjalan melintasi ilalang-ilalang yang menguning sambil membawa kudai (keranjang yang terbuat dari rotan) yang berisi pisang seminyak

“Kumala mari amai obati bekas lukamu itu, amai tidak ingin luka semalam membuat penjagaan amai selama ini sia-sia, amai tidak ingin kulitmu berparut seperti amai yang akhirnya jadi perawan tua baru kawin” ucap amai sambil mengupas pisang, “amai… luka Kumala hanya sedikit dan tidaklah parah, tidak akan membekas lama, lagi pula apa bisa kulit pisang ini menyembuhkannya amai?” tanya Kumala lagi pada ibunya, amai hanya tersenyum pada Kumala ia perlahan membalurkan kulit pisang seminyak pada bekas luka Kumala dengan penuh kasih. Kumala Rais adalah gadis desa Batang Sosa anak ke delapan dari pasangan amai Jeriah dan abah Napi, keluarga yang sederhana ini tinggal di desa hulu Batang Sosa dengan menjunjung tinggi adat istiadat setempat yang sangat kental dengan adat melayunya, keluarga ini baru dua tahun terakhir mendiami perkampungan Batang Sosa sebelumnya mereka tinggal di Rantau Kasai Dalu-dalu namun semenjak kejadian dua tahun silam. Kumala kembali mengingat peristiwa yang seakan nyata tertayang kembali di benaknya.

Pada saat itu abah Napi seperti biasanya mengajar anak-anak serta pemuda setempat dengan salah satu keahlianya dibidang silat yang sudah turun temurun namun kali ini ia mengajari muridnya pada tengah malam dikarenakan kisruh antara rakyat Dalu-dalu dengan perusahaan setempat yang terkenal berkuasa ingin melakukan sengketa hampir sebagian wilayah daerah Tambusai “sekian dulu latihan awak kali ko” tutur abah Napi mengakhiri latihan kala malam itu, setelah semua muridnya bubar abah Napi dengan berbekal lampu semprong di tangannya hendak pulang ke rumah yang jaraknya tidak terlalu jauh namun suasana malam yang gelap dan jalanan yang sepi cukup mencekam kala itu, abah Napi dengan sedikit tergesa-gesa berjalan dan terus berjalan hingga ia mendengar dari kejauhan suara tembakan dan koaran dimana-mana, segera abah Napi bersembunyi di balik semak-semak “Tuhan apalah yang akan terjadi” bisik abah Napi dalam hati.

Ternyata sekelompok sekutu perusahaan sengketaan tanah menyerang pada malam itu sekelompok preman tiga truk penuh lengkap dengan senjata masing-masing sambil melempar kobaran api di sepanjang jalan tatkala waktu bersamaan setelah beberapa detik lewatnya serombongan penyerang sungguh terkejut abah Napi melihat apa yang dilihatnya pada saat itu segerombolan pasukan berkuda lengkap dengan penunggangnya berpakaian putih dan bersorban putih keluar dari Benteng Tujuh Lapis, abah Napi yang bergetar tubuhnya menyaksikan apa yang dilihatnya sungguh nyata “Maha Kuasa Allah atas segalanya…” ucap abah Napi takjub, tampak olehnya pasukan berkuda itu mengejar perusuh, abah Napi yang terpana akan kejadian aneh itu menenangkan diri dan pulang dengan agak berlari-lari hingga sampai ke rumahnya.

“amai Kumala bukak pintu ko” ucap abah Napi sambil mengedor pintu rumah dengan nafas yang tersenggal-senggal, tak lama pintu dibuka oleh amai dan abah Napi pun segera masuk dan mengunci pintu dengan rapat, keherananlah amai Jeriah dan bertanya “apa yang terjadi abah? Kenapa abah ketakutan ko?” Kumala pun terbangun karena pembicaraan amai dan abahnya “kenapa abah ketakutan ko mai?” tanya Kumala penasaran, “abah tadi pulang dari mengajar anak-anak silek (silat), nak pulangnyo abah nampak serombongan perusuh dari PT. Dulang Fajar tu ramai lengkap dengan senjata masing, waktu abah sembunyi subhanaallah nak, segerombol pasukan berkuda keluar dari Benteng Tujuh Lapis tu lengkap dengan penunggang bersorban putihnyo” ucap ayah panjang lebar dan menceritakan apa yang dilihatnya, “itulah mungkin pasukan berkuda yang diceritakan datuknyo Kumala ko abah” tutur amai sambil memberikan segelas air untuk abah “itu artinyo apa yang diceritakan datuk masih ada sampai sekarang amai?” “entahlah Kumala, itu Tuhan Yang Maha Kuasa yang tahu, tidurlah dikau lagi nak” jelas amai kembali, sementara abah hanya terdiam mungkin masih memikirkan tentang apa yang dilihatnya, aku menurut dan kembali masuk ke bilik untuk tidur.

Keesokan harinya Kumala terbangun disubuh hari dan pergi kesurau untuk sembahyang namun aneh tidak ada warga yang ribut tentang hal yang diceritakan abah semalam, seperti tidak terjadi apa-apa, hingga pulang sembahyang Kumala pulang bersamaan dengan Jamilah temannya yang memang selalu bersama semenjak duduk di bangku SD “Kumala apa kamu sudah tahu kalau sebelum subuh tadi pimpinan PT. Dulang Fajar datang kerumah kami, dan mereka telah membatalkan persengketaan di desa kita tidak disitu saja mereka juga memberi santunan untuk desa kita yang jumlahnya lumayan dan ini berkat abahmu katanya” tutur Jamilah mengagetkan batin Kumala “hahaha ada-ada saja kamu ini Milah, apalah yang bisa abahku perbuat” jawab Kumala masih merasa heran apa yang dikatakan Jamilah berbanding terbalik dengan yang diceritakan abah semalam, Jamilah kembali menyambung ucapan Kumala “mungkin saja kamu tidak mengetahuinya Kumala, siapa tahu abahmu berkarib dengan Sanusi Hartawijaya pimpinan PT. Dulang Fajar itu dan dikau tidak mengetahuinya” “memanglah kami orang terpandang yang jatuh miskin Jamilah, namun bukan berarti kami tidak mengenali keluarga yang berkunyit berserai” Kumala mulai merasa pembicaraan ini semakin jauh larinya, hingga ia pun bergegas pulang dan Jamilah telah sampai di rumahnya.

Sesampainya di rumah Kumala pun bertanya kepada abah “abah mengapa warga sama sekali tidak mengetahui hal-hal yang abah ceritakan semalam? Malah mereka mengatakan bahwa Sanusi Hartawijaya meminta maaf kepada desa kita juga mengatakan kalau ini berkat abah, Kumala tidak mengerti abah” tanya Kumala pada abah “abah juga sama sekali tidak mengerti Kumala, ini diluar akal kendali abah, tapi nak, abah harap dikau jangan menceritakan hal yang abah lihat tadi malam, biarlah ini menjadi pegangan bagi kita atas Kuasa Tuhan diatas segalanya dan marwah Benteng Tujuh Lapis”.

Kumala merasa rintik air menimpanya, sepertinya akan turun hujan dan membuyarkan lamunan Kumala yang mengingat kejadian di kampung halamannya dulu yang membuat mereka berpindah ke kampung yang didiaminya sekarang, karena pihak PT. Dulang Fajar memaksa abah Napi bergabung di perusahaan mereka sementara jelas saja abah Napi tidak akan menerima ultimatum tersebut untuk bergabung dengan perusahaan yang terkenal dengan otoriternya itu berkuasa tanpa memikirkan apa pun yang terjadi, dikarenakan oleh itu keluarga abah Napi memutuskan untuk hijrah ke Batang Sosa kampung kecil paham adat yang mereka diami sekarang.

Kumala berlari menerobos hujan yang mulai turun dengan derasnya menghujami padang ilalang pinggiran sungai Batang Sosa yang riaknya semakin deras, Kumala sampai kerumahnya dengan basah kuyub dan sembari mengangkat jemuran ikan asin yang lupa di angkat oleh amainya “amai… Kumala pulang” ucap Kumala memenuhi ruangan sekat rumah yang berdindingkan semi permanen itu, “kenapa lama sekali pulangnya Kumala, amai hampir saja nak menjenguk dikau di sungai” tutur amai meresahkan Kumala, “amai..Kumala kan tidak ada kerja di rumah, Kumala senang di tepian sungai Sosa itu amai, lagi pula amai ko lah nak jemput Kumala pula sedangkan ikan asin ko lupa amai angkat dari penjemuran” Kumala bersenda dengan amai, sedangkan amai hanya tersenyum dan beranjak mengambilkan handuk untuk Kumala yang hampir sekujur badannya basah kuyup itu, “Kumala bagaimana dengan sekolahmu apa dikau tetap ingin melanjutkan atau bekerja saja menolong amai?” kembali amai menuturkan tapi kali ini ucapan amai menohok hati Kumala, ia hanya terdiam dan menekuk kedua belah kakinya, fikirannya jauh melayang ia teringat akan susah payah orangtuanya mencari nafkah untuk satu keluarga itu, bagaimana bisa ia selalu menyusahkan orangtuanya itu, “amai.. untuk sekarang Kumala belum bisa memutuskannya Kumala masih ingin berfikir sebelum memutuskan kehendak Kumala, hanya saja salah satu kehendak Kumala yang terkuat membentur naluri Kumala, Kumala tidak tega amai” ucap Kumala penuh perasaan, “ha apa itu Kumala, katakanlah nak tidak akan ada pembenturan untukmu bagi amai dan abah selagi itu hal yang baik nak” amai menjawab penuturan Kumala sambil mengeringkan rambut Kumala dengan handuk, “tidak ada apa-apa amai, mari kita ke dapur amai, Kumala ingin memasak sambal kokek asam durian dan sayur pucuk seminyak rasanya, bukankah nanti sore abang Fatih dan kak Zainab pulang amai, benar tidak?” Kumala mengubah topik pembicaraannya dan mengajak amai memasak di dapur dan menyiapkan makanan karena abang dan kakaknya akan pulang dikarenakan libur kuliah yang panjang “iyo Kumala dikau pintar sekali mencari alasan, marilah tukar dahulu bajumu yang basah itu Kumala agar tidak mendatangkan penyakit angin duduk seperti abahmu” amai pun menyuruh Kumala mengganti pakaiannya yang terlebih dahulu berdiri dan masuk kebilik namun Kumala menghampiri ibunya lagi “amai kita buatkan kolak puti la mandi juga ya, bukankah kak abang Fatih sangat menyukainya” Kumala sangat bersemangat dengan kepulangan saudara-saudaranya itu “iyo Kumala semua kita bikinkan nanti, kita hidangkan beserta krasak kincong juga yo, tapi sekarang dikau ganti dahulu bajumu yang basah itu nak” amai mulai mengejek Kumala yang tidak menyukai sambal krasak kincong karena berbahan ikan hasil fermentasi dan bau yang menyengat dari bunga kincong yang tidak disukai bagi sebagian orang itu “amai janganlah berkata seperti itu, Kumala akan ganti baju secepatnya amai” Kumala pun lekas mengganti pakaiannya yang basah kuyub itu.

Lain lubuk lain pula ikannya begitulah pepatah mengatakan, Fatih dan Zainab pulang ke kampung halaman orangtuanya dengan tidak lupa memakai tambek kain (kain diikat menyerupai rok atau celana), tidak memakai pakaian khas perkotaan yang serba modern, mereka masih menjunjung adat kebiasaan tempat berpijak sanak saudara mereka, hingga sampai ke rumahnya yang telah disambut oleh keluarga kecil itu dan sebagian ada juga tetangga yang datang ingin berjumpa dengan anak kemenakan mereka itu.

“Assalamualaikum..” ucap Fatih dan Zainab hampir bersamaan “waalaikumsalam..” jawab keluarga mereka, dilanjutkan dengan berjabat tangan dan melepas rindu saling berganti dilakukan “kenapa baru sampai nak? Bukankah dikau direncanakan tiba sore tadi?” tanya amai pada Fatih dan Zainab “iyo amai tapi tadi kendaraan yang kami tumpangi rusak, jadi menunggu perbaikannya yang membuat kami tidak sampai pada waktu yang diharapkan amai” Zainab menjawab dengan raut wajah letih tapi tetap disembunyikannya sambil merangkul Kumala “tidak apa-apa nak, hanya saja amai terlalu mengkhawatirkanmu dan abangmu, yang penting kalian baik-baik saja tidak kurang suatu apa pun” abah pun melanjutkan dengan rasa lega anaknya telah pulang dengan selamat, libur tiga minggu itu rasanya sungguh akan membahagiankan mengingat sudah 3 tahun anaknya itu tidak pulang ke kampung setelah semester pertama dikarenakan ongkos dan pencapaian kampung mereka yang mengharuskan bertukar kendaraan berkali-kali, “kak Utih dan suaminya tidak ke sini amai?” tanya Fatih menanya kan kakak keduanya yang tinggal di Tambusai Utara bersama suaminya itu “tidak Fatih, suami kakakmu itu kan pemuka adat, jadi sangat sulit meninggalkan kampung mereka, takutnya nanti kalau-kalau ada yang hendak kenduri atau hajatan tersendat dilaksanakan, lagi pula kondisi jalan yang musim penghujan ini sulit sekali dicapai nak” amai menjelaskan tentang keadaan kak Utih “iyo itu kak, kak Zainab dan abang Fatih belum makan bukan? Mari kita makan bersama-sama” Kumala menambahkan “baiklah adikku Kumala, abang dan kakak akan makan, tetapi abang nak tahu dahulu, apa masakannya nanti dikau yang masak?” Fatih mulai mengejek adik kesayangannya itu “abang rasai saja nanti, kalau enak sudah barang tentu Kumala yang masakan” Kumala pun menjawab dengan tidak mau kalah “bisa saja kamu adikku” Fatih pun merangkul adiknya dan menuju dapur “sudahlah mari kita makan bersama” ajak abah dan mereka pun makan malam sederhana dengan lauk pauk seadanya namun tak kalah lezatnya bagi selera lidah anak keturunan melayu, rasa masakan yang pedas dan kaya bumbu-bumbu alami yang membuat makan malam itu penuh nikmat.

Seperti biasa dikala sang surya terbit di ufuk timur dan menyapa anak cucu keterunan tanah melayu hulu Batang Sosa yang mulai gemencar mencari nafkah untuk keluarga mereka dengan mencari ikan di sungai Batang Sosa, menganyam tembikar di halaman rumah, dan sebagian ada juga yang berkebun di ladang mereka masing-masing, begitu juga halnya dengan Kumala ia telah memutuskan bahwa akan bekerja setahun penuh untuk membantu orangtuanya lalu melanjutkan jenjang cita-citanya, pagi nan cerah itu diawali Kumala dengan melanjutkan pelatihan tari tradisionalnya bersama anak-anak serta remaja kampungnya, pelatihan yang ditekuni Kumala belumlah bisa disebut sanggar, dikarenakan tidak adanya tempat yang memadai dan property yang seadanya saja itu, Kumala mengajar murid-murid tarinya di lapangan terbuka dengan sukarela namun dua bulan belakangan ia diberikan uang oleh kepala desa setempat yang jumlahnya tidaklah seberapa namun selalu ditabungkan oleh Kumala.

“Kak Kumala kami senang sekali dikau kembali mengajar kami” ucap Ningsih salah seorang murid tari Kumala “iyo Ningsih kakak juga senang bisa melatih kalian lagi, tapi selama kakak libur karena ujian sekolah kan ada kak Isah yang ajari kalian, jadi kalian sudah banyak menguasai tarian tradisional melayu bukan? Jadi kita bisa melanjutkan mempelajari tarian daerah lain juga, misalnya tari kecak dari Bali, tari piring dari Sumatra Barat, atau tari ronggeng dari Jawa Barat” tutur Kumala penuh semangat “benar sekali Kumala, jadi kita sebagai putri daerah tanah melayu harus paham betul kekayaan daerah kita disamping itu kita juga semestinya tahu budaya daerah di setiap wilayah di negara kita, di sanalah kita akan menyadari kalau tanah air kita sangat kaya akan kebudayaan masyarakat di daerahnya masing-masing yang sungguh beragam dan unik seta mengandung nilai dan artinya masing-masing” terang Isah menjelaskan kepada murid-muridnya, “iyo kak, kami sangat ingin mempelajarinya, bagi kami belajar tari sangat menyenangkan dan kadang-kadang juga serasa sambil bermain seperti tari lukah gilo yang kakak ajar kan minggu lalu, itu sangat kami sukai kak” jawab Puri yang juga murid tarinya Kumala yang sangat menyenangi tarian tradisional, “ itulah makanya kakak sangat ingin mengajari kalian semua, sebab kakak ingin kalian tidak hanya bermain tapi bermain sambil mempelajari kekayaan budaya daerah kita” Kumala semakin semangat melihat tanggapan dari anak-anak tarinya itu “iyo benar yang dikatakan kak Kumala, sekarang mari kita lanjutkan latihan tarian minggu lalu ya” Ningsih mengajak muridnya berdiri dan mengikuti gerakan dasar tari, mereka berlatih dengan kesungguhan hati hingga waktu siang dan Kumala pun pulang bersama Isah, namun Kumala ingin singgah di sungai dulu untuk menemui abahnya yang sedang mencari ikan di sana, tidak lupa Kumala terlebih dulu menebas pisang di ladang yang searah dengan jalan menuju sungai untuk diberikan kepada abah sebagai penghilang lapar, namun di ladang Kumala dengan tidak sengaja berjumpa dengan Imus anak orang terpandang di kampungnya yang sudah barang tentu mempunyai banyak harta itu, hampir separuh tanah kampung merekalah yang miliki namun dengan suka rela mereka perbolehkan warga menempatinya tanpa bayaran dan tagihan, termasuk tanah rumah Kumala, Kumala ingin berbalik dan mengurungkan niatnya untuk menebas pisang namun rasa segannya menolak hal itu mengingat ladangnya terletak di pinggiran jalan tempat orang-orang kampung berlalu lelang jadi mengurangi sedikit tabuh ketidak sengajaan berpapasannya dengan Imus, tampak di sana Imus sedang menebas rumput dan kian menghentikan pekerjaannya seketika melihat Kumala yang tengah berjalan ke arahnya, menyadari akan hal itu Imus pun menyeka keringat yang membasahi wajahnya, ia sepertinya terpana akan kecantikan Kumala, maklumlah sudah sangat lama sekali Imus tidak berjumpa dengan Kumala walau sewaktu kecil mereka sering bermain bersama membantu mak cik menangguk (menangkap) ikan di sungai namun seiring waktu berjalan dan Imus anak dari orang yang berkecukupan itu melanjutkan sekolahnya ke kota tidak lagi berjumpa dengan Kumala.

“Kumala? Apa benar dikau Kumala Rais?” selidik Imus yang tidak lagi mengenali raut wajah Kumala teman kecilnya itu, “iyo ini Kumala, dikau lupa padaku Imus?” jawab Kumala tapi tidak lagi dijawab oleh Imus, Kumala hanya tersenyum namun tidak lagi seakrab masa kecil mereka dulu, tidak seceria saat mereka bermain gasing, tidak juga sebagainya, suasana pertemuan mereka begitu dingin, Kumala menebas pisang yang telah masak beberapa sisir saja, “bang Imus, Kumala duluan ya, Kumala hendak ke sungai menghantarkan pisang ini untuk abah” tutur Kumala pada Imus yang hanya terdiam duduk di bibir jalan “iyo dik Kumala, hati-hati yo, salam pado abah” Imus menjawab dengan suara merendah “iyo..” Kumala pun bergegas pergi dan tanpa menoleh lagi ke belakang, terasa canggung sekali pertemuannya kala itu bersama sahabat kecilnya Imus, ia pun berusaha secepatnya mencapai sungai hendak memberikan pisang untuk abahnya.

“Mak uwo (tante tertua) ada nampak abah Kumala kah?” tanya Kumala yang tidak menemui abahnya di sungai tempat biasa abah Napi menangguk ikan “ooo abahmu ke boncah (rawa) Kumala, pendapatan ikan abahmu hari ini tidak banyak, mungkin ia mencoba mencari di boncah pula” “iyolah mak uwo, Kumala hendak menyusul abah dulu” Kumala pun bergegas ke boncah untuk menemui abahnya, sesampainya di boncah Kumala melihat abahnya bersama abangnya Fatih tengah duduk beristirahat di tepian boncah beralas kan daun torok, “abah, bang Fatih…” Kumala memanggil abah dan abangnya itu dan menghampirinya, “dikau kemari Kumala? Bukankah dikau mengajar tari?” tanya abangnya pada Kumala “iyo bang, tapi sudah selesai, abah dan abang mengapa menangguk ikan di boncah?” tanya Kumala. “iyo nak ikan di sungai sudah tidak banyak lagi hasilnyo, sementara abah ingin pendapatan abah meningkat agar tercapai maksud hati nak melanjutkan sekolah dikau Kumala.” ucapan abah terasa begitu mengiris hati Kumala, begitu kuat niat abahnya untuk menyekolahkannya “Kumala pulanglah dikau dahulu, bantu amai dan kak Zainab menganyam biar lekas dijual ke poken” Fatih pun menambahkan yang menangkap raut kesedihan di wajah adiknya itu “baiklah bang, abah, Kumala pulang dulu, o iyo bah tadi Kumala di jalan bertemu abang Imus dia lagi libur juga ternyata, beliau titipkan salam untuk abah” Kumala meletakkan pisang dan ia pun pergi tanpa mendengarkan lagi perbincangan abah dan Fatih, di jalan Kumala selalu memikirkan ucapan abahnya, ia berfikir begitu banyak ia telah menyusahkan abah dan amainya ingin rasanya ia menolong jika saja ia bisa, namun apa daya tidak banyak yang bisa ia lakukan di desa kecil tempat tinggalnya itu.

Malam menjelang sunyi pun mulai terasa oleh terhentinya hiruk-pikuk penduduk desa Batang Sosa dengan kegiatannya masing-masing, kini hanya ada suara jangkrik yang bersenandung layaknya sebuah irama alami yang disuguhkan alam tanah melayu Batang Sosa, tampak Kumala tengah selesai sembahyang dari surau dekat rumahnya, seperti biasanya keluarga sederhana itu menunggu waktu ibadah selanjutnya saling becengkrama bercerita dan memakan pisang rebus dengan sungguh rasa syukur, pemandangan yang sungguh harmonis untuk ukuran keluarga rukun tanah melayu.

Tidak lama berselang terdengar datang dan mengucapkan salam “Assalamualaikum” “waalaikumsalam…” keluarga Kumalapun menjawab salam itu dan mempersilahkan orang yang mengucapkan salam masuk, ternyata mereka adalah keluarga Abdul Gani yang terkenal kaya itu, dan ayah dari Imus Asholihin sahabat kecil Kumala. “ha masuk, masuk pak” sambut abah Napi mempersilahkan keluarga Abdul Gani masuk, layaknya tamu mereka pun duduk di depan yang beralaskan tikar rotan itu dan menyampaikan maksudnya sementara itu Kumala dan Zainab lekas kedapur untuk membuat air teh untuk tamu mereka. “jadi maksud kedatangan kami kesini adalah mau menyampaikan maksud hati dari anak kami Imus yang telah menaruh hati pada Kumala, telah lama ia menyukai Kumala” kata-kata Abdul Gani bagaikan panah yang menusuk telinga abah Napi dan Amai Jeriah bagaimana tidak, seharusnya mereka faham akan adat budaya yang turun temurun kalau keluarga mereka bertali sepinggang (seadat) “ini maaf sebelumnya, bukan apa-apa tapi dari adat tertua kita yang telah turun temurun sampai ke anak cucunyo bumi dipijak adat dijunjung, Kumala dan Imus ko kan adik beradik sesuku seninik mamak macam mano bisa dipersatukan hukum alam mengutuk kita kalau kehendak nan tersebut dilanggar juga” abah Napi berusaha tenang dan dijawab kembali oleh Abdul Gani “kami tahu adat yang dimaksut namun bukankah ada adat baru yang memperbolehkan hal ini dengan salah satunya berpindah adat, kenapa tidak untuk dilakukan?” Abdul Gani tetap pada pendirianya “iyo namunkan tetap tidak baik melanggar adat, takutnyo apa yang tidak diinginkan menimpa, baik buruknya sudah pasti kita inginkan baiknya, namun sebisa kita sebagai orang tua kan menghindari bala bagi putra putri kita” abah Napi berusaha menjelaskan, sementara itu Kumala telah mendengarkaan pembicaraan abahnya dan keluarga Imus, ia benar-benar bahagia namun di sisi lain ia tidak dapat menyembunyikan rasa yang begitu murni dari lubuk hatinya, namun ia sangat bangga karena ayahnya sangat menghormati adat, dan pada akhirnya setelah melalui pertimbangan, Imus yang sangat menginginkan mengikat hubungan bersama Kumala mengalah dan mengundurkan niatnya “Imus rasa apa yang dikatakan apak Napi itu sangatlah banyak benarnya ayah, Imus mungkin salah mengartikan rasa sayang Imus ko adik Kumala, sekarang Imus hendak mengurungkan niat imus dan menganggap adik Kumala sebagai adik Imus saja” ucapan Imus melegakan suasana hati-hati yang sempat tegang kala itu hingga meneteskan air mata Kumala dari balik dinding sekat yang seakan menjadi penopang tubuh Kumala kala itu, namun kembali Imus berkata yang tidak kalah membuat batin Kumala seakan ingin keluar dan ada disana “dan Imus berniat akan menyekolahkan adik Imus Kumala untuk melanjutkan kuliahnya di Pekanbaru semua akan Imus tanggung dengan uang tabungan Imus sendiri, Imus harap ayah dan ibu tidak menentang kehendak Imus dan apak Napi dan mak cik Jariah menerima kehendak Imus” Imus mengutarakan niatnya dengan penuh kemantapan “tidak mungkin kami keberatan nak, kami bangga anak tunggal kami berjiwa besar seperti engkau Imus” ucap Abdul Gani dengan penuh binaran mata “kalau memang itu keinginan nak Imus murni untuk membantu Kumala bagaimana bisa kami tolak, kami yakin Kumala anak kami senang bila mendengarnya” abah Napi menambahkan lalu mereka berbincang-bincang hingga memutuskan untuk pulang.

Semenjak saat itu Kumala dan Imus kembali menjadi sahabat dan saling menjaga satu sama lain layaknya saudara sekandung, mereka sadar takdir mereka seadat untuk saling mengasihi dan menyayangi sebagai saudara harus mereka terima. Kumala melanjutkan pendidikannya yang dibiayai oleh Imus hingga ia dapat memasuki universitas yanag cukup ternama dan mengambil jurusan seni, hal itu sangat tidak disia-sia kan oleh Kumala, ia berusaha mengembangkan budaya-budaya nusantara terutama yang hampir punah.

Cerpen Karangan: Mutiara
Facebook: Mutiara AraQueen
thanks kepada sahabat dekatku Resy lestari dan Kurniaty, yang sangat mendukungku dalam membuat cerpen

Cerpen Marwah Negeri Tanah Melayu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mutiara Hati Yang Terlupakan

Oleh:
Bukan orang yang sepandai Albert Einsten. Bukan juga orang yang sekaya Presiden Obama di Amerika. Sederhana, tidak banyak tingkah, lugu, pendiam, itulah diriku. Tidak banyak teman yang kumiliki, ‘sendiri’

Tersadar

Oleh:
Nama ku Hisanah aku terlahir dari keluarga yang bahagia dan berkecukupan, memiliki ibu nan lembut, ayah yang bijaksana, aku merupakan anak tertua dari 3 bersaudara, Hasnah dan Hasyim nama

Crazy Autumn (Part 2)

Oleh:
Satu tahun berlalu. Seperti kasus kematian Samuel, kematian Ibuku tak pernah terungkap kebenarannya oleh pihak kepolisian. Ayah memang luar biasa hebat untuk bisa menyembunyikan semuanya. Sementara aku sendiri, tak

Aku Membutuhkan Sayapku

Oleh:
Selepas shalat shubuh, kubangunkan kedua anakku. Mendekati dan mencium keningnya adalah cara terbaik seorang ibu membangunkan anaknya. “Kak, bangun kak, anak sholihahnya mama..” bisikku lembut tepat di telinganya. “Mama

Pelukan terakhir

Oleh:
Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-12. Aku tidak tahu apakah Kak Rey, Mama, ataupun Papa akan mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Kriing… Kriiing… kriiing Jam yang terletak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *