Masa Kecilku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 June 2013

Nama ku Riani, saat itu aku adalah murid di salah satu SMP Swasta di kota ku. Kejadian ini terjadi saat aku duduk di bangku kelas 2 SMP. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Mungkin kisah hidup ku ini sangat berbeda dengan kehidupan anak-anak lainnya yang selalu mendapat kebahagiaan dari orangtuanya. Berbeda dengan ku yang sangat merindukan kasih sayang dari sosok orangtua.

Semua orang menceritakan padaku bahwa dahulu semasa kecilku, aku adalah anak terberuntung di dunia. Kenapa? Mereka mengatakan bahwa aku selalu di manja, di sayang, dan diperhatikan orangtua. Ya.. Aku percaya dengan pernyataan mereka semenjak aku melihat potret diriku semasa kecil bersama dengan kedua orangtuaku. Sangat bahagia tampaknya..

Sosok ibu dimataku adalah, wanita paling tegar, paling kuat, pantang menyerah, anggun dan sangat cantik. Dia adalah inspirasi untuk kehidupanku. Mendidik ku dengan sebaik-baiknya, merawatku dengan kasih sayang.. Ya.. Mungkin memang begitulah seorang ibu. Dia adalah wanita sabar, penyayang, dan pemaaf. Tak pernah dia mendendamku sekalipun aku berbuat kesalahan fatal. Sampai matipun aku tidak akan pernah bisa membalas semua apa yang dilakukan ibu. Mengandungku selama 9 bulan lebih, merawatku selama dalam kandungan, melahirkanku dengan mengorbankan nyawa, menyusui, merawat hingga sekarang aku sudah beranjak remaja.

Aku sering melihat ibuku bermunajat kepada Tuhan, bahkan ketika aku sedang tidur, aku pernah mendengarnya mendoakanku dan adik-adikku, dan dia mendoakan kami sambil menangis. Mendoakan kami agar kami menjadi anak yang berguna, berbakti, tidak durhaka dan sebagainya. Sungguh.. Tak ada manusia sesempurna ibu.

Sosok ayah dimataku adalah, lelaki yang bertanggung jawab, penyayang, pengayom, dan pelindung. Semua orang tahu bahwa ayah adalah orang yang menafkahi keluarganya. Ya.. Aku merasakan itu! Aku juga sangat menyayangi ayahku. Dia telah memberiku makan, menyekolahkanku dan mendidik sikapku. Dia juga adalah orang yang keras, dia selalu memberiku nasihat kalau aku salah. Dia adalah seorang seniman. Dia memiliki tingkat intelektual yang tinggi, dan dia sangat gagah. Itulah ayahku..

Tapi apa yang terjadi dengan ku sekarang? Kenapa aku mengatakan bahwa aku sangat merindukan kasih sayang dari sosok orangtua?
Baiklah..
Dahulu memang benar aku adalah anak beruntung. Tapi diusiaku yang masih muda ini, aku sudah mengalami cobaan yang sangat besar dan sangat menyiksa diriku. Dimana ayahku mempunyai selingkuhan dan membuat hidupku, ibuku, dan adik-adikku sangat menderita. “Ya Ilahi, kenapa aku harus mengalami ini?” Itulah kata-kata yang senantiasa muncul dalam benakku.

2 tahun lamanya aku mengalami penderitaan ini, ayahku mempunyai selir yang membuat mata hatinya buta. Salah seorang teman ayahku pernah melihat bahwa selingkuhan ayahku pergi berdukun ke suatu tempat untuk menjerat ayahku agar selalu berpaling kepada kami. Sungguh bengis!
Aku mengenal perempuan selir ayahku itu. Dulu dia sering bermain ke rumah kami, dulu dia adalah teman ibuku dan teman ayahku. Hampir setiap hari dia berkunjung kerumahku. Hingga 4 bulan lamanya, aku mulai curiga dengan gerak-gerik perempuan itu.

Lama kelamaan, aku tahu bahwa dia memang selir ayahku. Dia adalah orang yang sangat kuat dalam berdukun. Dia sangat menggemari ilmu santet. Ohhhh!! Entah apa yang ada dalam benak perempuan ini.

Semenjak ayahku mengenalnya, sikapnya menjadi berbeda, dia sering memarahiku, dia sering pulang larut malam, dan dia juga sering membentak ibuku. Setelah ibuku tahu kalau ayahku selingkuh, ibuku sering sekali menasihatinya. Tapi apa respon dari ayah? Dia malah memarahi ibuku sehingga timbul pertengkaran. Hal inilah yang kusaksikan setiap hari. Aku kasihan melihat kedua adikku yang masih kecil dan polos.

Setelah beberapa hari kejadian ini kualami, lama-kelamaan mereka jadi semakin parah. Ayahku sering memukuli ibuku. Ayahku jadi sering pulang subuh dalam keadaan mabuk. Dan di saat dia mabuk, dia selalu memukuli ibuku. Segala perabotan dirumahku hancur, mulai dari sapu yang dipukulkan di badan ibuku, kepala ibuku diantukkan ke lemari kaca, bahkan ayahku memukuli ibuku dengan kursi kayu. Betapa sedih nasib ibuku. Awalnya aku tak berani berbuat apa-apa, lama-kelamaan, aku sangat sedih melihat ibuku yang sering sering mengalami luka memar di tubuhnya, bahkan kepalanya pernah berdarah.
Aku sangat kasihan padanya ketika dia menyuruhku membersihkan luka dikepalanya. “Nak, tolong lihatkan luka ibu di kepala, apakah berdarah? Apakah lukanya lebar?”.
Ya Allah, dosa apa yang diperbuat ibuku sehingga sebengis ini perbuatan ayahku kepadanya. Setiap hari ibuku dipukuli. Kedua adikku ikut menyaksikan dengan menangis sejadi-jadinya. Mungkin mereka sangat ketakutan. Aku menjadi bimbang, aku bingung apa yang harus aku lakukan. Akhirnya aku memberontak kepada ayahku. Aku berusaha melindungi ibuku, sampai akhirnya ayahku sangat benci kepadaku. Dia jadi kasar padaku. Padahal dulu dia tidak pernah begitu. Dia tak mau membayar uang sekolahku. Bahkan uang sekolahku dibayarkan oleh Pamanku. Setiap hari kami hanya memakan ikan asin, telur, dan nasi putih..

Pada suatu malam, ayahku pulang sekitar jam 2 malam. Disana dia sedang dalam keadaan mabuk. Lalu dia datang ke kamar, dengan tiba-tiba dia menyeret rambut ibuku, sampai ke teras. Lalu dia mengusir ibuku. “Pergi kau dari rumah ini, aku sudah tidak mau punya istri sepertimu”. Lalu dia mengambil semua pakaian ibuku, mencampakkannya ke arah ibuku. Sungguh kejam dirimu, ayah! Lalu aku berlari kearah ibuku, memeluknya, lalu aku berkata pada ayahku “Tak seharusnya kau bersikap seperti ini pada ibuku, dia yang telah melahirkanku, kau tidak berhak menyiksanya! Kau seharusnya malu, kau itu adalah seorang ayah. Seharusnya kau memberi contoh yang baik. Kau lihat kedua adikku? Betapa tertekannya mereka, dasar orang gila”
Lalu dia melemparku dengan kursi, sampai paha dan tanganku memar. Begitulah kejadian hidupku setiap harinya, dia sering menghina ibuku, mengusir, dsb. Aku jadi jarang masuk sekolah karena aku merawat ibuku, memijat badannya, dan melindunginya dari ayahku. Bahkan ibuku tak pernah tidur di kamar ayah, dia tidur bersamaku dikamarku.

Pada suatu ketika, pada saat ayahku tidur, aku mengambil handphone nya lalu aku mencari nomor selingkuhannya. Dapat!!! Lalu aku mengsms nya dengan nomorku lalu memaki-maki selingkuhannya itu. Tapi esok harinya, selingkuhannya memberitahukan pada ayahku kalau tadi malam aku mengsms dan memakinya. Dalam sekejap ayahku merampas handphone ku lalu memecahkannya di depan mataku.
“Dasar manusia tak punya otak! Pikiranmu sudah teracuni!” Itulah yang kuucapkan padanya.

Setiap malam ibuku berdoa, shalat, dan terus menerus berserah diri padaNya. Bahkan tak jarang aku menemukan ibuku tertidur di atas sajadah dengan memakai mukena.

Setahun kemudian, ayahku memberi surat cerai pada ibuku. “Lebih baik kita bercerai saja, sampai kapanpun aku tidak mau mempunyai istri sepertimu”. Ibu ku hanya terdiam, lalu menemuiku. “Nak, maafkan ibu ya nak. Sepertinya hari ini ibu harus pulang kampung. Biarlah ibu mencari makan disana, menjadi pembantupun tak apa, yang penting bisa menyambung hidup. Jaga adikmu baik-baik ya. Ibu sangat menyayangi kalian.”
Aku dan ibu sama-sama menangis. Lalu ibu langsung pergi, sementara aku menjaga adik-adikku.

Beberapa hari kemudian, keluarga ku menelpon ibuku, dan menjumpakannya dengan ayahku. Disana keluargaku sudah menasihatinya. Tapi ayahku malah memberontak dan memaki-maki keluargaku. Sungguh, betapa besar pengaruh santet perempuan jal*ng itu. Aku menangis sejadi-jadinya pada saat kejadian itu. Akhirnya, tiba-tiba entah apa yang terjadi pada diriku. Aku kesurupan! Aku berbahasa daerah seraya menasihati orang tuaku. Aku sangat memberontak, aku sendiri tidak mengerti mengapa aku bisa kesurupan.

Beberapa hari setelah kejadian itu, ayahku datang kepada kami berempat, lalu dia meminta maaf pada kami. Dia berjanji bahwa dia akan meninggalkan perempuan jalang itu.
Alangkah tulus hati ibuku, dengan rendah hati dia ikhlas memaafkan ayahku. Lalu aku berkata “Untuk apa ibu maafkan bajingan ini! Dia telah membuat adikku menjadi trauma, dia telah menyiksa kita, dia tidak menafkahi kita selama 2 tahun”. Lalu ayah menangis dan memelukku “Maafkan aku nak, aku sudah disadarkan oleh Tuhan. Aku sadar bahwa memang benar perempuan itu telah menyantet ayah. Sekarang dia sudah pergi dan pulang ke suaminya. Maafkan ayah”

Kami pun berlinang airmata. Semenjak kejadian itu ayah berubah menjadi seperti ayahku yang dulu.
Sekarang aku sudah 16 tahun, sampai sekarang aku adalah gadis yang sangat bahagia.

Terimakasih Tuhan, aku tahu kau selalu berada disisi orang-orang yang tersakiti 🙂

~ Cerita ini hanyalah fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesamaan nama, cerita dan latar belakang ~

Cerpen Karangan: Nona Nada Damanik
Blog: littlethingaboutnona.blogspot.com

Nama Lengkap : Nona Nada Damanik
Sekolah : Kelas 1 SMA (SMA NEG.1 PEMATANGSIANTAR)
TTL : Pematangsiantar, 19091997
Facebook : Nona Nada Damanik
Blogger : littlethingaboutnona.blogspot.com
Blogger 2 : articlenona.blogspot.com
Twitter : @NONdmk

Cerpen Masa Kecilku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Buku Harian Laurabelle

Oleh:
Malam begitu dingin hari berteman sepi bintang begitu terang bulan begitu indah namun sosok gadis bernama Laurabelle wajahnya tampak lelah, matanya sembab dan terbaring di atas ranjangnya sekali lagi

Gadis Fatamorgana

Oleh:
Wanita bergaya khas metropolis itu selalu datang setiap malam. Ia cantik, dan memang selalu berpenampilan menarik. Berbagai macam warna gaun, sepatu atau tas, bahkan perhiasan telah dipakainya setiap malam.

Cita-Cita Ashley

Oleh:
Pagi itu tidak seperti biasanya, raut muka Ashley kelihatan murung, tampak kesedihan yang teramat sangat tercermin di sana. Canda, tawa, dan semangatnya seakan sirna, kebiasaannya bersenandung setiap saat pun

Cerita Mas Danu

Oleh:
“Udah dapet belum yang di cari. Hampir sore ntar dicariin ayah di rumah!” kataku sembari menepuk bahu seorang anak laki-laki disampingku. Aku melihat ke seberang rak buku. Anak perempuan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *