Mata Mamah Pindah Ke Mataku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 September 2013

Ada seorang anak perempuan yang sangat suka memainkan alat musik. Alat musik tersebut gitar dan piano. Anak itu sangat pintar memainkannya. Tapi tuhan memang adil, dalam kelebihannya bermain alat musik ia juga mempunyai kekurangan. Terkadang kekurangan yang ia miliki membuatnya down. Tapi ia tetap sabar dengan caci maki teman-temannya yang sering mengatakan dia buta. Nama anak perempuan tersebut Adia Rafa Nabhila, biasa dipanggil Bhila. Adalah seorang perempuan remaja yang berumur 15 tahun. Dia hidup bercukupan dengan sang ibu, sedangkan ayahnya sudah meninggal karena mengidap penyakit asma. Bhila bersekolah di sekolah biasa dan setiap pagi Bhila diantar ibunya ke sekolah dan sore hari di jemput oleh ibunya.

Suatu hari Bhila seperti biasa mendapat caci maki dari teman-temannya di sekolah. Sebenarnya Bhila tidak ikhlas dengan perbuatan teman-temannya tersebut. Tapi apa jadinya jika Bhila marah kepada teman-temannya. Toh.. teman-teman Bhila tidak akan berhenti menghinanya. Ibunya selalu berkata “sabar… teman yang baik itu teman yang menerima apa adanya keadaan teman sendiri”. Setelah teman-teman Bhila menghinanya, lantas mereka pergi dengan riang sambil berkata “buta”. Hati Bhila sangat hancur dan dia pun mulai menitikan air mata.

Satu demi satu pelajaran pun di hadapinya meskipun dalam keadaan kekurangan. Dengan tidak bisa melihat materi yang ditulis di papan tulis tapi Bhila masih bisa mendengarkan. Para guru pun sedikit khawatir dengan keadaannya. Lalu wali kelas Bhila memanggil ibunya untuk membicarakan hal tersebut.

Keesokan harinya, ibu Bhila datang ke sekolah sembari mengantar Bhila ke kelasnya. Lalu ibunya bertemu dengan wali kelas. Wali kelas Bhila membawa ibu Bhila ke dalam ruangannya. Ibu Bhila sangatlah khawatir dengan dipanggilnya beliau ke sekolah. Karena ini sudah ke tiga kalinya beliau dipanggil karena hal yang sepele. “ada apa ya bu? Kok saya dipanggil kemari lagi?” ibu Bhila heran. “begini bu, sepertinya ibu harus memasukan Bhila ke Sekolah Luar Biasa karena saya takut mengganggu kegiatan mengajar di kelas bu” wali kelas Bhila langsung to the point membicarakannya. Ibu sangatlah sedih mendengar penolakan putrinya untuk belajar di sekolah ini. “tapi bu, putri saya ingin belajar seperti anak-anak normal meskipun dia cacat. Bu saya mohon….” pinta ibu Bhila sambil memohon kepada bu guru. “tidak bisa bu, saya takut mengganggu saat UN nanti. Saya lebih kehilangan satu murid daripada seluruhnya bu. Tolong ibu mengerti” kata-kata bu guru sangatlah tidak pantas untuk ibu Bhila yang mempunyai anak yang memiliki kekurangan. Ibu Bhila pun sedih dan memutuskan memindahkan Bhila dari sekolah ini.

Setelah Bhila pulang sekolah dan duduk di ruang tamu. Ibu Bhila langsung pergi ke kamarnya. Beliau menangis karena takut untuk mengatakannya kepada Bhila. “mah… mamah kemana? Aku mau tanya tentang mamah ketemu sama ibu guru” terdengar suara Bhila oleh ibunya. Ibu Bhila pun langsung menghampiri Bhila. “ada pa Bhil?” ibu Bhila menghapus air matanya. “mah tadi bu guru bilang apa sama mamah?” tanya Bhila kepada mamahnya. Ibu Bhila pun terkejut dengan pertanyaannya. “mah kok diam aja sih, jawab dong” “kamu yang sabar ya sayang…” Ibu Bhila tak kuasa menahan air matanya tapi mulutnya ia tutup supaya tidak menimbulkan suara tangis. “mah, aku siap dengerin apapun yang bu guru katakan” Bhila pun mencari tangan ibunya. Ibu Bhila menggapai tangan Bhila. “kamu pindah sekolah sayang” “pindah sekolah…!!! kan bentar lagi UN mah. Aku ga mau pindah” “tapi wali kelas kamu yang nyuruh sayang” “ya mamah fikirn dong caranya biar aku ga pindah sekolah”. Ibu Bhila pun stress dengan penyataan anaknya yang tak setuju. Dan beliau menyendiri di kamar untuk menenangkan fikirannya.

Keesokan harinya, weekend. “tok… tok…tok…” suara pintu depan di ketuk. “iya siapa?” ibu Bhila membuka pintu. Beliau tersenyum melihat tamu yang datang hari ini. Dia adalah ibunya ibu Bhila. “siapa mah…” mencoba pergi ke arah pintu depan. “nenek Bhil..” jawab ibunya Bhila. “nenek… nek.. giman kabarnya?” “nanti saja ngobrolnya kasihan nenek baru sampai”. Bhila seperti biasa tanya-tanya tentang keadaan kampung. Nenek pun sangat senang melihat cucunya yang gembira melihat kedatangannya. Ibu Bhila pun sedikit terobati atas kesedihannya kemarin. “sepertinya ibu harus tahu tentang ini” gumam hati ibu Bhila.

Saat malam hari, ibu Bhila dan nenek masih menonton televisi. Sedangkan Bhila sudah tertidur pulas di kamarnya. “bu… aku mau ngomong sama ibu” wajah beliau tertunduk. “ada apa? Kamu sepertinya menyembunyikan sesuatu”. “Bhila tidak mau pindah sekolah ke SLB bu…” “loh kok dipindahin, kan anakmu seneng sekolah disitu” “ini permintaan sekolahnya bu. Wali kelasnya bilang takut mengganggu UN nanti”. “terus kamu mau lakuin apa buat Bhila? Sedangkan dia saja tidak mau pindah sekolah”. “aku mau operasi matanya saja. Bulan kemarin aku daftarin dia ke rumah sakit. Dan besok jadwal terakhir dia. Jadi dokter ngasih satu bulan buat nyari pendonornya.” “kalau tidak dapat gimana?” tanya nenek yang membuatku berfikir kembali. “tapi aku sudah fikirkan betul-betul bu, pasti ibu tahu apa maksudku”. nenek mengerti apa maksud anaknya tersebut.

Keesokan harinya, Bhila seperti biasa berangkat ke sekolah diantar ibunya. Beberapa menit kemudian mereka sampai. Tapi itu bukan sekolahnya melainkan rumah sakit. “mah kok bau alkohol ya..? ini dimana?” “mm… kamu mau operasi mata sayang, ada orang yang mau donor matanya buat kamu”. “oh yah bu.. sekarang di operasinya?” “iya… kamu senang kan?” “senang banget bu, di saat aku lagi ada masalah ternyata tuhan ngasih harapan buat aku lihat dunia ini. dan pastinya bisa lihat ibu”. Bhila dan ibunya pun memasuki rumah sakit dan bertemu dengan dokter yang akan mengoperasi Bhila. Bhila pun bersiap untuk dioperasi. “sayang maafin mamah… udah bohongin kamu”.

Setelah Bhila operasi, dia mencari ibunya dengan mata yang masih ditutup perban. “mah… mah ada dimana?” “Bhila.. mamah lagi keluar sebentar sayang” jawab nenek yang berada di dekatanya. “kok mamah ninggalin Bhila ya..?” tanya gadis tersebut dengan wajah ditekuk.

Setelah beberapa hari, ibunya pun datang ke ruangan Bhila. “Bhil ini mamah… maaf mamah ninggalin kamu” sambil meraba tangan putrinya. “mah… aku kangen, kemana aja sih mamah?” “mamah ada kerjaan khusus. Hari ini kamu mau dibuka perbannya, jadi mamah datang”. “aku tak sabar untuk melihat semuanya”. Kemudian pak dokter dan suster datang ke ruangan Bhila dan membuka pelan-pelan perbannya. “coba kamu buka perlahan mata kamu” dokter menyarankan. Mata Bhila mulai perlahan membuka dan melihat samar-samar di sekelilingnya. “bagaimana Bhila?” tanya dokter. Penglihatannya mulai jelas. “yeh.. aku bisa lihat..” “wah operasi ini berhasil…” “ini nenek ya? Sambil menunjuk dan menoleh ke arah nenek” “iya.. ini nenek”. Bhila melihat ke sekeliling ruangan dan tidak melihat ibunya, hanya seorang wanita dengan keadaan buta. “nek… itu yang donor matanya ya?” sambil menunjuk ke arah wanita itu. “iya…” Bhila pun menghampiri wanita itu. “bu… terimaksih ya atas donor matanya. Saya sangat senang bisa melihat dunia baru ini” “iya… sayang” wanita itu menitikan air mata. “nek… mamah mana sih. Aku pengen lihat wajahnya” gerutu Bhila. “kamu udah lihat sayang…”. wanita itu menangis hingga cecegukan. “mana nek?” “ini ibu kamu..” nenek pun menangis. “ibu aku gak buta, dia bisa lihat nek”. Bhila melihat wanita itu menangis dan cara menangisnya seperti ibunya. “bu… anda ibu saya?” wajah Bhila diselimuti kesedihan. Wanita itu mengangguk. “mah… apa yang mamah lakukan?. Aku ga mau mamah buta, biarin aku aja yang buta…” Bhila memeluk ibunya. “mamah ikhlas… kamu harus ikhlas juga menerimanya” “tapi ga gini caranya…” “perjalananmu masih panjang” Bhila pun semakin memeluk erat ibunya. “aku sayang mamah…” Mereka pun menangis.

Ibu Bhila tak kuasa menahan malu anaknya yang setiap hari putrinya selalu di caci maki oleh teman-temanya. Sampai ke tiga kalinya beliau dipanggil ke sekolah untuk hal yang sepele. Ibunya pun merasa kasihan karena sudah sebulan ia belum mendapat donor mata untuk anaknya. Tak ada pilihan lain selain mengorbankan matanya untuk Bhila sang putri. Mata ibu Bhila pun di pakai oleh Bhila selamanya. Dan Bhila sangat berterimakasih kepada ibunya meskipun sedih melihat keadaan ibunya.

Cerpen Karangan: Nurannisa Widiawati
Blog: nisawidia4ever.blogspot.com

Cerpen Mata Mamah Pindah Ke Mataku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Happy Can Come From Elsewhere

Oleh:
Kata orang bijak kebahagiaan bisa datang dari manapun disadari ataupun tanpa kita sadari. Andra merasakannya walau sempat merasa bahagianya akan hilang setelah ibunya meninggal. Dan kini dia hidup dengan

Kasih ibu yang Meluluhkan Hati

Oleh:
Seperti mimpi, ini benar-benar sebuah mimpi ataukah sebuah kenyataan. Ibu ku, malaikatku yang ku sayangi, kenapa berubah. Ku kira akibat benturan itu, saat ibu jatuh terpeleset karena lantai yang

Malaikatku

Oleh:
Di sekolah… “Huh, hari ini ada ulangan harian, belum belajar lagi”, kataku. aku sebal karena hari ini ada ulangan harian sedangkan aku belum belajar. Tadi pagi aku dimarahi ibu

Ibu, Aku Juga Anakmu

Oleh:
Seperti anak lain pada umumnya, aku tumbuh di tengah keluarga yang penuh cinta. Kedua orangtuaku menyayangiku, mereka memberikan kasih sayang yang melimpah padaku. Sehingga tak ada hal lain yang

Lebih Dari Apa Pun

Oleh:
“Mereka selalu menganggap aku rendah, mereka selalu merendahkan harga diri aku, apa ada yang salah dengan pekerjaan aku saat ini.?” Namaku anisa zahrani, keluargaku biasa memanggilku rara, aku hanyalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *