Mata Pisau (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 October 2018

Bulir air mata menetes menghujani pipi bahkan semakin deras tak kunjung reda. Perih terasa menghujam pipi kiri yang memerah bekas tamparan dan hati kecil yang tak henti mengharap. Di ujung dapur, Eva masih terisak tak percaya apa yang telah terjadi, semua berlalu begitu singkat dan menyakitkan setelah kebahagiaan sebentar menghampiri. Masih tersungkur muram larut dalam sedih.

“Apakah salah bila ku tinggalkan hal yang dipaksakan yang tentu saja tak ku suka dan memilih jalanku sendiri keinginan dan anganku?” gumam Eva dalam tangisnya.

Eva mengelus pipi kirinya berharap sakit akibat tamparan yang mendarat segera hilang. Tapi itu tak bisa sembuhkan sakit di relung hatinya, sedih, marah dan kecewa berpadu jadi satu. Tangis mulai sedikit mereda, kini Eva terduduk diam membatu. Ingatannya mencoba meraba dan menggali hal-hal yang indah, berusaha menghibur diri.

Masuk SMA favorit di kota dengan jerih payah belajar tekun, siapa menyangka Eva yang semasa SMP terbilang biasa saja bahkan guru-gurunya pesimis dia bisa masuk SMA favorit, namun Eva bisa membuktikan dia lolos seleksi yang cukup sulit dengan menduduki peringkat ketiga dari seluruh peserta yang hampir mencapai angka 300. Gembira, tentu saja, sangat, raga seakan ringan terbang merasakan lembutnya awan putih bersih, impian hampir semua siswa SMP di kota itu. Setelah melalui masa orientasi yang menyita energi, pembagian kelas pun diumumkan, hanya nama tanpa wajah, tiada satu pun yang dikenal Eva, semua orang baru dan Eva harus bersiap mental. Hari pertama di SMA, kegiatannya pengenalan personil kelas, pengumuman jadwal mata pelajaran dari wali kelas, dan yang ditunggu-tunggu Eva yaitu pengisian formulir kegiatan minat bakat. Alasan Eva berusaha keras agar bisa diterima di SMA tersebut bukan karena prestise, karena kebetulan di kota Eva tinggal hanya di SMA itu yang menyediakan kegiatan minat bakat yang sangat dia impikan, olah kuliner atau memasak.

Masuk ke dalam kelas, kelasnya bersih, sudah banyak calon teman baru di sana. Segera mencari tempat duduk di pinggir dekat jendela, Eva sudah terbiasa, dengan melihat keadaan luar bisa mengurangi jenuh saat kegiatan belajar, begitu harapnya. Setelah meletakkan tas bawaannya, dia melihat keadaan, siswa lain seakan tak peduli asik mengarungi imajinasi dengan membaca buku-buku pelajaran, anak-anak pencari prestasi, kaku beku sedingin gletser kutub utara, Eva mengurungkan niatnya berkenalan. Tak semudah saat awal SMP, semua siswa baru berkumpul merajut pertemenan tak pandang bulu. Eva asik melamun menatap jendela yang menampilkan suasana taman sekolah yang terawat apik.

“Pagi-pagi udah melamun, cowok nggak suka cewek yang doyan ngelamun lho”, ucapan seorang perempuan sambil menepuk pundak Eva.

“Namaku Eva, kamu?”, spontan Eva menjawab dengan kaget karena sedang larut dalam lamunan.
“Kamu lucu deh. Aku Anne. Salam kenal ya, nona pelamun. Hahaha”
“Ih jahatnya! Kadang melamun meningkatkan daya ingat lho”, Eva menyanggah
“Maaf deh, Eva. Boleh duduk di sini?”, Anne menunjuk bangku tepat di sebelah Eva.
“Tentu boleh, aku seneng banget. Sini, An”

Anne duduk di sebelah Eva. Mereka mengobrol mengorek lebih dalam seperti apa teman baru di hadapan mereka. Ternyata Anne adalah anak salah satu guru Eva semasa SMP, Anne terinspirasi oleh cerita orangtuanya tentang kegigihan Eva yang kebetulan menjadi teman sekelasnya, terlebih lagi Anne punya minat yang sama seperti Eva, olah kuliner, kebetulan yang seolah direncanakan. Perbincangan 2 dara berbalut canda, dari hal penting hingga yang remeh receh.

Waktunya mulai kegiatan belajar, ya lebih tepatnya pengenalan, wali kelas memasuki kelas. Perkenalkan dimulai oleh Bu Fatma, sang wali kelas, ramah namun tegas terlihat dari cara bicaranya. Dilanjut dengan pengenalan para siswa, Eva terkejut, hampir semua siswa di kelasnya adalah anak dari keluarga golongan menengah ke atas, berbeda dengannya. Anne memberi semangat ke teman sebangkunya yang mulai minder. Tibalah saat yang ditunggu Eva dan Anne, pengisian formulir kegiatan minat bakat. Dengan tekat baja mereka berdua memilih kegiatan minat bakat, ya, olah kuliner.

Pulang adalah hal yang ditunggu para siswa, lelah dan penat, padahal masih hari pertama. Dengan sepeda butut peninggalan ibunya, Eva menyusuri jalan menuju rumah, Eva sudah kehilangan sosok ibu sejak 2 tahun lalu, leukemia. Keringat mengguyur tubuh lelah gadis yang memasuki masa pubertasnya, akhirnya menjejakkan kaki di rumah sederhana yang nyaman. Sepi tak ada seorangpun, ayah Eva belum pulang. Selagi senggang, Eva belajar, hanya sebabak pertandingan sepakbola, bosan bila terlalu lama, tak mau memaksakan diri. Jelang sore, dia nyalakan televisi, acara masak dari koki idolanya akan segera tayang, dia selalu mengikuti acara itu sambil dipraktekkan di dapur, semakin rajin setelah kepergian ibunya, refresing dan mengasah bakat sekaligus menyiapkan makan malam untuk dirinya dan sang ayah.

“Ayah pulang”, terdengar suara ayah Eva sudah pulang, dengus nafasnya isyaratkan kelelahan.
“Selamat datang, ayah. Makan malam udah Eva siapin di meja. Ayah mandi dulu biar segar”
“Anak ayah udah dewasa ya. Hahaha. Ya udah ayah mandi dulu”

Eva mencoba lebih perhatian pada ayahnya, ibu sudah tak bisa lagi memberi perhatian, begitu pikirnya. Setelah mandi, ayah Eva duduk bersiap untuk makan malam bersama dan disajikan putri semata wayangnya.

“Gimana sekolahnya? Dapet temen baru?”
“Masih awal, yah. Cuma pengenalan, besok baru mulai kegiatan”
“Kegiatan minat bakat yang kamu ambil?”
“Hmmm hmmm”

Ayah Eva masih menanti jawaban.

“Seni musik, yah”
“Itu baru anak ayah, kamu harus meneruskan darah yang mengalir, menjadi musisi”

Eva terpaksa berbohong. Ayahnya adalah orang yang bisa dikatakan otoriter, semua harus sesuai kemauannya. Dia adalah violinis kondang, keahliannya tak perlu diragukan, pertunjukannya selalu ramai, bahkan tiket pertunjukannya selalu sold out, penghargaan demi penghargaan didapatnya. Dia bisa saja menghidupi keluarganya dengan mewah, namun dia nemilih hidup sederhana, uang ditabung demi Eva yang diharapkan mengikuti jejaknya. Semenjak istrinya meninggal, dia memilih bekerja sebagai pegawai perusahaan swasta di kotanya, pertunjukan tunggal apalagi di beberapa kota akan menjauhkannya dari Eva, terpaksa memupuskan karirnya sebagai violinis, tak sepenuhnya pupus, masih tapi sangat jarang mengadakan pertunjukkan. Alasan kedua Eva lebih perhatian pada ayahnya, dia berharap ayahnya luluh dan membiarkan Eva memilih jalannya, walau pada akhirnya sia-sia, bahkan Eva akan dimasukan ke kursus violin secara cuma-cuma milik Om Danu, teman ayah Eva. Eva bisa memainkan violin tapi dia tak minat.

Hari pertama di olah kuliner, Eva dan Anne datang memilih tempat bersebelahan, kaget ternyata banyak anggotanya, tak hanya perempuan tapi ada laki-laki juga. Perhatian Eva tertuju pada seorang perempuan yang menggunakan kursi roda di samping kanannya, dipisahkan oleh 3 orang lainnya. Pertemuan pertama adalah memasak menu apa saja sesuai keinginan peserta dengan waktu 1 jam. Eva yang sudah terpikir membuat apa langsung bergerak cepat. Di tengah pertempuran melawan waktu, Eva yang masih penasaran mengarahkan pandangannya ke arah perempuan pengguna kursi roda, perempuan itu tampak kebingungan mencoba menggapai rak atas, tak ada yang peduli, semua fokus pada masakan masing-masing, Eva menghampirinya, menitipkan masakannya ke Anne, padahal Anne tak tau harus diapakan.

“Ada yang bisa kubantu?”
“Eh, maaf ngerepotin, aku mau ambil spatula di atas, tapi…”, si perempuan itu kaget dan tak percaya ada yang peduli.
“Ini spatulanya, jika butuh bantuan bilang aja, nggak perlu sungkan”, Eva mengambil spatula dari rak atas dan memberikannya
“Terima kasih banyak ya, …”, tampak kebingungan.
“Eva, Namaku Eva. Kamu?”, Eva menangkap kebingungan perempuan itu.
“Aku Fitri. Terima kasih ya, Eva”, si perempuan pengguna kursi roda itu tampak senang.
“Eva! Kayaknya udah hampir matang nih punyamu, waktunya platting”, teriak Anne.

Eva berlari menghampiri, dia selesaikan masakannya, sesekali membantu Anne. Beberapa menit kemudian, siapa mengira Fitri yang sudah selesai menghampiri Eva dan Anne, membantu mereka. Anne tersentak, dibalik ketidaksempurnaannya, Fitri sangat mahir dalam memasak dengan lincah membantu mereka berdua. Masakan mereka bertiga sudah jadi. Hasilnya? Sangat memuaskan. Mereka siap menuju pelatihan berikutnya.

Hari-hari telah berlalu, ilmu mereka bertiga semakin banyak, semakin mahir, semakin banyak resep baru yang mereka buat. Namun mereka mulai menemui kejenuhan. Hingga suatu hari pembina olah kuliner memberitahukan akan diadakan lomba masak SMA tingkat nasional, dan hanya 1 perwakilan tiap sekolah, persaingan sengit. Olah kuliner hari ini telah usai. Eva dan Anne berjalan sambil mendorong kursi roda Fitri menuju gerbang tuk pulang sambil meminum jus alpukat yang mereka beli di kantin.

“Wah sulit nih buat jadi perwakilan sekolah, harus bersaing dengan 80an siswa”, Fitri mengawali.
“Kalau aku pasti bisa”, Anne penuh percaya diri.
“Aku nggak ikut deh. Mana mungkin ayahku ngijinin. Aku bisa kemari pun harus bilang mau ke kursus violin dulu baru bisa”
“Ayolah, Eva. Berjuang bareng-bareng dulu. Buktiin ke ayahmu, kamu sang pemegang pisau bukan violin”, Anne tak rela.
“Iya, Va. Kapan lagi ada kesempatan begini. Oh ya, sebelum itu, kita ikutan ini dulu, gimana? Sekalian kamu tunjukin ke ayahmu apa passionmu”, Fitri mengeluarkan selebaran berisi lomba masak yang akan diadakan oleh restoran ternama di kota, hadiahnya tak tanggung-tanggung, uang jutaan dan 1 set peralatan masak.
“Wah asik bener, Fit. Sikat bareng-bareng. Tuh, Va. Ayolah”, timpal Anne
“Kalau kalian mau, kita susun resep yang dipakai nanti di rumahku, alat dan bahan siap, dan kita bisa lebih leluasa”, tambah Fitri
“Wah serius nih, Fit? Kamu memang terbaik”, Anne kegirangan.
“Aku sebenarnya ingin, tapi gimana dengan ayahku? Mana mau beliau ngijinin kalau nggak sesuai keinginannya”, dalam hati Eva meragu.
“Santai aja. Kamu ikuti aja apa yang ada. Kalau ada apa-apa bilang aja, Va. Kami siap membantu lahir batin. Iya kan, Fit?”
“Bener tuh, Va. Bilang aja kalau ada yang mengganjal. Pisau akan tumpul kalau tak diasah, begitu juga masalah, harus diselesaikan agar kita lebih kuat jalani hidup. Juru masak adalah pengendali pisau dapur, kuasai dirimu, Va”

Eva pun memantapkan hatinya. Tiap siang sepulang sekolah, Eva menyiapkan resep untuk lomba bersama Anne dan Fitri di rumah Fitri, rumah yang sangat mewah, fasilitas di dapurnya hampir paripurna, orangtua Fitri sangat mendukung apa keinginan putrinya, beruntungnya Fitri, begitu yang terlintas di benak Eva. Mereka tak bosan, Anne selalu menjaili kedua temannya, canda tawa. Hingga hari lomba itu dimulai, Minggu siang yang terik, Eva bersiap berangkat menuju lokasi lomba.

“Kamu mau ke mana? Bukannya hari Minggu nggak ada jadwal kursus?”
“Errr. Hari ini ada latihan khusus dari Om Danu, yah”, jawab Eva gugup sambil menenteng tas berisi violin dan peralatan masak ringan, serta tak lupa membawa pisau peninggalan ibunya.
“Ya udah. Semoga makin mahir dan bisa seperti ayah”
“Ayah harusnya bilang semoga kamu menang lomba dengan masakan yang bisa membuat para juri tersanjung”, kata Eva dalam hati.

Sampai di lokasi, gugup, peserta lomba yang banyak dengan keahlian masak yang tak bisa dianggap enteng. Tangan seseorang sedang menggenggam hangat tangan kiri Eva, Fitri lah yang menggenggam mengerti yang dirasakan temannya, bersamaan dengan tepukan di pundak kanan Eva yang sudah familiar, Anne memberi semangat. Semua peserta bersiap di posisi yang disediakan penyelenggara, alat bahan pun tak luput dipersiapkan. Lomba kali ini menunya terdiri dari tiga, masakan Nusantara dan mancanegara serta makanan pencuci mulut pilihan peserta. Lomba dimulai, semua peserta nampak fokus menyediakan masakan terbaiknya masing-masing.

Tiba saat penilaian. Para peserta menghidangkan 3 menu mereka kepada dewan juri. Giliran Eva menghidangkan masakan. Menu di piring pertama ada Aunuve Habre dengan Nasi Jagung dan Sambal Roa untuk masakan Nusantara, piring kedua ada Mahsy khas Mesir untuk masakan mancanegara, dan Martabak Sagu sebagai hidangan pencuci mulut. Makanan khas Papua menjadi menu dominan Eva, Aunuve Habre dan Martabak Sagu, dia ingin memperkenalkan makanan khas pulau paling timur Nusantara itu pada dewan juri. Para juri mencicipi masakan Eva, raut muka mereka datar, respon yang sama yang dialami semua peserta, dia tak puas dan pesimis.

Pengumuman para juara lomba, ini yang membuat Eva, Anne, dan Fitri, serta peserta lomba lainnnya berdebar deg-degan. Juara ketiga diumumkan, sayang seribu sayang, nama yang disebut ketua dewan juri lomba masak tersebut bukan nama salah satu dari mereka bertiga, begitu pula saat diumumkannya nama juara kedua. Pengumuman nama sang juara pertama, Eva dan Fitri sudah tak berharap, Anne masih membara keyakinannya, dia meyakinkan 2 temannya yang berada di ujung tanduk harapan.

“Kini saya umumkan juara pertama acara masak kali ini. Dan sang juara pertama adalah…”

Semua peserta deg-degan.

“EVA DAMARANI”

“Selamat kepada Eva Damarani. Hidangan Nusantara masakannya yang bercitarasa tinggi dan membawa beberapa jenis makanan khas daerah Nusantara yang membuatnya beragam. Mahsy yang lezat dan menyehatkan, serta Martabak Sagu yang ciamik. Kita berikan selamat pada sang juara”

Mulutnya menganga, seolah masih tak percaya. Di tengah riuhnya tepuk tangan, Eva pun sangat gembira, dia bintang di acara itu, ingin berteriak karena girang. Anne dan Fitri yang ikut gembira atas kemenangan Eva memberi selamat dan memeluknya, haru luar biasa. Kini Eva bisa buktikan pada ayahnya bahwa dia punya jalan sendiri yang gemilang. Setelah memboyong hadiah, Eva langsung pulang ke rumah, ayahnya harus tahu.

Diar Abinuanto, sosok makhluk maya jelmaan dari bayangan anagram makhluk nyata yang hidup penuh cela. Amatir yang masih berusaha.

Cerpen Karangan: Diar Abinuanto

Cerpen Mata Pisau (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Adik

Oleh:
Namanya Axl Dean, aku sering memarahinya karena hal yang sepele maupun tak sepele. Hari ini, aku pergi ke pameran. Pameran hari ini dalam rangka ulang tahun provinsi. Yang biasa

Ibuku Surgaku

Oleh:
Masih kugenggam novel berwarna merah dengan judul “Air Mata Terakhir Bunda”. Air mata yang terus berjatuhan seakan tak ingin berhenti menangisi kepergiannya. Seandainya waktu berputar lebih lambat, aku ingin

Melodi Cinta Penuh Makna (Part 2)

Oleh:
Hari berganti hari dan tiba saatnya dimana hari ini aku memiliki janji bersama sahabat-sahabatku untuk berkumpul tetapi lagi-lagi aku lebih memilih bersama Arif dan membatalkan janjiku. “Maaf aku tidak

Patah Hati Terhebat

Oleh:
Semua orang pasti mengalami patah hati. Tapi, mayoritas patah hatinya hanya karena diputusin. Tapi tidak untuk aku, aku mengalami patah hati terhebat dalam hidup aku. Pergi meninggalkan aku dan

Kecelakaan Menakutkan

Oleh:
Namaku Shasa. Aku baru anak SMP kelas 1. Setiap hari aku harus bangun pagi karena jarak sekolah dengan rumahku lumayan jauh. Pagi-pagi mama sudah membangunkanku. “Sha, ayo bangun cepat,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *