Mata Pisau (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 October 2018

Sesampainya di rumah, Eva langsung menemui ayahnya dengan kegembiraan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata sambil membawa hadiah berupa piala, sejumlah uang, dan 1 set peralatan masak. Ayah harus tahu ini agar beliau bisa berpikir ulang tentang jalan yang diinginkan putrinya dan mendukungnya selalu, begitu pikir Eva.

“Ayah, Eva memenangkan lomba masak yang diadain resto ternama itu, masakan Eva jadi yang terbaik”
“Hmmm”, ayahnya menatap tajam.

“Jadi Danu benar. Kamu bohong mau ada latihan violin khusus dari Om Danu dan menuju lomba masak, jadi selama ini…”
“Err. Yah”, Eva mulai khawatir.
“Di tubuhmu mengalir darah musisi, bukan koki, kamu adalah calon musisi, Eva!”
“Ta-tapi, yah. Eva lebih suka jadi juru masak ketimbang musisi, Eva ingin berjalan sesuai keinginan Eva”
“Tak ada tapi. Kamu adalah musisi hebat di masa depan”
“Tapi Eva ingin menjadi juru masak, dan ayah bisa lihat hasil usaha Eva, Eva ingin menentukan jalan Eva sendiri”
“MASIH MEMBANTAH AYAHMU!”

PLAK!

Petualangan memori Eva berakhir dengan tamparan yang sama, masih meresapi tangisnya. Anak mana yang tak sedih dan kecewa saat orangtua yang harusnya mendukung minat bakat anaknya justru mengarahkannya dengan paksa tanpa tahu minat bakat anak sebenarnya. Hadiah lomba masaknya kini berasa tak berarti.

Nampak pisau peninggalan ibunya yang digunakan selama lomba tergeletak di atas meja makan. Serasa bergerak tanpa kendali, dia mengambil pisau itu. Mata pisau yang berkilau, silaukan mata sayu sendu Eva.

“Aku pisau, aku tajam bisa mengiris apapun. Bukannya ini kesempatan bagus, Eva? Dunia tak memberikan kebebasan memilih jalan sendiri”

“Ayahmu yang mengharapkan dirimu jadi musisi tak akan sudi bila anaknya jadi koki, kamu mengecewakan ayah yang jadi satu-satunya keluarga bagimu, kamu anak yang tak lagi diharapkan”

“Akhiri saja! Iris nadimu! Mati adalah jalan terbaik buatmu. Tunggu apa lagi? IRIS NADIMU!”

Eva seakan mendengar pisau yang dipegangnya menyuruhnya bunuh diri. Apa yang dikatakan pisau itu benar. Untuk apa lagi hidup disaat mimpinya dihalangi oleh orang yang seharusnya mendukung mimpi itu? Akhiri saja semua kekecewaan ini, pikir Eva sambil bersiap mengiris nadinya.

“Pisau akan tumpul kalau tak diasah, begitu juga masalah, harus diselesaikan agar kita lebih kuat jalani hidup. Juru masak adalah pengendali pisau dapur, kuasai dirimu, Va”

“Ayolah, Eva. Berjuang bareng-bareng dulu. Buktiin ke ayahmu, kamu sang pemegang pisau bukan violin”

Tiba-tiba perkataan Fitri dan Anne muncul berurutan di dalam pikiran Eva yang berada di ujung tanduk, mereka selalu bersama mendukung Eva selama di minat bakat olah kuliner, tentu mereka tak akan rela temannya menyerah pada mimpinya dan memilih mengakhiri hidupnya. Terilhami perkataan teman-temannya yang terngiang di kepala, ini tak berakhir semudah mengiris nadi, mengiris bumbu masak dan meraciknya menjadi pemuas lapar orang lain adalah cita-cita sejak kecil, tak akan padam. Muncul sepercik api kecil harapan di lubuk hati Eva.

“Aku adalah calon juru masak, dan kau adalah pisau dapur, akulah yang harusnya mengendalikanmu, kau adalah alat penunjang menuju masa depan yang kuinginkan”, Eva penuh keyakinan.

Siang yang menyengat, sampai di rumah setelah penat di sekolah, mengganti seragamnya dengan kaos oblong dan rok. Menuju meja belajarnya, belajar setelah pulang sekolah adalah rutinitas Eva sekalian mengerjakan pekerjaan rumahnya agar tak terlupa, walau malamnya juga belajar lagi. Dalam belajarnya, Eva sesekali melihat piala yang dia pajang salah satu rak meja belajarnya, kini hanya pajangan tanpa kelanjutan. 30 menit berlalu, gerah menyerang tubuh Eva, panas memang siang itu. Tak tahan dengan kegerahan yang melanda, Eva memutuskan untuk mandi. Setelah mandi, tak disangka ayahnya sudah di rumah.

“Ayah kok udah pulang?”
“Pulang cuma sebentar. Kamu nggak lupa kan hari ini ada jadwal latihan di tempat Om Danu?”
“Ng-nggak kok, yah”, Eva berpura-pura, sebenarnya sudah lupa.
“Kebetulan juga kamu udah mandi. Mulai sekarang ayah akan langsung mengantar kamu ke tempat Om Danu, tak ada tapi”

Eva kaget seketika, dia semakin terjerat kemauan ayahnya. Andai saja ayahnya tahu isi hati buah hatinya yang ingin menjadi juru masak. Setelah ganti pakaian dan menyiapkan violin, Eva berangkat ke tempat kursus violin diantar ayahnya.

Seleksi untuk menentukan perwakilan sekolah dalam lomba masak SMA tingkat nasional akan dimulai. Eva, Anne, dan Fitri ingin segera mempersembahkan yang terbaik, kesempatan tak datang dua kali. Anne dan Fitri berusaha menjadi perwakilan sekolah, membalas kekalahan mereka di lomba yang lalu yang dimenangkan oleh Eva, namun 3 sahabat itu tetap saling memberi semangat dan mendoakan yang terbaik. Sekitar 80an siswa dari minat bakat olah kuliner akan bersaing. Bagi Eva, ini adalah kesempatan kedua tuk menunjukkan pada ayahnya bakat dan minat seorang Eva, tingkat nasional, harus lolos seleksi. Para siswa mulai memasak hidangan terbaik mereka, semua fokus pada masakan mereka masing-masing. Waktu memasak sudah selesai, waktunya penilaian. Yang menjadi penilai adalah guru pembina dan pelatih minat bakat olah kuliner. Nama siswa yang akan mewakili sekolah akan diumumkan 2 hari lagi, tak sabar menanti.

Bel tanda berakhirnya kegiatan belajar telah berbunyi, Anne dan Fitri menghampiri Eva, sudah 2 hari berlalu, waktunya pengumuman siapa yang berhak mewakili sekolah dalam lomba masak tingkat nasional, detak jantung mereka semakin cepat. Guru pembina dan pelatih sudah menunggu di dapur olah kuliner. Makin tak sabar, para siswa berdoa berharap dialah yang terpilih. Eva Damarani, guru pembina menyebut nama Eva. Tepuk tangan tak beraturan menggema memenuhi dapur, Anne dan Fitri menghampiri dan memeluk Eva dengan gembira, memberi selamat pada temannya yang dua kali mendapat kemenangan, namun berbeda dengan Eva yang malah kebingungan.

“Selamat ya, Va. Kamu memang hebat. Salut deh. Masih ada waktu 2 minggu untuk persiapan. Semangat”
“Iya, Va. Hebat kamu. Kita akan bantu kamu nyiapin apa yang kamu butuhin. Tapi sebelum itu, kita rayain dengan jus alpukat kantin, ya nggak Fit?”
“Kalian ini, terima kasih ya, Fit, An”

“Eh tapi kok kamu kayaknya nggak seneng, kenapa, Va?”
“Bener, An. Temen kita satu ini menang malah sedih sih”
“Nggak apa-apa kok temen-temen”
“Bohong! Cerita gih ke kita ada apa”, kata Anne yang mengambil alih kursi roda Fitri dari Eva.
“Abis menang di lomba di resto itu, ayahku makin nggak bolehin aku ikut lomba masak, bahkan beliau kini makin mengawasiku dan mengantar sendiri ke tempat kursus violin. Aku takut kalau aku beneran ikut lomba ini, ayah akan makin memaksaku dan menjauhkan aku dari dunia masak”
“Kalau menurutku, kamu ikuti dulu kemauan ayahmu walau terpaksa, tapi tetep ikut lomba kali ini, ini nasional, dan kamu adalah pilihan guru pembina”, kata Fitri di kantin, Anne sedang memesan jus alpukat untuk mereka.

“Ngejus dulu nih”, Anne membawa 3 gelas jus alpukat kesukaan mereka.
“Kamu harus tetep ikut lomba ini apapun yang terjadi. Demi nama sekolah. Untuk masalah ayahmu, kamu tetep berjuang aja sampai menang. Hati pria memang keras, tapi akan luluh juga dengan usahamu. Buktikan lewat pisau dapurmu”
“Bener kata Anne. Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah mengasah pisau dapurmu hingga tajam agar bisa mengiris-iris kekakuan ayahmu dan membuatnya sadar akan bakat dan minatmu”
“Tapi jangan ditikam lho, Va. Entar masuk berita seorang anak membunuh ayahnya sendiri. Hahaha”
“Hus! Anne ini. Eva nggak mungkinlah begitu”

Eva bersyukur mempunyai sahabat yang selalu ada buatnya.

“Eh, aku duluan ya temen-temen. Ini uang traktirnya. Aku harus ke kursus violin sebelum ayah marah”
“Hati-hati ya, Va”, sahut Anne dan Fitri.

Kali ini Eva berangkat sendiri ke tempat Om Danu untuk latihan violin, ayahnya sedang sibuk dan setidaknya agar ayahnya senang. Om Danu terlihat sabar mengajari murid-muridnya agar piawai memainkan violin.

“Latihan hari ini kita akhiri, kita lanjutkan di pertemuan berikutnya”, Om Danu ramah.
“Oh ya, Eva. Om anter pulang ya? Om juga udah bilang ke ayah Eva kok. Om ada urusan sama ayah kamu nanti di rumah”
“Boleh, om. Terima kasih ya, om”

Sampai di rumah, Eva mempersilakan Om Danu masuk dan duduk. Tak lama ayah Eva sampai rumah. Ayah Eva menyuruh anaknya membeli beberapa camilan untuk Om Danu.

“Terima kasih udah mau nganter pulang Eva ya, Danu”
“Santai aja, mas. Kan sekalian”
“Ada perlu apa, Dan?”
“Hmm. Begini, mas. Eva udah latihan secara rutin selama 2 bulan di tempatku, tapi…”
“Tapi kenapa, Dan?”
“Dia lumayan jago, mas. Tapi saat latihan dia terlihat under pressure, permainan violinnya dan raut mukanya menunjukkan hal itu”

Ayah Eva perlahan mengingat-ingat saat anaknya memperlihatkan hasil kemenangannya di lomba masak kemarin yang malah berbuah tamparan. Eva kembali dengan membawa camilan untuk tamu ayahnya, Om Danu. Ayah Eva dan Om Danu mengganti topik pembicaraan, masa jaya Ayah Eva sang violinis kondang, ternyata Om Danu adalah junior dari Ayah Eva semasa sekolah. Menjelang malam, Om Danu pamit.

Makin malam makin gelap, Eva sudah tertidur. Ayahnya masuk ke kamar anak perempuannya. Piala juara pertama lomba masak terpampang di rak belajar. Ayah Eva mulai membelai rambut lembut dan harum anaknya.

“Apakah kamu sangat ingin jadi juru masak, anakku sayang?”, sambil mencium pipi Eva.

Malam yang dingin. Esok hari adalah hari keberangkatan Eva ke lomba masak tingkat nasional. Di meja makan ada nasi, soto ayam, dan 2 gelas bajigur, semua buatan Eva.

“Ayah”
“Ada apa, Va?”
“Besok Eva pergi jadi supporter salah satu temen yang ikut lomba musik”
“Ayah kira kamu yang ikut lomba”, seketika masam muka Eva.

Ayah Eva berlalu, dia sudah selesai makan.

“Masakanmu enak, Nak”

Tak diduga, kata-kata yang ditunggu setelah sekian lama pun akhirnya terucap. Eva terkejut atas pujian ayahnya yang bahkan sebelumnya tak pernah berkomentar tentang masakannya. Bintang-bintang malam itu tak dapat mengalahkan sinar kegembiraan Eva.

Ayam jago berkokok lantang, nyanyian pagi hari penyemangat. Tiba hari lomba masak tingkat nasional. Eva menyiapkan tas berisi peralatan masak dan juga violin, kamuflase agar ayahnya tak curiga. Menuju halaman, sudah ada 1 mobil yang ternyata ada Anne, Fitri, dan seorang sopir, Fitri sengaja menjemput sendiri sahabatnya dengan mobilnya. Setelah berpamitan dengan ayahnya, Eva berangkat.

Ratusan siswa SMA dari penjuru Nusantara berkumpul di satu gedung. Ya, melawan ratusan peserta yang tentu saja akan menjadi berat bagi Eva. Sempat surut mental Eva.

“Ayo semangat Nona Eva! Calon juru masak hebat masa depan siap mengiris-iris lawannya. Ayo Eva”
“Hahaha. Tuh, Va. Jangan kalah semangat sama Anne yang membara. Semangat ya, Eva! Keep fight”, Fitri menimpali.
“Terima kasih temen-temen. Aku akan berusaha semaksimal mungkin”

Waktu memasak dimulai. Ada 3 hal yang akan dihidangkan para peserta, makan utama, minuman, dan camilan yang kesemuanya adalah khas Nusantara. Para penonton tak henti-hentinya memberi dukungan pada perwakilannya, termasuk guru-guru Eva, serta Anne dan Fitri. Peserta tampak sibuk menyiapkan hidangan terbaik mereka, tetes keringat memancarkan usaha yang total. Aroma nikmat beberapa masakan mulai tercium, waktu masak akan segera berakhir.

Waktu memasak berakhirnya. Para peserta menyajikan hidangan mereka ke meja yang telah disediakan panitia. Terlihat di atas meja Eva ada Binte Biluhuta sebagai makanan utama, ditemani Bir Pletok serta Bingka rasa labu sebagai camilan. Eva yang kelelahan setelah berusaha menghampiri Anne dan Fitri, serta guru-gurunya yang ada di belakang yang tanpa henti menyemangati Eva. Para guru Eva memberi pujian atas bakat dan kerja keras Eva, terharu rasanya, jadi teringat sang ayah yang kini sedang bekerja dan tentu tanpa memberi dukungan.

Penantian selama kurang lebih 3 jam, hasil lomba akan diumumkan. Degup jantung Eva terasa lebih cepat, padahal dia tak sedang olahraga, tak sabar lagi. Bukan hanya Eva, peserta lain tampak antusias menanti namanya dipanggil sebagai juara, deg-degan, itu pasti. Eva ditemani Anne dan Fitri, mereka pun ikut deg-degan mengharapkan temannya membawa kemenangan.

“Dengan hidangan Binte Biluhuta, Bir Pletok, dan Bingka, Eva Damarani, memperoleh juara ketiga”

Teriaklah dengan girang 3 sahabat itu mendengar hasil lomba, saling peluk, memberi selamat pada Eva yang mendapat juara ketiga. Walau bukan juara pertama, tentu bangga bisa menaklukkan ratusan peserta lain. Eva sedang terbang menari diantara bintang-bintang. Eva maju ke panggung untuk menerima piala bersama peraih juara kedua dan pertama. Dengan bangga Eva menerima piala tersebut dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Kan calon juru masak hebat pasti dapat juara, udah kuduga itu pasti terjadi. Sekali lagi selamat ya, Va”
“Terlalu tinggi ah, juru masak hebat, aku masih butuh ilmu lagi untuk jadi hebat. Tapi terima kasih banyak ya, An”
“Ih, aku seneng banget deh, Eva! Kamu beneran hebat. Selamat ya. Kami butuh banyak pengalaman dari kamu”
“Terima kasih banyak, Fit. Ini berkat doa dan dukungan kalian juga. Terima kasih banyak ya”
Mereka bertiga larut dalam tawa kemenangan.

“Kalau mau ikut lomba masak, kenapa tadi bawa violin segala?”

Eva tak asing dengan suara yang berbicara di belakangnya. Dia langsung menoleh.

“A-ayah!”
“Eva minta maaf, yah. Eva terpaksa berbohong lagi, Eva beneran suka memasak, ingin hidup di dunia kuliner, mungkin ayah nggak akan suka, tapi Eva…”
“Bukannya tadi malam ayah bilang masakanmu enak?”

Eva bingung, tak mengerti maksud ayahnya.

“Ayah tahu kamu bohong, makannya ayah biarkan saja pura-pura tak tahu dan membuntuti mobil yang kamu tumpangi sampai kemari. Melihat kamu memasak dengan senang ayah…”, sejenak diam.
“Kamu ingin jadi juru masak, Eva?”
“I-iya ayah”, jawab Eva ragu, takut ayahnya marah lagi.
“Lakukanlah! Lakukan apa yang kamu minati”, jawaban yang ditunggu pun akhirnya terucap.
“Tapi berjanjilah pada ayah, kamu harus tekun, agar bisa jadi juru masak hebat nantinya, buat ayahmu bangga dengan apa yang kamu suka”

Air mata Eva perlahan menetes, terharu, akhirnya ayahnya bisa mendukungnya. Dipeluklah sang ayah, kemenangan yang teramat indah.

“Maafkan ayah ya, Eva. Ayah terlalu memaksamu”
“Iya, yah”
“Eva janji akan buat ayah bangga dengan mimpi dan pisauku”

Cerpen Karangan: Diar Abinuanto
Diar Abinuanto, sosok makhluk maya jelmaan dari bayangan anagram makhluk nyata yang hidup penuh cela. Amatir yang masih berusaha.

Cerpen Mata Pisau (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menyesal

Oleh:
Di dedikasikan untuk semua ibu… Hari raya pada waktu ini, Rea ingin mengajak ibunya ke rumah ustadzahnya. Rea berharap ibunya mau pergi bersamanya. “Bu, Nanti kita ke rumahnya ustadzah

Sebuah Kisah Klasik

Oleh:
Sejak dulu aku selalu menatap matanya dari jauh. Tapi aku selalu tak tahu bagaimana cara untuk menyapanya terlebih dulu. Aku selalu terdiam ketika dia berdiri di sampingku sambil menunggu

Aku Akan Belajar Mencintai Dirimu

Oleh:
Seorang gadis melangkahkan kakinya di lorong kelas 11 MIPA, saat ini ia menuju ke kelas barunya 11 MIPA 3. Terlihat dalam kelas para siswa dan siswi tengah bercengkerama satu

Maafkan Aku (Part 3)

Oleh:
Terbangun entah setelah sekian lama, lalu kemudian tersadar dan ku melihat samar di hadapanku seseorang seperti berbicara dengan seseorang lainnya dengan jarak yang berjauhan, dengan sakit yang terasa di

Akhirnya ibu Sadar

Oleh:
Kata orang, Ibu adalah malaikat dalam hidupnya. Tapi, aku tidak percaya. Karena, itu tidak terjadi denganku. “Zara!! Di mana kamu!? Dasar anak br*ngsek!!”, teriak Ibu. Aku hanya bisa terdiam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *