Maudy Lidya dan Masa Lalu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 October 2017

Dia masih terpaku pada bentangan langit biru, sesekali ia meneteskan air mata.. Peristiwa 10 tahun silam itu masih menggelayut di dalam pikirannya. Begitu kejamnya takdir yang tertulis untuknya, seakan tak ada lagi setitik harapan yang mampu ia miliki. Tak ada yang memperdulikannya, bahkan sanak keluarganya pun hanya bisa menyaksikan penderitaan yang menghujani keluarganya. Nurani mereka telah terkalahkan oleh keangkuhan duniawi.

Maudy Lidya, begitu mereka mengenalnya. Seorang gadis kecil berusia 11 tahun yang memiliki wajah cantik jelita, dia dikenal dengan sosok gadis kecil yang ramah, suka menolong dan selalu ceria. Ayahnya adalah seorang konsultan, sedangkan Ibunya sehari-hari hanya mengurusi mereka sekeluarga.

“Ayah… Kapan Ibu akan pulang?”. Tanya Liana sambil merengek.
“Ibu pasti akan pulang, Liana jangan nangis lagi yah…”.
“Maudy, ayo turun… Kamu hati-hati, ayah dan Liana akan menjemputmu, setelah pulang dari kantor.” Lanjut ayah pada Maudy.
“Iya ayah…”
“Jaga Ibumu baik-baik nak…”. Seru Ayah pada Maudy yang sedang berlari-lari.

Jantungnya berdetak begitu keras, ia masih terus berjalan sambil membawa beberapa rantang makanan yang begitu berat nampaknya. Rasanya ia teramat ingin bertemu dengan Ibunya. Pelan-pelan dibukanya pintu ruangan rawat Ibunya.
“Maudy, apakah itu kau nak?”.
“Iyah bu ini aku..”
“Oh, di mana ayah dan adikmu?”
“Ayah mengajak adik ke kantor bu, bagaimana keadaan Ibu?, apa Ibu sudah bisa pulang?”. Maudy menaruh rantang putih itu di atas meja dekat ranjang Ibunya.
“Ibu belum tahu nak, kita akan mengetahuinya nanti”.
Maudy memandang wajah Ibunya yang memucat, Ibunya masih sangat muda, dengan bibir yang berwarna merah jambu dan kulit wajahnya yang begitu halus, membuat ia tetap cantik dalam keadaan apapun.
Sedikitpun Maudy tak pernah meninggalkan Ibunya, sesekali ia menjadi panik saat Ibunya merintih kesakitan, ia hanya bisa meneteskan air mata seraya berdoa di dalam hati.

Petang berganti malam, dan malam menghidangkan Berlian berbalut gulita, ia masih setia berada di samping Ibunya, membelai tubuh Ibunya, dan mencium keningnya.
Tok.. tok.. tok… Suara di balik pintu mengagetkan dirinya yang hampir saja larut di dalam kelelahan. Ia masih sempat melihat Ibunya, takut kalau saja Ibunya juga ikut terkejut.
“Makan malam, oh yah jangan lupa obatnya diminum…”. Seorang perawat cantik mengingatkannya.

Aroma wangi parfum yang ditebarkan perawat itu masih tersisa di dalam ruangan rawat Ibunya, Maudy masih memandang jejak perawat itu, meski ternyata perawat itu telah hilang di balik pintu.
Sesaat ia melihat pada sekujur tubuh lemah Ibunya, perasaan dilema mulai berdatangan silih berganti. “Bagaimana ini?” ucapnya dalam hati. Kini ia bingung, ia tak ingin membangunkan Ibunya yang terlihat sangat pulas, tetapi di sisi lain ia juga menginginkan kesehatan Ibunya.
“Bu, Ibu… Bangun, Obat dan Buburnya sudah ada, Bangun bu…”
“Maudy??, Ohh.. hari sudah.. mulai malam, di mana Ayahmu?, Apa belum datang?, Besok kan.. kau harus sekolah nak…” Ucap Ibu terputus-putus.
“Tidak apa-apa bu, ini buburnya biar kusuapi, setelah itu Ibu harus minum obat”

Begitu sayangnya Maudy kepada Ibunya, ia sangat merindukan sosok Ibu yang selalu menunggu kedatangannya saat sepulang sekolah, sangat merindukan sosok Ibu yang selalu membuatkan makanan kesukaannya, Bubur ayam.
Ibu… Sembuhlah dengan segera, untuk kesekian kalinya Maudy menatap lekat wajah Ibunya yang sedang menyantap beberapa suap bubur. Dengan sekejap kelelahan yang menyebar ke seluruh tubuhnya hilang dengan segera, hanya dengan menatap wajah Ibunya yang terlihat mulai kuat.

Rasanya ia ingin terus di samping Ibunya, menyuapnya, memijitnya, mendoakannya, dan melakukan segala seuatu yang biasa dilakukan Ibu kepadanya. Inilah yang selalu ia ingat ketika guru mengatakan bahwa Cinta seorang Ibu tak akan ada yang bisa menandinginya. Ia telah merasakannya, rasa yang dimana saat itu Ibu tak berada di rumah…

“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam, ayah, adek…!!”
“Ibuuu!!…” Liana berlari menuju Ibunya.
“Liana, hey bagaimana kabarmu nak??”
“Sudah.. sudah.. Jangan nempel terus sama Ibu, Ibu masih sakit, entar tambah sakit, ayoo turun Liana…” Ujar ayah.
“Tidak mau! Lia mau sama Ibu!”
“Tidak apa yah, Ibu juga kangen sama Lia, Ayah, setelah ini tolong antarkan Maudy pulang, besok dia akan sekolah…”
“Iyah Bu”

Di sepanjang perjalanan dingin merasuk melalu celah-celah pakaian yang dikenakannya, membuat bulu kuduknya jadi merinding kengerian… Oh dinginnya.. Andaikan saat ini ia sedang berada di dalam sebuah mobil, merek pun tak jadi masalah, yang paling penting adalah sebuah mobil yang menjaganya dari udara dingin yang kini membuatnya flu. “Yahh ampunnn, dinginnya!!” gerutunya dalam hati.

Sejenak ia tertegun pada gedung-gedung yang menjulang ke langit tinggi. Bagaimana mereka bisa membuat gedung itu kokoh?, apakah suatu saat gedung itu akan roboh?, jika roboh bagaimana dengan mereka yang tinggal di sekitar gedung itu?. Segalanya menjadi pertanyaan besar yang tertera di tiap ruang pikirannya.

“Ayah, telfon ayah bergetar…”
“Benarkah?”
Ayah mengambil handphone miliknya sambil meraba-raba. Sedangkan Maudy masih harus menikmati dinginnya malam yang semakin menusuk tulang-tulangnya.
“Halo…??, Iyah saya sendiri, maaf bagaimana?? Saya kurang dengar…” Ucap sang Ayah yang berbicara sambil mengendalikan sepeda motornya.
“Iyah ada apa dengan Istri saya???”. Suara Ayah semakin meninggi di tengah-tengah keramaian.
“Apa..???!! Maaf, mungkin anda salah… Saya baru saja dari Ruang rawat Istri saya, dan dia sedang baik-baik saja tadi…”
Apa yang sedang dibicarakan Ayah?, Ibu…?? Ada apa dengan Ibu??, Ada Liana di sana, pastilah Ibu baik-baik saja.
“Tolong beritahu, apakah ini hanya lelucon??, Istri saya sedang baik-baik saja, iya kan?”. Suara Ayah mulai bergetar.
“Tidakkkk… Tidak mungkin…” Ayah berteriak, dan Maudy hanya bisa memeluknya dari belakang. Rasanya sepeda motor Ayah ikut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh pemiliknya. Beberapa tetes air mata telah jatuh membasahi punggung tangan Maudy yang tengah melingkari tubuh Ayahnya. Ada apa ini?, ingin rasanya Maudy bertanya, namun ia berusaha agar segera menutupi semua itu. Saat itu juga Maudy hanya bisa merasakan keadaan yang kacau di atas sepeda motor hitam itu.

Suara motor yang terhempas itu mengiang sampai ke tiap pasang telinga, diikuti dengan teriakkan seorang anak perempuan yang menyusup di antara sekian banyak orang.
“Ayah…!!!” Maudy berteriak sekeras mungkin, meski rasanya ia telah kehabisan suara.
Keduanya tergeletak seperti tak bernyawa lagi, satu-persatu orang berdatangan ke tempat itu. Hingga keramaian membuat lumpuh lalu lintas, kini yang ada hanyalah berratus pasang mata di buat terbelalak oleh kejadian yang mengerikkan pada malam itu. Bulan pun hanya bisa menyaksikan betapa malangnya nasib seorang anak yang kini sulit untuk bernafas.

Tak lama kemudian, beberapa polisi datang mengamankan lokasi kejadian dan segera memanggil ambulans, orang-orang itu… Sepertinya hanya ingin menjadi penonton setia saja, beberapa dari mereka banyak yang mengambil gambar kejadian, yang kini ada di pikiran gadis kecil yang malang itu hanyalah kematian telah berada dekat dengannya.
Hanya sisa kepingan-kepingan dari sepeda motor yang menjadi bukti bisu peristiwa mengenaskan itu, dan sebuah jasad mobil yang telah menghempaskan motor milik ayah Maudy.

“Rumah sakit ini…”. Ucap Maudy yang masih sempat mengintip di balik matanya yang terlihat sedang benar-benar tertutup rapat.
“Ayah…!!”. Maudy segera bangkit dari ranjang beroda.
“Adik, jangan banyak bergerak, sebaiknya adik tidur kembali.” Perintah seorang perawat yang ternyata pembawa makan malam Ibunya tadi.
Maudy hanya mampu memperhatikan tubuh ayahnya yang penuh dengan lumuran darah merah segar. Ia kembali meronta-ronta menangisi ayah tercintanya.
“Ayah!! Ayah!! Ayahhhhh!!”. Ia masih terus memanggil-manggil, meski beberapa perawat muda itu sedang menahan kedua tangannya dengan erat.
Bersusah payah ia berteriak, dan pada akhirnya ia di bawa di ruang yang berbeda dengan ayahnya. Maudy bisa tenang, ketika perawat berhijab itu menyuntikkan sesuatu ke punggung tangannya, punggung tangan yang tadinya basah oleh air mata sang ayah.

“Jadi bagaimana dok?”
“Begini pak, dari hasil yang kami peroleh, pasien anak masih dalam kondisi baik, ia hanya mengalami sesak nafas dan beberapa luka yang tidak terlalu serius di bagian lengan, kaki dan kepala, sedangkan pasien ayah dari anak tersebut… Maaf pak, ia baru saja meninggal.. Akibat benturan keras di kepala bagian belakang dan beberapa luka yang sangat serius, dan ada satu lagi pak, bahwa ternyata pasien ini adalah keluarga dari seorang wanita yang baru saja meninggal di rumah sakit ini, akibat sesak nafas yang datang secara tiba-tiba.. laki-laki ini adalah suami dari wanita tersebut.”. Seorang dokter laki-laki menerangkannya kepada seorang polisi.
“Apa masih ada lagi?”
“Untuk saat ini hanya itu yang bisa kami laporkan, selebihnya berikan waktu beberapa hari ke depan, karena masih ada yang harus kami ketahui lagi.”
“Baiklah, kalau seperti itu segera hubungi kami jika sudah ada kejelasan. Mohon kerjasamanya, terimakasih.”
“Baik, sama-sama..”

Maudy hanya bisa meringis kesakitan seraya menahan suara tangisnya yang hampir pecah di antara sakit yang telah menjalar di tiap inci tubuhnya, ia begitu merasakan sakit yang tak tertahankan hanya ketika ia mendengar percakapan orang-orang yang ada di balik pintu. Mereka tak berpikikir, bagaiamana jika seorang Maudy bernasib malang mendengar kesedihan-kesedihan yang terus mereka lontarkan.
Seakan semua yang dikatakan mereka telah membunuh Maudy saat itu juga. Kesedihan itu, tak pantas untukmu… Oh Gadis kecil nirmala.

Setelah kejadian itu berlalu, Maudy dan adiknya Liana hanya hidup sebatang kara, kehilangan kedua orangtua adalah hal terberat yang tak diinginkan oleh anak siapapun.

“Pak… Kasihan mereka berdua Pak, tidak ada lagi yang mengurusi, sudah seharusnya kita sebagai saudara membantunya.”
“Kamu ini bagaimana sih?, kamu gak mikir apa?, bagaimana dengan sekolah mereka berdua?, jajan mereka?, belum lagi yang lainnya, untuk makan sehari-hari saja kita masih kesusahan. Kamu bayangin aja deh, nggak punya anak saja hidup kita kayak gini… Gimana kalau punya anak, dua orang lagi.. Sudahlah… Bawa saja mereka ke rumah saudara yang lain, siapa tahu mereka mau menampung anak-anak itu.” Cetus suami dari saudari Ibu Maudy.
“Ya sudah, kalau kamu emang gak mau, besok aja bawanya, hari ini biarkan mereka tinggal di rumah kita”.

Maudy hanya bisa memeluk adiknya, ucapan Om Hendra itu terasa menghujam dadanya, menyobek-nyobek hatinya hingga hati tak lagi berbentuk. Rasanya sungguh sakit, sakit bukan main… hingga ia mati rasa.
Maudy dan adiknya masih dalam kebekuan yang tak tercairkan, sikap dingin Om Hendra menambah ketakutan terdalam di hati kecil. Aku harus apa Ayah? Ibu?.

Pagi menampakkan Cahaya Mentari, menciptakan suasana indah pada waktu-waktu itu. Burung-burung terbang mengangkasa, membentuk formasi yang biasa dilakukan mereka. Embun-embun jatuh menimpa tanah, semua terlihat bahagia pada saat fajar terbit.
Nyatanya tidak bagi kedua pasang saudara itu, mereka masih tak mendapatkan setitik kenyamanan di rumah sederhana milik Saudari Ibunya. Tik.. Tik.. Tik.. Detik demi detik sudah semakin dekat, dan semua berubah semakin jauh ketika ia harus segera ke tempat yang tak pernah ia kunjungi.

“Ayo, bu cepetan”
“Iyah, iyah sabaran dong pak”.
“Kakak??”. Liana berbisik pada Maudy.
“Ssst… Kita ikut saja dek…”. Maudy menggenggam tangan Liana erat-erat.

Perjalanan panjang itu menghabiskan waktu yang cukup lama, dan berhasil membuat lelap sepasang suami istri yang tak memiliki buah hati itu. Sungguh menit-menit yang berlalu sangat berharga untuk keduanya, mereka masih di dalam kebisuan, saling memandang satu sama lain, dan saling memperhatikan paman dan bibinya yang sedang pulas tertidur. Hanya supir angkut lah yang setia menemani kebisuan mereka.

“Tapi…”
“Alahhhh… Nggak usah tapi-tapi an, kalau bukan karena bapak dari dua anak ini, siapa yang mau ngebiayain persalinan kamu!…” Om Hendra mengingatkan.
“Udah, kalian rawat saja mereka… Anggap saja balas budi terhadap apa yang pernah dilakukan orangtuanya kepada kalian, kamu tahu sendiri kan? Hidup kami pas-pasan, beda dengan kehidupan kalian yang sekarang.”
“Budi, tolong di rawat baik-bak yah keponakan kita ini…”

Maudy dan Liana hanya bisa memandangi kedua suami istri itu dari kejauhan, ada seberkas benci di dalam hati, namun terlintas di benaknya akan pesan ayah dan ibunya, yang selalu mengingatkan mereka agar tak membenci siapapun di dalam hidupnya, meski orang itu telah membuatnya sakit hati.

“Mas… Aku nggak mau yah mereka tinggal di sini, aku tahu mas, mereka udah nolongin aku waktu ngelahirin anak kita, tapi kamu kan tahu sendiri… Anak kita aja kayak gini, gimana dengan mereka?, aduhh mas… Aku nggak sanggup ngurusin mereka berdua”. Keluh istri dari saudara Ibu Lidya.
“Tapi dek, hanya kita keluarga yang tersisa untuk mereka, setidaknya kita ingat sama kebaikan mereka sewaktu itu”.
“Mas!, kalau emang kamu masih mau ngerawat mereka, aku sama Yeni akan keluar dari rumah ini!”
“Lohh dek?, kamu kok ngomong gitu??, mereka itu saudara kita, mau di mana lagi mereka tinggal?”.
“Kita bawa saja mereka ke Panti Asuhan!”
Duggg… Kali ini terasa lebih menyakitkan, sebuah kalimat yang di ucapkan oleh Istri dari pamannya itu seakan sebuah pukulan keras yang menimpali hatinya, ini lebih sakit dibandingkan yang sebelumnya. Ayah… Ibu… Aku dan Liana ingin bersama kalian di sana… Tak peduli dengan cara apapun itu, tak peduli bagaiamana rasa sakit yang harus dilalui, tetapi bersama kalian adalah hal yang terindah, Ya Allah, bisakah kami menemui mereka sekarang juga?, kumohon.

Hari-hari keduanya berlalu di sebuah panti asuhan, semuanya berjalan dengan semestinya. Kini ia telah jauh… Jauh dari sanak keluarganya, keluarga yang sempat ia dambakan, keluarga yang pernah ia harapkan menjadi tempat perlindungannya.

Waktu berlalu begitu cepat, meninggalkan kenangan pahit yang pernah ada. Mereka tumbuh menjadi sepasang saudari yang semakin cantik jelita. Membuat siapapun terpukau akan kecantikkan mereka. Kini Maudy berkuliah di salah satu Universitas terkenal di kota metropolitan itu. Sedangkan Liana telah menduduki bangku kelas 1 Smp. Maudy berkuliah sambil menggeluti sebuah pekerjaan, ia adalah seorang pengusaha muda, dengan sebuah toko butik. Sedangkan Liana kesana-kemari untuk mengikuti Olimpiade Geography.

Terlihat dua orang gadis berhijab hitam sedang menabur bunga di tepi kubur, sambil memanjatkan doa tanda kerinduan mereka pada almarhum kedua orangtuanya.
“Kak… Sudah?”
“Iya, kita pulang sekarang…”
Mereka beranjak berdiri meninggalkan pemakaman Ayah dan ibunya.

Ayah… Ibu… Ketika air mataku jatuh, yang aku rasakan adalah suatu kebahagiaan, kebahagiaan karena doa yang dulunya kau panjatkan untukku, kini terbalas sudah, meski saat ini kalian tak berada di sisi kami.
Tatkala aku teringat akan kenangan indah dan pilu bersama kalian, ingin sekali aku bertanya… Apa kabar yang di sana? Ingin sekali aku bersua meski hanya lewat mimpi. Terkadang waktu membuatku sadar, tentang kenangan yang terkikis oleh tangis, tentang perih hati yang teteskan air mata, hela nafas yang terbelenggu, dan rasa rindu yang menggantung di sudut-sudut hati.
Biarkanlah doaku sampaikan salam padamu, lewat isyarat hati ku bersenandung merdu tentang kisah lama yang tenggelam di terkam ombak, tentang masa lalu yang terpahat dari tajamnya tatah, tentang kepiluan yang pernah ada dan terkubur.
Ku pijakkan langkah-demi langkah kakiku bersama secercah harapan yang tersisa, berharap semua yang telah terjadi adalah ujian terindah dari-Nya, dimana setelah itu tak ada lagi yang harus kutangisi.

Lindungilah mereka di sana Ya Allah…

Cerpen Karangan: Adinda Raesinta Kadir
Facebook: AdindaRae
Adinda Raesinta Kadir
Bersekolah di MAGEFA Madrasah Aliyah Negeri Fakfak.

Cerpen Maudy Lidya dan Masa Lalu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Story of My Life

Oleh:
Setiap pagi aku selalu senang ketika duduk di meja makan bersama mama dan papa. Memeluk boneka Teddy-Bear yang selalu kubawa ke mana pun aku pergi. Terkecuali saat aku sekolah.

Untuk Kakak

Oleh:
Aku dan rana adalah sepasang saudara kembar yang lahir 16 tahun yang lalu. Orangtuaku memberikan nama yang mirip kepada kami berdua yaitu Rana dan Rena. Meskipun kembar tetapi wajahku

Biarkan Kita Menjadi Cerita

Oleh:
“tenang.. rumah ini udah siap pakai kok” ucap papa Gea seakan tahu apa yang sedang Gea fikirkan ketika melihat rumah barunya. “oh..” jawab Gea ber-oh pendek Ya, hari ini

Dendam

Oleh:
Jangan tanyakan dosa padaku. Karena aku bukan Tuhan yang selalu memaafkan seorang pendosa. Jangan salahkan aku jika niatan membuatku menjadi seorang pecinta belati. Karena sejatinya aku terpaksa melakukan itu

Pesan ke Saudara Kembarku

Oleh:
Lisa terlihat sangat ceria di siang ini. Itu karena dia mendapat nilai sempurna pada ulangan Matematika. Sebagai saudara kembarnya, aku turut senang. Lisa merupakan adik yang baik, walaupun dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *