Me, Mom, And a Small Note

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 July 2021

Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk lewat ventilasi kamar, aroma lokal saat selesai hujan yang menenangkan ini tidak sengaja terhirup oleh indra penciuman. Aku melepas rasa malas dan bangun dari pembaringan, bergegas merapikan ranjang dan membersihkan diri. Saat air menyentuh kulitku, rasanya sangat dingin sekali, seakan-akan jiwaku ikut beku.

Aku keluar dari kamar mandi dengan handuk tertumpuk di bahu. Duduk di depan meja belajar, mengambil secarik kertas dan mengaplikasikan tinta di permukaannya. Menulis beberapa kata, kalimat, sampai menjadi paragraf. Kebetulan sekali hari ini hari ibu, aku membahas beberapa hal mengenai ibuku pada secarik kertas itu. “Rana sangat menyayangi ibu,” gumamku, mendikte diriku sendiri. Kemudian melipat kertas itu sedemikian rupa dan memasukkan ke dalam kotak kayu berwarna coklat. Ya, itulah pedomanku, cinta tak harus diucapkan.

Tindakan selanjutnya adalah menjaga ibu yang terbaring lemah di rumah sakit. Kebiasaan ini sudah kulakukan sejak satu tahun silam. Menaiki angkot yang cukup panas, berdesakan dengan orang yang tidak kukenal, memilih tempat duduk dekat jendela yang terbuka. Saat angkot mulai berjalan, angin yang tembus terasa segar sekali.

“Tilulit…tilulit.” Ponselku berdering. Tanganku dengan sigap mengangkat panggilan itu.

“Iya Ayah?” tanyaku.
“D-d-derana, ibumu….” Perkataan ayah terpotong dengan tangisan.
“Iya?” tanyaku panik, otakku mulai traveling kemana-mana.
“Sudah meninggal,” kata ayah dari balik ponsel, kemudian penggilan kami terputus, atau mungkin memang sengaja diputus oleh ayah.

Seketika cairan mengandung garam jatuh dari mataku. Aku tidak bisa menahannya lagi, yang kulakukan di dalam angkot hanyalah menyeka air mata yang sedari tadi mengalir deras tak terkendali. Sesampainya di rumah sakit, aku melihat jasad ibu pucat. Air mataku semakin deras membasahi pipi.

“Sayang,” ucap ayah, memelukku dari belakang.
“Rana menyesal ayah, selama hidup Rana, Rana tidak pernah bilang bahwa Rana sayang ibu.” Aku membalikkan badan dan memeluk ayah erat. Ayah hanya mengelus rambutku. “Rana sayang ayah, Rana sayang ibu, Rana nggak mau menyesal lagi,” tambahku.
“Terkadang rasa cinta juga harus diucapkan nak, sebagai wujud sayangmu pada ibu,” ucap ayah.

Cerpen Karangan: Vindi Rachmadhani
Instagram: @vindirachmaa
Twitter: @gingercean
Hanya sesosok anak dara yang menumpahkan emosinya dalam gubahan sederhana. Pertama kali menghirup oksigen di kota Lamongan dan ber-horoskop Libra.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 23 Juli 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Me, Mom, And a Small Note merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Setia

Oleh:
Hai.. kenalkan nama aku Agatha Chelsea Terriyanto, aku biasa di panggil Chelsea, aku tinggal di jakarta, sekarang usia ku 11 tahun, aku kelas VII, orang kebanyakan usia 11 tahun

Tak Ada Gunanya

Oleh:
Alunan suara gitar terdengar di seluruh ruang yang aku duduki berdua -gitar. Papah masih belum pulang. Padahal mentari tinggal menunggu menit untuk mengatakan, “Sampai jumpa lagi esok hari.” sejenakku

Destiny

Oleh:
Kehidupan yang kita jalani takkan selamanya tetap. Bisa berubah menjadi lebih baik ataupun sebaliknya. Kata kehidupan identik dengan sebuah takdir yang tertulis sebagai sebuah tangan nasib. Takdir seseorang itu

Kesabaran Ibuku

Oleh:
Pada suatu ketika Bapak dan Ibuku bertengkar, entah apa yang dipermasalahkannya. Pada saat itu aku bertanya kepada ibu. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita

Kasih Sayang Seorang Ayah

Oleh:
Hai namaku Aisyah, aku hidup bersama ayahku. Ibu ku sudah meninggal saat ibuku melahirkanku. Aku tak sempat untuk melihat wajahnya. Tapi foto-foto ibulah yang membuat ku menjadi semangat. Ayah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *