Melewatinya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pendidikan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 April 2023

Hai.. namaku Bunga, aku masih sekolah di kelas 9 SMP. sekolahnya tidak begitu jauh dari rumah, meskipun tetap harus dengan angkutan umum menuju kesana.
Aku adalah anak tunggal dari ayah dan ibu yang hanya seorang pedagang.
setiap hari aku bersama mereka di rumah, menikmati setiap perjalanan hidup kami. suka maupun duka.

Pagi itu. cuaca amat cerah. langit begitu biru dengan lukisan awan putih dan indah.
Seperti biasa aku bersiap-siap ke sekolah. Setiap pagi Aku bangun tidur dengan hati gembira, meskipun di rumah sudah tidak ada ibu, beliau berdagang di pasar dan harus berangkat ke pasar sebelum subuh. tentunya saat ku masih tertidur. Di rumah hanya ada Ayah yang sebelum pukul tujuh pun beliau sudah berangkat ke tempat kerjanya. setiap pagi aku mempersiapkan diriku sendiri mulai dari keperluan sekolahku atau sarapanku. Namun hal itu tidak sedikitpun membuatku sedih atau tidak bersemangat. aku tetap menjalankan kewajibanku sebagai anak untuk tetap semangat belajar apapun yang terjadi. sebab itu adalah pesan dari Ayah dan ibu.
Aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki terlebih dahulu, karena rumahku tidak tepat di pinggir jalan raya. jadi untuk naik angkutan umum, aku harus berjalan menuju jalan raya.

Tak sampai 10 menit aku tiba di sekolah. Di kelas 9 aku termasuk anak yang lumayan berprestasi. nilaiku selalu diatas teman-teman sekelasku.
Sampai di kelas, aku duduk di kursi paling depan bersama temanku bernama Rani.

“Pagi Bunga”, tanya Rani menyapa.
“Pagi juga Ran, apa kabar kamu hari ini?”, jawabku.
“Aku sedikit flu hari ini, mungkin cuaca sedang tidak bersahabat”. Rani menjawab.
“Harusnya kamu gak usah memaksakan ke sekolah kalau gak enak badan”
“Aku ingat tugas Pak Erwin, kita kan hari ini mau praktik pelajaran seni, kamu sudah siapkan lagu dan alat musik?” begitu Rani menjawab
“Ya ampun aku lupa, aku gak bawa apa-apa dari rumah”.
“Kata Pak Erwin, asal kita menyiapkan lagu dan hafal, gak apa-apa kalau gak pakai alat musik”.
“Iya, mungkin aku hanya nyanyi saja”

Bel masuk berbunyi, anak-anak semua masuk kelas. Pelajaran Seni Budaya bersama Pak Erwin. kita ditugasi untuk praktik hari ini bernyanyi dengan alat musik. Seperti dialog tadi aku tidak membawa alat musik apapun. Aku hanya akan mengandalkan kemampuan bernyanyi meskipun tidak akan sebagus orang lain.

Pembelajaran dimulai. teman-teman di kelasku sibuk mempersiapkan diri untuk tampil di depan kelas. Lirik lagu aku siapkan, yang sekiranya aku mampu menyanyikannya. Satu per satu temanku dipanggil maju ke depan. Tiba giliranku. Aku berusaha menampilkan tampilan terbaikku untuk bernyanyi walau tanpa alat musik. Untuk nilai aku tidak mempermasalahkan, karena aku sadar tak bisa maksimal dalam menampilkan tugas.

Waktunya pulang..
Aku bersama teman-teman pulang menuju rumah masing-masing.
Sampai di rumah, aku bersiap-siap untuk istirahat. Aku anak yang dipaksa mandiri sebelum waktunya. Aku pegang kunci rumah sendiri. Siang hari di rumah hanya aku sendiri, orangtua belum pulang dari pekerjanya. Ibu dan ayah selalu pulang menjelang magrib. Sampai di rumah pun mereka hanya beristirahat saja karena lelah seharian bekerja. Saatku pulang mengaji, mereka sudah terlelap tidur.

Aku bukan anak yang senang bermain dengan orang lain, meskipun hanya tetangga dekat rumah. Aku termasuk anak tertutup yang selalu di rumah dan hanya fokus dengan tugas sekolah. Semua tugas sekolah aku kerjakan sendiri, tanpa dibantu atau dibimbing orangtua. Karena mereka jarang di rumah dan karena mereka tidak mengerti dengan tugas sekolahku. Orangtuaku bukan dari lulusan sekolah tinggi, mereka keduanya hanya lulusan SD. Jadi ketika aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah, mereka hanya berpesan untuk aku jujur.

Setiap ada kegiatan sekolah yang mengharuskan orangtua hadir, oragtuaku jarang ikut hadir. Berbeda memang dengan orangtua teman-teman kebanyakan. Setiap mendengar cerita mereka yang katanya mengerjakan PR saja sambil ditemani ayah/ibu, sedangkan aku hanya sendiri. Meskipun aku anak tunggal, tapi aku tidak dimanja dalam hal apapun. Orangtua hanya mengarahkan dan mendukung.

Dengan kondisi seperti itu, aku tidak pernah berfikir untuk tidak semangat mencari ilmu. Karena menurutku tidak ada alasan dan hambatan apapun. Mempunyai orangtua yang jarang di rumah tidak membuatku lepas dari perhatian mereka. Mereka sangat menyayangiku di setiap keadaan. Untuk urusan pendidikan mereka memang tidak ikut-ikut karena tidak mengerti. Tapi untuk urusan agama. Mereka sangat memprioritaskan aku untuk tetap tidak lupa beribadah. begitupun untuk pengalaman mereka selalu ada waktu walau sedikit bercerita tentang pandangan hidup di masa depan,

ADVERTISEMENT

Tak terasa kelas 9 hampir selesai. Waktu itu ujian sekolah dilaksanakan selama 3 hari. Beberapa waktu kemudian ada pengumuman kelulusan. Aku menjadi siswa dengan lulusan terbaik di sekolah. Nilai yang kudapat juga mampu menggiringku ke sekolah jenjang atas tanpa tes lagi.
Aku dapat membuktikan bahwa aku selalu memegang pesan orangtua untuk jujur, fokus dan bekerjakeras dengan hasil sendiri.

Aku diberi kebeasan untuk meilih sekolah lanjutan tingkat atas sesuai dengan yang aku mau. Semua urusan sekolah dan pendidikan orangtua mempercayakan kepadaku. lagi-lagi mereka hanya dapat berpesan agar aku jadi orang yang jujur.

Tahun itu awal pertama aku masuk sekolah jenjang atas di kelas 10 SMA. seperti biasa aku menjalankan kewajibanku sebagai anak yang harus tetap semangat demi mengejar cita-cita. tak pernah aku hiraukan hujan, panas atau tidak punya uang jajan.

Tak terasa 3 tahun sudah aku di SMA. Tiba waktunya kelulusan itu. Aku lulus terbaik kembali. jangan tanyakan apakah orangtuaku ikut hadir di acara perpisahan sekolah? ya, mereka tidak hadir. Tapi aku memaklumi dan entah kenapa aku tak pernah marah atau memaksa.

Setelah lulus itu, aku berfikir ingin tetap melanjutkan sekolah tentunya ke perguruan tinggi. Orangtua kaget mendengar itu, mereka tidak menyangka anaknya betul-betul punya cita-cita. Mereka hanya mendukung dan mempercayakan semua kepadaku. Dengan modal kepercayaan itu aku tetap teguh ingin melanjutkan sekolah.

Aku ikut tes di perguruan tinggi negeri dan aku lulus diterima.
Aku akan membuktikan kepada orangtua bahwa aku mampu dan akan tetap mengingat setiap pesan mereka. semoga Alloh SWT mendengar setiap doa baik mereka terhadapku.

TAMAT

Cerpen Karangan: Nenratih Patimah
Blog / Facebook: Ratih Mami Aqila
Nenratih Patimah, S.Pd

Cerpen Melewatinya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kamulah Surgaku

Oleh:
Matahari bersinar cukup terik pagi itu, meskipun sejam sebelumnya sempat diguyur hujan deras. Aku melaju di jalanan beraspal menuju sekolah yang berjarak kurang lebih 20 KM dari rumah. Aku

Pertemuan

Oleh:
Pagi itu matahari sedang bersemangat untuk menebar sinar hangatnya di bumi pertiwi ini. Aku pun tak mau kalah dengannya karena sekarang adalah saat yang aku tunggu yaitu saat aku

Angka, Wanita Dan Kebahagiaan

Oleh:
Tampak jingga-jingga senja terpancar dari sudut barat. Berbagai kesibukan berhenti pada sore itu, mulai dari kuli, penjual cireng, tukang jajanan, maupun pekerja-pekerja kelas kakap lainnya. Begitu juga dengan salah

Stupid Girl

Oleh:
Hera menaiki tangga sekolah dan berjalan menuju ruang perpustakaaan sambil membawa tumpukan beberapa buku. Kemarin ia mendapatkan nilai rendah saat ujian Matematika di sekolahnya dan itu harus membuatnya melakukan

Pengakuan Terlarang

Oleh:
Drrt.. drrt.. drrt.. I have died everyday waiting for you.. drrt.. drrt.. drrt.. Darling don’t be afraid I have loved you.. “Halo Dhik?” ucapku setelah menekan tombol hijau di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *