Memeluk Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 4 April 2017

Hari ini masih sama saja seperti hari-hari sebelumnya tak ada yang berbeda, masih penuh dengan kehangatan. Hari ini pun aku masih harus bekerja padahal hari ini hari minggu dan esok sudah mulai memasuki Ramadhan seperti itulah yang kudengar dari salah satu stasiun tv swasta kemarin.

“Mamiq” sapaku hangat pada sosok yang telah banyak mengajarkan hidup. Dia adalah Ayahku.
“Saya berangkat kerja dulu, Miq” lanjutku menyalami tangan kecil beliau.
“Hati-hati, Nak?” pesannya.

Dan aku mulai melangkahkan kakiku ke sebuah warung kecil di ujung jalan sana. Warung keluarga lebih tepatnya.

“Ela pindahkan piring ini ke dapur” baru saja aku ingin memindahkan piring itu sebuah teriakan lain pun terdengar menyuruhku untuk mengerjakan pekerjaan yang lainnya.

Ya di sinilah aku di sebuah warung kecil yang sederhana. WARUNG NASI EBATAN HJ. LADUNI tepatnya. Aku sudah bekerja di sini selama 4 bulan lebih.

Sedang asik-asiknya melamun sebuah teriakan terdengar dari arah dapur. “Ibu, Kakek saya dia kenapa itu?”
Deg….
Kakek?
Itu berarti Ayahku karena yang punya warung ini adalah kakakku.

Tiba-tiba aku tersadar ada apa dengan Ayahku? Dan aku langsung berlari menuju ke rumahku.
Ya Allah, Mamiq.
Sosok itu sosok orang yang aku salami tadi pagi.
Dia…
Allah apa yang terjadi?

Aku melangkahkan kakiku perlahan-lahan dan orang-orang yang melihatku hanya tersenyum menegarkan tangisku pun luruh kala aku melihat sosok laki-laki yang selalu setia menggandeng tanganku ketika aku kecil kini telah terbujur kaku.

“Mamiq”
“Jangan tinggalkan Ela, Miq”
“Ela mohon”
“Jangan tinggalkan Ela, Miq”
“Mamiq…”
Aku terus menangis sampai suara itu mengalihkan tangisku. Dia Aan sahabat terbaikku.
“Ikhlaskan, La, Bukankah kita akan menemukan akhir yang sama?”
“Bukannya aku tidak ikhlas, An tapi ikhlas itu susah kan, An?”
“Iya, tapi kita harus ikhlas”
Dan aku pun melanjutkan tangisku. Sedih sekali rasanya melihat Ia telah tiada. Allah kenapa kau memanggilnya lebih dulu?

Pemakaman telah selesai dan di sinilah aku berada di halaman rumahku menatap senja yang mulai merayap menyapa malam ditemani sinar hangatnya yang mulai merasuk kalbu, memelukku erat.
Senja, aku kehilangan untuk yang pertama kalinya.
Mamiq, tenang di sana do’aku selalu menyertaimu.

Cerpen Karangan: Lailatul Hauliyah
Facebook: Lailatul Hauliyah Khan
cewek biasa yang sangat menyukai senja

Cerpen Memeluk Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Air Mata Hasna (Part 2)

Oleh:
Sesampai di rumah sakit, suster juga langsung membawakan adiknya ke dalam ruang ugd. Hasna juga ikut berlari sambil berdoa dalam hati. Agar apa yang dialami adiknya itu tidak membahayakan

Kenangan Indah Keyla

Oleh:
Jam berdetak cepat secepat detak jantung Keyla. ia melangkah kesana-kemari layaknya setrika yang sedang menyetrika pakaian. ia tidak memikirkan apa-apa kecuali adiknya Reyhan yang sedang operasi. Keyla tidak bisa

Surat Dari Bapak

Oleh:
“Budi tolong kau ambilkan emak kayu di belakang.” Teriak seorang wanita yang asyik berkutat dengan tungku arangnya. “Iya emak, sebentarlah aku sedang merapikan mainan Adik yang berantakan,” Teriak Budi

Minggu Sore di Supermarket

Oleh:
Sebagai seorang perempuan, naluri berbelanja ada di dalamku tentunya. Meskipun memang orangtuaku selalu membatasi uang jajanku setiap bulannya dan dimintai laporan keuangan setiap akhir bulan, ya perempuan tetaplah perempuan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *