Memori Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 September 2018

“Ibu… ini aku bu, tari anakmu, aku mohon ibu lihat aku!” Berulang kali perkataan itu kulontarkan kepada ibuku, tapi ibuku tak pernah menjawab perkataan itu. Tangisanku memuncak disaat rombongan orang menghampiri ibuku, mereka berkata agar ibuku sabar menghadapi cobaan ini. Disaat itu tidak ada satu orang pun yang mendengarkanku, ‘apa yang terjadi?’ pertanyaan itu yang selalu membiang di dalam pikiranku. Di samping ibuku ada sekujur jenazah yang ku tak tau siapa itu. Ternyata orang itu adalah diriku sendiri, yang akan menghilang ditelan massa, yang akan rapuh meninggalkan memori cinta.

Di saat matahari memancarkan sinarnya, ku mulai melangkahkan kaki menuju ke sekolah, langkah demi langkah kutelusuri dengan doa mendapat ilmu untuk orangtua yang kucintai. Di sekolah kulihat semua temanku diam tanpa aku ketahui sebabnya, mereka melihatku seperti mereka akan menyatakan sesuatu kepadaku, tanpa menghiraukan mereka ku berjalan menuju tempat dimana aku duduk, disaat ku mulai meletakkan tasku, ada sebuah surat beserta sebuah cokelat dimana keduanya telah tersedia di dalam laci mejaku, hatiku berdetak semakin kencang seakan aku tak bisa menghentikan detakkan itu. Teman-teman semuanya melihatku, seakan mereka tau apa yang terjadi saat itu kepadaku. Saat itu aku takut mereka akan melihat diriku sedang berbunga-bunga karena itu pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta. Tanpa berpikir panjang kusimpan segera surat dan cokelat itu, sebenarnya aku sangat penasaran tentang isi surat itu, tapi kuputuskan untuk melihatnya nanti di rumah.. Suasana kelas pun kembali seperti biasa, penuh keributan dan perbincangan.

Bel masuk pun berbunyi, itu menandakan aku akan melaksanakan tanggung jawabku sebagai pelajar. Tapi entah kenapa surat itu membawaku kepada suatu pertanyaan yang membuat hati kecilku selalu ragu yaitu hal apa yang membuat seseorang jatuh cinta kepadaku, aku adalah gadis yang biasa saja, tidak cantik dan tidak menawan, seiring lamunanku waktu istirahat membawaku kembali ke alam sadar.

Sorak gembira para siswa mengiringi langkahku ke kantin untuk membeli beberapa makanan pengisi laparku. Suasana kantin yang ramai membuatku berdesak-desakkan, disaat ku akan mengambil suatu makanan ada tangan seseorang yang membantuku, tangan itu tidak asing lagi bagiku, seolah dia selalu ada disaat ku membutuhkannya, dia adalah faris, cowok hitam manis yang menjadi incaran para siswi di kelasku. Hatiku berdetak keras disaat ku berada di sampingnya, rasa ini seperti rasa disaat ku menerima surat tadi pagi. Disaat ku ingin mengucapkan terima kasih dia menghilang begitu saja.

Kulanjutkan langkahku dengan hati kecewa menghadapi hal tersebut. Setibaku di kelas kurencanakan beberapa hal yang harus kulakukan pulang sekolah nanti, yang pertama ku harus membeli hadiah untuk ibuku yang pada hari ini berulang tahun dan setiba di rumah nanti ku harus membaca surat, yang telah membuatku penasaran dengan isinya. Setelah ku menulis semua perencanaan itu dengan sangat rapi, bel masuk pun berbunyi kulanjutkan pelajaran dengan semangat tinggi yang membara.

Seiring waktu berjalan, waktu pulang pun tiba. Kurapikan semua buku pelajaranku, ku sangat bersemangat untuk melaksanakan rencanaku itu. Tapi apa dayaku tak bisa menghelakkan takdir, disaat ku berjalan di lapangan sekolah yang luas, ada sesuatu benda yang membuat langkahku terhenti, benda datang dari samping kepalaku, dimana benda tersebut membuat tubuhku yang semula tegak menjadi jatuh tanpa daya, darah bercucuran di kepalaku, setelah itu diriku tak mengingat apapun lagi.

Detik demi detik membuat diriku terbangun, suara tangisan membuat keheningan dalam jiwaku mulai hilang, kucari sumber tangisan itu dengan larian tanpa henti, ternyata di tengah rumah sana sudah ada seseorang yang duduk dengan wajah yang sangat sedih, dia adalah ibuku. Ku berlari menghampiri ibuku, ku tak tega melihat ibuku menderita karena tangisannya, setelah kuberada di sampingnya, kupanggil ibuku tapi dia tak menjawab panggilanku. Kupanggil lagi “Ibu ini aku bu, tari anakmu” dengan air mata yang menetes di wajahku, tapi ibuku tak pernah menjawab perkataanku itu.

Di saat air mataku banyak berlinang, datanglah rombongan orang yang berkata agar ibuku sabar menghadapi cobaan ini. Kulihat di depan mataku ada sakujur jenazah, ternyata itu diriku sendiri yang akan meninggalkan kenangan indah bersama orang yang kucintai, itulah memori cintaku yang akan kutinggalkan setelah kepergian diriku. Semua rencana yang kutuliskan di sebuah kertas bersih akan hilang seiring maut yang datang memanggilku. Maut yang telah memisahkanku dengan orang-orang yang kucintai. Inilah kepergianku yang meninggalkan keharuan.

Cerpen Karangan: Putri Lestari

Cerpen Memori Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Untuk Bapak

Oleh:
Lelaki di hadapanku ini semakin mengeratkan pelukannya. Mengusap halus punggungku seakan berat melepasku pergi. Ujung matanya sedikit basah, berkali-kali ia menghela napas panjang. Aku berdiri canggung sejak tadi, menggenggam

Buku Harian Mikan

Oleh:
Kimla memutar tombol pintu kamar itu, kemudian mendorongnya perlahan dan melangkah masuk. Wangi dan rapi seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari kamar itu selain rasa sepi yang tiba-tiba

Aku Harus Membanggakan Ibu

Oleh:
Delisa adalah anak perempuan yang berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya hanya seorang tukang becak dan ibunya sudah sakit sakitan. Delisa mempunyai 1 kakak dan 3 adik. Kakaknya sudah

I’m Your Brother

Oleh:
Annyeong Haseyo, naneun Kim Shin Jung imnida. Kalian bisa memanggilku Shin Jung. Aku tinggal di Seoul bersama kedua orangtuaku. Terkadang aku merasa kesepian. Andaikan saja aku punya Kakak, aku

Akhirnya Semua Tahu Tentang Ku

Oleh:
Namaku Fafa. Aku di sekolah hanya temanku yang tahu tentang fisik bentukku yang kelihatan aneh daripada yang lain, ini adalah rahasiaku. Ghea temanku, dia yang ngerti bentuk tubuhku. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *